Apa Itu Pendekatan Kontekstual? (Contextual Teaching And Learning (CTL)) | Website BDK Palembang
Weak Gravitational Lensing 2006 Bartelmann M. General Relativity 0 Bartelmus P. Scaling of Spatial Correlations in Cooperative Sequential Adsorption with Clustering 1994 Barter J. Space Stations 2004 Barter J. Telescopes 2005 Barter J. Lucent Library of Science and Technology. Dry spots can be prepared by spotting BAC DNA or the like (of which inexhaustible supplies have been realized) on a substrate using a spotter, forming a plurality of spots, and then drying the spots, for example. An inkjet printer, a pin array printer, or a bubble jet (trademark) printer can be used as a spotter. The use of an inkjet printer is desirable. Most of these systems are based on the knowledge that anaerobic bacteria in the colon are able to recognize the various substrates and degrade them with the enzymes. The application of biodegradable natural polymers, which are resistant to degradation in the upper GIT (above the colon), has gained tremendous importance in pre-biotic food systems. Most of the recent research includes natural polysaccharides, especially from plant origin, being applied to create degradable colon-specific substrates. A very efficient, mutually beneficial arrangement has evolved from a nutritional perspective (Figure 2). In the proximal gut, bacterial competition for absorbable monosaccharides could be detrimental to the host, but in nonruminants colonization is sparse in this region. The word Caporetto has entered the Italian language as a synonym for disaster. The memoir of a New Zealand surgeon in the bimatoprost online BEF. World War One Aircraft Carrier Pioneer: The Stories and Diaries of J. Memoirs of service on HMS Furious. British Military Service Tribunals, 1916-18: "A Very Much Abused Body of Men," James McDermott, Manchester University Press, 2011, 272 pages, ISBN 978 0 7190 8477 5, $95 HB. Defence Science and Technology Organisation. DSTO Research Library - Melbourne. La Trobe University Library. Borchardt Library, Melbourne (Bundoora) Campus. Forensic and Scientific Services.. Early tissue interactions leading to embryonic lens formation in Xenopus laevis. Henry J, Mittleman J. The matured eye of Xenopus laevis tadpoles produces factors that elicit a lens-forming response in embryonic ectoderm. Henry JJ, Tsonis PA. Based on the person's daily routine or "best times," insist upon a morning or afternoon appointment. If the staff knows the situation, they may be willing to give you an appointment when the office is less crowded or noisy. Consider calling the office before you leave the house to check if the doctor is on time. Never leave the person alone in a waiting room. Consider taking a third person with you who can drive and help keep the person occupied. It is helpful to offer extra reassurance to the person with Alzheimer's because (s)he is away from the familiar environment. http://www.jerseycanada.com/jerseyatlantic/fnt/ultramer.php The global interest in the medicinal potential of plants during the last few decades is therefore quite logical. India is one of the richest countries in the world with regard to diversity of medicinal plants. This short-lived perennial with dark green and glossy leaves is native to Madagascar..

Apa Itu Pendekatan Kontekstual? (Contextual Teaching And Learning (CTL))

Oleh : Dra. Hj. Yurnalis Nurdin, M.Pd

Widyaiswara Madya

Balai Diklat Keagamaan Palembang

e-mail : yurnalisnurdin@gmail.com

 

Abstrak: Tulisan ini akan mengkaji tentang latar belakang Contextual Teaching And Learning (CTL), mengapa pendekatan kontekstual menjadi pilihan, kecenderungan pemikiran tentang belajar, hakekat pembelajaran kontekstual, motto CTL, strategi pengajaran CTL, elemen belajar yang konstruktivistik, dan perbedaan pendekatan kontekstual dengan pendekatan tradisional. Hal ini sangat penting mengingat berbagai pertimbangan yang menunjukkan bahwa lemahnya minat dan motivasi peserta didik belajar salah satunya disebabkan oleh penggunaan pendekatan pembelajaran selama ini masih konvensianal yang lebih menekankan kepada hafalan dan melupakan kehidupan nyata dalam proses pembelajarannya, serta kurangnya pengetahuan guru dalam pemahaman tentang pendekatan kontekstual. Mudah-mudahan setelah membaca tulisan ini, dapat  menolong guru dan pihak yang terkait, untuk menerapkan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran di lapangan, sesuai dengan motto dari CTL yaitu “cara belajar terbaik adalah peserta didik mengkonstruksikan sendiri secara aktif pemahamannya”.

Kata kunci: Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL)?.

  APA ITU PENDEKATAN KONTEKSTUAL?

(CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL))

 

 I. PENDAHULUAN

Kegiatan belajar mengajar melibatkan beberapa komponen yaitu peserta didik, guru (pendidik), tujuan pembelajaran, isi pelajaran, metode mengajar, media dan evaluasi. Tujuan pembelajaran adalah perubahan prilaku dan tingkah laku yang positif dari peserta didik setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar, seperti : perubahan yang secara psikologis akan tampil dalam tingkah laku (over behaviour) yang dapat diamati melalui alat indera oleh orang lain baik tutur katanya, motorik, dan gaya hidupnya.

Tujuan pembelajaran yang diinginkan tentu yang optimal, untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pendidik, salah satu diantaranya adalah metode mengajar. Para pendidik harus memahami bagaimana menggunakan metode pembelajaran yang baik sehingga dapat membuat peserta didik mendapatkan materi yang disampaikan dengan cermat. Namun masih banyak para pendidik belum memahami dan menguasai bagaimana menggunakan metode pembelajaran yang baik dan benar sehingga banyak sekali materi yang seharusnnya dapat disampaikan dengan baik namun dikarenakan metode pembelajarannya yang kurang tepat menyebabkan peserta didik kurang menangkap materi yang disampaikan.

CTL dapat membantu pendidik, karena CTL merupakan konsep belajar yang membantu pendidik mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi peserta didik. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan peserta didik bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke peserta didik. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil (peserta didik belajar lebih baik melalui kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan yang alamiah).

II. URAIAN MATERI

A.  Latar Belakang CTL

      Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa peserta didik akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika peserta didik “mengalami” apa yang dipelajarinya, bukan “mengetahui”-nya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali peserta didik memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Dan, itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah kita

            Pendekatan CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi peserta didik. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan peserta didik bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke peserta didik. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil.

Dalam konteks itu, peserta didik perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka belajar, dan bagaimana untuk mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Dengan begitu mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Mereka mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya mencapainya. Dalam upaya itu, mereka memerlukan guru/pendidik sebagai pengarah dan pembimbing.

Dalam kelas kontekstual, tugas pendidik adalah membantu peserta didik mencapai tujuannya. Maksudnya, pendidik lebih banyak berurusan dengan strategi dari pada memberi informasi. Tugas pendidik mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (peserta didik). Sesuatu yang baru (baca: pengetahuan dan keterampilan) datang dari ”menemukan sendiri”, bukan dari ”apa kata guru”. Begitulah peran pendidik di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual. Peserta didik tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya untk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Sementara pendidik mengatur strategi belajar, membantu menghubungkan pengetahuan lama dan baru, dan memfasilitasi belajar.

B. Mengapa Pendekatan Kontekstual Menjadi Pilihan?

            Menurut  Zahorik dalam Depdiknas (2003:2) ada  empat alasan mengapa pendekatan kontekstual menjadi pilihan. Alasan tersebut adalah sbb:

  1. Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa

pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihapal. Kelas masih berfokus pada pendidik sebagai sumber utama pengatahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama  strategi belajar. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi belajar ’baru’ yang lebih memberdayakan peserta didik . Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan peserta didik menghapal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang mendorong peserta didik mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri

  1. Melalui landasan filosofi konstruktivisme, CTL ’dipromosikan’ menjadi alternatif strategi belajar yang baru. Melalui strategi CTL peserta didik diharapkan belajar melalui ’mengalami’ bukan ’menghapal’
  2. Pengetahuan bukanlah seperangkat kata dan konsep yang siap diterima, tetapi ’sesuatu’ yang harus dikonstruksi sendiri oleh peserta didik
    1. Alam juga sebagai kelas ( Zahorik, 1995).

C.  Kecenderungan Pemikiran Tentang Belajar

      Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut.

  1. Proses Belajar
  • Belajar tidak hanya sekedr menghafal. Anak harus mengkonstruksikan

pengetahuan di benak mereka sendiri.

  • Anak belajar dan mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru.
  • Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan.
  • Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
  • Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru.
  • Peserta didik perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu

yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide.

  • Proses belajar dapat mengubah struktur otak,. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang. Untuk itu perlu dipahami, strategi belajar yang salah akan mempengaruhi struktur otak, yang pada akhirnya mempengaruhi cara seseorang berperilaku.i mengalami sendiri

Dari uraian diatas dapat diambil  kesimpulan bahwa peserta didik belajar dari mengalami sendiri, mengkonstruksi pengetahuan, kemudian memberi makna pada pengetahuan itu.

  1. Transfer Belajar
  • Peserta didik belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain.
  • Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit.
  • Penting bagi peserta didik tahu “untuk apa” ia belajar, dan “bagai mana” ia menggunakan pengetahuandan keterampilan itu.

Dari uraian diatas dapat diambil  kesimpulan bahwa peserta didik harus tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya.

  1. Peserta didik sebagai pembelajar
  • Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tetentu, dan seorang peserta didik mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru.
  • Strategi belajar itu penting. Peserta didik dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting.
  • Peran orang pendidik membantu menghubungkan antara “yang baru” dan yang sudah diketahuinya.
  • Tugas pendidik memfasilitasi, agar informasi baru bermakna, memberikan kesempatan kepada peseta didik untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan peserta didik untuk menerapkan strategi mereka sendiri.

Dari uraian diatas dapat diambil  kesimpulan bahwa tugas peserta didik mengatur strategi belajar, membantu menghubungkan pengetahuan lama,dan baru, dan memfasilitasi belajar.

  1. Pentingnya Lingkungan Belajar
  • Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada peserta didik. Dari “guru akting di depan kelas, peserta didik menonton” ke “peserta didik akting bekerja dan berkarya, pendidik mengarahkan”
  • Pengajaran harus berpusat pada “bagai mana cara” peserta didik menggunakan pengetahuan baru mereka. Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya.
  • Umpan balik amat penting bagi peserta didik, yang berasal dari proses penilaian yang benar.
  • Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.

Dari uraian diatas dapat diambil  kesimpulan: lupakan tradisi “Guru akting di panggung peserta didik menonton”. Ubah menjadi, Peserta didik aktif bekerja dan belajar di panggung, guru mengarahkan dari dekat”.

 

D.  Hakekat Pembelajaran Kontekstual

Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching And Learning (CTL)) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi peserta didik. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan peserta didik. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil. Depdiknas  (2003:5).

Menurut Udin S.Winataputra, dkk (2011:7.3) bahwa hakekat pembelajarannya CTL melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), menemukam (Inkuiry), bertanya (Questioning) masyarakat-belajar (Learning Coounity), pemodelan (Modeling), refleksi (reflection) dan penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment). Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan CTL jika menerapkan ketujuh komponen tersebut dalam pembelajarannya. Dan, untuk melaksanakan hal itu tidak sulit! CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya.

Secara garis besar berikut langkah-langkah penerapan CTL.

(1)   Kembang kan pemikiran bahwa peserta didik akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya!

(2)   Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik

(3)   Kembangkan sifat ingin tahu peserta didik dengan bertanya

(4)   Ciptakan ’masyarakat belajar’ (belajar dalam kelompok-kelompok)!

(5)   Hadirkan ’model sebagai contoh pembelajaran!

(6)   Lakukan refleksi di akhir pertemuan!

(7)   Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

 

E. Motto Kontekstual

Menurut Fellow (1999) dalam Depdiknas Dirjendikdasmen (2003:5)  pendekatan kontekstual mempunyai motto  ”Students learn best by actively constructing their own understanding” dengan maksud cara belajar terbaik adalah peserta didik mengkonstruksikan sendiri secara aktif pemahamannya. Kata-kata kunci pembelajaran CTL adalah; Real-World Learning, mengutamakan pengalaman nyata, berfikir tingkat tinggi, berpusat pada peserta didik aktif, kritis, kreatif dan menyenangkan, pengetahuan bermakna dalam kehidupan, dekat dengan kehidupan nyata, perubahan berprilaku, peserta didik berpraktek, bukan menghafal, learning bukan teaching, pendidikan (education) bukan pengajaran (instruction), pembentukan manusia, memecahkan masalah, peserta didik akting pendidik mengarahkan, dan hasil belajar diukur dengan berbagai cara bukan hanya dengan test.

Kontekstual hanya sebuah strategi pembelajaran. Seperti halnya strategi pembelajaran yang lain, kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna. Pendekatan kontekstual dapat dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum dan tatanan yang ada. Pendekatan kontekstual juga merupakan strategi yang berasosiasi dengan strategi lainnya. Strategi pengajaran yang berasosiasi dengan CTL adalah CBSA, Pendekatan Proses, Life Skills Education, Authentic Instruktion, Inquiry-based Learning, roblem-Based Learning, Cooperative-Learning, dan Service learning.

 

F. Kata-kata Kunci Pembelajaran Kontekstual    Menurut Depdiknas (2003:6)  kata-kata kunci dalam pembelajaran  kontekstual adalah:

1). Belajar yang sebenarnya (real world learning)

2). Mengutamakan pengalaman nyata

3). Berfikir tingkat tinggi

4). Berpusat pada peserta didik

5). Peserta didik aktif, kritis, dan kreatif

6). Pengetahuan bermakna dalam kehidupan

7). Dekat dengan kehidupan nyata

8). Perubahan perilaku

9). Peserta didik praktek, bukan menghafal

10). Belajar bukan mengajar (learning bukan teaching)

11). Pendidikan bukan pengajaran (education bukan instrucation)

12). Pembentukan manusia

13). Memecahkan masalh

14). Peserta didik akting, pendidik mengarahkan

15). Hasil belajar diukur dengan berbagai cara bukan hanya dengan tes.

 

G. Elemen Belajar Yang Konstruktivistik

            Menurut Zahorik dalam  Depdiknas (2003:7)  ada lima elemen belajar yang harus diperhatikan dalam penerapan pembelajaran kontektual yaoitu:

1). Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge).

2). Pemerolehan pengetahuan baru (aquiring knowledge) dengan cara

mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian memperhatikan detailnya

3). Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), yaitu dengan cara

menyusun (a) konsep sementara (hipotesis), (b) melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan (validasi) dan atas dasar tanggapan itu (c) konsep tersebut direvisi dan dikembang.

4). Mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying

knowledge).

5). Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi

pengembangan pengetahuan tersebut.

 

H. Perbedaan Pendekatan Kontekstual Dengan Pendekatan Tradisional

Perbedaan pendekatan kontekstual dengan tradisional   dapat dilihat dari

tabel berikut:                              

NO

PENDEKATAN CTL

PENDEKATAN TRADISIONAL

1 Peserta didik aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Peserta didik adalah penerima informasi secara pasif
2. Peserta didik belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi. Peserta didik belajar  secara individual
3. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata atau masalah yang disimulasikan Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis
4. Perilaku dibangun atas kesadaran diri Perilaku dibangun atas kebiasaan
5. Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan
6. Hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasan diri Hadiah untuk perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) rapor
7. Seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia sadar hal itu keliru dan merugikan Seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia takut hukuman
8. Bahasa diajarkan dengan pendekatan komunikatif, yakni peserta didik diajak menggunakan bahasa dalam konteks nyata Bahasa diajarkan dengan pendekatan struktural: rumus diterangkan sampai paham, kemudian dilatihkan (drill)
9. Pemahaman rumus dikembangkan atas dasar skemata yang sudah ada dalam diri peserta didik Rumus itu ada di luar diri peserta didik, yang harus diterangkan, diterima, dihafalkan, dan dilatihkan.
10.  Pemahaman rumus itu relatif berbeda antara peserta didik dengan lainnya, sesuai dengan seketmata peserta didik Rumus adalah kebenaran absolut (sama untuk semua orang). Hanya ada dua kemungkinan, yaitu pamahaman rumus yang salah atau pemahaman rumus yang benar
11 Peserta didik menggunakan kemampuan berfikir kritis, terlibat penuh dalam mengupayakan terjadinya proses pembelajaran yang efektif, ikut bertanggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif,dan masing-masing skemata masing-masing ke dalam proses pembelajaran. Peserta didik secara pasif menerima rumus atau kaidah (membaca, mendengarkan, mencatat, menghafal), tanpa memberikan konstribusi ide dalam proses pembelajaran.
12. Pengetahuan yang dimiliki manusia dikembangkan oleh manusia itu sendiri. Manusia menciptakan atau membangun pengetahuan dengan cara memberi arti dan memahami pengalamannya. Pengetahuan adalah penangkapan terhadap serangkaian fakta, konsep, atau hukum yang berada di luar diri manusia.
13. Karena ilmu ppengetahuan itu dikembangkan (dikonstruksi) oleh manusia sendiri, sementara manusia selalu mengalami peristiwa baru maka pengetahuan itu tidak pernah stabil, selalu berkembang (tentative & incomplete). Kebenaran bersifat absolut dan pengetahuan bersifat final.
14. Peserta didik diminta bertanggung jawab memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing. Pendidik bersifat penentu jalannya proses pembelajaran
15. Penghargaan terhadap pengalaman peserta didik sangat diutamakan. Pembelajaran tidak memperhatikan pengalaman peserta didik.
16. Hasil  belajar diukur dengan berbagai cara: proses bekerja, hasil karya, penampilan, rekaman, tes dll Hasil belajar diukur hanya dengan tes
17. Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks, dan setting. Pembelajaran terjadi hanya dalam kelas.
18. Penyesalan adalah hukuman dari perilaku jelek Sanksi adalah hukuman dari perilaku jelek
19. Perilaku baik berdasarkan motivasi intrinsik Perilaku baik berdasarkan motivasi ekstrinsik
20. Seseorang berperilaku baik karena dia yakin itulah yang terbaik dan bermanfaat Seseorang berperilaku baik karena dia terbiasa melakukan begitu, Kebiasaan ini dibangun dengan hadiah yang menyenangkan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ali, M. (2002). Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algesindo.

Dirjen Dikdasmen Depdiknas. (2003). Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta:LTP

Husaini Usman. (2009). Manajemen: Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Udin S. Winataputra, dkk. ( 2011). Materi dan Pembelajaran IPS SD. Jakarta: Universitas Terbuka

Usman, U.M. (1999). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Rosdakarya

Nurhadi Dan Senduk, A.G. (2003). Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching And Learning/CTL) dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang.

Roestiyah, N.K. (2008). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Sudirman A.M. (2007). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada

Yusuf, S. (1993). Dasar-Dasar Pembinaan Kemampuan Proses Belajar Mengajar. Bandung: Adira

Zahorik, Jhon A. (1995). Connstructivist Teaching (Fastback 390). Bloomington, Indiana: Phi-Delta Kappa Educational Foundation.

Winataputra Udin S, dkk. (2003). Materi dan Pembelajaran IPS SD. Jakarta: Universitas Terbuka

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply