BUDAYA RESISTENSI  SISWA TERHADAP PENDISIPLINAN SISTEM SEKOLAH | Website BDK Palembang

BUDAYA RESISTENSI  SISWA TERHADAP PENDISIPLINAN SISTEM SEKOLAH

( Studi Kasus Madrasah Tsanawiyah Negeri ( MTSN 1 ) Palembang

  Nelly Nurmelly

  Balai Diklat Keagamaan Palembang

Jalan Demang Lebar Daun-Macan Kumbang No.4436 Palembang

Email : nurmellynelly@yahoo.co.id

Abstrak :

Seorang siswa dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah tidak akan lepas dari berbagai peraturan dan tata tertib yang diberlakukan di sekolahnya, dan setiap siswa dituntut untuk dapat berperilaku sesuai dengan aturan dan tata tertib yang berlaku di sekolahnya. Kepatuhan dan ketaatan siswa terhadap berbagai aturan dan tata tertib yang berlaku di sekolahnya itu biasa disebut disiplin siswa. Sedangkan peraturan, tata tertib, dan berbagai ketentuan lainnya yang berupaya mengatur perilaku siswa disebut disiplin sekolah. Perilaku siswa terbentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor Keluarga, Lingkungan dan Masyarakat. Pengawasan secara efektif terhadap penyelenggaraan satuan pendidikan MTSN 1 Palembang akan dapat menjamin program pendidikan yang dilaksanakan di Madrasah mencapai sasaran yang diinginkan. Untuk mendukung  proses pembelajaran, maka guru harus memiliki dan menerapkan strategi tertentu supaya siswa dapat belajar secara efektif sehingga dapat diperoleh jadwal yang optimal dan dapat diterima oleh siswa. Keadaan siswa yang kelelahan, mengantuk, lapar, tidak bergairah tentunya menimbulkan perasaan bosan, tidak konsentrasi dalam berpikir serta timbul frustasi, maka siswa sering menunjukkan kecenderungan yang kurang baik.Resistensi kemudian dipahami sebagai sebuah respon terhadap suatu inisiatif perubahan, suatu respon hasil percakapan yang membentuk realitas dimana individu hidup. Mengkondisikan siswa agar belajar aktif sehingga potensi dirinya (kognitif, afektif, dan konatif) dapat berkembang dengan maksimal akan terlatih dan terbentuk.

 Kata Kunci : Resistensi, Kreativitas, disiplin dan Sosial

 PENDAHULUAN

 Disiplin berasal dari bahasa latin Discere yang berarti belajar. Dari kata ini timbul kata Disciplina yang berarti pengajaran atau pelatihan.Dan sekarang kata disiplin mengalami perkembangan makna dalam beberapa pengertian. Pertama,disiplin diartikan sebagai kepatuhan terhadap peraturan atau tunduk pada pengawasan, dan pengendalian. Kedua disiplin sebagai latihan yang bertujuan mengembangkan diri agar dapat berperilaku tertib. Dalam kehidupan sering kita dengar orang mengatakan bahwa si X adalah orang yang memiliki disiplin yang tinggi, sedangkan si Y orang yang kurang disiplin.Sebutan orang yang memiliki disiplin tinggi biasanya tertuju kepada orang yang selalu hadir tepat waktu, taat terhadap aturan, berperilaku sesuai dengan norma-norma yang berlaku, dan sejenisnya. Sebaliknya, sebutan orang yang kurang disiplin biasanya ditujukan kepada orang yang kurang atau tidak dapat mentaati peraturan dan ketentuan berlaku, baik yang bersumber dari masyarakat (konvensi-informal), pemerintah atau peraturan yang ditetapkan oleh suatu lembaga tertentu(organisasional-formal). Pelayanan pendidikan dini merupakan kajian awal yang eksis dari proses pendidikan yang sedang berlangsung saat ini. Penumbuh kembangan pendidikan dini merupakan upaya bimbingan yang ditujukan kepada anak usia sekolah, agar mereka kelak tumbuh kembang menjadi insan kreatif, artinya mereka dapat memahami diri (setf understanding), menerima. diri (seff acceptance), mengarahkan diri (self direction), dan mampu mewujudkan diri (seff realization) sehingga dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan tumbuh kembang secara optimal di mana pun mereka berada. Untuk mencapai perkembangan yang optimal itu potensi kreatif siswa perlu digali, dibina dan ditumbuh kembangkan melalui proses belajar mengajar yang kreatif. Salah satu sasaran yang dituju dalam Pendidikan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa yang berdimensi kreativitas. Mencerdaskan kehidupan bangsa yang berdimensi kreatif mustahil akan terwujud jika potensi-potensi yang ada pada siswa, sebagai sumber daya manusia belum diungkapkan secara baik dan menyeluruh. Di sekolah, tugas guru adalah mengembangkan iklim belajar mengajar yang dapat menumbuhkembangkan sikap dan perilaku kreatif, inovatif dari siswa.

Resistensi siswa sering ditemukan di beberapa sekolah umum dan tidak terkecuali dengan Madrasah Tsanawiyah Negeri I di Palembang. Resistensi itu biasanya dilakukan terhadap guru, kepala madrasah dan juga terhadap berbagai kebijakan internal yang dikeluarkan oleh Madrasah. Tentu masing-masing siswa disetiap sekolah berbeda dalam mengekspresikan resistensinya. Hipotesis kebanyakan orang bahwa, siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri I akan lebih santun dan Islami dalam melakukan resistensi atau demonstrasi ketimbang sekolah umum. Alasannya sangat logis dan realistis mengingat kuantitas materi pembelajaran keagamaan yang diajarkan di Madrasah jauh lebih padat dan sfesifik. ”Bagaimana budaya resistensi dan kreativitas siswa dalam mentaati displin sekolah dalam hal ini Madrasah”. Oleh karena itu secara rinci rumusan grand question tersebut akan diturunkan menjadi sub questions, sebagai berikut, (1). Apakah bentuk pendisiplinan yang diberlakukan oleh sistem Madrasah Tsanawiyah Negeri I Palembang, dengan menggunakan kebijakan sekolah dan pengawasan langsung mampu benar-benar mendisiplinkan dan mematuhkan siswa (2). Bagaimana pola disiplin sebagai resistensi kreativitas siswa untuk menjalankan peraturan termasuk kurikulum(3). Bagaimana penegakan disiplin siswa dalam ranah realitas sosial yang ada di Madrasah, (4). Bagaimana resistensi Madrasah terhadap perubahan dan kebijakan apa yang dilakukan oleh Madrasah, serta (5) Bagaimana model belajar dan pembelajaran yang meningkatkan kreativitas dan kompetensi siswa di Madrasah.

PEMBAHASAN

Resistensi Siswa dan Disiplin Sekolah

Membicarakan tentang disiplin sekolah tidak bisa dilepaskan dengan persoalan perilaku negatif siswa. Perilaku negatif yang terjadi di kalangan siswa remaja pada akhir-akhir ini tampaknya sudah sangat mengkhawatirkan, seperti: kehidupan sex bebas, keterlibatan dalam narkoba, gang motor dan berbagai tindakan yang menjurus ke arah kriminal lainnya, yang tidak hanya dapat merugikan diri sendiri, tetapi juga merugikan masyarakat umum. Perilaku siswa terbentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor lingkungan, keluarga dan sekolah.Tidak dapat dipungkiri bahwa sekolah merupakan salah satu faktor dominan dalam membentuk dan mempengaruhi perilaku siswa.

James Scott, melihat bahwa tindakan resistensi yang dilakukan setiap harinya, akan mempunyai efek yang siginifikan. Seperti sebuah sinar infra yang jika mengenai tubuh tidak terasa, namun jika terkena secara berkesinambungan akan berakibat buruk pada tubuh manusia. Ia menyebutnya sebagai Infrapolitics.(James Scott, 1990: 183-4 dan 199-201).Tindakan ini dilakukan manusia ketika melawan aparatur negara yang dianggap hegemonik dan dominan dalam mendisiplinkan dan menertibkan individu (Stephen Duncombe, 2002: 89-98). Hadari Nawawi (1985) menyebutkan “disiplin atau tata tertib diartikan  sebagai kesediaan mematuhi ketentuan berupa peraturan-peraturan yang secara eksplisit perlu juga mecakup sangsi-sangsi yang akan diterima jika terjadi pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan tersebut. Menurut Soegeng Prijodarminto ( 1992 ) bahwa Disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, ketenteraman, keteraturan, dan ketertiban. Dalam kaitannya dengan disiplin kerja, Siswanto (1989) mengemukakan disiplin kerja sebagai suatu sikap menghormati, menghargai patuh dan taat terhadap peraturan-peraturan yang berlaku baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis serta sanggup menjalankannya dan tidak mengelak menerima sanksi-sanksi apabila ia melanggar tugas dan wewenang yang diberikan kepadanya. Sementara itu, Jerry Wyckoff dan Barbara C. Unel, (1990) mendefinisikan disiplin sebagai suatu proses bekerja yang mengarah kepada ketertiban dan pengendalian diri.

Dari beberapa pengertian yang diungkapkan di atas tampak bahwa disiplin pada dasarnya merupakan tindakan manajemen untuk mendorong agar para anggota organisasi dapat memenuhi berbagai ketentuan dan peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi, yang di dalamnya mencakup: (1) adanya tata tertib atau ketentuan-

ketentuan; (2) adanya kepatuhan para pengikut; dan (3) adanya sanksi bagi pelanggar

Weisgerber (1971) menegaskan bahwa keragaman dan karakteristik  belajar siswa kreatif ini dapat langsung dikaitkan dengan program-program belajar yang nyata. Karena itu, harus dipertimbangkan kecepatan dan kreativitas siswa dalam belajar, minat siswa terhadap bahan pelajaran, keluwesan serta keluasan  bahan, dan alat-alat pembantu proses belajar mengajar yang akan dipakai serta penciptaan lingkungan yang kondusif. Kreativitas merupakan salah satu potensi manusiawi yang ada pada diri individu dengan derajat yang dapat bervariasi dari individu yang lainnya. Moreno, Bischof (dalam Khatena 1982) melihat kreativitas bersifat universal dan mewujud melalui berbagai bentuk dalam kehidupan sehari hari, dan kreativitas itu bukanlah milik para cendekia, ahli atau seniman semata-mata.

Model Pengembangan Kreativitas : Resistensi Peraturan Sekolah

Gibs (1972) menemukan kreatifitas dalam organisasi dapat dikembangkan dengan menambah kepercayaan, komunikasi yang bebas dan terarah, penentuan diri sendiri, dan pengurangan pengawasan yang terlalu ketat. Hasil studi Gibs relevan untuk proses pendidikan. Untuk memperbesar timbulnya kreatifitas dalam pengajaran, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: (1) Mengembangkan kepercayaan yang tinggi kepada siswa dan mengurangi timbulnya rasa takut siswa; (2) Memberi semangat kepada siswa untuk suatu komunikasi ilmiah yang bebas dan terarah ; (3) Memperkenalkan siswa untuk menentukan sendiri sasaran dan evaluasi terhadap  dirinya sendiri; (4) Pengawasan jangan terlalu ketat (kaku) dan otoriter.

Implikasi dari isyarat tersebut menuntut guru dalam proses belajar hendaknya membantu siswa menjadi manusia dengan sikap terbuka, tidak mengancam,  menerima dan menyukainya, mengurangi rasa takut, dan membantu mereka menemukan identitasnya dengan membangun self consept. Siswa yang dibekali positive self concept akan berani mengarungi hidup, percaya pada diri sendiri, dan tidak mudah putus asa. Pada saat individu tumbuh, ia akan menjadi semakin kokoh, semakin berani mengambil resiko, dan dengan demikian ia lebih mungkin untuk menjadi kreatif. Menjadi kreatif adalah ciri manusia yang berharga, lebih-lebih dalam era globalisasi sangat dituntut manusia-manusia kreatif. Penumbuh kembangan kreativitas siswa, guru harus menjadi kreatif dalam merencanakan metode, penugasan, dan sebagainya, di sarnping penyediaan dan penataan lingkungan yang kondusif. Siswa yang dibekali positive self concept akan berani mengarungi hidup, percaya pada diri sendiri, dan tidak mudah putus asa. Menjadi kreatif adalah ciri manusia yang berharga, lebih-lebih dalam era globalisasi sangat dituntut manusia-manusia kreatif. Penumbuh kembangan kreativitas siswa, guru harus menjadi kreatif dalam merencanakan metode, penugasan, dan sebagainya, di sarnping penyediaan dan penataan lingkungan yang kondusif.. Pengembangan kreativitas siswa di sekolah menurut Dedi Supriadi (1994:122) ditinjau dari sudut keilmuan, guru seyogianya memiliki kecakapan, keterampilan, dan motivasi. Ketiga aspek ini akan terwujud di dalam perilaku. Pengembangan kreativitas itu melalui siklus priode-priode tertentu: formatif–> Embrionik –> produktif non produktif. Program pengembangan kreativitas yang dapat diberikan. kepada siswa (Dedi Supriadi, 1994, Amin, 1993, Prayitno, 1991) yaitu: (a) menciptakan rasa aman kepada siswa untuk mengekp:resikan kreativitasnya, (b) mengakui dan menghargai gagasan-siswa, (c) menjadi pendorong bagi siswa untuk mengkomunikasikan dan mewujudkan gagasannya, (d) mernbantu siswa mernahami divergensinya dalam berpikir dan bersikap, dan bukan masalah menghukumnya, (e) memberikan peluang untuk mengkomunikasikan gagasannya, dan (f) memberikan informasi mengenai. peluang yang tersedia

Disiplin Siswa dengan “Cinta”

Reisman dan Payne (E. Mulyasa, 2003) mengemukakan strategi umum merancang disiplin siswa, yaitu : (1) Konsep diri ; untuk menumbuhkan konsep diri siswa  dapat berperilaku disiplin, guru disarankan untuk bersikap empatik,  menerima, hangat dan terbuka; (2) Keterampilan berkomunikasi; guru terampil berkomunikasi yang efektif sehingga mampu menerima perasaan dan mendorong kepatuhan siswa; (3) Konsekuensi-konsekuensi logis dan alami; guru disarankan dapat menunjukkan secara tepat perilaku yang salah, sehingga membantu siswa dalam mengatasinya; dan memanfaatkan akibat-akibat logis dan alami dari perilaku yang salah; (4) Klarifikasi nilai; guru membantu siswa dalam menjawab pertanyaannya sendiri tentang nilai-nilai dan membentuk sistem nilainya sendiri; (5) Analisis transaksional; guru disarankan belajar sebagai orang dewasa terutama ketika berhadapan dengan siswa yang menghadapi masalah; (6) Terapi realitas; sekolah harus berupaya mengurangi kegagalan dan meningkatkan keterlibatan. Guru perlu bersikap positif dan bertanggung jawab; dan (7) Disiplin yang terintegrasi; metode ini menekankan pengendalian penuh oleh guru untuk mengembangkan dan mempertahankan peraturan; (8) Modifikasi perilaku; perilaku salah disebabkan oleh lingkungan. Oleh karena itu, dalam pembelajaran perlu diciptakan lingkungan yang kondusif; (9) Tantangan bagi disiplin; guru diharapkan cekatan, sangat terorganisasi, dan dalam pengendalian yang tegas. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa peserta didik akan menghadapi berbagai keterbatasan pada hari-hari pertama di sekolah, dan guru perlu membiarkan mereka untuk mengetahui siapa yang berada dalam posisi sebagai pemimpin.

Merealisasikan pembelajaran atau mendidik siswa MTSN 1, guru-guru menganggap disiplin berarti mengajari siswa untuk belajar mematuhi aturan dan tata tertib dalam kehidupan bersama entah dalam lingkungan keluarga, masyarakat, atau Madrasah. Dari hasil temuan dilapangan baik guru, kepala madrasah dan pengurus komite mengatakan, ditengah situasi dilematis begini, agar mendisiplinkan akan bisa efektif, kiat-kiat berikut perlu disimak.

1.Siswa Merasa Dicintai.

Kebutuhan dasar setiap siswa adalah dicintai dan diterima tanpa syarat. Siswa benar benar merasakan bahwa gurunya mencintai dirinya melalui tindakan nyata sehari-hari yang terungkap lewat kata-kata ataupun perbuatan. Ketika kebutuhan dasar ini terpenuhi, siswa cenderung berpikir positif dan kooperatif dengan guru. Dengan merasa dicintai, siswa akan menerima tindakan pendisiplinan dan hukuman secara positif. Mereka percaya bahwa apapun yang dilakukan guru di Madrasah demi kebaikan dirinya.Sebaliknya, jika siswa merasa tidak dicintai dan tidak diterima, apa pun yang dilakukan guru cenderung dinilai secara negatif. Secara naluriah siswapun bereaksi terhadap tindakan pendisiplinan, bisa berupa perlawanan, protes, atau sikap tak acuh.

2.Tetapkan Aturan Bersama

Jika aturan ini disepakati bersama, masing-masing anggota keluarga akan berusaha memberikan komitmen dengan senang hati, bagi yang terpaksa melanggar pun hukuman bisa dijalankan tanpa diwarnai amarah dan kebencian. Aturan-aturan yang dibuat dalam keluarga, Madrasah, atau Madrasah disepakati bersama akan menjadi media belajar bagi siswa dan siswa untuk menumbuhkan sikap sosialitas dan tanggungjawab. Guru tidak harus memaksakan otoritasnya karena aturan dengan sendiri sudah berfungsi sebagai alat pendisiplinan

  1. Siswa Tahu Kesalahan

Ketika beberapa pertanyaan wawancara tentang resistensi disiplin di Madrasah ini diajukan, maka yang dapat disimpulkan adalah siswa itu harus tahu dulu kesalahannya baru dihukum atau merealisasikan hukuman, inilah beberapa pernyataan guru dan siswa jika disimpulkan, ketika siswa melakukan tindakan negatif, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Pertama, apakah siswa  sengaja atau tanpa unsur kesengajaan. Kedua, apakah siswa atau siswa menyadari kesalahannya atau tanpa penyesalan sedikit pun. Tindakan pendisiplinan mutlak perlu dan paling keras diberikan jika siswa sengaja dan tidak menyesali perbuatannya. Jika siswa atau siswa sengaja tetapi menyesali perbuatannya, berarti siswa atau siswa mau belajar  dari kesalahan.

4.Bukan Amarah dan Emosi

Tak jarang tindakan pendisiplinan didorong oleh rasa marah dan suasana emosional karena harga diri dan kewibawaan guru terasa dirongrong, atau  frustrasi menghadapi perlawanan siswa. Jika hal ini yang terjadi, tindakan pendisiplinan tentu tidak efektif bahkan bisa menjadi bumerang di kemudian hari.

5.Hargai Perubahan

Sering timbul kesan pada diri siswa bahwa guru bisanya hanya melihat kekurangan dan kurang bisa menghargai hal yang positif. Ketika siswa melakukan tindakan negatif, baru guru bereaksi, tetapi ketika siswa menunjukkan perilaku positif tak ada penghargaan apa pun. Penggunaan kata “selalu” atau “tidak pernah” membuat

Siswa merasa tak dihargai, misalnya “Kamu selalu malas!” atau “kamu tidak pernah nurut sama guru!”.

6.Lihat Keunikan Pribadi

Tak ada manusia yang sama persis. Karenanya, setiap pribadi adalah unik, tiada duanya. Kelemahan tindakan pendisiplinan adalah sifatnya yang seragam  sehingga tidak memandang keunikan pribadi. Bagi si A cukup diberi peringatan keras perilakunya bisa dikendalikan, namun si B mungkin dengan pukulan pun belum mempan. Bagi seseorang, hukuman tertentu benar-benar menakutkan, namun bagi yang lain hukuman yang sama justru menjadi hiburan. Maka, guru harus bijak memilih tindakan pendisiplinan yang tepat untuk masing-masing siswa sesuai dengan keunikan pribadinya.

Disiplin sebagai Resistensi Kreativitas Siswa

Disiplin Madrasah adalah usaha Madrasah untuk memelihara perilaku siswa agar tidak menyimpang dan dapat mendorong siswa untuk berperilaku sesuai dengan norma, peraturan dan tata tertib yang berlaku di Madrasah. Menurut Wikipedia (1993) bahwa disiplin Madrasah“refers to students complying with a code of behavior often known as the school rules”. Yang dimaksud dengan aturan Madrasah

(school rule) tersebut, seperti aturan tentang standar berpakaian(standardsofclothing), ketepatan waktu, perilaku sosial dan etika belajar/kerja. Pengertian disiplin Madrasah

kadangkala diterapkan pula untuk memberikan hukuman (sanksi) sebagai konsekuensi dari pelanggaran terhadap aturan, meski kadangkala menjadi kontroversi dalam menerapkan metode pendisiplinannya, sehingga terjebak dalam bentuk kesalahan perlakuan fisik (physical maltreatment) dan kesalahan perlakuan psikologis (psychological maltreatment),sebagaimana diungkapkan oleh Irwin A.Hyman dan Pamela A. Snock dalam bukunya “Dangerous School” (1999).

Berkenaan dengan tujuan disiplin Madrasah, Maman Rachman (1999) mengemukakan bahwa tujuan disiplin Madrasah adalah : (1) memberi dukungan bagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang, (2) mendorong siswa melakukan yang baik dan benar, (3) membantu siswa memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya dan menjauhi melakukan hal-hal yang dilarang oleh Madrasah, dan (4) siswa belajar hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan bermanfaat baginya serta lingkungannya. Brown dan Brown mengelompokkan beberapa penyebab perilaku siswa yang indisiplin, sebagai berikut: (1) Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh guru; (2) Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh Madrasah; kondisi Madrasah yang kurang menyenangkan, kurang teratur, dan lain-lain dapat menyebabkan perilaku yang kurang atau tidak disiplin; (3)  Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh siswa , siswa yang berasal dari keluarga yang broken home ; (4) Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan  oleh kurikulum, kurikulum yang  tidak terlalu kaku, tidak atau kurang fleksibel, terlalu dipaksakan dan lain lain bisa menimbulkan perilaku yang tidak disiplin, dalam proses belajar mengajar pada khususnya dan dalam proses pendidikan pada umumnya. Sehubungan dengan permasalahan di atas, seorang guru harus mampu menumbuhkan disiplin dalam diri siswa, terutama disiplin diri.

Dalam  kaitan ini, guru di MTSN I  harus mampu melakukan hal-hal sebagai  berikut : (1) Membantu siswa mengembangkan pola perilaku untuk dirinya; setiap siswa berasal dari latar belakang yang berbeda, mempunyai karakteristik yang berbeda dan kemampuan yang berbeda pula, dalam kaitan ini guru  harus mampu melayani berbagai perbedaan tersebut agar setiap siswa dapat menemukan jati dirinya dan mengembangkan dirinya secara optimal. (2) Membantu siswa meningkatkan standar prilakunya karena siswa berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda, jelas mereka akan memiliki  standard perilaku tinggi, bahkan ada yang mempunyai standard perilaku yang sangat rendah. Hal tersebut harus dapat diantisipasi oleh setiap guru dan berusaha meningkatkannya, baik dalam proses belajar mengajar maupun dalam pergaulan pada umumnya. (3) Menggunakan pelaksanaan aturan sebagai alat; di setiap Madrasah terdapat aturan-aturan umum. Beberapa prinsip yang dikemukakan oleh guru MTSN I mengemukakan strategi umum merancang disiplin siswa di MTSN I, yaitu : (1) konsep diri (2) keterampilan berkomunikasi (3) konsekuensi-konsekuensi logis dan alami (4) klarifikasi nilai (5) analisis transaksional (6) terapi realitas (7) disiplin yang terintegrasi (8)  modifikasi perilaku Selanjutnya, perbincangan seru menyebutkan contoh-contoh, misalnya Madrasah yang sebagian besar siswanya suka tawuran pastilah Madrasah itu tidak bermutu karena kedisiplinan siswa tidak ditegakkan di Madrasah itu.

1.Kompetensi Siwa secara Umum.

Kompetensi siswa yang harus dimilki selama proses dan sesudah pembelajaran adalah kemampuan kognitif (pemahaman, penalaran, aplikasi, analisis, observasi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, koneksi, komunikasi, inkuiri, hipotesis, konjektur, generalisasi, kreativitas, pemecahan masalah), kemampuan afektif (pengendalian diri yang mencakup kesadaran diri, pengelolaan suasana hati, pengendalian impulsi, motivasi aktivitas positif, empati), dan kemampuan psikomotorik (sosialisasi dan kepribadian yang mencakup kemampuan argumentasi, presentasi, prilaku). Istilah psikologi kontemporer, kompetensi/kecakapan yang berkaitan dengan kemampuan profesional (akademik, terutama kognitif) disebut dengan hard skill, yang berkontribusi terhadap sukses individu sebesar 40%. Sedangkan kompetensi lainnya yang berkenaan dengan afektif dan psikomotorik yang berkaitan dengan kemampuan kepribadian, sosialisasi, dan pengendalian diri disebut dengan soft skill, yang berkontribusi sukses individu sebesar 60%. Suatu informasi yang sangat penting dan sekaligus peringatan bagi kita semua.

2.Model-Model Belajar di MTSN I secara umum.

Model-model belajar yang dimaksud pada judul di atas adalah berbagai cara-gaya belajar siswa dalam aktivitas pembelajaran, baik di kelas ataupun dalam kehidupannya sehari-hari antar sesama temannya atau orang yang lebih tua. Ada berbagai model belajar yang diterapkan guru baik senior maupun yunior di MTSN I tersebut, terutama guru-guru yang telah mengikuti pelatihan pembelajaran efektif atau pembelajaran baru serta guru yang jenjang strata S2, beberapa model yang diterapkan dan yang diketahui tetapi belum diterapkannya tersebut adalah sebagai berikut :(1) Peta Pikiran (2) Kecerdasan Ganda (3) Metakognitif (4) Komunikasi

(5) Kebermaknaan Belajar (6) Konstruksivisme (7) Prinsip Belajar Aktif.

Ada dua jenis belajar, yaitu belajar secara aktif dan secara reaktif (pasif). Belajar secara aktif indikatornya adalah belajar pada setiap situasi, menggunakan kesempatan untuk meraih manfaat, berupaya terlaksana, dan partisipatif dalam setiap kegiatan. Sedangakan belajar reaktif indikatornya adalah tidak dapat melihat adanya kesempatan belajar, mengabaikan kesempatan, membiarkan segalanya terjadi, menghindar dari kegiatan. Untuk membelajarkan siswa MTSN 1 sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. Dalam prakteknya, guru MTSN 1 selalu ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar, fasilitas-media yang tersedia, dan kondisi guru itu sendiri. Oleh karena itu salah satu cara untuk menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan serta terhindar dari kebiasaan adalah dengan memahami dan melaksanakan model belajar yang dilakukukan siswa, komunikasi positif yang efektif, dan model pembelajaran yang inovatif.

 PENUTUP

 Kesimpulan :

Madrasah dituntut untuk mematuhi peraturan yang dibuat oleh Madrasah demi kelancaran proses belajar mengajar tetapi kenyataannya masih banyak siswa yang bertingkah laku tidak sesuai dengan peraturan yang di buat oleh Madrasah. Perilaku siswa terbentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor lingkungan, keluarga dan Madrasah. Di Madrasah seorang siswa berinteraksi dengan para guru yang mendidik dan mengajarnya. Sikap, teladan, perbuatan dan perkataan para guru yang dilihat dan didengar serta dianggap baik oleh siswa dapat meresap masuk begitu dalam ke dalam hati sanubarinya dan dampaknya kadang-kadang melebihi pengaruh dari orang tuanya di rumah. Sikap dan perilaku yang ditampilkan guru tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari upaya pendisiplinan siswa di Madrasah. Melalui pengawasan akan dapat dideteksi sedini mungkin hambatan-hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan program-program pendidikan di Madrasah, sehingga dapat dicarikan solusi untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Artinya dengan pengawasan yang efektif akan dapat menjamin program-program pendidikan yang dilaksanakan di Madrasah mencapai sasaran yang diinginkan. Resistensi terhadap perubahan kemudian bukan ditemukan dalam individu, tetapi dalam realitas yang dikonstruksikan oleh individu. Partisipan yang mempunyai perbedaan realitas yang dikonstruksikan akan mempunyai sense yang berbeda terhadap diri mereka dan dunianya. Hasilnya, mereka akan menempuh tindakan yang berbeda, dan menunjukkan bentuk resistensi yang berbeda, tergantung pada realitas dimana mereka hidup. Resistensi kemudian dipahami sebagai sebuah respon terhadap suatu inisiatif perubahan, suatu respon hasil percakapan yang membentuk realitas dimana individu hidup.

 Saran :

 Budaya siswa yang positif akan mendorong semua warga sekolah untuk bekerja sama yang didasarkan saling percaya, mengundang partisipasi seluruh warga, Untuk Madrasah dituntut untuk memelihara perilaku siswa agar tidak menyimpang dan dapat mendorong siswa untuk berperilaku sesuai dengan norma, peraturan dan tata tertib yang berlaku di Madrasah. Sikap dan perilaku yang ditampilkan guru tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari upaya pendisiplinan siswa di Madrasah. Melalui pengawasan akan dapat dideteksi sedini mungkin hambatan-hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan program-program pendidikan di Madrasah, sehingga dapat dicarikan solusi untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Artinya dengan pengawasan yang efektif akan dapat menjamin program-program pendidikan yang dilaksanakan di Madrasah mencapai sasaran yang diinginkan. Resistensi terhadap perubahan kemudian bukan ditemukan dalam individu, tetapi dalam realitas yang dikonstruksikan oleh individu. Partisipan yang mempunyai perbedaan realitas yang dikonstruksikan akan mempunyai sense yang berbeda terhadap diri mereka dan dunianya

      DAFTAR PUSTAKA

 Dedi Supriadi. Kreativitas, Kebudayaan & Perkembangan Iptek.Bandung: Alfabeta.

            1994.

Duncombe, Stephen. “James Scott, From Weapons of the Weak” dalam Cultural

            Resistance Reader,Verson, London-New York, 2002.

Dryden, Gordon dan Vos, Jeannette. Revolusi cara belajar. Keajaiban pikiran.

            Bagian I. Bandung: Kaifa. 2002.

Khaterine, J. Educational Psychologi of the Gifted, New York : John Wiley & Sons;

            1982

Mohammad Amin. Peranan Kreativitas Dalam Pendidikan. Analisis Pendidikan,No.

            3 Tahun IV. Jakarta: Depdikbud. 1983.

Nawawi H.Haderi, Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas Sebagai Lembaga

            Pendidikan, Jakarta: Gunung Agung, 1985

Prayitno. Komponen dan Tolok Ukur Kreativitas (Laporan penelitian, Studi Awal

di Sumatera Barat). IKIP Padang. 1991.

Scott, James. Domination and the Arts of the Resistance.Yale University Press, 1990

Siswanto, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Sinar Baru, Bandung

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply