KOMPETENSI  GURU PROFESIONAL | Website BDK Palembang

KOMPETENSI  GURU PROFESIONAL

Oleh : Lilis Suryani

BAB. 1 PENDAHULUAN

PENGERTIAN KOMPETENSI PROFESIONAL

Kompetensi guru berkaitan dengan profesionalisme, yaitu guru yang profesional adalah guru yang kompeten (berkemampuan). Karena itu, kompetensi profesionalisme guru dapat diartikan sebagai kemampuan dan kewenangan guru dalam menjalankan profesi keguruannya dengan kemampuan tinggi. Profesionalisme seorang guru merupakan suatu keharusan dalam mewujudkan sekolah berbasis pengetahuan, yaitu pemahaman tentang pembelajaran, kurikulum, dan perkembangan manusia termasuk gaya belajar. Pada umumnya di sekolah-sekolah yang memiliki guru dengan kompetensi profesional akan menerapkan “pembelajaran dengan melakukan” untuk menggantikan cara mengajar dimana guru hanya berbicara dan peserta didik hanya mendengarkan.

 SIKAP PROFESIONAL KEGURUAN

Guru sebagai pendidik professional mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila dapat menunjukan kepada masyarakat bahwa ia layak menjadi panutan atau teladan masyarakat sekelilingnya. Masyarakat terutama akan melihat bagaimana sikap dan perbuatan guru itu sehari-hari, apakah memang ada yang patut diteladani atau tidak. Bagaimana guru meningkatkan pelayanannya, meningkatkan pengetahuannya, memberi arahan dan dorongan pada anak didiknya, dan bagaimana cara guru berpakaian dan berbicara serta cara begaul baik dengan siswa, teman-temannya serta anggota masyarakat, sering menjadi perhatian masyarakat luas.

Walaupun segala perilaku guru selalu di perhatikan masyarakat, tetapi yang akan dibicarakan dalam bagian ini adalah khusus prilaku guru yang berhubungan dengan profesinya. Hal ini berhubungan dengan bagaimana pola tingkah laku guru dalam memahami, menghayati, serta mengamalkan sikap kemampuan dan sikap profesionalnya. Pola tingkah laku guru yang berhubungan dengan itu akan dibicarakan sesuai dengan sasarannya, yakni sikap profesional keguruan terhadap:

Peraturan perundang-undangan

Organisasi profesi

Teman sejawat

Anak didik

Tempat kerja

Pemimpin

Pekerjaan

SASARAN SIKAP PROFESIONAL

Sikap terhadap peraturan perundang-undangan

Guru merupakan unsur aparatur Negara dan abdi Negara. Karena itu, guru mutlak perlu mengetahui kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan, sehingga dapat melaksanakan ketentuan-ketentuan yang merupakan kebijaksanaan tersebut. Kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan ialah segala peraturan-peraturan pelaksanaan baik yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, di pusat maupun di daerah, maupun departemen lain dalam rangka pembinaan pendidikan di Negara kita.

Sikap Terhadap Organisasi Profesi

Guru secara bersama-sama memeliharan dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian. Dasar ini menunjukan kepada kita betapa pentingnya peranan organisasi profesi sebagai wadah dan sarana pengabdian. PGRI sebagai organisasi profesi, memerlukan pembinaan, agar lebih berdaya guna dan berhasil guna sebagai wadah usaha untuk membawakan misi dan memantapkan profesi guru. Keberhasilan usaha tersebut sangat bergantung kepada kesadaran para anggotanya, rasa tanggung jawab, dan kewajiban para anggotanya.

Dalam dasar keenam dari Kode Etik ini dengan gamblang juga dituliskan, bahwa Guru secara pribadi dan bersama-sama, mengembangkan, dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya. Dasar ini sangat tegas mewajibkan kepada seluruh anggota profesi guru untuk selalu meningkatkan mutu dan martabat profesi guru itu sendiri.

Untuk meningkatkan mutu suatu profesi, khususnya profesi keguruan, dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan melakukan penataran, lokakarya, pendidikan lanjutan, pendidikan dalam jabatan, studi perbandingan, dan berbagai kegiatan akademik lainnya. Jadi, kegiatan pembinaan profesi tidak hanya terbatas pada pendidikan prajabatan atau pendidikan lanjutan di perguruan tinggi saja, melainkan dapat juga dilakukan setelah yang bersangkutan lulus dari pendidikan prajabatan ataupun sedang dalam melaksanakan jabatan.

Sikap Terhadap Teman Sejawat

Dalam ayat 7 Kode Etik Guru disebutkan bahwa “Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial.” Ini berarti bahwa: (1) Guru hendaknya menciptakan dan memelihara hubungan sesama guru dalam lingkungan kerjanya, dan (2) Guru hendaknya menciptakan dan memelihara semangat kekeluargaan dn kesetiakawanan sosial di dalam dan di luar lingkungan kerjanya.

Dalam hal ini Kode Etik Guru Indonesia menunjukkan kepada kita betapa pentingnya hubungan yang harmonis perlu diciptakan dengan mewujudkan perasaan bersaudara yang mendalam antara sesama anggota profesi. Hubungan sesama anggota profesi dapat dilihat dari dua segi, yakni hubungan forman dan hubungan kekeluargaan.

Hubungan formal ialah hubungan yang perlu dilakukan dalam rangka melakukan tugas kedinasan. Sedangkan hubungan kekeluargaan ialah hubungan persaudaraan yang perlu dilakukan, baik dalam lingkungan kerja maupun dalam hubungan keseluruhan dalam rangka menunjang tercapainya keberhasilan anggota profesi dalam membawakan misalnya sebagai pendidik bangsa.

Hubungan Guru Berdasarkan Lingkungan Kerja

Berhasil tidaknya sekolah membawakan misinya akan banyak bergantung kepada semua manusia yang terlibat di dalamnya. Agar setiap personel sekolah dapat berfungsi sebagaimana mestinya, mutlak adanya hubungan yang harmonis di antara sesama personil yaitu hubungan yang baik antar kepala sekolah dengan guru, guru dengan guru, kepala sekolah dengan semua personel sekolah lainnya. Semua personel sekolah ini harus dapat menciptakan hubungan yang baik dengan anak didiknya di sekolah tersebut.

Dalam suatu pergaulan hidup, bagaimanapun kecilnya jumlah manusia, akan terdapat perbedaan-perbedaan pemikiran, perasaan, kemauan, sikap, watak, dan lain sebagainya. Sekalipun demikian hubungan tersebut dapat berjalan lancar, tenteram, dan harmonis, jika di antara mereka tumbuh sikap saling pengertian dan tenggang rasa antara satu dengan yang lainnya.

Oleh sebab itu, agar jangan terjadi kaadaan yang berlarut-larut, kita perlu saling maaf-memaafkan dan memupuk suasana kekeluargaan yang akrab antara sesama guru dan aparatur di sekolah.

Hubungan Guru Berdasarkan Lingkungan Sekitar

Kalau kita ambil sebagai contoh profesi keguruan, maka dalam sumpah guru yang diucapkan pada awal atau persiapan pengawasan ujian nasional, antara lain terdapat kalimat yang menyatakan bahwa tiap pengawas (guru) tidak akan melakukan kecurangan selama proses ujian berlangsung.

Profesi keguruan masih memerlukan pembinaan yang sungguh-sungguh. Rasa persaudaraan masih perlu ditumbuhkan sehingga kelak akan dapat kita lihat bahwa hubungan guru dan teman sejawatnya berlangsung dengan baik.

Sikap Terhadap Anak Didik

Guru dalam mendidik seharusnya tidak hanya mengutamakan pengetahuan atau perkembangan intelektual saja, tetapi juga harus memperhatikan perkembangan seluruh pribadi peserta didik, baik jasmani, rohani, sosial, maupun yang lainnya yang sesuai dengan hakikat pendidikan. Ini dimaksudkan agar peserta didik pada akhirnya akan dapat menjadi manusia yang mampu menghadapi tantangan-tantangan dalam kehidupannya sebagai insan dewasa.

Sikap Terhadap Tempat Kerja

Suasana yang baik di tempat kerja akan meningkatkan produktivitas. Untuk menciptakan suasana kerja yang baik ini ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu: (a) guru sendiri, (b) hubungan guru dengan orang tua dan masyarakat sekeliling.

Guru harus aktif mengusahakan suasana yang baik itu dengan berbagai cara, baik dengan penggunaan metode mengajar yang sesuai, maupun dengan penyediaan alat belajar yang cukup, serta pengaturan organisasi kelas yang mantap, ataupun pendekatan lainnya yang diperlukan. Dalam menjalin kerjasama dengan orang tua dan masyarakat, sekolah dapat mengambil prakarsa, misalnya dengan cara mengundang orang tua sewaktu pengambilan rapor, mengadakan kegiatan-kegiatan yang melibatkan masyarakat sekitar, mengikutsertakan persatuan orang tua siswa atau BP3 dalam membantu meringankan permasalahan sekolah, terutama menanggulangi kekurangan fasilitas ataupun dana penunjang kegiatan sekolah.

Sikap Terhadap Pemimpin

Kerjasama yang dituntut pemimpin tersebut diberikan berupa tuntutan akan kepatuhan dalam melaksakan arahan dan petunjuk yang diberikan mereka, juga dapat diberikan dalam bentuk usulan dan malahan kritik yang membangun demi pencapaian tujuan yang telah digariskan bersama dan kemajuan organisasi. Dapat kita simpulkan sikap seorang guru terhadap pemimpin harus positif, dalam pengertian harus bekerja sama dalam menyukseskan program yang sudah disepakati, baik disekolah maupun diluar sekolah.

Sikap Terhadap Pekerjaan

Agar dapat memberikan layanan yang memuaskan masyarakat, guru harus selalu dapat menyesuaikan kemampuan dan pengetahuannya dengan keinginan dan permintaan masyarakat, dalam hal ini peserta didik dan para orang tuanya. Keinginan dan permintaan ini selalu berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakat. Guru selalu dituntut untuk secara terus-menerus meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan mutu layanannya.

Untuk meningkatkan mutu profesi secara sendiri-sendiri, guru dapat melakukannya secara formal maupun informal. Secara formal, artinya guru mengikuti berbagai pendidikan lanjutan atau kursus yang sesuai dengan bidang tugas , keinginan, waktu, dan kemampuannya. Secara informal guru dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melalui massa media seperti televisi, radio, majalah ilmiah, Koran, dan sebagainya, ataupun membaca buku teks dan pengetahuan lainnya yang cocok dengan bidangnya.

PENGEMBANGAN SIKAP PROFESIONAL

Dalam rangka meningkatkan mutu, baik mutu professional, maupun mutu layanan, guru harus pula meningkatkan sikap profesionalnya.

Pengembangan Sikap Selama Pendidikan Prajabatan

Dalam pendidikan prajabatan, calon guru dididik dalam berbagai pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan nanti. Pembetukan sikap yang baik tidak mungkin muncul begitu saja, tetapi harus dibina sejak calon guru memulai pendidikannya di lembaga pendidikan guru.

Pengembangan Sikap Selama dalam Jabatan

Peningkatan ini dapat dilakukan dengan cara formal melalui kegiatan mengikuti penataran, lokakarya, seminar, atau kegiatan ilmiah lainnya, ataupun secara informal media massa televisi, radio, koran, dan majalah maupun publikasi lainnya.

PEMBAHASAN

2.1KOMPONEN-KOMPONEN KOMPETENSI PROFESIONAL

Kompetensi professional merupakan salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang guru. Ada beberapa pandangan para ahli mengenai kompetensi professional.

Menurut Cooper ada 4 komponen kompetensi professional, yaitu;

Mempunyai pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia

Mempunyai pengetahuan dan menguasai bidang studi yang dibinanya

Mempunyai sikap yang tepat tentang diri sendiri, sekolah, teman sejawat, dan bidang studi yang dibinanya

Mempunyai keterampilan dalam teknik mengajar Sedangkan menurut (Johnson, 1980) mencakup:

2.2 Penguasaan Bahan Bidang Studi

Kompetensi pertama yang harus dimiliki seorang guru adalah penguasaan bahan bidang studi. Penguasaan ini menjadi landasan pokok untuk keterampilan mengajar. Yang dimaksud dengan kemampuan menguasai bahan bidang studi menurut Wijaya (1982) adalah kemampuan mengetahui, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mengintesiskan, dan mengevaluasikan sejumlah pengetahuan keahlian yang diajarkannya. Ada dua hal dalam menguasai bahan bidang studi :

Menguasai bahan bidang studi dan kurikulum sekolah

Untuk menguasai bahan bidang studi dan kurikulum sekolah dapat dilakukan dengan cara :

Mengkaji bahan kurikulum bidang studi

Mengkaji isi buku-buku teks bidang studi yang bersangkutan

Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang disarankan dalam kurikulum bidang studi

Menguasai bahan pendalaman atau aplikasi bidang studi. Hal ini dilakukan dengan cara :

Mempelajari ilmu yang relevan,

Mempelajari aplikasi bidang ilmu kedalam bidang ilmu lain.

Mempelajari cara menilai kurikulum bidang studi.

2.3 Pengelolaan Program Belajar Mengajar

Menurut Sciever (1991) : kemampuan mengelola program belajar mengajar dapat dilakukan dengan cara berikut ini :

Merumuskan tujuan instruksional. Kemampuan ini dilakukan dengan cara :

Mengkaji kurikulum bidang studi,

Mempelajari ciri-ciri rumusan tujuan instruksional,

Mempelajari tujuan instruksional bidang studi yang bersangkut, serta

Merumuskan tujuan instruksional bidang studi yang bersangkutan.

Mengenal dan dapat menggunakan metode mengajar. Kemampuan ini dapat dilakukan  dengan cara :

Mempelajari macam-macam metode mengajar, dan

Menggunakan macam-macam metode mengajar.

Memilih dan menyusun prosedur instruksional yang tepat, kemampuan ini dapat  dilakukan dengan cara :

Mempelajari kriteria pemilihan materi dan prosedur mengajar,

Menggunakan kriteria pemilihan materi dan prosedur mengajar,

Merencanakan program pelajaran, serta

Melaksanakan program belajar mengajar. Kemampuan ini dapat dilakukan dengan cara :

Mempelajari fungsi dan peran guru dalam proses belajar mengajar,

Menggunakan alat bantu belajar mengakar,

Menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar,

Memonitor proses belajar peserta didik, serta

Menyesuaikan rencana program pengajaran dengan situasi sekelas.

Mengenal kemampuan (entry behavior) anak didik. Kemampuan ini dilakukan dengan cara :

Mempelajari tingkat perkembangan dan faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian prestasi belajar,

Mempelajari prosedur dan tekhnik untuk mengidentifikasi kemampuan peserta didik, serta

Menggunakan prosedur dan tekhnik untuk mengidentifikasi kemampuan peserta didik.

Merencanakan dan melaksanakan pengajaran remedial. Kemampuan ini dapat dilakukan dengan cara :

Mempelajari faktor-faktor penyebab kesulitan belajar,

Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik,

Menyusun rencana pengajaran remedial, serta

Melaksanakan pengajaran remedial.

2.4 Pengelola Kelas

Kemampuan ini menggambarkan keterampilan guru dalam merancang, menata dan mengatur sumber-sumber belajar, agar dapat tercapai suasana pengajaran yang efektif dan efisien. Jenis kemampuan yang perlu dimiliki guru adalah :

Mengatur tata ruang untuk pengajaran

Kemampuan ini dapat dikuasai dengan cara berikut ini,

Mempelajari macam-macam pengaturan tempat duduk dan setting ruangan kelas sesuai dengan tujuan-tujuan instruksional yang hendak dicapai, serta

Mempelajari kriteria penggunaan macam-macam pengaturan tempat duduk   dan setting ruangan.

Menciptakan iklim belajar mengajar yang kondusif.

Kemampuan ini dapat dikuasai dengan cara berikut ini

Mempelajari faktor-faktor yang menggangu iklim belajar mengajar yang kondusif

Mempelajari strategi dan prosedur pengelolaan kelas yang bersifat preventif

Mengunakan strategi dan prosedur pengelolaan kelas yang bersifat prevenktif

Menggunakan prosedur pengelolaan kelas yang bersifat kuratif.

2.5 Pengelolaan Dan Penggunaan Media Serta Sumber Belajar

Kemampuan ini pada dasarnya merupakan kemampuan menciptakan kondisi belajar yang merangsang agar proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisisen.

Mengenal, memilih dan mengunakan media, kemampuan ini dapat dikuasai dengan cara berikut :

Mempelajari macam-macam media pendidikan,

Mempelajari kriteria pemilihan media pendidikan,

Menggunakan media pendidikan, serta

Merawat alat-alat bantu belajar mengajar.

Membuat alat-alat bantu pelajaran sederhana. Kemampuan ini dapat dikuasai dengan cara :

Mengenali bahan-bahan yang tersedia di linkungan sekolah untuk membuat alat- alat bantu,

Mempelajari perkakas untuk membuat alat-alat bantu mengajar, serta

Mengunakan perkakas untuk membuat alat-alat bantu mengajar

Menggunakan mengelola laboratorium dalam rangka proses belajar mengajar. Khusus untuk guru IPA kemampuan ini dapat dikuasai dengan cara:

Mempelajari cara-cara mengunakan laboratorium,

Mempelajari cara-cara dan aturan pengamanan kerja di laboratorium,

Berlatih mengatur tata ruang laboratorium, serta

Mempelajari cara merawat dan menyimpan alat-alat

Khusus untuk guru IPA, dapat mengembangkan laboratorium, kegiatan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

Mempelajari fungsi laboratorium dalam proses belajar mengajar,

Mempelajari kriteria pemilihan alat,

Mempelajari berbagai desain laboratorium,

Menilai keefektifan kegiatan laboratium, serta

Mengembangkan eksperimen baru

Menggunakan perpustakan dalam proses belajar mengajar, kegiatan yang dapat dilakukan adalah :

Mempelajari funsi-fungsi perpustakan dalam proses belajar mengajar,

Mempelajari macam-macam sumber perpustakaan,

Menggunakan macam-macam sumber perpustakaan,

Mempelajari kriteria pemilihan sumber perpustakaan, serta

Menilai sumber-sumber kepustakaan.

2.6 Penguasaan Landasan-Landasan Kependidikan

Kemampuan menguasai landasan-landasan kependidikan berkaitan dengan kegiatan sebagai berikut :

Mempelajari konsep dan masalah pendidikan dan pengajaran dengan sudut tinjauan sosiologi, filosofis, historis, dan psikologis.

Mengenal fungsi sekolah adalah sebagai lembaga sosial yang secara potensial dapat memajukan masyarakat dalam arti luas serta pengaruh timbale balik antar sekolah dan masyarakat.

Mengenal karakteristik peserta didik baik secara fisik maupun psikologis.

Mampu Menilai Prestasi Belajar Mengajar

Kemampuan menilai prestasi belajar mengajar perlu dimiliki seorang guru. Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan mengukur perubahan tingkah laku peserta didik dan kemampuan mengukur kemahiran dirinya dalam mengajar dan dalam membuat program. Dalam setiap pekerjaan evaluasi ada tiga sasaran yang hendak dicapai, yaitu:

Prestasi berupa pernyataan dalam bentuk angka dan nilai tingkah laku,

Prestasi mengajar berupa peryataan lingkungan yang mengamatinya melalui penghargaan atas prestasi yang dicapainya, serta

Keunggulan program yang dibuat guru, karena relevan dengan kebutuhan peserta didik dan lingkungannya.

Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan guru dalam menilai prestasi peserta didik untuk kepentingan pengajaran adalah sebagai berikut:

Mempelajari fungsi penilaian

Mempelajari bermacam-macam teknik dan prosedur penilaian

Menyusun teknik dan prosedur penilaian

Mempelajari kriteria pemilihan teknik dan prosedur penilaian

2.7  Memahami Prinsip-Prinsip Pengelolaan Lembaga Dan Program Pendidikan Di Sekolah

Di samping melaksanakan proses belajar mengajar, diharapkan guru membantu kepala sekolah dalam menghadapi berbagai kegiatan pendidikan lainnya yang digariskan dalam kurikulum, guru perlu memahami pula prinsip-prinsip dasar tentang organisasi dan pengelolaan sekolah, bimbingan penyuluhan termasuk bimbingan karier, program kokurikuler dan ekstrakurikuler, perpustakaan sekolah serta hal-hal yang terkait.

2.8  Menguasai Metode Berpikir

Metode dan pendekatan setiap bidang studi berbeda-beda. Menurut Reynold (1990) metode dan pendekatan berpikir keilmuan bermuara pada titik tumpu yang sama. Oleh karena itu, untuk dapat menguasai metode dan pendekatan bidang-bidang studi, guru harus menguasai metode berpikir ilmiah secara umum.

Meningkatkan Kemampuan Dan Menjalankan Misi Profesional

Ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru harus terus-menerus mengembangkan dirinya agar wawasannya menjadi luas sehingga dapat mengikuti perubahan dan perkembangan profesinya yang didasari oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut.

Terampil Memberikan Bantuan Dan Bimbingan Kepada Peserta Didik

Bantuan dan bimbingan kepada peserta didik sangat diperlukan agar peserta didik dapat mengembangkan kemampuannya melalui proses belajar mengajar di kelas. Untuk itu, guru perlu memahami berbagai teknik bimbingan belajar dan dapat memilihnya dengan tepat untuk membantu para peserta didik.

Ada dua hal yang perlu dimiliki dalam memberikan bantuan dan bimbingan kepada peserta didik.

Mengenal fungsi dan program layanan dan penyuluhan di sekolah, yang dapat dilakukan dengan cara:

Mempelajari fungsi bimbingan dan penyuluhan di sekolah

Mempelajari program layanan bimbingan di sekolah

Mengkaji persamaan dan perbedaan fungsi, kewenangan, serta tanggung jawab antarguru dan pembimbing di sekolah

Menyelenggarakan program layanan bimbingan di sekolah, hal ini dilakukan dengan cara:

Mengidentifikasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi murid di sekolah

Menyelenggarakan program layanan bimbingan di sekolah, terutama bimbingan belajar

2.9 Memiliki Wawasan Tentang Penelitian Pendidikan

Guru perlu mengikuti perkembangan yang terjadi dalam dunia pendidikan dan pengajaran, terutama hal-hal yang menyangkut pelaksanaan tugas-tugas pokoknya di sekolah. Setiap guru perlu memiliki kemampuan untuk memahami hasil-hasil penelitian itu dengan tepat sehingga mereka perlu memiliki wawasan yang memadai tentang prinsip-prinsip dasar dan cara-cara melaksanakan penelitian pendidikan.

Kegiatan yang dapat dilakukan oleh guru adalah sebagai berikut:

Mempelajari dasar-dasar penggunaan metode ilmiah dalam penelitian pendidikan.

Mempelajari teknik dan prosedur penelitian pendidikan terutama sebagai konsumen hasil-hasil penelitian pendidikan.

Menafsirkan hasil-hasil penelitian untuk perbaikan pengajaran.

Mampu menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran.

Perkembangan ilmu dan teknologi sangat dipengaruhi oleh hasil-hasil penelitian. Penelitian sederhana yang dilakukan oleh guru itu mencakup pengamatan kelas pada waktu mengajar, mengidentifikasi faktor-faktor khusus yang mempengaruhi kelancaran proses belajar mengajar dan mempengaruhi hasil belajar, menganalisis alat penilaian untuk mengembangkannya secara lebih efektif.

Mampu Memahami Karakteristik Peserta Didik

Guru dituntut memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang ciri-ciri dan perkembangan peserta didik, lalu menyesuaikan bahan yang akan diajarkan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Menurut Rochman Natawijaya (1989:7), pemahaman yang dimaksud mencakup pemahaman tentang kepribadian murid serta factor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya, perbedaan individual di kalangan peserta didik, kebutuhan, motivasi dan kesehatan mental peserta didik, tugas-tugas perkembangan yang perlu dipenuhi pada tingkat-tingkat usia tertentu, serta fase-fase perkembangan yang dialami mereka.

2.10  UNSUR PEMBENTUK KOMPETENSI PROFESIONAL

Unsur pembentuk kompetensi profesional guru adalah tingkat komitmennya terhadap profesi guru dan didukung oleh tingkat abstraksi atau kemampuan menggunakan nalar.

Guru yang rendah tingkat komitmennya, ditandai oleh ciri-ciri sebagai berikut ;

Perhatian yang disisihkan untuk memerhatikan siswanya hanya sedikit.

Waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk melaksanakan tugasnya hanya sedikit.

Perhatian utama guru hanyalah jabatannya.

Sebaliknya, guru yang mempunyai tingkatan komitmen tinggi, ditandai oleh ciri-ciri sebagai berikut :

Perhatiannya terhadap siswa cukup tinggi.

Waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk melaksanakan tugasnya banyak.

Banyak bekerja untuk kepentingan orang lain.

Untuk Menjadi Guru Profesional, Seseorang Harus :

Mengerti dan menyenangi dunia pendidikan, dan didukung dengan kompetensi profesionalisme.

Menerapkan prinsip mengajar yang baik serta mempunyai komitmen yang tinggi terhadap pendidikan.

Mempunyai motivasi kerja yang baik sehingga dapat meningkatkan kinerja guru dalam proses belajar mengajar.

Berjiwa sabar dan bisa dijadikan suri tauladan bagi anak didiknya, baik dalam berkata maupun bersikap.

Memiliki multi peran sehingga mampu menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif dan suasana sekolah yang kondusif.

Mengikuti perkembangan teknologi komunikasi dan informasi untuk dunia pendidikan.

Mempunyai program pengajaran yang jelas dan terarah sesuai dengan kurikulum.

Berbudi pekerti luhur dan berkepribadian yang santun dan bertanggungjawab.

BAB. 3 PENUTUP

Kesimpulan

Guru sebagai pendidik professional mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila dapat menunjukan kepada masyarakat bahwa ia layak menjadi panutan atau teladan masyarakat sekelilingnya.

Bagaimana guru meningkatkan pelayanannya, meningkatkan pengetahuannya, memberi arahan dan dorongan pada anak didiknya, dan bagaimana cara guru berpakaian dan berbicara serta cara begaul baik dengan siswa, teman-temannya serta anggota masyarakat, sering menjadi perhatian masyarakat luas.

Sasaran sikap professional guru terdiri dari sikap professional keguruan terhadap peraturan perundang-undangan, organisasi profesi, teman sejawat, anak didik, tempat kerja, pemimpin, dan pekerjaan.

Dalam rangka meningkatkan mutu, baik mutu professional, maupun mutu layanan, guru harus pula meningkatkan sikap profesionalnya. Pengembangan ini dapat dilakukan baik selagi dalam pendidikan prajabatan maupun setelah bertugas (dalam jabatan).

Kompetensi professional merupakan salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang guru. Komponen-komponennya terdiri atas:

penguasaan bahan bidang studi,

pengelolaan program belajar mengajar,

pengelola kelas,

pengelolaan dan penggunaan media serta sumber belajar,

penguasaan landasan-landasan kependidikan,

mampu menilai prestasi belajar mengajar,

DAFTAR PUSTAKA

Pantiwati, y. 2001. Upaya peningkatan Profesionalisme kepemimpinan. Malang: PSSJ PPS Universitas Malang.

http://makalahfrofesikependidikan.blogspot.com/2010/07/kompetensi-guru-profesi.html

Journal PAT. 2001. Manajemen dan Kepemimpinan . April/Mei 2001. 2001)

Semiawan, C.R. 1991. Strategi Pengembangan Diri Untuk Menjadi Pemimpin Jakarta: Grasind

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply