KONFLIK , ETNIS DAN DISINTEGRITAS | Website BDK Palembang

KONFLIK , ETNIS DAN DISINTEGRITAS

KONFLIK , ETNIS DAN DISINTEGRITAS

Oleh : Salman Saesar  Widyaiswara Utama

 Abstrak

Konflik dibutuhkan karena berguna uintuk membuat kita menyadari adanya masalah, mendorong kearah perubahan yang diperlukan, memperbaiki solusi, menumbuhkan semangat, mempercepat perkembangan pribadi, menambah kepedulian diri, mendorong kedewasaan psikologis dan menimbulkan kesenangan.(Tjosvold, 1982). Selain itu, tulisan ini juga memberikan beberapa gagasan penting untuk menjaga kebangsaan yang dimiliki oleh kelompok etnis, terutama Indonesia dalam kondisi multietnis yang memiliki risiko besar dan potensi menjadi kecelakaan akibat konflik etnis dan disintegrasi.

Setiap individu dalam masyarakat memiliki perspektif yang berbeda tentang hidup dan masalah-masalahnya. Perbedaan perspektif tersebut disebabkan karena masing-masing kita memiliki sejarah dan karakter yang unik, dilahirkan dalam cara hidup tertentu serta masing-masing kita memiliki nilai-nilai yang memandu pikiran dan perilaku yang memotivasi kita untuk mengambil tindakan tertentu dan menolak tindakan lainnya. Orang sering beranggapan bahwa ketika memiliki fakta yang sama, semua orang akan sampai pada suatu analisis yang sama.

Kata Kunci : Konflik, Etnis dan Disintegritas

Pendahuluan

Konflik dapat diartikan sebagai hubungan antar dua pihak atau lebih (individu maupun kelompok) yang memiliki atau merasa memiliki-sasaran-sasaran yang tidak sejalan. (Mitchell, 1981). Pengertian ini harus dibedakan dengan kekerasan, yaitu sesuatu yang meliputi tindakan, perkataan, sikap atau berbagai struktur dan sistem yang mengakibatkan kerusakan secara fisik, mental, sosial dan lingkungan dan atau menghalangi seseorang meraih potensinya secara penuh. (Fisher,et.al., 2001)         Konflik adalah kenyataan hidup (reality), tidak terhindarkan (undeniable) dan bersifat kreatif. Berbagai perbedaan pendapat dan konflik biasanya dapat diselesaikan tanpa kekerasan dan sering menghasilkan situasi yang lebih baik lagi bagi sebagian besar atau semua pihak yang terlibat. Karena itu konflik tetap berguna apalagi karena ia memang merupakan bagian dari keberadaan manusiawi kita. Dari tingkat mikro, antar pribadi hingga tingkat kelompok, organisasi, masyarakat dan Negara, semua bentuk hubungan manusia-sosial, ekonomi dan kekuasaan-, mengalami pertumbuhan, perubahan dan konflik. Konflik dibutuhkan karena berguna uintuk membuat kita menyadari adanya masalah, mendorong kearah perubahan yang diperlukan, memperbaiki solusi, menumbuhkan semangat, mempercepat perkembangan pribadi, menambah kepedulian diri, mendorong kedewasaan psikologis dan menimbulkan kesenangan.(Tjosvold, 1982).

Seperti diyakini kaum modernis, dalam dunia modern etnisitas akan hilang atau paling tidak surut diganti dengan entitas sosial berbasis pada ekonomi, kelas, partai atau kelompok kepentingan (interest group) yang lain. Sentimen etnisitas digeser oleh kesadaran kelas, politik etnis diganti dengan politik kelas, nasionalisme digeser oleh globalisme. Betulkah demikian ? Betulkan etnisitas sudah usang, menjadi klasik, semakin surut peranannya dalam dunia modern? Kalau demikian halnya, mengapa kini kita membicarakan soal etnisitas. Apakah betul soal etnisitas kini telah kehilangan relevansinya ?

Dengan demikian, konflik, etnisitas ini jelas tetap relevan didiskusikan dan penting dalam dunia kita sekarang, bahkan semakin penting untuk dibicarakan. Tentu saja bukan dengan cara pandang yang klasik seperti itu. Kita perlu cara pandang baru untuk menjelaskannya. Bicara etnisitas dalam dunia kita sekarang adalah bicara soal klasik namun perlu dengan cara pandang baru. Teori modernisasi sudah usang, klasik, perlu diganti dengan teori baru. Menggunakan istilah Thomas Kuhn, paradigma modernisasi boleh jadi telah mengalami krisis dan anomali karena tidak bisa menjelaskan perkembangan jaman. Sehingga perlu revolusi paradigmatik untuk menggantikannya.

2. Pembahasan

Pada tataran yang lebih luas, konflik juga dapat disebabkan oleh masalah-masalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai masalah-masalah sosial, budaya, politik dan ekonomi. Kondisi konflik akan berubah menjadi kekerasan massa terbuka jika dilakukan mobilisasi atas konflik yang terjadi. Kondisi psikologis konflik juga tidak akan secara langsung mengakibatkan timbulnya perilaku kekerasan kolektif tanpa adanya kejadian yang menjadi pemicu.

 Pengertian Konflik

Konflik muncul, apabila terdapat adanya ketidaksesuaian paham pada sebuah situasi sosial tentang pokok-pokok pikiran tertentu da,p/atau terdapat adanya antagonisme-antagonisme emosional.Pengertian Konflik dari beberapa ahli sebagai berikut :

Konflik terjadi karena adanya interaksi yang disebut komunikasi. Hal ini dimaksudkan apabila kita ingin mengetahui konflik berarti kita harus mengetahui kemampuan dan perilaku komunikasi. Semua konflik mengandung komunikasi, tapi tidak semua konflik berakar pada komunikasi yang buruk. Menurut Myers, Jika komunikasi adalah suatu proses transaksi yang berupaya mempertemukan perbedaan individu secara bersama-sama untuk mencari kesamaan makna, maka dalam proses itu, pasti ada konflik (1982: 234). Konflik pun tidak hanya diungkapkan secara verbal tapi juga diungkapkan secara nonverbal seperti dalam bentuk raut muka, gerak badan, yang mengekspresikan pertentangan (Stewart & Logan, 1993:341). Konflik tidak selalu diidentifikasikan sebagai terjadinya saling baku hantam antara dua pihak yang berseteru, tetapi juga diidentifikasikan sebagai ‘perang dingin’ antara dua pihak karena tidak diekspresikan langsung melalui kata – kata yang mengandung amarah.

Konflik tidak selamanya berkonotasi buruk, tapi bisa menjadi sumber pengalaman positif (Stewart & Logan, 1993:342). Hal ini dimaksudkan bahwa konflik dapat menjadi sarana pembelajaran dalam memanajemen suatu kelompok atau organisasi. Konflik tidak selamanya membawa dampak buruk, tetapi juga memberikan pelajaran dan hikmah di balik adanya perseteruan pihak – pihak yang terkait. Pelajaran itu dapat berupa bagaimana cara menghindari konflik yang sama supaya tidak terulang kembali

Etnisitas

Sementara orang berpendapat bahwa etnisitas merupakan sesuatu yang “klasik”, soal yang sudah usang. Seperti diyakini kaum modernis, dalam dunia modern etnisitas akan hilang atau paling tidak surut diganti dengan entitas sosial berbasis pada ekonomi, kelas, partai atau kelompok kepentingan (interest group) yang lain. Sentimen etnisitas digeser oleh kesadaran kelas, politik etnis diganti dengan politik kelas, nasionalisme digeser oleh globalisme.

Betulkan etnisitas sudah usang, menjadi klasik, semakin surut peranannya dalam dunia modern? Kalau demikian halnya, mengapa kini kita membicarakan soal etnisitas. Apakah betul soal etnisitas kini telah kehilangan relevansinya ?

Nanti dulu, tengoklah masyarakat kita dan pandanglah ke dunia global. Kalau memang demikian, mengapa sekarang ini masih terjadi gejolak konflik etnis begitu hebat di berbagai daerah dan Negara. Sejak Perang Dunia Kedua usai, dunia kita diwarnai oleh konflik etnis dan agama. Konflik antar negara sisa-sisa Perang Dunia Kedua semakin surut, digantikan konflik internal antar etnis-agama dan antara etnis-agama dengan Negara (Gurr, 1993). Banyak Negara kini mengahadapi problem konflik internal etnis-agama ini termasuk Indonesia, seperti terjadi di Kalimantan, Maluku, di Aceh, Papua dan sebagainya.

Dunia kita juga menyajikan realitas ternyata etnisitas tidak pernah surut dari muka bumi. Modernisasi dan kapitalisme tidak bisa menghancurkannya, sebaliknya justru membangkitkannya dalam bentuknya yang baru. Cara produksi kapitalisme justru menghasilkan pengelompokan dan mobilisasi etnis tersendiri (Pieterse, 1996). Bahkan telah mendorong munculnya radikalisme politik etnis-agama sebagai bentuk perlawanan terhadap modernisasi dan kapitalisme, seperti terjadi dalam kasus munculnya fundamentalisme tradisi-agama dimana-mana sekarang ini (Gidden, 1994). Apa hubungannya antara konflik dengan etnisitas? Apakah etnisitas menjadi sumber konflik? Tidak, memang. Tetapi kurangnya saling memahami perbedaan etnisitas telah mejadikan banyak konflik antar etnis yang berbeda sering berkepanjangan bahkan berulang. Sebagai contoh, konflik yang terjadi di Kalimantan Barat antar berbagai etnis yang ada sejak tahun 1963 sampai 1999 telah tercatat 12 kali. Konflik antara etnis Dayak dengan Tioghoa bermotifkan politik yaitu rekayasa ABRI (TNI) terjadi tahun 1967, antara Dayak dengan Madura terjadi sebanyak 9 kali yaitu tahun 1963, 1968, 1970, 1972, 1977, 1979, 1983’1989, 1996/ 1997, dan konflik antara etnis Sambas dengan Madura terjadi pada tahun 1998/1999( Alqadri 2000: 1).

Dengan demikian, konflik, etnisitas ini jelas Dengan demikian, konflik, etnisitas ini jelas tetap relevan didiskusikan dan penting dalam dunia kita sekarang, bahkan semakin penting untuk dibicarakan. Tentu saja bukan dengan cara pandang yang klasik seperti itu. Kita perlu cara pandang baru untuk menjelaskannya. Bicara etnisitas dalam dunia kita sekarang adalah bicara soal klasik namun perlu dengan cara pandang baru. Teori modernisasi sudah usang, klasik, perlu diganti dengan teori baru. Menggunakan istilah Thomas Kuhn, paradigma modernisasi boleh jadi telah mengalami krisis dan anomali karena tidak bisa menjelaskan perkembangan jaman. Sehingga perlu revolusi paradigmatik untuk menggantikannya.

Disintegritas

Proses integrasi dan disintegrasi akibat kebijakan Negara itu berproses sangat dinamis, tarik-menarik, mengalami pergeseran, perubahan dan tumpang tindih satu sama lain. Hal itu bisa mendorong integrasi antar komunitas atau sebaliknya konflik dan segregasi antar komunitas. Kebijakan politik dan ekonomi yang fair bisa diakses oleh berbagai kelompok etnis, misalnya, bisa mengakibatkan dua komunitas etnis menyatu dalam berbagai aktivitas politik ekonomi. Demikian pula, format demokrasi konsesiasional diyakini beberapa kalangan bisa mengakomodasi berbagai kepentingan politik kelompok etnik dalam masyarakat majemuk (Lijpart, 1977).

Namun tidak jarang hal itu menimbulkan konflik diantara komunitas. Hal itu terjadi ketika penyatuan akibat kebijakan Negara tidak disertai dengan proses asimilasi yang jelas dan sistematis sehingga terjadi kompetisi sengit dan perebutan sumberdaya politik, kekuasaan, ekonomi dan kultural. Bila kebijakan itu tidak disertai dengan adanya formula pembagian kekuasaan dan sumberdaya politik, ekonomi, budaya yang jelas dan diterima berbagai kelompok maka hal tersebut bisa menimbulkan konflik yang hebat. Terutama hal itu bisa terjadi ketika pengikat penyatuan itu, baik atas dasar kepentingan bersama atau dipaksakan oleh inkorporasi Negara tidak efektif lagi mengikat hubungan antar kelompok etnis. Konflik hebat yang terjadi antar komunitas di Maluku, Kalimantan, Poso dan sebagainya di tanah air belakangan merupakan beberapa kasus konflik yang terjadi ketika kebijakan politik ekonomi selama ini tidak disertai dengan kebijakan asimilasi dan formulasi yang jelas dalam pembagian sumberdaya politik, ekonomi, kekuasaan, diantara mereka.

Kesimpulan

                  Konflik etnis sebagaimana dipaparkan dimuka meskipun akarnya bisa sangat struktural namun manifestasinya seringkali berupa benturan sosial budaya. Ada beberapa pilihan tersedia untuk mengatasi kecenderungan konflik etnis yang kurang lebih bersifat budaya seperti itu. Konflik etnis sebagaimana dipaparkan dimuka meskipun akarnya bisa sangat struktural namun manifestasinya seringkali berupa benturan sosial budaya. Ada beberapa pilihan tersedia untuk mengatasi kecenderungan konflik etnis yang kurang lebih bersifat budaya seperti itu:

Pertama, dengan cara pemisahan atau segregasi. Satu komunitas etnis secara sengaja hidup terpisah atau dipisahkan dengan komunitas etnis lain dengan prinsip tidak saling mengganggu satu sama lain. Hal ini bisa menciptakan perdamaian dalam arti koeksistensi damai meskipun bersifat semu karena sulitnya otonomi masing-masing dipelihara. Konflik etnis sebagaimana dipaparkan dimuka meskipun akarnya bisa sangat struktural namun manifestasinya seringkali berupa benturan sosial budaya. Ada beberapa pilihan tersedia untuk mengatasi kecenderungan konflik etnis yang kurang lebih bersifat budaya seperti itu.

Kedua dengan cara exit, cerai, memisahkan diri. Komunitas yang satu secara sengaja memisahkan diri, kel;uar (exit), bercerai dari dominasi dan pengaruh hegemoni kelompok etnis lain. Mereka kemudian mencari tempat tersendiri yang aman dan damai, terpisah keterhubungannya dengan kelompok dominatif itu.

Ketiga dengan cara dialog. Komunitas etnis yang berkonflik mencoba membuka komunikasi, mencari kesesuaian, menghargai perbedaan dengan komunitas etnis lainnya menjadi sebuah komunitas dialogis. Melalui komunikasi dan dialog, pemahaman satu sama lain bisa dibangun, persepsi permusuhan bisa didekonstruksi, ketidaksesuaian cara hidup bisa diatur, menuju kerjasama dan saling ketergantungan satu sama lain.

Daftar Pustaka

Juanita S.E., M.Kes., artikel Memanejemen Konflik dalam Organisasi,2002     2.         Prof. DR. Sadu Wasisitiono, M.S., bahan ajar Manajemen Konflik                      3.     Ritha F. Dalimunthe S.E., M.Si., C.D, artikel Peranan Manajemen Konflik                  

Pada Suatu Oranisasi, 2003

Undang- Undang No. 7 tahun 2012, tentang Penangan Paska Konflik

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply