MENGAKHIRI KELAS YANG MENGESANKAN | Website BDK Palembang

MENGAKHIRI KELAS YANG MENGESANKAN

Oleh

Muhammad Abduh

Dalam pertandingan olah raga, menit-menit akhir merupakan saat yang paling menegangkan karena akan menentukan status akhir suatu perlombaan, kemenangan atau kekalahan.

Seorang pencari kerja yang telah menyelesaikan beberapa tahapan seleksi, akan diputuskan apakah diterima atau ditolak lamarannya ditentukan pada tahapan akhir seleksi yakni wawancara.

Nasib seseorang dalam kehidupannya di akherat nanti apakah menjadi ahli surga atau ahli neraka sangat ditentukan  di menit-menit akhir kehidupannya di dunia, khusnul khatimah atau suul khatimah. Banyak orang dalam masa kehidupannya dipenuhi dengan maksiat, namun akhir dari kehidupannya dihiasi dengan taubat nasuhah. Demikian sebaliknya tidak sedikit orang yang masa mudanya sebagai orang yang taat tapi menjelang ajalnya menjadi orang yang durhaka.

Begitulah menit-menit akhir adalah waktu yang sangat menentukan. Dalam banyak kasus seperti cerama, pidato, pertunjukan atau pengajaran, pada menit-menit awal dilalui dengan menarik namun gagal dalam mengakhirinya. Di  awal proses dapat dilalui dengan baik tapi ketika mengakhirinya tidak dilakukan dengan baik sehingga tidak memberikan kesan yang berarti. Karenanya penting menjaga menit-menit akhir.

Dalam pembelajaran, kegiatan penutup sama urgennya dengan pembukaan. Jika pembukaan berfungsi membentuk kesan pertama, maka penutup adalah membentuk sikap yang akan melahirkan tindakan berikutnya. Singkatnya penutup adalah kegiatan pamungkas yang mampu menjadikan siswa memiliki semangat membara atau tidak termotivasi sama sekali. Jika penutupnya memberi kesan yang membekas, maka tindakan yang akan dihasilkan adalah semangat belajar yang membara. Namun jika penutupnya datar dan biasa-biasa saja maka responnya pun akan hambar.

Dalam kegiatan penutup, biasanya aktifitas yang dilakukan guru bersama-sama dengan siswa dan/atau sendiri adalah membuat rangkuman/simpulan pelajaran, melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram, memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran, merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedial, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik, dan menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

Kegiatan semacam itu menjadi prosedur baku yang sudah lazim dilaksanakan oleh para guru. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kegiatan di atas, namun demikian ada baiknya kegiatan penutup itu dibikin lebih mengesankan ketimbang sekedar kegiatan-kegiatan yang bersifat rutinitas tanpa ruh.

Oleh karena itu dalam kegiatan penutup para guru dapat menyisipkan hal-hal berikut, yaitu :

Motivasi

Motivasi merupakan ‘alasan’ yang mendasari sebuah perbuatan yang dilakukan oleh seorang individu. Seseorang dikatakan memiliki motivasi tinggi dapat diartikan orang tersebut memiliki alasan yang sangat kuat untuk mencapai apa yang diinginkannya dengan mengerjakan pekerjaannya.

Syaiful Bahri mengemukakan tiga fungsi motivasi belajar, yaitu :

a) Motivasi sebagai pendorong perbuatan

Pada mulanya siswa tidak ada hasrat untuk belajar, tetapi karena ada sesuatu yang dicari, muncullah minat untuk belajar. Hal ini sejalan dengan rasa keingintahuan dia yang akhirnya mendorong siswa untuk belajar. Sikap inilah yang akhirnya mendasari dan mendorong ke arah sejumlah perbuatan dalam belajar. Jadi, motivasi yang berfungsi sebagai pendorong ini mempengaruhi sikap apa yang seharusnya siswa ambil dalam rangka belajar.

b) Motivasi sebagai penggerak perbuatan

Dorongan psikologis yang melahirkan sikap terhadap siswa itu merupakan suatu kekuatan yang tak terbendung. Siswa akan melakukan aktivitas dengan segenap jiwa dan raga. Akal dan pikiran berproses dengan sikap raga yang cenderung tunduk dengan kehendak perbuatan belajar.

c) Motivasi sebagai pengarah perbuatan

Yaitu dengan menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang mendukung guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Adapun strategi dalam memberikan motivasi kepada siswa pada kegiatan penutup pembelajaran dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

Memberikan hadiah

Hadiah dapat menjadi motivasi belajar yang kuat siswa. Karenanya pemberian hadiah secara rutin dan terencana perlu dilakukan ketika mengakhiri pembelajaran. Hadiah tidak selalu berupa materi tetapi juga bisa berupa simbol-simbol seperti angka, bintang, smile, dsb

Memberikan pujian

Apabila ada siswa yang berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik atau mengikuti pembelajaran dengan baik maka perlu diberikan pujian. Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan memberikan motivasi yang baik bagi siswa. Pujian dapat memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi motivasi  belajar serta sekaligus akan membangkitkan harga diri.

Bercerita

Menutup kelas dengan cerita inspiratif yang menggugah dapat membangkitkan semangat belajar siswa. Dari cerita siswa dapat mengambil banyak pelajaran tentang kehidupan sehingga dapat dijadikan cermin untuk menata hari-harinya agar lebih baik.

Di bawah ini beberapa contoh cerita inspiratif yang dapat digunakan dalam mengakhiri pembelajaran.

Tentang Menghargai Waktu

Imam Ibnu Abi Hatim ketika mau makan kue dicelupkan kedalam air. Ketika kebiasaan itu ditanyakan oleh muridnya, ia menjawab, ”Berapa menit waktuku terbuang hanya untuk mengunyah makanan berlama-lama. Masih banyak hal dari agama ini yang belum aku ketahui. Kalau roti tersebut kering lantas aku celup dengan air, bukankah hal ini mempercepat waktu makan dan hasilnyapun sama.”

Imam Syafi’I berkata, ”Wahai saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara yang mesti dipenuhi. Yaitu semangat, kesungguhan, kecerdasan, perbekalan yang cukup, petunjuk guru dan panjangnya waktu.” Kamar beliau penuh dengan kitab-kitab, hingga hanya sekadar untuk selonjorpun sulit.

Imam Ibnu Qayyim Al-Juziyah, murid dari Ibnu Taimiyah yang mampu mengarang kitab Zaadul Ma’aad dalam perjalanan hajinya. Kitab tersebut terdiri 6 jilid, masing-masing jilid rata-rata 400 sampai 500 halaman.

Ibnu Hajar Al-Asqalani yang belajar Sunan Ibnu Majah dalam empat majelis, Shahih Muslim dalam empat majelis, Sunan Nasai dalam dua majelis, yang semua dilakukan dalam waktu yang sangat padat. Beliau juga menelorkan karya istimewa, yaitu kitab Fathul Bari syarah Shahih Bukhari yang digambarkan sebagai penutup hijrah pencerahan, yang artinya tidak ada yang mampu menandingi kitab syarah karya beliau yang lebih lengkap sesudahnya.

Majduddin Ibn Taimiyyah (Kakek Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah) jika akan masuk kamar mandi berkata kepada orang yang ada di sekitarnya: Bacalah kitab ini dengan suara keras agar aku bisa mendengarnya di kamar mandi.

Tentang Semangat Menuntut Ilmu

Jarir bin Hasyim. “Aku belajar kepada Al-Hasan selama tujuh tahun, dan selama kurun itu, aku tidak pernah absen,” katanya.

Al-Imam an Nawawy setiap hari membaca 12 jenis ilmu yang berbeda (Fiqh, Hadits, Tafsir, dsb..)

Ibnu Thahir al-Maqdisy berkata : Aku dua kali kencing darah dalam menuntut ilmu hadits, sekali di Baghdad dan sekali di Mekkah. Aku berjalan bertelanjang kaki di panas terik matahari dan tidak berkendaraan dalam menuntut ilmu hadits sambil memanggul kitab-kitab di punggungku

Al-Hasan alLu’lu-i selama 40 tahun tidaklah tidur kecuali kitab berada di atas dadanya

Al-Hafidz al-Khothib tidaklah berjalan kecuali bersamanya kitab yang dibaca, demikian juga Abu Nu’aim al Asbahaany (penulis kitab Hilyatul Awliyaa’)

Ibnul Jauzy  sepanjang hidupnya telah membaca lebih dari 20.000 jilid kitab Al-Khothib al-Baghdady membaca Shahih al-Bukhari dalam 3 majelis ( 3 malam), setiap malam mulai ba’da Maghrib hingga Subuh. (Shahih Bukhari terdiri dari 7008 hadits, sehingga rata-rata dalam satu kali majelis (satu malam) dibaca 2336 hadits).

Abdullah bin Sa’id bin Lubbaj al-Umawy dibacakan kepada beliau Shahih Muslim selama seminggu dalam sehari 2 kali pertemuan (pagi dan sore) di masjid Qurtubah Andalus setelah beliau pulang dari Makkah. (Shahih Muslim terdiri dari  5362 hadits).

Al-Hafidz Zainuddin al-Iraqy membaca Musnad Ahmad dalam 30 majelis (pertemuan). (Musnad Ahmad terdiri dari 26.363 hadits, sehingga rata-rata dalam sekali majelis membacakan lebih dari 878 hadits).

Al-‘Izz bin Abdissalaam membaca kitab Nihaayatul Mathlab 40 jilid dalam tiga hari (Rabu, Kamis, dan Jumat) di masjid.

Al-Mu’taman as-Saaji membaca kitab al-Fashil  465 halaman (kitab pertama tentang Mustholah hadits) dalam 1 majelis.

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany rata-rata menghabiskan waktu selama 12 jam sehari untuk membaca buku-buku hadits di perpustakaan.

Al-Muzani berkata: Aku telah membaca kitab arRisalah (karya asy-Syafi’i) sejak 50 tahun lalu dan setiap kali aku baca aku menemukan faidah yang tidak ditemukan sebelumnya.

Gholib bin Abdirrahman bin Gholib al-Muhaariby telah membaca Shahih alBukhari sebanyak 700 kali.

Tentang Kesungguhan Menulis

Ismail bin Zaid dalam semalam menulis 90 kertas dengan tulisan yang rapi.

Ahmad bin Abdid Da-im al-Maqdisiy telah menulis/ menyalin lebih dari 2000 jilid kitab-kitab. Jika senggang, dalam sehari bisa menyelesaikan salinan 9 buku. Jika sibuk dalam sehari menyalin 2 buku.

Ibnu Thahir berkata: saya menyalin Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, dan Sunan Abi Dawud 7 kali dengan upah, dan Sunan Ibn Majah 10 kali

Ibnul Jauzy dalam setahun rata-rata menyalin 50-60 jilid buku

Muhammad bin Mukarrom yang lebih dikenal dengan Ibnu Mandzhur –penulis Lisaanul Arab- ketika meninggal mewariskan 500 jilid buku tulisan tangan

Abu Abdillah al Husain bin Ahmad al Baihaqy adalah seseorang yang cacat tidak memiliki jari tangan, namun ia berusaha untuk menulis dengan meletakkan kertas di tanah dan menahannya dengan kakinya, kemudian menulis dengan bantuan 2 telapak tangannya. Ia bisa menghasilkan tulisan yang jelas dan bisa dibaca. Kadangkala dalam sehari ia bisa menyelesaikan tulisan sebanyak 50-an kertas.

Mengucapkan kata-kata inspiratif

Sebelum mengakhiri pelajaran, masing-masing siswa diberikan kesempatan secara bergiliran atau bersama untuk mengemukakan kata-kata inspiratif yang mereka senangi dan memotivasi. Misalnya :

#Jika seseorang bepergian dengan tujuan mencari ilmu, maka ia berada di Jalan Allah–Hadist

#Engkau berpikir tentang dirimu sebagai seonggok materi semata, padahal di dalam dirimu tersimpan kekuatan tak terbatas – Ali Bin Abi Thalib RA

#Pembelajaran tidak didapat dengan kebetulan. Ia harus dicari dengan semangat dan disimak dengan tekun – Abigail Adams

#Jika kamu tidak mengejar apa yang kamu inginkan, maka kamu tidak akan mendapatkannya. Jika kamu tidak bertanya maka jawabannya adalah tidak. Jika kamu tidak melangkah maju, kamu akan tetap berada di tempat yang sama – Nora Roberts

#Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan – Mario Teguh

Nasehat

Menurut Imam al Khathabi dan Imam al Jurri nasehat adalah menghendaki suatu kebaikan bagi orang lain dengan niat ikhlas (karena Allah), baik berupa perbuatan atau kehendak yang disampaikan dengan cara sebijak mungkin. Nasehat lahir dari seseorang yang menginginkan kebaikan bagi siapa yang dinasihatinya, dilandasi perhatian dan ketulusan, bertujuan mengarahkan kepada sesuatu yang baik dan menjauhkan dari sesuatu yang buruk.

Nasehat sangat penting dalam kehidupan dan menjadi indikator agar tidak merugi (QS.103 : 2-3). Orang beriman dianjurkan untuk saling memberikan nasehat karena nasehat sangat bermanfaat (QS.87 : 9).

Nasehat merupakan wujud kasih sayang guru kepada muridnya.  Dan nasehat yang muncul dari hati akan  masuk ke dalam hati kemudian membekas di dalamnya. Karenanya tidak heran jika banyak siswa masih selalu mengenang dan termotivasi oleh nasehat-nasehat guru.

Ustad Arifin Ilham pernah menulis di laman facebooknya :

“Subhanallah teringat nasehat guru abang sewaktu abang tanya tentang kuatnya beliau bermujahadah dalam ibadah, da’wah dan muhasabah diri. “Apa yang membuat ayahanda berjibaku dalam ibadah, da’wah dan muhasabah diri?”, “Anakku, dunia ini ladang amal, ladang ibadah, ladang da’wah, ladang perbaikan dan kebaikan!”, jawab beliau. “Lantas kapan ayah istirahatnya?”, tanyaku balik, “Nanti nak saat dipanggil Allah, itulah istirahatnya kita”. Subhanallah itulah yang membuat abang menikmati hatta kelelahan dalam da’wah sekalipun. Lagian kan ngga lama hidup di dunia, “Apa sih susahnya taat sebentar!”

Seorang guru sejarah kebudayaan Islam (SKI) di sebuah madrasah mengisahkan pengalamannya tatkala menutup pembelajaran dengan sebuah nasehat. Lalu ketika kelas sudah berakhir tiba-tiba ada seorang siswi mendekatinya, sambil menahan tangis ia berkata : Bu saya ingin hijrah…

Sungguh nasehat dapat mengubah prilaku seseorang. Banyak contoh lain yang dialami oleh orang yang sebelumnya nakal menjadi baik, tidak bersemangat menjadi termotivasi, putus asa menjadi punya cita-cita, bergelimang maksiat menjadi taat setelah menerima nasehat. Wallahu’alam

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply