Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Untuk Guru | Website BDK Palembang
Weak Gravitational Lensing 2006 Bartelmann M. General Relativity 0 Bartelmus P. Scaling of Spatial Correlations in Cooperative Sequential Adsorption with Clustering 1994 Barter J. Space Stations 2004 Barter J. Telescopes 2005 Barter J. Lucent Library of Science and Technology. Dry spots can be prepared by spotting BAC DNA or the like (of which inexhaustible supplies have been realized) on a substrate using a spotter, forming a plurality of spots, and then drying the spots, for example. An inkjet printer, a pin array printer, or a bubble jet (trademark) printer can be used as a spotter. The use of an inkjet printer is desirable. Most of these systems are based on the knowledge that anaerobic bacteria in the colon are able to recognize the various substrates and degrade them with the enzymes. The application of biodegradable natural polymers, which are resistant to degradation in the upper GIT (above the colon), has gained tremendous importance in pre-biotic food systems. Most of the recent research includes natural polysaccharides, especially from plant origin, being applied to create degradable colon-specific substrates. A very efficient, mutually beneficial arrangement has evolved from a nutritional perspective (Figure 2). In the proximal gut, bacterial competition for absorbable monosaccharides could be detrimental to the host, but in nonruminants colonization is sparse in this region. The word Caporetto has entered the Italian language as a synonym for disaster. The memoir of a New Zealand surgeon in the bimatoprost online BEF. World War One Aircraft Carrier Pioneer: The Stories and Diaries of J. Memoirs of service on HMS Furious. British Military Service Tribunals, 1916-18: "A Very Much Abused Body of Men," James McDermott, Manchester University Press, 2011, 272 pages, ISBN 978 0 7190 8477 5, $95 HB. Defence Science and Technology Organisation. DSTO Research Library - Melbourne. La Trobe University Library. Borchardt Library, Melbourne (Bundoora) Campus. Forensic and Scientific Services.. Early tissue interactions leading to embryonic lens formation in Xenopus laevis. Henry J, Mittleman J. The matured eye of Xenopus laevis tadpoles produces factors that elicit a lens-forming response in embryonic ectoderm. Henry JJ, Tsonis PA. Based on the person's daily routine or "best times," insist upon a morning or afternoon appointment. If the staff knows the situation, they may be willing to give you an appointment when the office is less crowded or noisy. Consider calling the office before you leave the house to check if the doctor is on time. Never leave the person alone in a waiting room. Consider taking a third person with you who can drive and help keep the person occupied. It is helpful to offer extra reassurance to the person with Alzheimer's because (s)he is away from the familiar environment. http://www.jerseycanada.com/jerseyatlantic/fnt/ultramer.php The global interest in the medicinal potential of plants during the last few decades is therefore quite logical. India is one of the richest countries in the world with regard to diversity of medicinal plants. This short-lived perennial with dark green and glossy leaves is native to Madagascar..

Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Untuk Guru

Oleh : Dra. Hj. Yurnalis Nurdin, M.Pd

Widyaiswara Madya

Balai Diklat Keagamaan Palembang

e-mail : yurnalisnurdin@gmail.com      


Abstrak: Permenpan dan Reformasi Birokrasi Nomor Per/16/M.PAN-RB/11/2009 tanggal 10 Nopember 2009 tentang: Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) menyatakan bahwa, persyaratan dalam kenaikan golongan wajib sebagai syarat kenaikan pangkat/golongan III/a ke atas dengan minimal jumlah angka kredit yang bervariasi berdasar jenjang pangkat/golongannya. Salah satu kegiatan pengembangan profesi guru tersebut adalah dengan melakukan PTK dengan tujuan;  (1) untuk guru; meningkatnya profesionalisme guru, (2) untuk lembaga; meningkatakan standar mutu sekolah dan yang ke (3) untuk ppeserta didik;  untuk meningkatkan prestasi belajar . Mudah-mudahan tulisan ini  bisa menolong guru dan tenaga kependidikan untuk mengadakan PTK , sebab dalam tulisan ini membahas tentang: Pengertian PTK, mengapa PTK penting, langkah-langkah dalam pelaksanaan PTK, langkah-langkah membuat proposal PTK, dan langkah-langkah membuat laporan PTK. Disarankan kepada guru, setelah membaca tulisan ini tidak ada lagi guru yang tidak mampu melakukan PTK sehingga kenaikan pangkat / golongan guru, tidak terkendala lagi. Dengan melakukan PTK berarti semakin tinggi pangkat/golongan guru, maka semakin profesionallah dia dalam melakukan proses belajar mengajar.

Kata kunci: PTK dan  Profesionalisme  guru

 PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

 (PTK) UNTUK GURU

 I. PENDAHULUAN

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa berdasarkan Permenpan dan Reformasi Birokrasi Nomor Per/16/M.PAN-RB/11/2009 tanggal 10 Nopember 2009, tentang: Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) menyatakan bahwa “persyaratan dalam kenaikan golongan wajib sebagai syarat kenaikan pangkat/golongan III/a ke atas dengan minimal jumlah angka kredit yang bervariasi berdasar jenjang pangkat/golongannya. Perkembangan ilmu dan teknologi serta perundang-undangan yang berlaku mewajibkan guru melakukan PTK pada jenjang  pangkat/golongan maka ia harus melakukan PTK minimal 1 (1) jenis penelitian Karya Tulis Ilmiah (KTI), kalau tidak, jangan pernah berharap dan bermimpi seorang guru bisa naik pangkat/golongan. Begitulah pentingnya PTK bagi guru dewasa ini.

Suhardjono (2009:8) menyatakan bahwa, salah satu kegiatan pengembangan profesi guru adalah dengan melakukan PTK. Hasilnya yang diharapkan akan dapat meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar sehingga kualitas pembelajaran akan terwujud sebagaimana yang diinginkan. Untuk itu, PTK diharapkan dilakukan guru dalam upayanya menulis Karya Tulis Ilmiah (KTI) karena:

a. KTI tersebut merupakan laporan dari kegiatan nyata yang dilakukan guru dikelasnya dalam upaya meningkatkan mutu pembelajarannya (ini tentunya berbeda dengan KTI yang berupa laoran penelitian korelasi, penelitian diskriptif, ataupun ungkapan gagasan, yang umumnya tidak memberikan dampak langsung pada proses pembelajaran dikelasnya).

b. Dengan melakukan kegiatan penelitian tersebut, maka para guru telah melakukan salah   satu tugasnya dalam kegiatan pengembangan profesinya, disamping itu tujuan  melakukan PTK. adalah ;  (1) untuk guru meningkatnya profesionalisme, (2) untuk lembaga meningkatakan standar mutu sekolah dan yang ke (3) untuk peserta didik  untuk meningkatkan prestasi belajar

Laporan dari kedua penelitian yang apabila dilakukan dengan baik dan benar akan mendapatpula  penghargaan berupa angka kredit. Selanjutnya angka kredit tersebut dapat dipakai untuk melengkapi persyaratan kenaikan golongan kepangkatannya.

Pada prinsipnya, menurut penulis setiap guru mampu melakukan PTK apabila ia bangun dengan lima (5) kekuatan dasar, yaitu; (1) rajin membaca ( buku, majalah, koran ) dan lain-lain (2) tulis apa yang anda baca (3) tulis apa yang anda lihat (4) tulis apa yang anda dengar dan (5) tulis apa yang anda alami.

PTK dilakukan guru secara bersamaan ketika ia melakukan proses belajar mengajar. Karena itu, sambil mengajar juga sambil meneliti. Begitulah teknik pelaksanaan PTK. Oleh karena itu kelima kekuatan yang disebutkan diatas merupakan landasan yang jitu bagi guru ketika melakukan PTK. Tanpa kekuatan itu, mustahil guru mampu melakukan PTK.

Uraian dalam tulisan ini akan membahas tentang: Pengertian PTK, mengapa PTK penting, langkah-langkah dalam pelaksanaan PTK, langkah-langkah membuat proposal PTK, dan langkah-langkah membuat laporan PTK .

II. URAIAN MATERI

A. PENGERTIAN  PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Belakangan ini Penelitian Tindakan Kelas (PTK) semakin menjadi trend untuk dilakukan oleh para profesional sebagai upaya pemecahan masalah dan peningkatan mutu di berbagai bidang. Awal mulanya, PTK, ditujukan untuk mencari solusi terhadap masalah sosial (pengangguran, kenakalan remaja, dan lain-lain) yang berkembang di masyarakat pada saat itu. PTK dilakukan dengan diawali oleh suatu kajian terhadap masalah tersebut secara sistematis. Hasil kajian ini kemudian dijadikan dasar untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam proses pelaksanaan rencana yang telah disusun, kemudian dilakukan suatu observasi dan evaluasi yang hasilnya dipakai sebagai masukan untuk melakukan refleksi atas apa yang terjadi pada tahapan pelaksanaan. Hasil dari proses refleksi ini kemudian melandasi upaya perbaikan dan penyempurnaan rencana tindakan berikutnya. Tahapan-tahapan di atas dilakukan berulang-ulang dan bersinambungan sampai suatu kualitas keberhasilan tertentu dapat tercapai.

Dalam bidang pendidikan, khususnya kegiatan pembelajaaran, PTK berkembang sebagai suatu penelitian terapan. PTK sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran di kelas. Dengan melaksanakan tahapan-tahapan PTK, guru dapat menemukan solusi dari masalah yang timbul di kelasnya sendiri, bukan kelas orang lain, dengan menerapkan berbagai ragam teori dan teknik pembelajaran yang relevan secara kreatif. Selain itu sebagai penelitian terapan, di samping guru melaksanakan tugas utamanya mengajar di kelas, tidak perlu harus meninggalkan peserta didiknya.

Kunandar, (2010:45) menyatakan, ada tiga unsur atau konsep yang harus kita pahami untuk mendefenisikan PTK secara jelas dan konkrit, yaitu:

(1) Penelitian adalah aktivitas mencermati suatu objek tertentu melalui metodologi ilmiah

dengan mengumpulkan data-data dan dianalisis untuk menyelesaikan suatu masalah

(2) Tindakan adalah suatu aktivitas yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu yang berbentuk siklus kegiatan dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu atau kualitas proses belajar mengajar, Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (2007) dalamSuhardjono (2009;11) yang dimaksud dengan tindakan adalah suatu kegiatan yang diberikan guru kepada siswa agar mereka melakukan sesuatu yang berbeda dari biasanya, bukan hanya mengerjakan soal yang ditulis di papan tulis atau mengerjakan LKS.

(3)  Kelas adalah sekelompok peserta didik yang dalam waktu yang sama menerima dari seseorang guru. Istilah kelas dalam PTK tidak terpancing pada ruang yang kelas yang dibatasi dengan empat dinding sisi-sisi ruang. Yang dimaksud dengan kelas dalam pengertian ini adalah sekelompok peserta didik yang sedang belajar bersama di bawah bimbingan seorang guru. Jadi PTK merupakan suatu penelitian yang mengangkat masalah-masalah aktual yang dihadapi oleh guru di lapangan, sehingga berfokus pada proses belajar-mengajar yang terjadi di kelas. Dengan melaksanakan PTK, guru mempunyai peran ganda : praktisi dan peneliti.

 B. MENGAPA PENELITIAN TINDAKAN KELAS PENTING?

Ada beberapa alasan mengapa PTK merupakan suatu kebutuhan bagi guru untuk meningkatkan profesionalitas seorang guru:

  1. PTK sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelasnya. Dia menjadi reflektif dan kritis terhadap apa yang dia dan muridnya lakukan.
  2. PTK dapat meningkatkan kinerja guru sehingga menjadi profesional. Guru tidak lagi sebagai seorang praktisi, yang sudah merasa puas terhadap apa yang dikerjakan selama bertahun-tahun tanpa ada upaya perbaikan dan inovasi, namun jugs sebagai peneliti di bidangnya.
  3. Dengan melaksanakan tahapan-tahapan dalam PTK, guru mampu memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang dalam terhadap apa yang terjadi di kelasnya. Tindakan yang dilakukan guru semata-mata didasarkan pada masalah aktual dan faktual yang berkembang di kelasnya.
  4. Pelaksanaan PTK tidak mengganggu tugas pokok seorang guru karena dia tidak perlu meninggalkan kelasnya. PTK merupakan suatu kegiatan penelitian yang terintegrasi dengan pelaksanaan proses pembelajaran.
  5. Dengan melaksanakan PTK guru menjadi kreatif karena selalu dituntut untuk melakukan upaya-upaya inovasi sebagai implementasi dan adaptasi berbagai teori dan teknik pembelajaran serta bahan ajar yang dipakainya.

Penerapan PTK dalam pendidikan dan pembelajaran memiliki tujuan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktek pembelajaran secara berkesinambungan sehingga meningkatkan mutu hasil instruksional, mengembangkan keterampilan guru, meningkatkan relevansi, meningkatkan efisiensi pengelolaan instruksional, dan  menumbuhkan budaya meneliti pada komunitas guru.

C. PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

 1. Tahapan Pelaksanaan PTK

  1. Banyak model PTK yang dapat diadopsi dan diimplementasikan di dunia pendidikan. Namun secara singkat, pada dasarnya PTK terdiri dari 4 (empat) tahapan dasar yang saling terkait dan bersinambungan : (1) perencanaan (plan­ning), (2) pelaksanaan (acting), (3) pengamatan (observing), dan (4) refleksi (reflecting). Namun sebelumnya, tahapan ini diawali oleh suatu tahapan pra­-PTK, yang meliputi :
  2. identifikasi masalah
  3. analisis masalah
  4. rumusan masalah
  5. rumusan hipotesis tindakan.

Untuk masalah, yang perlu dipertimbangkan pada saat berusaha menemukan masalah PTK: (a) merenunglah barang sejenak, berdiskusilah dengan dengan teman sejawat tentang berbagai komponen pembelajaran. Anda akan menemukan segera begitu banyak masalah; (b) berpikirlah tentang apa yang mungkin dapat anda perbaiki. Pertanyaan berukut mungkin bisa membantu anda: apa yang sedang terjadi dikelas? Apakah kejadian itu menjadi masalah yang perlu dipecahkan? Apakah yang dapat saya lakukan terhadap hal itu?; (c) Pikiran tentang tiga kelompok masalah masalah pembelajaran, yaitu pengorganisasian materi, penyampaian materi dan pengelolaan kelas; (d) pilihlah masalah yang layak untuk anda pecahkan; (e) pilihlah masalah dalam cakupan kelas, yang tidak terlalu besar atau terlalu kecil; (f) pilihlah masalah yang strategis ; (f) pilhlah masalah yang anda senangi. Berikut dapat anda lihat tahapan pelaksanaan PTK.

      Gambar : Tahapan Pelaksanaan PTK

 

 

 

PERENCANAAN  TINDAKAN

 

 Sumber: Dirjen Dikdasmen Diktendik 2004 edisi ke 2

 Tahapan pra-PTK ini sangat esensial untuk dilaksanakan sebelum suatu rencana tindakan disusun. Tanpa tahapan ini suatu proses PTK akan kehilangan arah dan anti sebagai suatu penelitian ilmiah. Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan guna menuntun pelaksanaan tahapan PTK adalah sebagai berikut ini.

  1. Apa yang memperhatikan dalam proses pembelajaran?
  2. Mengapa hal itu terjadi dan apa sebabnya?
  3. Apa yang dapat dilakukan dan bagaimana caranya mengatasi keprihatinal tersebut?
  4. Bukti-bukti apa saja yang dapat dikumpulkan untuk membantu mencai fakta apa

yang terjadi?

  1. Bagaimana cara mengumpulkan bukti-bukti tersebut?

Dalam mengidentifikasi masalah sebaiknya dituliskan semua masalah yang dirasakan selama ini. Contoh identifikasi masalah dari seorang guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada mata pelajaran IPS. Jika peserta didik diajak Tanya jawab pada awal pembelajaran cenderung tidak memberikan reaksi yang diharapkan, sangat sedikit peserta didik yang berani mengajukan pertanyaan, perhatian peserta didik cenderung tidak focus, peserta didik tidak mengerjakan PR di rumah, kemampuan berfikir rasional peserta didik sangat lemah, peserta didik tidak dapat melihat hubungan antara topic satu dengan lainnya, peserta didik kurang dapat mengaitkan isi elajaran dengan keadaan alam sekelilingnya. Akhirnya setelah dianalisis dan dibatasi cakupannya, anda harus memilih salah satu dari masalah-masalah tersebut. Selanjutnya, diskripsikan masalah itu serinci mungkin untuk member gambaran tentang pentingnya masalah itu ditinjau dari pengaruhnya terhada pembelajaran secara umum maupun jumlah peserta didik yang terlibat.

Setelah anda memilih satu masalah dengan seksama, masalah dirumuskan dengan komrehensif, jelas, dalam bentuk pernyataan atau pertanyaan. Untuk itu Richard Sagor dalam Basuki  (Dirjen Dikdasmen Diktendik 2004) menyatakan merinci rumusan masalah PTK dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Siapa yang kena dampaknya?
  • Siapa atau apa yang diperkirakan menjadi penyebabnya?
  • Masalah apa sebenarnya ( berkaitan dengan tujuan, keterampilan, sumber daya, waktu dan sebagainya)
  • Apa yang akan dilakukan untuk mengatasi hal itu?

Berikut ini contoh rumusan masalah PTK:

  1. Apakah pembelajaran metakognisi dapat mempengaruhi sikap peserta didik SMK?
  2. Bagaimanakah agar kemampuan dan keterampilan guru SD lebih meningkatkan dalam hal memanfaatkan dinding kelas sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran?
  3. Kesulitan belajar apa saja yang dialami peserta didik dalam mentransfer keterampilan dari mata pelajaran satu ke mata pelajaran lainnya?

Untuk memandu  anda dalam menemukan masalah, memilih masalah, membuat rumusan masalah, yang anda hadapi dalam proses pembelajaran, dan tujuan dari mengadakan PTK, berikut ini dikemukakan lembar kerja untuk latihan.

A. Tuliskan masalah yang anda hadapi dalam proses pembelajaran  !

1……………………………………………………………………………………………………

2……………………………………………………………………………………………………

3…………………………………………………………………………………………………..

4…………………………………………………………………………………………………..

5…………………………………………………………………………………………………..

6…………………………………………………………………………………………………..

7…………………………………………………………………………………………………..

8…………………………………………………………………………………………………..

9…………………………………………………………………………………………………..

10…………………………………………………………………………………………………

B. Pilih masalah yang paling mendesak  yang harus segera     

    diselesaikan !

1…………………………………………………………………………………………………….  

 ……………………………………………………………………………………………………..

C. Buatlah rumusan masalah dengan  menambahkan kata tanya pada  

     awal  kalimat  !

……………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………….

D: Buatlah rumusan masalah dengan  menambahkan kata tanya pada awal 

kalimat  !

……………………………………………………………………………..

……………………………………………………………………………

E. . Apa tujuan penelitian anda!

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

Jadi, tahapan pra PTK ini sesungguhnya suatu upaya reflektif dari guru  terhadap masalah yang ada dikelasnya. Masalah ini tentunya bukan yang bersifat individual pada salah seorang murid saja, namun lebih merupakan masalah umum yang bersifat klasikal, misalnya; kurangnya motivasi belajar kelas, rendahnya kualitas daya serap klasikal, kesulitan peserta didik memahami bacaan secara cepat, penguasaan konsep berhitung, kesulitan menghafal huruf dan lain-lain. Berangkat dari hasil pelaksanaan tahapan pra-PTK inilah suatu rencana tindakan dibuat. Berikut uraian  tahapan pelaksanaan PTK.

1. Perencanaan Tindakan

Dalam membuat rumusan masalah di atas sebenarnya anda telah melakukan analisis penyebab masalah, sekali gus membuat rencana tindakan. Untuk melakukan analisis secara tajam dan menentukan tindakan yang akan diberikan, perlu merujuk pada teori-teori yang ada. Berdasarkan pada identifikasi masalah, analisis masalah dan perumusan masalah dan rujukan teori yang dilakukan pada tahapan pra PTK, rencana tindakan disusun untuk menguji secara empiris hipotesis tindakan yang ditentukan. Rencana tindakan ini mencakup semua langkah tindakan secara rinci.

Segala keperluan pelaksanaan PTK, mulai dari materi/bahan ajar, rencana pelajaran yang mencakup metode/tekhnik mengajar, serta tekhnik dan instrument observasi/evaluasi, dipersiapkan dengan matang ppada tahapan perencanaan ini. Lakukan analisis penyebab masalah secara seksama agar tindakan yang direncanakan berjalan dengan efektif.

Contoh rencana tindakan dalam mata pelajaran Fisika di SMA: metode proyek yang menyangkut Fisika akan dapat meningkatkan kemamppuan peserta didik mentransfer keteramilan dari satu topic ke topic lainnya; tema yang digunakan adalah masyarakat dan teknologi informasi; topic masing-masing kelompok ditentukan bersama antara guru dengan peserta didik di rumah secara kelompok; satu royek membutuhkan waktu satu semester ; peserta didik menggunakan berbagai sumber untuk memperoleh informasi; hasil akhir bisa berupa makalah, model, desain, gambar disertai dengan data dan keterangan lainnya; hasil akhir akan dipresentasikan dan dipamerkan.

Dalam tahapan ini perlu juga diperhitungkan segala kendala yang mungkin timbu pada saat tahap implementasi berlangsung. Dengan melakukan antisipasi lebih­dari diharapkan pelaksanaan PTK dapat berlangsung dengan baik sesuai dengar hipotesis yang telah ditentukan.

2. Pelaksanaan Tindakan

Tahap ini merupakan implementasi (pelaksanaan) dari semua rencana yang telah dibuat. Tahapan ini, yang berlangsung di dalam kelas, adalah realisasi dari segala teori pendidikan dan teknik mengajar yang sudah dipersiapkan sebelumnya.  Langkah-langkah yang dilakukan guru tentu saja mengacu pada kurikulum yanc berlaku, dan hasilnya diharapkan berupa peningkatan efektifitas keterlibatar kolaborator sekedar untuk membantu si peneliti untuk dapat lebih mempertajarr refleksi dan evaluasi yang dia lakukan terhadap apa yang terjadi dikelasnya sendiri.

3.Pengamatan Tindakan

Kegiatan observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Data yang dikumpulkan pada tahap ini berisi tentang pelaksanaan tindakan dan rencana yang sudah dibuat, serta dampaknya terhadap proses dan hasil instruksional yang dikumpulkan dengan alat bantu instrumen pengamatan yang dikembangakan oleh peneliti. Pada tahap ini perlu mnempertimbangkan penggunaan beberapa jenis instrumen ukur penelitian guna kepentingan triangulasi data.

Dalam melaksanakan observasi dan evaluasi, guru tidak harus selalu bekerja sendiri. Dalam tahap observasi ini guru bisa dibantu oleh pengamat dari luar (sejawat atau pakar). Dengan kehadiran orang lain dalam penelitian ini, PTK yang yang dilaksanakan menjadi bersifat kolaboratif. Hanya saja pengamat luar tidak boleh terlibat terlalu dalam dan mengintervensi terhadap pengambilan keputusan tindakan yang dilakukan oleh peneliti.

4. Refleksi terhadap Tindakan

Tahapan ini merupakan tahapan untuk memproses data yang didapat pada saat dilakukan pengamatan (observasi). Data yang didapat kemudian ditafsirkan dan dicari eksplanasinya, dianalisis, dan disintesis. Dalam Proses pengkajian data ini dimungkinkan utnuk melibatkan orang luar sebagai kolaborator, seperti halnya pada saat observasi. Keterlibatan kolaborator sekedar untuk membantu peneliti untuk dapat lebih tajam melakukan refleksi daan evaluasi. Dalam proses refleksi ini segala pengalaman, pengetahuan, dan teori pembelajaran  yang dikuasai dasn relevan dengan tindakan kelas yang dilaksanakan sebelumnya, menjadi bahan pertimbangan dan perbandingan sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan yang mantap dan sahih.

Proses refleksi ini memegang peran yang sangat penting dalam menentukan suatu keberhasilan PTK. Dengan suatu refleksi yang tajam dan terpercaya akan didapat suatu masukan yang sangat berharga dan akurat bagi penentuan lengkah tindakan selanjutnya. Refleksi yang tidak tajam akan memberikan umpan balik yang misleading dan bias, yang pada akhirnya menyebabkan kegagalan suatu PTK. Tentu saja kadar ketajaman proses refleksi ini ditentukan oleh ketajaman dan keragaman intrumen observasi yang dipakai sebagai upaya triangulasi data. Observasi yang hanya menggunakan satu instrumen saja akan menghasilkan data yang miskin. Untuk mengelaborasi hasil refleksi ini dapat juga memanfaatkan hasil uji beda dengan menggunakan formula statistic sederhana yang membandingkan hasil sebelum dan sesudah panerapan PTK.

Demikianlah, secara keseluruhan keempat tahapan dalam PTK ini membentuk suatu siklus. Siklus ini kemudian diikuti oleh siklus-siklus lain secara bersinambungan seperti sebuah spiral. Kapan siklus-sikius tersebut berakhir? Pertanyaan ini hanya dapat dijawab oleh si peneliti sendiri. Kalau dia sudah merasa puas terhadap hasil yang dicapai dalam suatu kegiatan PTK yang dia lakukan, maka dia akan mengakhiri siklus-siklus tersebut. Selanjutnya, dia akan melakukan satu indetifikasi masalah lain, dan kemudian diikuti oleh tahapan-tahapan PTK baru guna mencari solusi dari masalah tersebut.

D. LANGKAH-LANGKAH DALAM MENYUSUN PROPOSAL PTK

 1. JUDUL PENELITIAN

Judul hendaknya mencerminkan permasalahan pokok yang akan dipecahkan, sedapat mungkin mengandung unsur variabel utama yang diteliti. Judul harus deklaratif, singkat, jelas, dan tidak memberi kemungkinan penafsiran yang bermacam-macam.

Suhardjono (2009:17) menyatakan judul PTK paling tidak berisi informasi tentang:

1)      Apa yang akan ditingkatkan?

2)      Menggunakan tindakan apa?

3)      Siapa yang akan ditingkatkan?

Sebagai kelengkapan, umumnya dituliskan pula sub judul bertujuan untuk menambahkan keterangan lebih rinci tentang populasi, seerti misalnya dimana penelitian dilakukan, kapan dilakukan, dikelas berapa, dan lain-lain.

Berikut adalah beberapa contoh apa yang akan ditingkatkan guru melalui PTK, (mata pelajaran Matematika, IPS sejarah, dan Agama tentang aqidah akhlak).

 

 

 

Ekawarna (2009:29) mengatakan bahwa judul PTK hendaknya: (1) mencerminkan masalah;(2) mencerminkan tindakan sebagai upaya pemecahan;(3) singkat, dan (4) mudah dipahami. Kata singkat disini kata Suharsimi Arikunto hendaknya judul penelitian jangan lebih dari 14 kata.

Setelah halaman  judul dilanjutkan dengan halaman pengesahan proposal PTK, yang berisi tentang hal-hal yang berkenaan dengan judul penelitian (judul, bidang ilmu, dan kategori penelitian), Ketua peneliti, Jumlah peneliti (nama, jenis kelamin, golongan/pangkat, jabatan dan satmingkal), lokasi penelitian, kerja sama dengan instansi lain, waktu Penelitian, serta biaya yang diperlukan.

2.   ISI PROPOSAL

Berisi latar belakang dan identifikasi permasalahan, yang pada pokoknya menguraikan konteks permasalahan, pentingnya masalah itu diteliti dan manfaat yang diharapkan dari temuan penelitian jika pelaksanaannya selesai. Secara keseluruhan isi proposal terdiri atas hal-hal sebagai berikut.

  1. A.     Pendahuluan

Berisi hal-hal yang melatar belakangi mengapa penelitian penting dilakukan dan identifikasi permasalahan, yang pada pokoknya menguraikan konteks permasalahan, pentingnya masalah ini diteliti dan manfaat yang diharapkan dari temuan penelitian jika pelaksanaanya telah selesai.

  1. B.     Perumusan Masalah

Menguraikan perumusan masalahnya dalam kalimat-kalimat naratif, baik berupa pertanyaan ataupun pernyataan problematis. Biasanya dikemukakan beberapa butir permasalahan yang secara eksplisit menggambarkan tahap­tahap diagnosis masalah, terapi yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah dan gambaran keberhasilan atau keefektifan tindakan yang diambil. Pada proposal lengkap, biasanya juga dijumpai uraian khusus tentang tujuan penelitian dan manfaat penelitian.

  1. C.     Kajian Pustaka dan Penelitian yang Relevan

Berisi kajian pustaka untuk mendasari tindakan yang direncanakan sebagai pemecahan masalah, dan hasil-hasil penelitian lain yang erat kaitannya dengan permasalahan yang sedang akan diteliti. Sedapat mungkin diusahakan agar mempertimbangkan kemutakhiran dan relevansi bahan pustaka. Di akhir bagian ini biasanya dapat dirumuskan suatu hipotesis tindakan. Hipotesis tindakan dapat dirumuskan berdasarkan teori, pengalaman atau hasil penelitian di setting yang lain. Rumusan hipotesis tindakan hendaknya menyatakan intervensi yang akan dilaksanakan dan hasil yang akan diperoleh.

  1. D.     Tujuan Penelitian Tindakan

       Berisi tentang tujuan opperasional yang ingin dicapai melalui penelitian tindakan

kelas ini.

  1. E.     Kontribusi Penelitian

Berisi tentang manfaat apa yang dapat diperoleh dengan menerapkan penelitian

tindakan kelas ini.

  1. F.      Metode Penelitian

Metode atau prosedur penelitian yang menguraikan secara rinci: (a) setting atau lokasi penelitian, (b) subyek yang terlibat sebagai peneliti, kolaborator atau partisipan; (c) alat-alat dan teknik pemantauan atau monitoring dalam proses pengumpulan data, (d) rencana tindakan, yang mengkaji langkah-­langkah yang ditempuh melalui tahap-tahap atau siklus penelitian tindakan, antara lain fase diagnostik (mengidentifikasi problem) dan fase terapeutik (pemecahan problem), (e) sumber data, (f) jenis data, teknik pengumpulan data, (g) teknik pengumpulan data, (h) teknik analisis data, dan (i) kriteria, indikator atau rambu-rambu evaluasi dan refleksi.

  1. G.    Personalia Penelitian

Tim peneliti yang melaksanakan penelitian ini di lapangan harus  tercantum dengan jelas, kadang-kadang dituntut melampirkan curriculum vitae yang menunjukkan bidang keahlian dan track record yang relevan dengan penelitian yang dilaksanakan.

  1. H.    Rencana Pembiayaan Penelitian

Berisi rincian rencana pengeluaran biaya penelitian, misalnya untuk uang lelah atau honorarium, perjalanan, bahan dan operasi di sekolah (pra-observasi, pelaksanaan observasi lapangan, penyusunan instrumen monitoring, peralatan, bahan habis, analisis data. dengan komputer, dan lain-lain (laporan) dan sebagainya.

  1. I.     Jadwal Kerja

Proposal penelitian hendaknya juga mencantumkan rencana pelaksanaan di lapangan dalam suatu jadwal atau matriks kegiatan, baik berupa time sched­ule, cara atau teknik penjadwalan yang lebih lengkap.

  1. J.     Lampiran-Lampiran

Proposal penelitian hendaknya melampirkan juga daftar kepustakaan dan daftar riwayat hidup tim peneliti.

 3.   KEPADA SIAPA HASIL PTK DILAPORKAN?

Sesungguhnya PTK lebih bersifat individual, dalam arti bahwa tujuan utama dari PTK adalah Self-improvement melalui self-evaluation dan self-reflection, yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan umum proses dan hasil belajar peserta didik. Dengan demikian hasil pelaksanaan PTK yang berupa terjadinya inovasi pembelajaran akan dilaporkan pada diri si peneliti (guru) sendiri. Dia mengarsipkan langkah-langkah dan teknik pembelajaran yang dikembangkan melalui aktivitas PTK demi perbaikan proses pembelajaran yang dia lakukan di masa mendatang. Namun demikian hasil PTK yang dilaksanakan tidak tertutup kemungkinan untuk diikuti oleh orang lain (rekan sejawatnya). Oleh sebab itu, guna melengkapi predikat guru sebagai seorang ilmuwan sejati, dia perlu juga menuliskan pengalamannya dalam melaksanakan PTK menjadi sebuah karya tulis ilmiah, yang selama ini belum merupakan kebiasaan guru. Karya tulis ini sesungguhnya lebih merupakan laporan tentang hasil PTK yang dia lakukan kepada publik. Dengan melaporkan kepada publik guru akan mendapatkan nilai tambah, yaitu suatu bentuk pertanggungjawaban dan kebanggaan akademis ilmiah (sebagai seorang ilmuwan). Hasil kerjanya akan merupakan bantuan yang sangat berharga bagi sejawatnya dan peserta didik. Melalui pelaporan kepada publik, PTK, yang pada awalnya dilaksanakan dalam skala kecil di suatu kelas, akan memberi andil dan sumbangsih yang cukup signifikan terhadap peningkatan mutu pendidikan nasional, dan selanjutnya generasi penerus bangsa.

4. RAMBU-RAMBU DALAM MENYUSUN LAPORAN PTK

  1. A.   Halaman Sampul
  2. B.   Halaman Pengesahan
  3. C.   Abstrak
  4. D.   Kata Pengantar
  5. E.   Daftar Isi
  6. F.   Bab I Pendahuluan:
    1. 1.    Latar Belakang
    2. 2.    Rumusan Masalah
    3. 3.    Tujuan
    4. 4.    Hipotesis Tindakan
    5. 5.    Manfaat
    6. G.   Bab II Kajian Pustaka:
    7. H.   Bab III Metode:
      1. 1.    Rancangan Penelitian
        1. a.    Perencanaan Tindakan
        2. b.   Pelaksanaan Tindakan
        3. c.    Pengamatan
        4. d.   Refleksi
        5. 2.    Lokasi dan Subyek Penelitian
        6. 3.    Pengumpulan Data
        7. 4.    Analisis Data
    8. I.     Bab IV Hasil dan Pembahasan
    9. J.    Bab V Penutup
    10. 1.   Simpulan
    11. 2.   Saran

Daftar Pustaka

Lampiran

       Sesuai yang telah diuraikan pada judul terdahulu bahwa Judul laporan sebaiknya

jelas, ringkas dan menggambarkan isi. Bandingkan contoh judul berikut : “Suatu Studi tentang Pengetahuan  Sikap dan Praktek mahasiswa terhadap Disiplin di Jakarta”, diganti menjadi “Pengetahuan, Sikap dan Praktek Di Jakarta”. Dalam abstrak hasil penelitian disampaikan tujuan, metode dan hasil temuan penelitian secara singkat dan padat. Dengan membaca abstarak pembaca dapat mengetahui keseluruhan hasil penelitian. Dalam abstrak ini peneliti juga perlu memasukkan masalah dan presedur penelitian secara singkat tetai diutamakan adalah penyamppaian kesimpulan, implikasi dan saran-saran. Kata pengantar biasanya pendek, sekitar satu halaman, didalamnya dikemukakan tujuan penelitian, maslaha yang dihadapi, siapa penyandang dananya, dan ucapan terima kasih kepada yang memberikan berbagai bantuan. Kata pengantar dapat ditulis oleh peneliti atau badan yang menajai (mensponsori). Adakalanya daftar isi terdapat di bagian belakang dari laporan penelitian tetapi ada baiknya di tempatkan di bagian depan. Daftar Isi menunjukkan bagian-bagian dari laporan dan darinya pula dapat dilihat hubungan antara bagian satu dengan bagian lainnya. Untuk tabel, diagram, peta dan gambar masing-masing dibuat daftar isi tersendiri.

Isi pendahuluan mencakup hal-hal berikut ini :

1. Deskripsi masalah, disertai dengan data yang menunjukkan adanya masalah,

setting tempat terjadinya masalah, dan pentingnya masalah

2. Rumusan masalah secara komprehensif, mencakup

a. Siapa yang terkena dampaknya

b. Siapa atau apa yang diperkirakan sebagai penyebab masalah

c. Masalah yang sebenarnya, dan

d. Siapa yang menjadi tujuan perbaikan, akan lebih baik jika dilengkapi dengan

pertanyaan penelitian

3. Tujuan penelitian dan indicator keberhasilan

4. Hipotesis tindakan, dan

5. Manfaat penelitian

Kajian Pustaka berisi teori-teori belajar dan pembelajaran yang sudah popular maupun konsep-konsep baru yang bersal dari jurnal, terutama yang berkaitan dengan PTK, dapat dirujuk untuk penelitian ini. Sebaiknya kajian pustaka cukup singkat.

Metode Penelitian berisi tentang setting, persiapan, rancangan penelitian, siklus penelitian dan instrument.

a. Setting berisi tentang lokasi sekolah, kelas, mata pelajaran, waktu, karakteristik

sekolah, karakteristik peserta didik, dan karakteristik peneliti.

b. Persiapan penelitian menjelaskan tentang rancangan penelitian, dan berbagai

input instrumental yang digunakan untuk member perlakuan dalam PTK.

c. Jelaskan jumlah siklus yang anda lakukan dan berdasarkan appa : waktu,

Kompetensi dasar/Materi Pokok, lainnya.

d. Instrumen merupakan bagian yang tidak kalah pentingnya dalam pelaksanaan

PTK. Jenis instrument harus sesuai dengan karakteristik variable yang diamati.

Triangulasi dan saturasi (kecukupan informasi) perlu diperhatikan untuk

menjamin validitas data.

e. Hasil penelitian PTK tidak hanya data hasil pengamatan, melainkan juga proses

perbaikan yang dilakukan. Data hasil pengamatan dianalisis dan disajikan dalam

konteks siklus-siklus yang telah dilakukan.

Hasil penelitian dan pembahasan disajikan dalam bentuk siklus yang telah dijalankan dalam periode tertentu sehingga data yang diperoleh sudah lengkap dan jenuh, tidak ada data baru lagi. Pada saat itulah dapat dilihat pola-pola yang terjadi untuk kemudian dituangkan dalam siklus. Tabel, diagram dan gerafik sangat baik digunakan untuk menyajikan data hasil pengamatan. Hasil-hasil yang otentik seperti karangan peserta didik, gambar hasil karya peserta didik dan foto tentang proyek yang dilakukan ppeserta didik akan sangat baik dicantumkan sebagai hasil penelitian. Berikut diuraikan tentang bentuk siklus PTK:

A. SIKLUS PERTAMA

1. Perencanaan

Bagian ini  berisikan perlakuan yang akan diberikan kepada peserta didik sesuai dengan yang tertulis pada rencana tindakan. Di luar itu adalah pembelajaran biasa yang telah anda lakukan sehari-hari., tidak perlu dituliskan di sini. Harus dibedakan benar antara pembelajaran biasa dengan PTK. Yang ditulis dalam siklus hanyalah bgian yang diteliti saja.

2. Pelakasanaan

Pelakasanaan akan menguraikan apakah hal yang direncanakan dapat direalisasikan secara penuh. Jika tidak, perlu dilahat polanya dalam pperiode tertentu; mungkin hanya sebagian yang dapat dilaksanakan. Tentu saja data dielaborasikan pelaksanaan ini secara detail, sampai hal-hal yang otentik

3. Pengamatan

Bagian ini berisikan hasil engamatan menggunakan berbagai insterument. Yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah sifat trangulasi dan saturasi data. Hasil-hasil pekerjaan peserta didik yang otentik dappat disajikan di sini.

4. Refleksi

Refleksi berisikan penjelasan tentang keberhasilan atau kegagalan yang terjadisetelah selang waktu tertentu. Refleksi diakhiri dengan perencanaan kembali untuk siklus berikutnya.

B. SIKLUS KEDUA

1). Perencanaan

2). Pelaksanaan

3). Pengamatan

4). Refleksi

C. SIKLUS KETIGA, DAN SETERUSNYA.

1). Perencanaan

2). Pelaksanaan

3). Pengamatan

4). Refleksi

Berikut dapat diamati bagan berikut:

 

Sumber: Suharsimi Arikunto, dkk. 2009

 

5.  Kesimpulan dan Saran  

Kesimpulan harus menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang telah dikemukakan dalaam masalah. Pertanyaan penelitian di samping menuntut jawaban yang berupa hasil juga menuntut rosesnya. Karena itu kesimpulan hendaknya berisi roduk dan prosesnya. Contoh jika pertanyaan penelitiannya adalah kesulitan apa saja yang dialami oleh peserta didik dalam mentranfer keterampilan dari satu topic ke topic lannya? Jawaban atas pertanyaan ini bisa diperoleh melalui tes awal dan atau selama proses pembelajaran berlangsung. Walau hanya berisi daftar kesulitan yang dialami peserta didik temuan ini penting bagi guru-guru lain. Jika mengatakan cooperative learning berhasil meningkatkan hasil belajar ppeserta didik, anda perlu mendeskripsikan prosesnya. Strategi dan metode penting yang membuat cooperative learning itu bisa berhasil hendaknya di tuliskan secara sistematis.

Saran diperlukan apabila hasil penelitian menyangkut pendukung dari bagian lain sekolah, misalnya petugas perpustakaan, laboran, dan tukang kebun. Karena PTK bersifat kontekstual, pemberian saran kepada orang lain berdasarkan hasil penelitian tersebut sebenarnya kurang bermanfaat. Deskrippsi konteks penelitian secara rinci sudah cukup untuk memberikan informasi untuk guru lain yang ingin mereplikasi. Saran PTK diperlukan jika misalnya temuan penelitian menyangkut system yang lebih luas dari sekedar kelas. Misalnya menghendaki adanya perubahan pengaturan jadwal disekolah.

6. Daftar Pustaka

    Gunakan pedoman Amerirican Psyychological Association (APA)

7. Lampiran

Hal-hal yang perlu dilampirkan antara lain :

a. Instrumen penelitian

b. Bukti seminar proposal dan hasil penelitian

c. Contoh data mentah

d. Curriculum vitae peneliti

e. Dan sebagainya.

III. RANGKUMAN

Jika anda ingin menjadi guru profesional, anda  selalu dituntut untuk melakukan inovasi­inovasi pendidikan dan pengajaran. Inovasi tadi dapat dicapai melalui suatu penelitian yang disesuaikan dengan konteks di mana anda bekerja.

Pada dasarnya dalam melaksanakan PTK., diawali oleh suatu Tahapan pra-PTK, yang meliputi :

  • identifikasi masalah
  • analisis masalah
  • rumusan masalah
  • rumusan hipotesis tindakan.

Tahapan pra-PTK ini sangat esensial untuk dilaksanakan sebelum suatu rencana tindakan disusun. Tanpa tahapan ini suatu proses PTK akan kehilangan arah dan arti sebagai suatu penelitian ilmiah.

Selanjutnya dalam melaksanakan PTK terdiri dari 4 (empat) tahapan dasar yang saling terkait dan bersinambungan : (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi tindakan.

Pada awalnya pelaksanaan PTK tidak semudah yang kita bayangkan, dan memerlukan komitmen serta kesabaran. Kemampuan melaksanakan PTK dengan baik hanya dapat dicapai dengan membiasakan diri untuk melaksanakannya. Oleh sebab itu sangat disarankan agar guru segera memulai mencoba melaksanakan PTK di kelasnya; baik secara individu ataupun kolaboratif. Dengan ajeg melaksanakannya, guru akan dapat mempertahankan predikatnya sebagai seorang profesionalis, dan ilmuwan bukan sekedar praktisi belaka, namun juga peneliti dan sekaligus penulis. Penulis mengucapkan, selamat meneliti semoga anda menjadi guru profesional Amin.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ekawarna. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : GP Press.

Hardjodipuro, Siswojo. 1997. Action Research, Sintesis Teoretik. Jakarta: IKIP Jakarta.

Istarani. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Medan : Iscom Medan.

Suhadjono. 2009. Pertanyaan dan jawaban disekitar Penelitian Kelas & Tindakan    

            Sekolah. Malang : Cakrawala Indonesia.

Suharsimi Arikunto, dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara.

Suparno, AS. 1998. Penelitian Tindakan Kelas Makalah disajikan dalam Lokakarya Nasional Instruktur PKG. Depdikbud, Bogor.

Wibawa Basuki. 2004. Penelitian Tindakan Kelas Edisi 2. Jakarta : Direktorat Pendidikan Dasar  Dan Menengah. .Depdiknas.

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

One Response to “Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Untuk Guru”

  1. m haryono says:

    yo itulah supaya disampaikan kepada yang punya adminnya

Leave a Reply