Pendekatan Kontekstual Dalam Pembelajaran Sastra | Website BDK Palembang

Pendekatan Kontekstual Dalam Pembelajaran Sastra

Oleh

Hodidjah

Widyaiswara

ABSTRAK

Tulisan ini berjudul Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Sastra

Yang membahas tentang peranan guru dalam proses belajar-mengajar, diantaranya menyusun rencan pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, mengevaluasi, menganalisis hasil evaluasi, dan melakukan tindak lanjut. Seiring dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), guru tidak perlu lagi menjadi ‘penghutbah’ yang terus berceramah dan menjejalkan bejibun teori kepada siswa didik. Dengan kata lain, kelas harus mampu menjadi “magnet” yang mampu menyedot minat dan perhatian siswa didik untuk terus belajar, bukan seperti penjara yang mengkrangkeng kebebasan mereka untuk berpikir, berbicara, berpendapat, mengambil inisiatif, atau berinteraksi. Melalui kegiatan pembelajaran yang inovatif, atmosfer pembelajaran sastra di kelas tidak terpasung dalam suasana yang kaku dan monoton. Cara yang tepat adalah siswa diajak guru untuk terlibat secara langsung dalam pembelajaran sastra denga menggunakan Startegi Respons Pembaca (SRP), metode kontekstual, dll.

Kata Kunci:metode,  kontekstual, magnet, inovatif

1 Pendahuluan

Tidak ada seorang pun yang dapat mebantah bahwa guru memiliki peran yang amat vital dalam proses pembelajaran di kelas. Gurulah yang memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menysun rencana pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, mengevaluasi, menganalisis hasil evaluasi, dan melakukan tindak lanjut. Dalam konteks demikian gurulah yang akan menjadi “actor” penentu keberhasilan siswa dalam mengadopsi dan menumbuhkembangkan nilai-nilai kehidupa hakiki.

Seiring dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), guru tidak perlu lagi menjadi ‘penghutbah’ yang terus berceramah dan menjejalkan bejibun teori kepada siswa didik. Sudah bukan zamannya lagi anak diperlkukan bagai “keranjang sampah” yang hanya sekedar` menjadi penampung ilmu. Peserta didik perlu diperlakukan secar utuh dan holistic sebagai manusia-manusia pembelajar yang akan menyerap pengalaman sebanyak-banyaknya melalui proses pembelajran yang menarik dan enyenangkan. Oleh karena itu, kelas perlu didesain sebagai “masyaraat mini” yang mampu memberikan gambaran bagaimana si murid berinteraksi dengan sesamanya. Dengan kata lain, kelas harus mampu menjadi “magnet” yang mampu menyedot minat dan perhatian siswa didik untuk terus belajar, bukan seperti penjara yang mengkrangkeng kebebasan mereka untuk berpikir, berbicara, berpendapat, mengambil inisiatif, atau berinteraksi.

Jurus mana pun yang dipilih untuk mengajarkan sastra, keefektifannya ditentukan, terutama oleh coran komunikasi yang terjalin antara guru dan siswanya. Keakraban guru dengan karya sastra, keakrabannya dengan perjalanan kreatif pengarang, perlu digenapi dengan keakrabannya dengan siswa. Hubungan guru-siswa perlu dilandasi kejutan dan keterbukaan, sikap saling menghormati dan saling member agar tercipta titian komunikasi yang efektif. Tanpa keterbukaan serta sikap saling menghormati dan salng member, tidak mungkin dibina kepercayaan-yitu landasan komunikasi dua arah yang sehat dn konstruktif-padahal proses belajar-mengajar yang efektif harus berlngsung secara rimbal-balik (Oemaryati,2005:3-4).

Guru sebagai salah satu sumber belajar berkewajiban menyediakan lingkungan belajar yang kreatif untuk pembelajaran di kelas. Kalau proses pembelajaran berlangsung monoton dan seadanya, guru cenderung bergaya indoktrinatif dan dogmatis seperti orang berkhotbah, upaya penyemaian nilai-nilai luhur hakiki akan sulit berlangsung dalm kegiatan pembelajaran di kelas. Apalagi, kalau anak-anak hanya diperlakukan sebagai objek yang pasif, idak diajak untuk berdilog dan berinteraksi. Maka, kegagalan penyemaian nilai-nilai luhur kepada siswa didik hanya tinggal menunggu waktu. Dalam konteks demikian, guru perlu mengambil langkah dan inisiatif untuk mendesain proses pembelajara yang aktif, inovatif, kretif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM). Guru memiliki kebebasan untuk melakukannya di kelas. KTSP sangat leluasa memberikan kesempata kepada guru untuk menerapkan berbagi gaya dan kreativitasnya dalam kegiatan pembelajaran (hyyp://mgmpbismp.co.cc/2009/04/20/inovasi-pembelajaran)

Melalui kegiatan pembelajaran yang inovatif, atmosfer pembelajaran sastra di kelas tidak terpasung dalam suasana yang kaku dan monoton. Para siswa didik perlu lebih banyak diajak untuk berdiskusi, beriteraksi, dan berdialog sehingga mereka mampu mengkonstruksi konsep dan kaidah-kaidah keilmuan sendiri, bukan dengan cara dicekoki atau diiceramahi. Para siswa juga perlu dibiasakan untuk berbeda pendapat sehingga mereka menjadi sosok yang cerdas dan kritis.

Dalam pembelajaran sastra di kelas, seorang guru bahasa haruslah kreatif untuk melakukan inovasi dengan cara mengemas teknik pembelajaran berdasarkan Standar kompetensi dan Kompetensi dasar yang sesuai dengan situasi dan kondisi di kelas. Guru harus meninggalkan kebiasaan lama hanya memberikan meteri secara sepintas, tanpa persiapan pembelajaran yang matang dan menghindari pembelajaran sastra.

Cara yang tepat adalah siswa diajak guru untuk terlibat secara langsung dalam pembelajaran sastra denga menggunakan Startegi Respons Pembaca (SRP), metode kontekstual, dll.

2. Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual bertujuan membekali siswa dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan atau ditransfer dari suatu permasalahan ke permasalahan yang lain dan dari satu konteks personal, social atau budaya ke konteks lainnya (Jhonson,2002). Pembelajaran kontekstual menyandarkan pada meori special. Pemilihan informasi didasarkan kepada kebutuhan individu siswa. Pembelajaran kontekstual juga selalu mengaitkan dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa. Dalam pelaksanaannya pembelajaran ini menerapkan penilaian autentik.

Pembelajaran kotekstual merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang mengakui dan menunjukkan kondisi alamiah dari pengetahuan. Pendekatan ini memberikan pengalaman yang lebih relevan dan berarti bagi siswa dalam membangun pengetahuan yang akan diterapkannya seumur hidup melalui hubungan di dalam dan di luar kelas (Depdiknas,2002). Pembelajaran ini berusaha menyajikan suatu konsep yang dikaitkannya dengan konsep materi tersebut digunakan, sehingga pengalaman belajarnya lebih realistis dan biasanya akan berdaya tahan lama.

Menurut  Johnson (2002) komponen pembelajaran kontekstual ada delapan, yaitu (1) membuat hubungan bermakna, (2) melakukan pekerjaan yang signifikan,, (3) belajar menyesuaikan diri, (4) berkolaborasi, (5) berfikir kritis dan kreatif, (6) pengalaman individu, (7) pencapaian standard yang tinggi, dan (8) menggunakan penilaian autentk. Sementara itu, dalam dokumen Depdiknas (2002:12-14) dinyatakan bahwa pembelajaran kontekstual menekankan hal-hal berikut: (1) beajar berbasis masalah, (2) pengajaran autentik, (3) belajar berbasis inkuiri, (4) belajar berbasis proyek, (5) belajar berbasis kerja, (6) belajar layanan, dan (7) belajar kooperatif.

3. Pembelajaran Sastra

Sastra lahir oleh dorongan manusia untuk mengungkapkan diri tentang masalah mansia, kemanusiaan, dan semesta (Serni, 1993:1). Sastra adalah pengungkapan masalah hidup, filsafat, dan ilmu jiwa. Sastrawan dapat dilaksanakan sebagai ahli ilmu jiwa dan filsafat yang mengungkapkan masalah hidup, kejiwaan, dan filsafat, bukan dengan cara teknik melisankan melalui tulisan sastra. Perbdaan sastrawan dengan orang lain terletak pada kepekaan sastrawan yang dapat menembus kebnaran hakiki manusia yang tidak dapat diketahui orang lain.

Sastra selain sebuah karya seni yang memiliki budi, imajinasi, dan emosi, juga sebagai karya kreatif yang dimanfaatkan sebagai konsumsi intelektual dan emosinal. Sastra yang telah dilahirkan oleh sastrawan diharapkan dapat member kepuasan estetik dan intelektual bagi pembaca (Serni, 1993:1).

Mengacu pada pengertian sastra di atas sudah sewajarya bila tujuan pembelajaran sastra juga untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada siswa. Sastra dapat memengaruhi daya emosi, imajinasi, kreavitas, dan intelektual siswa sehingga berkembang secara maksimal.

Dalam pembelajaan sastra, banyak pakar mengeluhkan kelemahan pembelajaran sastra di sekolah diantaranya adalah materi pembelajaran sastra lebih menekankan hapalan istilah, pengertian sastra, sejarah daripada pengakraban diri dengan karya sastra. Ada kemungkinan guru juga kurang menguasai dunia sastra dan pembeljarannya sehingga mereka tidak mampu mengajarkan. Setiap ada kompetensi yang berkaitan dengan sastra yang seharusnya dikembangkan dari diri siswa, komponen ini dilalui begitu saja dan tidak diajarkan. Alat evaluasi untuk pembelajaran sastra juga kurang menantang dan kurang komprehensif. Pembelajaran sastra selama ini masih terasa sulit dan menakutkan bagi siswa. Sudah saatnya pembelajaran sastra jadi pembelajaran yang nyaman, menantang, dan menyenangkan kondisi pembelajaran sastra yang kurang mengakrabkan siswa pada karya sastra membuat siswa menjadi rabun novel, rabun cerpen, rabun drama, dan rabun puisi.

4. Pembelajaran Sastra Kontekstual di Kelas

Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi nyat siswa dan mendorong siswa mengaitkan pengetahun yang dimiliki dengn penerapannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkugan keluarga dan masyarakat. Melalui pendekatan kontekstual, hsil pembelajaran lebih bermakna bagi siswa. Proses pembeljran bersifat alami, karena siswa bekerja dan mengalami, bukan sekedar mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil (Nurhadi, 2003:1). Lima bentuk belajar dalam metode kontekstual adalah bentuk belajar dalam kontekstual adalah bentuk belajar relating , experiencing, applying, cooperating dan transferring. Relating adalah bentuk belajar dalam konteks kehidupan nyata. Experiencing adalah belajar dalam konteks kegiatan ekseksplorasi, penemuan, dan penciptaan. Applying adalah belajar dalam bentuk penerapan pengalaman hasil belajar ke dalam penggunaan dan kebutuhan praktis. Cooperating adalah belajar dalam bentuk berbagi informasi dan pengalaman, saling merespons, dan saling berkomunikasi. Transfering adalah kegiatan belajar dalam bentuk memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman berdasarkan konteks baru untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman belajar yang baru (Suparno,2003).

Pembelajaran kontekstual menyandarkan pada memori special. Pemilihan informasi didasarkan kepada kebutuhan individu siswa. Adanya kecendrungan mengintegrasikan beberapa bidang (disiplin). Pembelajaran kontekstual juga selalu mengaitkan dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa. Dalam pelaksanaannya, pembelajaran ini menerapkan penilaian autentik. Perbedaa dengan pembelajaran yang konvensional dapat dicermati pada uraian berikut:

a. Pembelajaran Konvensional

1) Menyandarkan kepada hafalan

2) Pemilihan informasi ditentukan oleh guru

3) Cenderung berfokus pada guru

4) Cendrung berfokus pada satu bidng (disiplin tertentu)

5) Memberikan tumpukan informasi kepada siswa pada saat diperlukan

6) Penilaian hasil belajar hanya melalui kegiatan akademik berupa ujian dan ulangan

b. Pembelajaran Kontekstual

1)    Menyndarkan pada memori spasial

2)    Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan individu siswa

3)    Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang (disiplin)

4)    Selalu mengaitkan informasi pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa

5)    Menerapkan penilaian otentik melalui penerapan praktis dalam pemecahan masalah

Melalui metode kontekstual dapat ditawarkan berbagai kiat pembelajaran

sastra sebagai berikut.

4.1. Relating

             Bentuk pembelajaran sastra ini menekankan belajar sastra dalam konteks kehidupan dan budaya Indonesia. Guru hendaknya mencari bahan yang sesuai dengan kehidupan nyata dan budaya Indonesia, yaitu mengambil bahan dari karya sastra Indonesia. Pembelajaran semacam ini dalam jangka panjang bertujuan memberikan sumbangan bagi terbentuknya kebudayaan Indonesia yang luhur.

Ada beberapa pengarang yang menggarap lokalitas dengan baik antara lain Y.B. Mangunwijaya dalam Burung-Burung Manyar, Mochtar Lubis yang mengangkat lokalitas kelinci dalam novelnya Harimau-Harimau. Novel Umar Kayan Para Priyayi dengan nuansa kebudayaan Jawa, demikian pula prosa lirik Linus Suryadi A.G. dalam Pengakun Pariyem, dan sajak-sajak DarDarmanto Yatman kaya dengan nuansa kebudayaan Jawa.

Kumpulan sajak Taufiq Ismail Benteng dan Tirani, keduanya cocok digunakan untuk mendiskusikan situasi social, politik dan budaya Indonesia pada tahun 1965 dan sesudahnya. Kumpulan puisi ayat-ayat Api karya Sapardi Djoko Damono sesuai untuk membicarakan budaya dan kondisi Indonesia pada masa orde reformasi.

Dalam memilih bahan, guru hendaknya menjadi pendamping bagi siswanya. Bahan hendaknya sesuai dengan usia dan perkembangan jiwa siswa. Bahan-bahan yang mrusak moralitas siswa, hendaknya dihindari. Adanya berbagai sumber pembelajaran tersebut di atas, guru dapat leluasa menggunakan bahan itu untuk scenario pembelajaran.

Skenario Pertama:

a. Siswa diminta untuk menelaah karya sastra seorang sastrawan. Hasil elaah tersebut dihubugkan dengan kehidupan atau pengalaman nyata siswa, baik yang berkaitan dengan tempat maupun peristiwa yang ada dalam karya sastra.

b. Siswa diminta untuk menggali dan menemukan tempat atau peristiwa yang ada di dalam karya sastra dalam kehidupan nyata guna memperdalam pemahaman siswa terhadap karya sastra yang ditelaah.

c. Siswa diminta untuk menelaah biografi sastrawan yang bersangkutan

d. Siswa diminta untuk menggunakan hasil telaah biografi sastrawan untuk memahami lebih mendlam karya sastra yang ditelaah.

Skenario Kedua:

a. Siswa diminta untuk melakukan pengamatan terhadap tempat atau peristiwa yang berkaitan atau yang ada di dalam karya sastra.

b. Siswa diminta untuk menelaah biografi seorang sastrawan

c. siswa diminta untuk menelaah karya sastra dengan bekal pemahaman terhadap tempat dan peristiwa yang berkaitan dengan karya sastra serta bekal pengetahuan biografi sastra.

4.2 Experiencing

Ada tiga kegiatn dalam model pembelajaran yakni, (1) pengayaan, (2) penemuan, (3) menulis kreatif,

(1) Pengayaan

Sebelum menciptakan karya sastra, sebaiknya siswa terlebih dahulu

Memperkaya diri dengan membaca, menonton, mendengarkan apa saja, dan berjalan-jalan serta memperkaya pengalaman. Oleh karena itu, sebelum menulis karya sastra sebaiknya siswa diajak melakukan kegiatan memperkaya pengetahuan. Guru dan siswa mengadakan kegiatan eksplorasi untuk mencari, mengumpulkan, dan memperkaya gagasan. Cara yang mudah untuk mencari gagasan bisa dengan membaca (buku, surat kabar, majalah, artikel, dsb), mendengarkan (music, dongeng, orang bercerita, dsb), melihat (pemandangan, peristiwa, dsb), mengalami (naik perahu, naik pesawat terbang, mendaki gunung, berbelanja, dsb), kegiata eksplorasi in ibis dipilih salah satu atau digabungkan dengan topic yang sama

(2) Kegiatan Penemuan (Discovery)

Kegiatan eksplorasi ini ditindaklanjuti dengan kegiatan penemuan (discovery). Kegiatan ini berupa kegiatan penemuan topic atau tema yang dijadikan karya sastra, penemuan kata-kata atau ungkapan yang menjadi pemicu diciptakannya karya sastra. Kegiatan eksplorasi ini juga bisa berupa kegiatan penjabaran ide. Hal ini bisa dilakukan dengan kegiatan (1) curah pendapat (brainstorming), (2) pengelompokan, dan (3) menuls cepat. Kegiata ini diakhiri dengan kegiatan penciptaan karya sastra.

(3) Menulis dan Menulis ( Creative Writing)

Bentuk pembelajaran ini bertujuan untuk mengajak menciptakan karya sastra. Guru dapat memotivasi siswa bahwa:

Menciptakan karya sasra itu mudah,

Menciptajan karya sastra itu menyenangkan,

Menciptajan karya sastra itu menantang,

Menciptajan karya sastra itu menambah percaya diri,

Menciptajan karya sastra itu melatih intelektual,

Menciptajan karya sastra itu melatih emosi, atau

Menciptajan karya sastra itu melatih kreativitas.

Bisa dibayangkn apabila siswa dapat menulis puisi, ia akan banyak peluang untuk mendapatan penghargaan dan menjadi lebih percaya diri.

Menciptakan karya sastra itu menambah percaya diri,

menciptakan karya sastra itu melatih intelektual,

menciptakan karya sastra itu melatih emoasi, atau

menciptakan karya sastra itu melatih kreativitas.

Bisa dibayangkan apabila siswa dapat menulis puisi, ia akan banyak peluang untuk mendapatkan penghargaan dan menjadi lebih percaya diri

4.3. Applaying

Tujuan kegiatan pembelajaran ini adalah belajar menerapkan pengalaman hasil belajar ke dalam penggunaan dan kebutuhan praktis. Kegiatan penciptaan karya sastra bisa diikuti dengan kegiatan yang bersifat praktis dan pragmatis.

Drama yang telah dibuat bisa ditindaklanjuti dengan pementasan. Puisi, cerpen, atau bahkan novel yang telah dibuat siswa bisa ditindaklanjuti dengan pementasan, ditempelkan di majalah dindig, bisa diterbitkan di surat kabar atau majalah sekolah, bisa dikirimkan ke media masa, atau dilakukan dalm lomba penulisan karya sastra. Bila semua siswa dapat berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, maka harga diri dan rasa percaya diri siswa akan meningkat.

Siswa yang sedang jatuh cinta atau menyatakan rasa sayangnya kepada lawan jenisnya bisa seger mengiriman puisi Sapardi Djoko Damono berikut ini

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Siswa yang sedang putus cinta atau marah, bisa mengirimkan puisi Sutardji Calzoum Bachri

Tapi

Aku bawakan bunga padamu

            Tapi kau bilang masih

            Aku bawakan resahku padamu

            Tapi kau bilang hanya

            Aku bawakan darahku padamu

            Tapi kau bilang Cuma

            Aku bawakan mimpiku padamu

            Tapi kau bilang meski

            Aku bawakan dukaku padamu

            Tapi kau bilang tapi

            Aku bawakan mayatku padamu

Tapi kau bilang hamper

Aku bawakan arwahku padamu

Tapi kau bilang kalau

Tanpa apa aku dating padamu

Wah!

4.4 Cooperative (kooperatif)

Cooperatif adalah belajar dalam bentuk berbagi informasi dan pengalaman, saling merespon, dan saling berkomunikasi. Disela-sela kegiatan seperti yang dilakukan di atas, sangat dimungkinkan kegiatan wicara yang berupa  diskusi dan komentar dari siswa, untuk siswa, dan oleh siswa bisa dlaksanakan sebagai langkah pematangan penulisan karya sastra.

4.5 Transfering     

Kegiatan pembelajaran ini bertujuan agar siswa dapat memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya berdasarkan konteks baru untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman belajar yang baru. Hal ini sesuai dengan pendapat Damono (1998) bahwa sastra adalah jenis kesenian yang merupakan kristalisasi nilai-nilai yang disepakati untuk terus menerus dibongkar dan dikembangkan dalam suatu masyarakat.

Selain cara-cara di atas, ada juga pembelajaran sastra dengan classroom action yang dapat digunakan untuk “menguji coba” model-model penagajaran sastra. Orientasi pembelajaran sastra tidak harus bertele-tele dan lelah dengan beragam teori. Salah satu model classroom action research adalah bengkel sastra. Model pengajran bengkel sastra adalah salah satu bentuk kegiata kesastraan yang berfungsi sebagai sanggar pelatihan untuk mendalami nilai-nilai sastra. Selain itu bengkel sastra juga berungsi sebagai saraa untuk menumbuhkan dan melatih daya kreativitas siswa serta memperkenalkan proses penciptaan karya sastra. Oleh karena itu, sasaran kegiatan bengkel sastra adalah siswa dan guru.

Penutup

Dalam pembelajaran sstra di kelas, seorang guru bahasa haruslah kreatif untuk melakukan inovasi dengan cara mengemas teknik pembelajaran berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetesi dasar yang sesuai dengan situasi dan kondisi di kelas. Guru harus meninggalkan kebiasaan lama yang hanya memberikan materi secara sepintas, tanpa persiapan pembelajarn yang matang dan menhindari pembelajaran sastra.

Cara yang tepat adalah siswa diajak oleh guru untuk terlibat secara langsung dalam pembelajaran sastra dengan menggunakan metode kotekstual.

Guru Bahasa Indonesia hendaknya dapat mengemas pembelajaran secara matang untuk menyampaikan materi sastra di kelas agar idak membosankan. Siswa dilibatkan secara langsung sebaga model atau sebagai salah satu tokoh cerita yang terdapat dalam materi sehingga siswa mendapatkan pengalaman belajar secara nyata.

Model pembelajaran kontekstual menawarkan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik lebih aktif dan kreatif. Proses pembelajaran berlangsung dengan berbasis pada aktivitas siswa.

Cara-cara penialian sastra yang diungkapkan di atas sebenarnya meruapakan salah satu alterative dalam metode kontekstual. Sebenarnya lebih penting adalah guru hendakny membelajarkan siswa dalam situasi yang nyaman, menyenangkan, da menantang. Guru hendaknya mengembangkan siswa sesuai dengan kondisi kepribadiannya. Adapun karakteristi pembelajaran berbasis konekstual adalah sebagai brikut: berdasarkan dunia nyata, berpusat pada siswa, pengetahuan bermakna, memecahkan masalah dan bertanya, pembentukan masyarakat belajar, kerja sama, menyenangkn, menggairahkan, tegintegrasi.

Menggunakan berbagai sumber, siswa aktif dan kritis guru kreatif, dinding elas dan lorong sekolah dipenuhi dengan karya sastra, hasil belajar diukur dengan berbagai cara bukan hanya tes.

 Daftar Pustaka

 

Damono, Sapardi Djoko, 1994. Hujan Bulan Juni, Jakarta:Grasindo

——————————-,  1998. Nasib Sasra di Sekolah, Dalam Basis. No. 01.02

Januari-Februari, 1998.

 

Darma Budi, 1994, Solilokui, Jakarta:Gramedia.

 

Depdiknas, 2002a. Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk Taman Kanak-Kanak

Sekolah Dasar, dan sekolah Menengah. Kebijakan Umum. Jakarta.

 

—————-, 2002b. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah Pembelajaran

            Kontekstual Jakarta.

 

Endaswara, Suwardi, 2003. Metode Peneltian Sastra. Yokyakarta. Pustaka

Widyatama

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply