Pendidikan Agama Dalam Keluarga | Website BDK Palembang
cheap viagra generic viagra complimenter Mackinaw

Pendidikan Agama Dalam Keluarga

Oleh : Drs.Suberia.MM

Abstraks

Pendidikan agama mempunyai peranan yang sangat penting dan urgen karena anak senantiasa bergaul dalam keluarga dan masyarakat.salah satu filter dan pembinaan kepribadian anak adalah melalui keluarga,keluarga adalah  pondasi awal dalam pembentukan kepribadian,kompetensi anak.keluarga adalah jenis pendidikan informal yang sangat urgen fungsinya.Islam memandang bahwa anak mempunyai potensi untuk dikembangkan, tergantung dari cara orang tua/pendidik memberi warna kepada anak didiknya. Islam juga melihat dari sisi anak bahwa kelak dia akan menciptakan sejarah, sebagaimana tersirat dari sabda Rasulullah SAW. ”Didiklah anak-anakmu, sesungguhnya mereka dijadikan untuk menghadapi zaman yang tidak sama dengan zaman kamu.

 

A.  Pendahuluan

Pendidikan agama dalam keluarga mempunyai posisi yang  sangat strategis dalam masyarakat yang sedang membangun, karena keluarga adalah lembaga terkecil dalam masyarakat yang pada giIirannya dapat berperan membentuk masyarakat sebagaimana yang diharapkan.

Nabi Muhammad SAW sebagai penegak risalah Islam, memberi contoh dalam menyampaikan risalah terlebih dahulu kepada keluarganva yaitu Siti Khodijah r.a. yang tanpa ragu-ragu menerima risalah tauhid yang disampaikan Nabi Muhammad SAW. Demikian juga halnya putra-putri beliau dan seorang anak laki-laki yang sejak kecil berada di bawah asuhannya, Ali bin Abi Tholib. Setelah itu. beliau menvampalkan risalah tersebut kepada keluarga dekat yang lain baru kemudian masyarakat sekitarnya.

Agama harus dikenalkan sejak dini kepada anak, bahkan sejak masih dalam kandungan. Pengenalan agama dilaksanakan secara terus menerus melalui pembiasaan-pembiasaan bacaan dan perilaku baik yang dilaksanakan dalam keluarga.

Islam memandang bahwa anak mempunyai potensi untuk dikembangkan, tergantung dari cara orang tua/pendidik memberi warna kepada anak didiknya. Islam juga melihat dari sisi anak bahwa kelak dia akan menciptakan sejarah, sebagaimana tersirat dari sabda Rasulullah SAW. ”Didiklah anak-anakmu, sesungguhnya mereka dijadikan untuk menghadapi zaman yang tidak sama dengan zaman kamu”.

B.Masalah

Kompleksitas kehidupan dalam rumah tangga zaman sekarang ini sangat rawan,begitu juga di masyarakat,sering  dijumpai kenakalan remaja ,seperti melakukan kegiatan yang merugikan dan meresahkan masyarakat,umpamanya geng motor,tawuran pelajar dan bahkan sampai  kasus perkosaan.

hal  inilah yang perlu mendapat perhatian dan tindakan positif dari orang tua dalam  memberikan pendidikan kepada anak anak.jadi permasalahannya adalah :

1. Sejauh mana peranan orang tua dalam memberikan pendidikan agama dan moral kepada anak anak mereka.?

2.Bagaimanakah langkah atau tahapan yang diberikan oleh keluarga dalam pembinaan moral dalam perspektif pendidikan islam ?

3.Konsep apa sajakah yang ada dalam perspektif islam dalam pembinaan keluarga ?

C.Tujuan

Untuk menemukan konsep yang benar dan tepat dalam perspektif islam dalam pembinaan moral anak ,serta langkah langkah yang tepat  dalam pembinaan keluarga sesuai dengan perspektif pendidikan islam.

 

D.  Tanggung Jawab Orang Tua dalam Pendidikan Agama

Dalam pandangan Islam, anak adalah amanat vang dibebankan oleh Allah SWT kepada orang tuanya, karena itu orang tua harus menjaga dan memelihara amanah yang diberikan Allah.

Allah berfirman :

يايها الذين امنوا انفسكم واهليكم  (التحريم 6)

      “Wahai umat yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari ancaman api neraka “. (At- Tahrim : 6 )

Firman Allah tersebut menunjukkan garis yang jelas tentang ini, tentunya sebelum dia menjaga keluarganva dari siksa neraka dia sendiri terlebih dahulu harus membentengi dirinya dari berbagai hal yang membuat dirinya dapat tergelincir dari garis kebenaran yang ditetapkan Allah. Hal ini perlu mendapat perhatian penting karena tidak mungkin seseorang akan dapat menjaga orang lain sebelum dia mampu menjaga dirinya dan anak-anaknya.

Betapa lembutnya Allah memanggil umat Islam : ”wahai umat yang beriman” Maksudnya umat yang telah memerdekakan diri dari perbudakan yang menghambakan diri kepada berhala dan benda dunia”.

Umat yang beriman dihimbau dan disentuh hatinva, agar memelihara keimanan dirinya dan keluarganya, yang dimaksud “ahli” adalah : “Suami, isteri, dan anak-anak”. Yang dipelihara ialah ” keturunan” dengan cara selalu mengajak berbuat kebaikan.. agar menghindari perbuatan jahat.

Kewajiban memelihara keluarga adalah memikul tanggung jawab kehidupan keluarga di dalam Rumah Tangga. Sabda Nabi Muhammad SAW menegaskan, ‘*Tiap-tiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan mereka Yahudi, Nasrani dan Majusi”

Pengertian fitrah dalam sabda Nabi Muhammad SAW di atas adalah sikap tauhid kepada Allah SWT. Sejak manusia dalam kandungan mereka telah melakukan perjanjian dengan Allah SWT untuk beriman dan bertauhid kepada-Nya. Orang tua bertanggung jawab saat kekuatan akal fikiran sianak belum sempurna dalam memiliki tanggung jawab untuk memelihara perjanjian ini sampai anak mampu menemukan dirinya sendiri dan bertanggung jawab atas tindakannya sendiri.

Rasulullah SAW sebagai teladan utama memberi contoh kepada umat, betapa cintanya kepada Fatimah Azzahra sehingga tergambar dalam sabda beliau

فاطمة بضعة من اغضبها اغضبني

Artinya : Fatimah adalah belahan hatiku, siapa yang memarahinya, berarti memarahi aku.aku merasa tersiksa bila ia menderita.

Dalam hadits lain disebutkan:

انما فاطمة بضعة مني يؤذيني ما اذاها

            Artinya : Fatimah adalah belahan diriku. aku merasa tersiksa bila ia menderita.

ِ    Fatimah tumbuh dan berkembang menjadi remaja, ia dibesarkan dibawah kasih sayang ayahnya, makin basar Fatimah makin bertambah pula kasih saying sang ayah. Disamping itu Fatimah juga sudah tahu dan mengerti bagaimana berbakti kepada ayah bunda tercinta, sehingga Fatimah mendapat gelar Ummu abiha (sebagai ibu dan ayah). Fatimah sangat memperhatikan Rasul Allah seperti seorang ibu merawat, menjaga dan memelihara anaknya.

Hal ini merupakan contoh vang ideal dari hubungan suci antara seorang ayah dengan anaknya, disamping sikap demikian mempunyai peranan dalam membina pribadi dan mengarahkan prilaku anak-anak, dengan itu anak-anak menikmati sepenuhnya curahan kasih sayang.

Hubungan antara Rasul dengan putrinya ini juga merupakan contoh yang terbaik tentang penjagaan dan perhatian Islam terhadap remaja muslimah.

E. Aspek-Aspek Pendidikan Agama dalam Keluarga.

Beberapa aspek yang sangat panting untuk diperhatikan orang tua sebagai realisasi dari tanggung jawabnya dalam mendidik anak, adalah

1.  Pendidikan ibadah

2.  Pembinaan mengenai pokok-pokok ajaran Islam dan al-Qur’an

3. Pendidikan Akhlaq

4.  Pendidikan aqidah lslamiyah

Keempat aspek inilah yang menjadi tiang utama dalam pendidikan Islam. Aspek pendidikan tersebut tercakup dalam pengertian yang terkandung dalam Surat Lukman ayat 12 – 19.

Pendidikan ibadah, khususnya pendidikan shalat disebutkan dalam ayat 17 Surat Luqman sebagai berikut

 يا بني اقم الصلاة وأمر بالمعروف وانه عن المنكر واصبر على ما اصابك

ان ذالك من عزم الامور ( لقمانِ   (

Artinya : “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhluh manusia untuk meengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan mungkur, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya hal yang demikian itu termasuk diwajibkan oleh Allah “.    (Luqman, 17)

 Pendidikan shalat dalam ayat ini tidak terbatas tentang, kaifiyah untuk menjalankan shalat yang lebih bersifat fiqhiyah, melainkan termasuk menanamkan nilai-nilai di balik shalat. Mereka harus mampu tempil sebagai pelopor amar ma’ruf dan nahi mungkar Serta jiwanya teruji menjadi orang yang sabar.

Dalam sabda Nabi Muhammad SAW, juga disebutkan tentang pendidikan shalat. untuk keluarga yakni :

مروا اولادكم بالصلاة وهم ابناء سبع سنين واضربوهم عليها وهم أبناء عشر سنين

– رواه ابو داود -

Artinya: -Perintahkan1ah anak-anakmu untuk menjalankan ibadah shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika telah berusia sepuluh tahun (belum mau menjalankan shalat) “. (HR. Abu Dawud, 26. 20).

 Pendidikan dan pengajaran Al-Qur’an serta pokok-pokok ajaran Islam lain telah disebutkan dalam Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib.

خيركم من تعلم القرأن وعلمه (رواه البيهقي )

 Artinya: “Sebaik-baik dari kamu sekalian adalah orang yang belajar ­Al-Qur’an kemudian mengajarkannya “. (HR. Baihaqi).

Mengenai pendidikan nilai dalam Islam sebagaimana disebutkan dalam surat Lugman ayat 16 sebagai berikut :

 يا بني انها ان تك مثقال حبة من خردل فتكن في صخرة او في السماوات او في الارض

 Artinya: Lukman berkata, hai anakku, sesungguhnya jika ada sesuatu perbuatan sebesar biji sawi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha mengetahui ( lukman 16)

Penanaman nilai-nilai baik yang bersifat universal kapanpun dan di manapun dibutuhkan oleh manusia, menanamkan nilai-nilai baik tidak hanya berdasarkan pertimbangan waktu dan tempat. Meskipun kebaikan itu hanya sedikit jika dibandingkan dengan kejahatan, ibarat antara sebiji sawi dengan seluas langit dan bumi, maka yang baik akan nampak baik, dan yang jahat akan nampak sebagai kejahatan. Penanaman pendidikan ini harus disertai dengan contoh konkret yang masuk akal fikiran anak, sehingga penghayatan mereka disertai dengan kesadaran rasional, sebab dapat dibuktikan secara empirik di lapangan.

Sedangkan pendidikan akhlakul karimah menjadi sangat penting untuk dikemukakan dalam pendidikan keluarga, sebagaimana disebutkan dalamsuratLuqman ayat 14, 18 dan 19 sebagai berikut

 ووصينا الانسان بوالديه حملته امه وهنا على وهن وفصاله فى عامين ان اشكرلى ولوالديك الي المصير

Artinya : “Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk (berbuat baik) kepada kedua orang tua ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu, hanya kepada Ku-lah kamu akan kembali (Luqman, 14).

 ولا تصعر خدك للناس ولا تمش فى الارض مرحا ان الله لا يحب كل مختال فخور

Artinya : “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesugguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri “. (Luqman, 18)

واغضض من صوتك ان انكر الاصوات لصوت الحمير

Artinya : “Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara khimar– (Luqman, 19)

 Dari ayat tersebut menunjukkan bahwa tekanan utama pendidikan keluarga dalam Islam adalah pendidikan akhlak, dengan jalan melatih anak membiasakan hal-hal yang baik, menghormati kepada kedua orang tua, bertingkah laku yang sopan baik dalam perilaku keseharian mauapun dalam bertutur kata. Pendidikan akhlak tidak hanya dikemukakan secara teoritik, melainkan disertai contoh-contoh konkrit untuk dihayati maknanya. Dicontohkan kesusahan ibu yang mengandung, serta jeleknya suara khimar bukan sekedar untuk diketahui, melainkan untuk dihayati apa yang ada di balik yang nampak tersebut, kemudian direalisasikan dalam kehidupan kejiwaannya.

Aspek berikutnya dalam pendidikan Islam pada keluarga adalah pendidikan aqidah Islamiyah. Aqidah adalah inti dari dasar keimanan seseorang yang harus ditanamkan kepada anak secara dini, hal ini telah disebutkan dalam surat Luqman ayat 13 sebagai berikut :

واذ قال لقمان لابنه وهو يعظه يا بني لا تشرك بالله ان الشرك لظلم عظيم

 Artinya : “Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberikan palajaran kepadanya : Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah” sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedhaliman yang besar” (Luqman, 13)

   Dari ayat tersebut Luqman telah diangkat kisahnya oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW dan menjadi dasar pedoman hidup setiap muslim. Ini berarti bahwa pola umum pendidikan keluarga. menurut Islam dikembalikan kepada pola yang dilaksanakan Luqman dan anaknya.

Praktek pendidikan Islam Inilah  yang dapat dipedomani bagi umat Islam, yang menyangkut aspek utama tersebut, yakni pendidikan ibadah, pendidikan nilai dan pengajaran Al-Qur’an, pendidikan akhlakul karimah, serta pendidikan aqidah Islamiyah.

Yang masih terbuka kesempatan bagi kita adalah pola penerapan secara operasional yang disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan kejiwaan dan perkembangan berpikir anak. Anak usia remaja dalam keadaan pertumbuhan emosional yang goncang dan pertumbuhan kecerdasan yang cepat akan sulit digunakan pendekatan otoriter. Penerapan pendekatan otoriter akan menyebabkan kegoncangan yang lebih hebat dalam pertumbuhan emosinya, demikian pula pemikiran kritis yang sudah mulai tumbuh akan menolak.

Pendekatan bebas atau permisive juga tidak mungkin dapat diterapkan, sebab anak dalam keadaan emosi yang labil tidak dapat mengendalikan diri sendiri dengan baik. pendiriannya mudah berubah dan goyah. Hal ini akan sangat berbahaya delam pendidikan aqidah dan nilai-nilai Islam yang bersifat universal dan mutlak. Karena itu yang tersirat dalam ayat 13 tersebut tidak ada peluang untuk diperdebatkan, tanpa harus disertai dengan contoh jika memang, pendidikan itu menyangkut masalah akidahpaling mendasar, tinggal anak mau menerima atau tidak.

Betapa pentingnya agama dan akhlak dalam kehidupan manusia. Tidak dapat dipungkiri, kenyatan dimana-mana menunjukkan, bahwa kehancuran suatu bangsa sering kali diakibatkan oleh rusaknya akhlak orang-orang penting di Negara tersebut, terutama para pemimpin yang kurang kuat imannya dalam menghadapi berbagai godaan, terutama harta.

Pertanyaan atau mesalah yang timbul adalah bagaimana cara mendidik/membentuk akhlakul karimah yang benar-benar dapat dijamin mutunya.

Inilah barangkali yang sedang dihadapi oleh bangsa kita (Indonesia) yang 90% penduduknya beragama Islam, kenyataan akhlaknya kurang dapat diandalkan. Untuk menjawab pertanyaan itu dengan sederhana tidak sulit, misalnya pendidikan Agama di Sekolah sangat sedikit, hanya 2 jam pelajaran seminggu, di sekolah dasar dan di tingkat menengah, sedangkan di perguruan tinggi hanya 2 SKS/satu semester saja. Adapun pendidikan akhlak (budi pekerti) tidak ada sama sekali, baik pada sekolah tingkat dasar, menengah maupun perguruan tinggi.

Jika demikian halnya di sekolah, tentu kita tidak dapat mengandalkan pendidikan akhlak di Sekolah, masyarakat dengan media massanya, tidak banyak dapat diharapkan, bahkan sebaliknya yang terjadi, dimana hal-hal yang bertentangan dengan akhlakul karimah banyak ditayangkan lewat media massa elektronik.

Tumpuan harapan hanya satu, yaitu “keluarga” mengingat kemampuan keluarga, untuk membimbing dan mendidik anak-anaknya sesuai dengan ketentuan Agama juga kurang, sebab kurangnya pemahaman dan pengalaman Agama dalam kehidupan.. Demikian juga pendidikan akhlak.

Untuk menyelamatkan kehidupan bangsa di masa sekarang dan yang akan datang, Pendidikan Agama dan Pendidikan Akhlak harus dilaksanakan secara sungguh-sungguh dalam lingkungan keluarga.

Kita perlu memberi bekal kepada semua keluarga agar mampu mengasuh, membimbing dan mendidik anak-anaknya agar menjadi orang Islam yang berakhlak terpuji.

F.  Pembentukan Kepribadian

   Sebelum membicarakan pola pendidikan agama dan akhlak dalam keluarga, mari kita bicarakan lebih dahulu pembentukan kepribadian

Sesungguhnya yang mengarahkan perilaku,(akhlak) seseorang adalah kepribadiannya. Kepribadian itu terbentuk melalui seluruh pengalaman yang diperolehnya, termasuk pengalaman janin dalam kandungan. Apabila pengalaman yang diperoleh itu banyak yang positif, maka unsur positiflah yang lebih berpengaruh dalam kepribadian orang tersebut.

Pengalaman janin dalam kandungan itu, misalnya sikap Ibu terhadap anak yang dikandungnya, jika sikapnya positif, gembira menantikan kelahiran anaknya, serta hubungan keluarga, menyenangkan, rukun dan bahagia, maka anak yang dalam kandungan tersebut memperoleh unsur-unsur positif.

Apabila calon Ibu dan Bapak si anak, orang yang taat beragama, rajin ibadah dan sering mendo’akan anaknya, akan semakin banyak unsur positif yang berguna terserap dalam pembentukkan kepribadian nanti.

Setelah si anak lahir, pengalaman yang diperoleh lewat panca inderanya semakin banyak, terutama dari Ibu dan bapaknya, mulai dari azan yang dibisikkan ditelingannya, penyusuan Ibu yang disertai kasih sayang, serta pengasuhan yang baik dan menyanangkan. Demikianlah seterusnya, pengalaman yang diperoleh anak sejak ia lahir sampai lahir, masa remaja umur 21 tahun.

Orang tua perlu mengetahui ciri-ciri pertumbuhan fisik dan perkembangan psikis anak pada tiap tahap umur, misalnya masa bayi, masa balita, masa sekolah (6-12), masa ramaja awal (13-16) dan masa remaja akhir (17-21) tahun. Perlakuan dan pendidikan yang diberikan orang tua kepada anak pada tahap umur tertentu, harus sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Di samping itu, orang tua harus mengetahui beberapa kebutuhan kewajiban pokok yang penting bagi perkembangan anak, di antaranya:

1. Kebutuhan akan kasih sayang

2. Kebutuhan akan rasa aman

3. Kebutuhan akan harga diri

4. Kebutuhan akan rasa bebas

5. Kebutuhan akan rasa sukses

6. Kebutuhan akan rasa ingin tahu

G.  Pola Pendidikan Keluarga

 Yang dimaksud dengan pola pendidikan adalah, semua unsur manusia ada didalamnya. Ada tujuh macam dimensi yang perlu ditumbuh kembangkan pada diri anak sejak lahir, yaitu fisik, akal. iman, akhlak, kewajiban, estetika dan sosial. Kesemua dimensi tersebut penting. dan perlu dikembangkan secara serasi dan seimbang, tidak ada suatu dimensipun yang terabaikan dan tidak ada pula yang paling diunggulkan, dan melupakan yang lainnya. Setiap dimensi ditumbuh kembangkan sesuai dengan talia’p pertumbuhan Yang, dilalui manusia sejak kecilnya. Hal tersebut dapat kita amati sebagai berikut

Yang paling dulu terlihat dan dikenali pada anak ketika baru lahir adalah fisik (tumbuh). Perhatian orang tua tercurah kepada segala sesuatu tentang tubuh bayi yang baru lahir itu. Maka terjadilah proses membersihkan tubuhnya, lalu dia dibedung dan kemudian kesiapan ibu untuk menyusuinya.

Agama Islam menganjurkan agar anak segera diazankan. Azan adalah dimensi Agama yang harus segera pula dimasukkan kedalam perkembangan kepribadian si anak. Setelah ketujuh kalimat Thayibah lafal azan) dibisikkan ketelingannya, maka setiap kali menolong anak, misalnya menyusuinya, memberinya makan dan minuman, memandikannya, mengganti pakaian, menidurkannya dan sebagainya. Perlu dimulai dengan “Basmalah” dan diakhiri dengan “Hamdalah”. Kata-kata atau kalimat Thayibah tersebut akan menjadi akrab dihati anak, walaupun dia tidak mengerti akan maksudnya.

Wajah ibu yang tampak teduh, sayang dan menyejukkan bagi bayi yang belum berdaya menolong dirinya, maupun dimensi unsur/ dimensi kejiwaan yang menentramkan hati si anak, ia merasa disayangi dan diperhatikan. Suasana yang menyenangkan tersebut membantu perkembangan kesehatan mental anak dikemudian hari, suasana indah menyejukkan itu menyebabkan tampak ceria, senang sehat dan cepat besar (pertumbuhannya).

Perkembangan akal (kecerdasan) anak pun segera terjadi, karena anak lahir telah membawa dalam tubuhnya (kepalanya) jaringan otak yang mulai tumbuh pada umur 6 bulan dalam kandungan, terus berkembang sampai dengan umur kurang lebih lima tahun. Makanan yang mengandung gizi dikonsumsikan oleh ibu ketika hamil, menentukan pertumbuhan jaringan otak anak. Setelah anak lahir, gizinya perlu diperhatikan, agar semua, saraf otak berkembang dengan dukungan saraf-saraf yang bertumbuh baik. Maka pertumbuhan dimensi akal sertai dengan pertumbuhan dimensi fisik dan dilandasi oleh dimensi iman (agama), yang dari waktu kewaktu dialami, didengar dan dilihat oleh anak.

Cara ibu memperlakukan anak dengan kasih sayang dan lemah lembut, memberikan pengalaman yang menunjang pertumbuhan akhlaqul karimah pada anak.

Anak belajar melalui pengalaman yang diperoleh dari lingkungan keluarga. Ada yang didengar, dilihat dan dirasakan. Karena itu alat pendengaran, penglihatan dan perasaan anak perlu dijaga kesehatan dan perkembangan semua dimensi yang ada di dalam perkembangan kepribadian diri anak.

Pola pendidikan terpadu tersebut perlu dilaksanakan dengan memperhatikan kebutuhan fisik anak seperti makanan dan minuman yang sehat dan sesuai dengan tahap umur anak. kebutuhan psikis (kejiwaan) perlu dijaga dan dipenuhi, karena menyebabkan terganggunya kesehatan mental yang mulai bertumbuh itu, bahkan dapat menganggu kesehatan badannya.

Demikian pula  kebutuhan akan rasa aman, perlu dipenuhi. Kebutuhan akan rasa aman hilang apabila orang tua memperlakukan anak dengan keras (memukul, menyakiti dan sebagainya), akibatnya anak merasa takut bahkan merasa bahwa dia tidak disayangi, mungkin lebih jauh lagi, merasa dibenci.

Tidak terpenuhi kedua kebutuhan pokok psikis anak yang masih bayi, bahkan sampai umur 5 tahun akan membawa pengaruh yang negatif bagi perkembangan kejiwaannya dan mungkin mengganggu perkembangan kesehatan mentalnya. Dan selanjutnya menghambat perkembangan sikap keagamaan dan akhlak si anak.

Semakin bertambah umur si anak, semakin terasa kebutuhan jiwa yang berikutnya (rasa harga diri, rasa bebas, rasa sukses dan rasa ingin tahu), disamping kedua kebutuhan jiwa terdahulu.

Pengetahuan orang tua tentang ciri-ciri perkembangan fisik dan perkembangan kejiwaan (kecerdasan, kepribadian, kemasyarakatan dan emosi) anak sangat diperlukan untuk dapat mengatur pendidikan agama dan akhlak si anak. Misalnya perkembangan kecerdasan anak sampai umur 6 tahun masih berkait dengan panca inderanya (indrawi), ia belum memahami kata yang abstrak (maknawi).

Maka pendidikan akhlak lebih ditekankan kepada contoh dan teladan yang diperolehnya dari pengamatan dan pendengaran serta perlakuan yang diterimanya.

Dalam hal ini, orang tua melakukan pendidikan secara tidak sengaja dan tidak diatur khusus untuk anak, tetapi lewat suasana hubungan yang harmonis antara lbu, Bapak serta orang lainnya dalam keluarga.

Pada umur-umur sekitar balita itu anak-anak belajar dan menyerap nilai-nilai dengan meniru orang tuanya atau orang yang menyayanginya dan disayanginya. Pada tahap berikut, umur sekolah (7-12) tahun, perkembangan kecerdasan anak terjadi cepat.

Pemikiran logis mulai pada umur 7 tahun, dan berkembang cepat sampai umur 12 tahun, dimana anak mampu memahami hal yang abstrak. Karena itulah barangkali, Nabi Muhammad SAW, menganjurkan agar orang tua menyuruh anaknya shalat pada umur 7 tahun, sebab si anak secara bertahap telah mulai memahami instruksi dan cara berwudhu dan shalat, serta ibadah lainnya.

Pada umur remaja awal (13-16) pertumbuhan fisik anak cepat sekali, dalam masa 3 tahun itu, fisik anak berubah dari kanak-kanak berubah menjadi dewasa. dan pertumbuhan kecerdasan telah mendekati selesai. Maka ia telah mampu mengambil kesimpulan abstrak dari fakta yang didapatnya.

Perkembangan kepribadian mengalami kegoncangan, akibat perubahan fisik dan perubahan kelenjar yang ada dalam tubuhnya, kelenjar kanak-kanak berakhir, berganti dengan kelenjar yang mengandung hormon seks, yang ditandai dengan mulainya haid bagi yang wanita dan mimpi basah bagi remaja pria.

Kecenderungan bergaul dengan teman lawan Jenis mulai dan hayalan semakin banyak. Pada umur ini pendidikan akhlak perlu segera dikaitkan dengan ketentuan Agama. Pengertian orang tua amat  dibutuhkan remaja, mereka membutuhkan orang yang mau mendengar keluhan dan perasaannya yang sedang goncang.

Pada umur ini pendidikan agama dan akhlaqul karimah sangat dibutuhkannya. Sikap orang tua yang toleran dan mau mengerti remaja, serta mau mengakui bahwa mereka membutuhkan pengertian dan dorongan, maka dengan hati terbuka, mereka akan lebih dekat dengan Allah dan taat beragama serta berusaha mengendalikan akhlaknya.

Remaja akhir (17-21), Walaupun pertumbuhan dan perkembangannya telah mendekati dewasa, namun mereka masih membutuhkan perhatian orang tuanya.

H.Kesimpulan

Tanggung Jawab Orang Tua dalam Pendidikan Agama,Aspek-Aspek Pendidikan Agama dalam Keluarga.sangat penting .Beberapa aspek yang sangat panting untuk diperhatikan orang tua sebagai realisasi dari tanggung jawabnya dalam mendidik anak, adalah :1.  Pendidikan ibadah,2.  Pembinaan mengenai pokok-pokok ajaran Islam dan al-Qur’an,3. Pendidikan Akhlaq,4.  Pendidikan aqidah lslamiyah.

Sesungguhnya yang mengarahkan perilaku,(akhlak) seseorang adalah kepribadiannya. Kepribadian itu terbentuk melalui seluruh pengalaman yang diperolehnya, termasuk pengalaman janin dalam kandungan. Apabila pengalaman yang diperoleh itu banyak yang positif, maka unsur positiflah yang lebih berpengaruh dalam kepribadian orang tersebut,karena setiap orang mempunyai kebutuhan,seperti Kebutuhan akan kasih sayang. Kebutuhan akan rasa aman. Kebutuhan akan harga diri. Kebutuhan akan rasa bebas. Kebutuhan akan rasa sukses. Kebutuhan akan rasa ingin tahu.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Mustafa Al-Maraghy, Tafsir Al-Maraghy, Juzu’ 21, Mesir, tt.

Al-Hamdani, HSA. , Risalah Nikah, Raja Murah, Pekalongan,1980.

Idris Ahmad, Fiqh Syafi`i, Jilid  II, Wijaya, Jakarta, 1969.

Imam Hafiz, Al,- Jamius Shaghir, Juzu II, Mesir, tt,

Imam Ismail.  As-Shan`any,  Subulussalam,  Syarah  Bulughul  Maram,

Juzu• III, Dahlan, .Eiah ung, 1182 H.

Imam Muslim, Shahih Muslim Dengan Syarah Imam Nawawi, Juzu` 9 Mesir, 1924.

Imam Jalil Hafiz Ismail Ibnu Katsir, Tafsir  Ibnu Katsir, Ju­zu` IV, Al-Azhar, tt,

Moh. Arifin, Drs, M, id. , Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama Dilingkungan Sekolah Dan Keluarga, Bulan Bintang, Jakarta, Cetakan ketiga, 1977,

Ahyadi, Abdul Azis, Psikologi Agama Kepribadian, Sinar Baru Algesindo, 1995)

A. Nasir, Sahilan, Peranan Pendidikan Agama terhadap Kenekalan Remaja, (Jakarta : Kalam Mulia, 1999)

Arifin, H.M., Ilmu Pendidikan Islam; suatu Tinjau Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisiplin, ( Jakarta : Bumi Aksara, 1994)

Daradjat, Zakiah dkk., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996)

Departen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, Surabaya . Surya Cipta. Aksara, 1993

Jalaluddin, Psikologi Agama Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2002 )

Ramayulis, llmu Pendidikan Islam, (Kalam Mulia 2002)

Sulaiman, Fattiyah Hasan, Alam Pikiran al-Ghazali Mengenai Pendidikan dan Ilmu, (Bandung : Diponegoro, 1986)

Tafsir, Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam, ( Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2000)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply