Pendidikan Berbasis Karakter dalam Kurikulum 2013 | Website BDK Palembang

Pendidikan Berbasis Karakter dalam Kurikulum 2013

Pendidikan Berbasis Karakter dalam Kurikulum 2013

Oleh:

Sri Sunarti, M.Pd

 Pendahuluan

Pendidikan merupakan suatu usaha yang dengan sengaja di pilih untuk mempengaruhi dan membantu anak yang bertujuan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, jasmani dan akhlak sehingga secara perlahan bisa mengantarkan anak kepada tujuan dan cita-citanya yang paling tinggi. Pendidikan juga suatu pembelajaran pengetahuan, keterampilan dan kebiasaan yang didapat dari pengajaran, pelatihan dan penelitian. Untuk mendapatkan pendidikan yang baik, perlu adanya pembentukan karakter di dalamnya. Dengan pendidikan karakter, anak dapat memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian yang baik, pengendalian diri, berakhlak mulia, kecerdasan dan keterampilan.

Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, kementerian pendidikan nasional mengembangkan design kurikulum pendidikan karakter untuk setiap jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Design kurikulum ini mengelompokkan antara hati, pikiran dan tindakan, seperti olah hati, olah pikir, olahraga dan kinestetik, dan olah rasa dan karsa. Semua pendidik harus memahami pendidikan karakter kepada siswa dalam penyampaian materi dan mengintegrasikannya.

Pendidikan berbasis karakter dalam kurikulum 2013 dilaksanakan atas dasar beberapa prinsip utama. Pertama, standar kompetensi lulusan diturunkan dari kebutuhan. Kedua, standar isi diturunkan dari standar kompetensi lulusan melalui kompetensi inti yang bebas mata pelajaran. Ketiga, semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan dan pengetahuan peserta didik. Keempat, mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai. Kelima, semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti. Keenam, keselarasan tuntutan kompetensi lulusan, isi, proses pembelajaran dan penilaian. Selain itu, sebagai titik tekan pengembangan kurikulum 2013 adalah penyempurnaan pola pikir, tata kelola kurikulum, pendalaman dan perluasan materi, penguatan proses pembelajaran, dan penyesuaian beban belajar agar dapat menjamin kesesuaian antara apa yang diinginkan dengan apa yang dihasilkan (Kemendikbud, 2014).

Pendidikan karakter menjadi masalah utama dalam kurikulum 2013. Pendidikan karakter menjadi program pendidikan nasional melalui pendidikan karakter, RPP berkarakter dan lainnya. Kurikulum dan pendidikan merupakan dua konsep yang harus di pahami terlebih dahulu sebelum membahas mengenai pengembangan kurikulum. Sebab, dengan pemahaman yang jelas atas kedua konsep tersebut diharapkan para pengelola pendidikan, terutama pelaksana kurikulum, mampu melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Kurikulum dan pendidikan bagai dua keping uang, antara yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan dan tak bisa terpisahkan. Dalam pendidikan sekolah, pelaksanaan pendidikan diatur secara bertahap atau mempunyai tingkatan tertentu. Dalam system pendidikan nasional jenjang pendidikan dibagi dalam pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Masing-masing tingkatan itu mempunyai tujuan yang dikenal dengan tujuan institusional atau tujuan kelembagaan, yakni tujuan yang harus dicapai oleh setiap jenjang lembaga pendidikan sekolah. Semua tujuan institusi merupakan penunjang tercapainya tujuan pendidikan nasional.

Hal ini diamanatkan kepada seluruh lembaga pendidikan untuk memantapkan pendidikan berbasis karakter. Dengan berkembangnya tuntutan perubahan kurikulum pendidikan maka kita harus mengedepankan karakter bangsa untuk meningkatkan kualitas sikap dan moral generasi muda. Pada saat ini kurikulum berbasis karakter mampu membentuk karakter peserta didik dan meminimalisir tingkat kriminalitas dan kenakalan remaja. Oleh sebab itu, pemerintah merancang Kurikulum 2013 yang berbasis karakter untuk mendidik karakter anak.

 Pembahasan

  1. Pendidikan Berbasis Karakter

Pendidikan karakter (character building) dalam konteks saat ini sangat relevan untuk mengatasi krisis yang sedang melanda di negara kita. Meningkatnya pergaulan bebas, kekerasan anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah social yang hingga saat ini belum dapat diatas dengan baik. Oleh karena itu, pentingnya pendidikan karakter di sekolah bagi anak. Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan moral (moral knowing), sikap moral (moral feeling) dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan tiga komponen ini dapat dinyatakan bahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik dan melakukan perbuatan kebaikan. Bagan di bawah ini merupakan bagan keterkaitan antara ketiga kerangka piker.

Karakter adalah segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa. Pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan dan melakukan nilai-nilai etika yang inti. Sedangkan menurut  Suyanto (2009) karakter merupakan cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa maupun Negara. Karakter juga merupakan ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu yang mendorong mereka tentang bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap dan merespon sesuatu (Kertajaya, 2010). William & Schnaps (1999) mendefinisikan pendidikan karakter sebagai “any deliberate approach by which school personnel, often in conjunction with parents and community members, help children and youth become caring, principled and responsible”.

Lebih lanjut Williams (2000) menjelaskan bahwa pendidikan karakter awalnya digunakan oleh National Commision on Caracter Education (di Amerika) sebagai suatu istilah payung yang meliputi berbagai pendekatan, filosofi, dan program. Pemecahan masalah, pembuatan keputusan, penyelesaian konflik merupakan aspek yang penting dari pengembangan karakter moral. Oleh karena itu, didalam pendidikan karakter semestinya memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengalami sifat-sfat tersebut secara langsung.

Ada beberapa alasan perlunya pendidikan karakter bagi anak, yaitu (1) dengan pendidikan karakter anak akan memiliki kepribadian yang baik dalam kehidupannya, (2) untuk meningkatkan prestasi akademik, (3) membentuk karakter yang kuat bagi dirinya di tempat lain, (4) mempersiapkan anak menghormati pihak atau orang lain dan dapat hidup dalam masyarakat yang beragam, menghindari kekerasan, pelanggaran kegiatan seksual, dan etos kerja serta ketidaksopanan, (5) untuk membentuk perilaku yang baik di dunia kerja, dan (6) mengajarkan nilai-nilai budaya yang merupakan bagian dari peradaban.

Pendidikan karakter sangatlah penting karena kita membantu manusia untuk menjadi cerdas dan pintar, membantu mereka menjadi manusia yang baik dan memiliki moral.  Di sejumlah negara maju, seperti Amerika Serikat terdapat pusat-pusat kajian pendidikan karakter (Character Education Partnership; International Center for Character Education). Mereka mengembangkan pendidikan karakter dengan pendekatan kajian multidisipliner, yaitu psikologi, filsafat moral/etika, hukum, sastra/humaniora. Pendidikan karakter merupakan cerminan kepribadian secara utuh dari seseorang baik sikap, mentalitas maupun perilaku. Pembelajaran tentang tata krama, sopan santun dan adat istiadat, perlu ditekankan dalam pendidikan karakter. Di sekolah, perlu dituntut pendidikan karakter untuk menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai yang baik dan membantu para siswa membentuk dan membangun karakter mereka dengan nilai-nilai yang baik. Pendidikan karakter diarahkan untuk memberikan tekanan pada nilai-nilai tertentu seperti rasa hormat, tanggung jawab, jujur, peduli, adil dan membantu siswa untuk memahami, memperhatikan dan melakukan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka sendiri.

Menurut Kahn (2010), menyatakan bahwa ada empat jenis pendidikan karakter yang selama ini dilaksanakan dalam proses pendidikan yaitu:

  1. Pendidikan karakter berbasis religius, yang merupakan kebenaran wahyu Tuhan (konservasi moral)
  2. Pendidikan karakter berbasis nilai budaya, antara lain yang berbudi pekerti, pancasila, apresiasi sastra, keteladanan tokoh-tokoh sejarah dan para pemimpin bangsa (konservasi lingkungan)
  3. Pendidikan karakter berbasis lingkungan (konservasi lingkungan)
  4. Pendidikan karakter berbasis potensi diri, yaitu sikap pribadi, hasil proses kesadaran pemberdayaan potensi diri yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan (konservasi human).
  1. Konsep Kurikulum 2013

Kurikulum merupakan salah satu unsure yang memberikan kontribusi untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik tersebut. Kurikulum 2013 dikembangkan berbasis pada kompetensi sangat diperlukan sebagai instrument untuk mengarahkan peserta didik menjadi: (1) manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah; (2) manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri; dan (3) warga Negara yang demokratis, bertanggung jawab.

Ada beberapa konsep mengenai kurikulum 2013. Konsep pertama, kurikulum sebagai instansi. Kurikulum dipandang sebagai suatu rencana kegiatan belajar bagi murid-murid di sekolah, atau sebagai suatu perangkat tujuan yang ingin dicapai. Konsep pertama, kurikulum sebagai suatu instansi. Kurikulum dipandang sebagai suatu rencana kegiatan belajar bagi murid-murid di sekolah, atau sebagai suatu perangkat tujuan yang ingin dicapai. Suatu kurikulum juga dapat menunjuk kepada suatu dokumen yang berisi rumusan tentang tujuan, bahan ajar, kegiatan belajar mengajar, jadwal dan evaluasi. Suatu kurikulum juga dapat digambarkan sebagai dokumen tertulis sebagai hasil persetujuan bersama antara para penyusun kurikulum dan pemegang kebijaksanaan pendidikan dengan masyarakat. Suatu kurikulum juga dapat mencakup lingkup tertentu, suatu sekolah, kabupaten, propinsi atau pun Negara. Konsep ini tidak jauh berbeda dengan konsep kurikulum sebelumnya, namun dalam kurikulum 2013 lebih bertumpu kepada kualitas guru sebagai implementator di lapangan. Guru harus mengembangkan profesionalisme nya sehingga kualitas mengajar nya tidak ‘jalan ditempat’. Ini dikarenakan tugas guru dalam memahami, membina, mengembangkan serta menerapkan kemampuan berkomunikasi secara cermat, tepat dan efektif dalam proses belajar mengajar.

Konsep kedua, adalah kurikulum 2013 merupakan suatu system. Maksudnya bagian dari system persekolah, pendidikan bahkan masyarakat. Suatu system yang mencakup struktur personalia dan prosedur kerja bagaimana cara menyusun suatu kurikulum, melaksanakan, mengevaluasi, dan menyempurnakannya. Konsep ketiga, kurikulum sebagai suatu bidang studi. Maksudnya tujuan kurikulum sebagai bidang studi adalah mengembangkan ilmu tentang kurikulum dan sistem kurikulum. Berubahnya kurikulum KTSP ke kurikulum 2013 ini merupakan salah satu upaya untuk memperbaharui setelah dilakukannya penelitian untuk pengembangan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak bangsa dan atau generasi muda.

Berubahnya kurikulum KTSP ke kurikulum 2013 merupakan salah satu upaya untuk memperbaharui setelah dilakukannya penelitian untuk pengembangan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak bangsa/generasi muda. Inti dari kurikulum 2013 adalah upaya penyederhanaan dan sifatnya tematik yang integratif. Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi tantangan masa depan. Titi berat kurikulum 2013 adalah untuk bertujuan agar peserta didik atau siswa memiliki kemampuan yang lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya (wawancara), bernalar dan mengkomunikasikan.

Objek pembelajaran dalam kurikulum 2013 adalah fenomena alam, sosial, seni dan budaya. Melalui pendekatan itu diharapka siswa kita memiliki kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan produktif sehingga nantinya mereka bisa sukses dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan di zaman yang akan datang. Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Untuk itu setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan kompetensi lulusan.

Pada kurikulum 2013 telah terjadi banyak perubahan dari Permendikbud No. 81 A tentang Implementasi Kurikulum 2013, Penyusunan RPP Nomor 113 tahun 2014 dan Penilaian Nomor 114 tahun 2014 dan sekarang untuk Standar Kompetensi Lulusan Nomor 20 tahun 2016, Standar Isi Nomor 21 tahun 2016, Standar Proses Nomor 22 tahun 2013, Standar Penilaian Nomor 23 tahun 2016 dan Muatan Kurikulum Nomor 24 tahun 2016.

Dengan standar kompetensi lulusan dan standar isi maka prinsip pembelajaran yang digunakan:

  1. Dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu;
  2. Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar;
  3. Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah;
  4. Dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi;
  5. Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu;
  6. Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi;
  7. Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif;
  8. Peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskill) dan keterampilan mental (softskill);
  9. Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;
  10. Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso) dan mengembangkan kreatifitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);
  11. Pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah dan di masyarakat;
  12. Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah peserta didik, dan dimana saja adalah kelas;
  13. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran dan
  14. Pengakuan atas perbedaan individu dan latar belakang budaya peserta didik.
  1. Bagaimana Mendidik Aspek Karakter?

Pendidikan karakter juga merupakan tugas dari semua pihak yang terlibat dalam bidang usaha pendidikan (pendidik). Menurut Otten (2000), pendidikan karakter yang diintegrasika ke dalam seluruh masyarakat sekolah sebagai suatu strategi untuk membantu mengingatkan kembali siswa untuk berhubungan dengan konflik, menjaga siswa untuk tetap selalu siaga dalam lingkungan pendidikan, dan menginventasikan kembali masyarakat untuk berpartisipasi aktif sebagai warga negara.

Pendidikan karakter di sekolah perlu konselor atau guru bantu dalam mendidik karakter. Konselor sekolah akan menjadi pioner dan koordiator progam. Konselor sekolah memiliki tugas untuk membantu siswa mengembangkan kepedulian sosial dan masalah-masalah kesehatan mental siswa. Konselor sekolah harus mampu melibatkan semua pemangku kepentingan (siswa, guru bidang studi, orang tua, dan kepala sekolah) didalam mensukseskan pelaksanaan programnya mulai dari program pelayanan dasar yaitu bimbingan kurikulum yang berisi materi tentang pendidikan karakter, seperti kerjasama, keberagaman, kejujuran, menangani kecemasan, membantu orang lain, persahabatan, cara belajar, manajemen konflik, pencegahan penggunaan narkotika dan sebagainya.

Sementara itu, metode pendidikan karakter yang built in pada matpel dapat dilakukan melalui beberapa cara berikut:

  1. Keteladanan. Masalah Pendidikan karakter adalah masalah moral, kepribadian, dan figuritas. Oleh karenanya keteladanan orang tua dan guru merupakan hal yang paling masuk real dalam implementasinya, dari pada kurikulum ansich. Sehingga pendidikan karakter benar-benar menjadi solusi bagi bangsa ini.
  2. Menciptakan lingkungan yang kondusif. Melakukan pendidikan karakter dengan cara menata lingkungan, peraturan, serta konsekuensi di sekolah dan di rumah.
  3. Pembelajaran terintegrasi, kognisi-afeksi-spikomotor. Model pembelajaran seperti ini dimaksudkan agar materi dan metode penyampaian pada setiap matpel dapat mengarah pada pembinaan moral dan kepribadiaan; setiap matpel saling melengkapi dan memberikan penekanan pada pembentukan karakter peserta didik.
  4. Pembiasaan aspek kognisi integrative-fungsional; memberikan pengetahuan bagaimana melakukan perilaku yang diharapkan untuk muncul dalam kesehariannya serta diaplikasikan.
  5. Untuk Pengkondisian emosinya. Emosi manusi adalah 88% merupakan kendali dalam kehidupan manusia. Jika mampu menyentuh emosinya dan memberikan informasi yang tepat maka informasi tersebut akan menetap dalam hidupnya.

 PENUTUP

  1. Kesimpulan

Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang mampu membentuk karakter anak dengan baik. Anak di didik untuk berperilaku baik dan berbudaya serta berpengetahuan dan memiliki keahlian. Hal ini karena kurikulum 2013 mengajak guru untuk lebih kreatif dalam mengajar dan mendidik. Kualitas guru digunakan sebagai implementator di lapangan. Ini mengingat perkembangan alam, manusia, dan zaman terus mengalami perubahan maka pendidikan di Indonesia perlu di tingkatkan. Dengan memberikan pendidikan karakter dalam kurikulum sekolah. Ini dikarenakan pendidikan karakter berkaitan dengan sistem yang mengarah terjadinya perubahan yang lebih baik kedepannya.

 

  1. Rekomendasi

Untuk menerapkan pendidikan karakter dalam kurikulum 2013, guru harus bekerja keras mendidik dan membimbing anak dalam  berprilaku dan belajar. Guru juga harus mengembangkan materi ajar menjadi kreatif dan mengajak siswa untuk aktif selama proses pembelajaran. Guru juga harus bekerjasama antar guru untuk memberikan pendidikan karakater di sekolah.

 

DAFTAR PUSTAKA

Kahn, Y. 2010. Pendidikan karakter berbasis potensi diri mendongkrak kualitas pendidikan. Yogyakarta: Pelangi Publishing.

Kemendikbud. 2014. Permendikbud nomor 103 tahun 2014 tentang pembelajaran pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Kemendikbud. 2014. Permendikbud nomor 104 tahun 2014 tentang penilaian hasil belajar oleh pendidik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Kemendiknas. 2010. Pengembangan pendidikan dan karakter budaya bangsa. Jakarta.

Kertajaya, H. 2010. Grow with character: The model martketing. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Otten, E. H. 2000. Character Education. Bloomington, IN: ERIC Clearinghouse for Social Studies/Social Science Education. (ERIC Document Reproduction Service No. ED 444 932). Rerieved October 4, 2016 from http://www.ed.gov/databases/ERIC_Digets/ed444932.html.

Suyanto. 2009. Urgensi pendidikan karakter. Direkjenmanpendasmen. (online).

Williams, M. 2000. Models of character education: Perspectives and developmental issues. Journal of Humanistic Counselling, Education and Development, 39, pp. 32-40

William, M., & Schnaps, E. (Eds.). 1999. Character Education: The foundation for teacher education. Washington, DC: Character Education Partnership.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply