PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH | Website BDK Palembang

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH

Oleh: Riduwan

Pendahuluan

Peningkatan mutu pendidikan merupakan hal yang tidak akan habis dibicarakan dan terus diupayakan. Salah satu upaya peningkatan mutu pendidikan tersebut adalah dengan mengubah paradigma pendidikan dari pengajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) ke arah pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Paradigma ini menuntut para guru untuk lebih kreatif dalam mengembangkan pembelajaran, sehingga memungkinkan peserta didik dapat berprestasi melalui kegiatan-kegiatan nyata yang menyenangkan dan mampu mengembangkan potensi peserta didik secara optimal.

Model pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu model pembelajaran yang dalam penerapannya menuntut siswa untuk aktif, perlu dikembangkan oleh guru dalam rangka meningkatkan hasil belajar para siswa yang lebih baik. Model pembelajaran berbasis masalah ini dipandang sebagai satu model yang tepat untuk merespon isu-isu peningkatan mutu atau kualitas pendidikan teknologi dan perubahan-perubahan besar yang terjadi di dunia kerja. Model pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran yang berfokus pada konsep-konsep dan prinsip-prinsip utama (central) dari suatu disiplin, melibatkan siswa dalam kegiatan pemecahan masalah dan tugas-tugas bermakna lainya, memberi peluang siswa bekerja secara otonom mengkonstruk belajar mereka sendiri, dan puncaknya menghasilkan produk karya siswa bernilai, dan realistik (BIE, 1999).

Lantas bagaimanakah para guru menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dalam proses pembelajaran di sekolah?

Konsep Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Pembelajaran berbasis masalah dalam bahasa Inggeris diistilahkan dengan Problem Based Learning (PBL), adalah suatu pendekatan pembelajaran dengan membuat konfrontasi kepada siswa dengan masalah-masalah praktis, terstruktur melalui stimulus dalam belajar. Model pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa.

Menurut Arends (Trianto, 2007) pembelajaran berbasis masalah “merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir, mengembangkan kemandirian, dan percaya diri.” Pada model ini siswa dilibatkan untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah.

Selanjutnya Suryadi (2005) yang menyatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu strategi yang dimulai dengan menghadapkan siswa pada masalah nyata atau masalah yang disimulasikan. Pada saat siswa menghadapi masalah tersebut, mereka mulai menyadari bahwa hal demikian dapat dipandang dari berbagai perspektif serta menyelesaikannya dibutuhkan pengintegrasian informasi dari berbagai ilmu.

Dalam proses pembelajaran berbasis masalah, sebelum pembelajaran dimulai, siswa akan diberikan masalah-masalah. Masalah yang disajikan adalah masalah yang memiliki konteks dengan dunia nyata. Semakin dekat dengan dunia nyata, akan semakin baik pengaruhnya pada peningkatan kecakapan pada siswa. Dari masalah yang diberikan ini siswa bekerja sama dalam berkelompok, mencoba memecahkannya dengan kemampuan yang dimiliki, dan sekaligus mencari informasi-informasi baru yang relevan untuk solusinya. Disini tugas pendidik adalah sebagai fasilitator yang mengarahkan pembelajar dalam mencari dan menemukan solusi yang diperlukan dan juga sekaligus menentukan kriteria pencapaian proses pembelajaran itu (Taufik,2009).

Adapun hakekat masalah dalam pembelajaran berbasis masalah adalah kesenjangan antara situasi nyata dan kondisi yang diharapkan, atau antara kenyataan yang terjadi dengan kondisi yang diharapkan. Kesenjangan tersebut bisa dirasakan dari adanya keresahan, keluhan, kerisauan, atau kecemasan. Oleh karena itu, maka materi pelajaran atau topik tidak terbatas pada materi pelajaran yang bersumber dari peristiwa-peristiwa tertentu sesuai dengan kurikulum yang berlaku (Wina, 2009).

Menurut Arends (dalam Abbas dan Nurhayati,2000), pertanyaan dan masalah yang diajukan guru kepada siswa dalam pembelajaran berbasis masalah haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. Autentik, yaitu masalah harus lebih berakar pada kehidupan dunia nyata siswa dari pada berakar pada prinsip-prinsip disiplin ilmu tertentu;
  2. Jelas, yaitu masalah dirumuskan dengan jelas, dalam arti tidak menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya akan menyulitkan penyelesaian siswa itu sendiri;
  3. Mudah dipahami, yaitu masalah yang diberikan hendaknya mudah dipahami siswa. Selain itu masalah disusun dan dibuat sesuai dengan tingkat perkembangan siswa;
  4. Luas dan sesuai dengan tujuan pembelajaran, yaitu masalah yang disusun dan dirumuskan hendaknya bersifat luas, artinya masalah tersebut mencakup seluruh materi pelajaran yang akan diajarkan sesuai dengan waktu, ruang dan sumber yang tersedia.  Selain itu, masalah yang telah disusun tersebut harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan;
  5. Bermanfaat, yaitu masalah yang telah disusun dan dirumuskan haruslah bermanfaat, baik siswa sebagai pemecah masalah maupun guru sebagai pembuat masalah. Masalah yang bermanfaat adalah masalah yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir memecahkan masalah siswa, serta membangkitkan motivasi belajar siswa.

Model pembelajaran berbasis masalah ini memiliki beberapa karakteristik yaitu:

  1. Belajar dimulai dengan suatu masalah,
  2. Memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata siswa,
  3. Mengorganisasikan pelajaran di seputar masalah, bukan di seputar disiplin ilmu,
  4. Memberikan tanggung jawab yang besar kepada pembelajar dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri
  5. Siswa bekerjasama dalam kelompok kecil, dan melatih siswa untuk terampil menyajikan temuan yaitu menuntut pembelajar untuk mendemontrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk suatu produk atau kinerja.

Model pembelajaran berbasis masalah ini memiliki beberapa kelebihan, diantaranya yaitu:

  1. Dengan pembelajaran berbasis masalah akan terjadi pembelajaran  bermakna. Peserta didik yang belajar memecahkan suatu masalah, mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika peserta didik berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan
  2. Dalam situasi pembelajaran berbasis masalah, peserta didik mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan
  3. Pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif peserta didik dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.

Selain kelebihan-kelebihan di atas, model pembelajaran berbasis masalah juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya (https://www.scribd.com/doc/207940021/Kelebihan-Dan-Kelemahan-Model-Pembelajaran-Berbasis-Masalah):

  1. Tidak semua materi cocok menggunakan model pembelajaran berdasarkan masalah. Materi yang cocok untuk menggunakan model pembelajaran ini adalah materi yang membutuhkan pemecahan suatu masalah, misalnya tentang kasus sampah.
  2. Sering terjadi miss konsepsi.
  3. Sulitnya mencari masalah yang relevan dengan materi yang akan disampaikan.
  4. Guru sebagai fasilitator, sehingga harus memiliki motivasi yang baik untuk mendorong kinerja siswa dalam berkelompok.
  5. Penggunaan waktu yang tidak sedikit. Sehingga ditakutkan semua konten belum tersampaikan semua walaupun pembelajaran berfokus pada masalah bukan materi.

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Dalam menerapkan model pembelajaran ini tidak terlepas dari langkah-langkah operasional  yang harus dijalani dalam  proses Pembelajarannya. Karena itu penerapan model pembelajaran berbasis maslah dapat ditempuh dengan menjalani alur-alur praktis di bawah ini yaitu;

  1. Pendefinisian Masalah (Defining the Problem); Dalam langkah ini guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan skenario/aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan. Sementara itu peserta didik melakukan berbagai kegiatan brainstorming dan semua anggota kelompok mengungkapkan pendapat, ide, dan tanggapan terhadap skenario secara bebas, sehingga dimungkinkan muncul berbagai macam alternatif pendapat. Dalam hal ini sangat penting bagi guru untuk memberikan motivasi agar siswa dapat engage dalam pembelajaran yang akan dilakukan.
  2. Pembelajaran Mandiri (Self Learning); Peserta didik berkolaborasi dan mencari berbagai sumber yang dapat memperjelas isu yang sedang diinvestigasi. Sumber yang dimaksud dapat dalam bentuk artikel tertulis yang tersimpan di perpustakaan, halaman web, atau bahkan pakar dalam bidang yang relevan. Pemecahan masalah dalam hal ini sangat membutuhkan kerjasama dan sharing antar anggota. Oleh sebab itu, guru/dosen dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok siswa dimana masing-masing kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda. Guru sangat penting memonitor dan mengevaluasi kerja masing-masing kelompok untuk menjaga kinerja dan dinamika kelompok selama pembelajaran.

Setelah siswa diorientasikan pada suatu masalah dan telah membentuk kelompok belajar selanjutnya guru dan siswa menetapkan subtopik-subtopik yang spesifik, tugas-tugas penyelidikan, dan jadwal. Tantangan utama bagi guru pada tahap ini adalah mengupayakan agar semua siswa aktif terlibat dalam sejumlah kegiatan penyelidikan dan hasil-hasil penyelidikan ini dapat menghasilkan penyelesaian terhadap permasalahan tersebut.

  1. Tahap investigasi (investigation); investigasi ini adalah inti dari pembelajaran berbasis masalah. Meskipun setiap situasi permasalahan memerlukan teknik penyelidikan yang berbeda, namun pada umumnya tentu melibatkan karakter yang identik, yakni pengumpulan data dan eksperimen, berhipotesis dan penjelasan, dan memberikan pemecahan. Pengumpulan data dan eksperimentasi merupakan aspek yang sangat penting. Pada tahap ini, guru harus mendorong siswa untuk mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen (mental maupun aktual) sampai mereka betul-betul memahami dimensi situasi permasalahan. Tujuannya adalah agar siswa mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan membangun ide mereka sendiri. Pada fase ini seharusnya lebih dari sekedar membaca tentang masalah-masalah dalam buku-buku. Guru membantu siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber, dan ia seharusnya mengajukan pertanyaan pada mahasiswa untuk berifikir tentang masalah dan ragam informasi yang dibutuhkan untuk sampai pada pemecahan masalah yang dapat dipertahankan.
  2. Pertukaran Pengetahuan (Exchange knowledge); Setelah mendapatkan sumber untuk keperluan pendalaman materi dalam langkah pembelajaran mandiri, selanjutnya pada pertemuan berikutnya peserta didik berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengklarifikasi capaiannya dan merumuskan solusi dari permasalahan kelompok. Pertukaran pengetahuan ini dapat dilakukan dengan cara peserta didik berkumpul sesuai kelompok dan fasilitatornya.
  3. Mengembangkan dan menyajikan artifak (hasil karya) dan memamerkannya; Tahap penyelidikan diikuti dengan menciptakan artifak (hasil karya) dan pameran. Artifak lebih dari sekedar laporan tertulis, namun bisa suatu videotape (menunjukkan situasi masalah dan pemecahan yang diusulkan), model (perwujudan secara fisik dari situasi masalah dan pemecahannya), program komputer, dan sajian multimedia. Tentunya kecanggihan artifak sangat dipengaruhi tingkat berfikir mahasiswa. Langkah selanjutnya adalah mempamerkan hasil karyanya dan guru berperan sebagai organisator pameran. Akan lebih baik jika dalam pemeran ini melibatkan siswa-siswa lainnya, guru-guru, orangtua, dan lainnya yang dapat menjadi “penilai” atau memberikan umpan balik.
  4. Penilaian (Assessment); Alur ini merupakan tahap akhir dalam pembelajaran berbasis masalah. Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan laporan. Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran, baik software, hardware, maupun kemampuan perancangan dan pengujian. Selama fase ini guru meminta siswa untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan selama proses kegiatan belajarnya.

Simpulan

Dari paparan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Model pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pendekatan pembelajaran dengan membuat konfrontasi kepada siswa dengan masalah-masalah praktis, terstruktur melalui stimulus dalam belajar. Model pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa.
  2. Penerapan model pembelajaran berbasis maslah di awali dengan pendefinisian masalah (defining the problem), pembelajaran mandiri (self learning), tahap investigasi (investigation), pertukaran pengetahuan (exchange knowledge), mengembangkan dan menyajikan artifak (hasil karya) dan mempamerkannya, dan yang terakhir adalah Penilaian (assessment)

DAFTAR PUSTAKA

Abbas, Nurhayati. 2000. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Beroriantasi Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Instruction). Prodi Pend. Matematika PPs UNESA

Buck Institute for Education. 1999. Project-Based Learning. http://www.bgsu.edu/organizations/etl/proj.html.CORD, 2001.

Muhammad Taufik Amir, M.  2009. Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning. Jakarta: Kencana

Sanjaya, Wina.  2009.  Model Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana

Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Surabaya: Prestasi Pustaka

 

 

 

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply