PENERAPAN MODEL PROJECT BASED LEARNING (PjBL) | Website BDK Palembang

PENERAPAN MODEL PROJECT BASED LEARNING (PjBL)

PENERAPAN MODEL PROJECT BASED LEARNING (PjBL)

Oleh: Riduwan

Pendahuluan

Peningkatan mutu pendidikan merupakan hal yang tidak akan habis dibicarakan dan terus diupayakan. Salah satu upaya peningkatan mutu pendidikan tersebut adalah dengan mengubah paradigma pendidikan dari pengajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) ke arah pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Paradigma ini menuntut para guru untuk lebih kreatif dalam mengembangkan pembelajaran, sehingga memungkinkan peserta didik dapat berprestasi melalui kegiatan-kegiatan nyata yang menyenangkan dan mampu mengembangkan potensi peserta didik secara optimal.

Project Based Learning (PjBL) atau model pembelajaran berbasis proyek yang merupakan salah satu model pembelajaran yang dalam penerapannya menuntut siswa untuk aktif, perlu dikembangkan oleh guru dalam rangka meningkatkan hasil belajar para siswa yang lebih baik. Project Based Learning (PjBL) ini dipandang sebagai satu model yang tepat untuk merespon isu-isu peningkatan mutu atau kualitas pendidikan teknologi dan perubahan-perubahan besar yang terjadi di dunia kerja. Project-Based Learning adalah model pembelajaran yang berfokus pada konsep-konsep dan prinsip-prinsip utama (central) dari suatu disiplin, melibatkan siswa dalam kegiatan pemecahan masalah dan tugas-tugas bermakna lainya, memberi peluang siswa bekerja secara otonom mengkonstruk belajar mereka sendiri, dan puncaknya menghasilkan produk karya siswa bernilai, dan realistik (BIE, 1999).

Lantas bagaimanakah para guru menerapkan Project Based Learning (PjBL) dalam proses pembelajaran di sekolah?

Konsep Project Based Learning (PjBL)

Blumenfeld et al. (1991) mengatakan bahwa, “Pelajaran berbasis proyek adalah perspektif yang komprehensif berfokus pada pengajaran dengan melibatkan siswa dalam penyelidikan. Dalam kerangka ini, siswa mengejar solusi untuk permasalahan yang tidak sederhana dengan mengajukan pertanyaan dan menyempurnakannya, debat pendapat, membuat prediksi, merancang rencana atau percobaan, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan, mengkomunikasikan ide-ide mereka dan temuan kepada orang lain, mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru, dan menciptakan artefak”.

Pembelajaran berbasis proyek adalah adalah kegiatan pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017)

Dasar PjBL terletak pada keautentikan atau kehidupan nyata (real word) dalam penerapan penelitian. Peserta didik bekerja sebagai tim diberi “pertanyaan mengemudi” untuk menanggapi atau menjawab, kemudian diarahkan untuk menciptakan sebuah artefak untuk menyajikan pengetahuan yang mereka peroleh. Artefak tersebut termasuk berbagai media seperti tulisan, seni, gambar, representasi tiga dimensi, video, fotografi, atau presentasi berbasis teknologi.

PjBL dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya. Melalui PjBL, proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun (a guiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum.

Pada saat pertanyaan terjawab, secara langsung peserta didik dapat melihat berbagai elemen utama sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah disiplin yang sedang dikajinya. PjBL merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik.

Menurut Buck Institute For Education (1999) dalam Made (2011) PjBL memiliki beberapa karakteristik yaitu:

  1. Siswa membuat keputusan dan membuat kerangka kerja
  2. Terdapat masalah yang pemecahannya  tidak ditentukan sebelumnya
  3. Siswa merancang proses untuk mencapai hasil
  4. Siswa bertanggung jawab untuk mendapatkan dan mengelola informasi yang dikumpulkan
  5. Siswa melakukan evaluasi secara kontinu
  6. Siswa secara teratur melihat kembali apa yang mereka kerjakan
  7. Hasil akhir berupa produk dan dievaluasi kualitasnya
  8. Kelas memiliki atmosfir yang memberikan toleransi kesalahan dan perubahan.

Berikutnya ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam Project Based Learning (PjBL) yaitu:

  1. Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question)

Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Pengajar berusaha agar topik yang diangkat relevan untuk para peserta didik.

  1. Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project)

Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik. Dengan  emikian peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin, serta  mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.

  1. Menyusun Jadwal (Create a Schedule)

Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline untuk menyelesaikan proyek, (2) membuat deadline penyelesaian proyek, (3) membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru, (4) membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan (5) meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara.

  1. Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project)

Pengajar bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada setiap roses. Dengan kata lain pengajar berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. Agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang  penting.

  1. Menguji Hasil (Assess the Outcome)

Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing- masing peserta didik, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.

  1. Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience)

Pada akhir proses pembelajaran, pengajar dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama menyelesaikan proyek. Pengajar dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran.

Moursund (1997) dalam Kemendikbud (2016) menyebutkan beberapa kelebihan penggunaan PjBL adalah:

  1. Increased motivation. Meningkatkan motivasi siswa untuk belajar dan mendorong mereka untuk melakukan pekerjaan penting. Siswa tekun bekerja dan berusaha keras untuk belajar lebih mendalam dan mencari jawaban atas keingintahuan dan dalam menyelesaikan proyek.
  2. Increased problem-solving ability. Lingkungan belajar PjBL membuat siswa menjadi lebih aktif memecahkan masalah-masalah yang kompleks. Siswa mempunyai pilihan untuk menyelidiki topik-topik yang berkaitan dengan masalah dunia nyata, saling bertukar pendapat antara kelompok yang membahas topik yang berbeda, mempresentasikan proyek atau hasil diskusi mereka. Hal tersebut juga mengembangkan keterampilan tingkat tinggi siswa.
  3. Increased collaborative. Pentingnya kerja kelompok dalam proyek memerlukan siswa mengembangkan dan mempraktikan keterampilan berkomunikasi.
  4. Improved library research skills. Karena PjBL mensyaratkan siswa harus mampu secara cepat memperoleh informasi melalui sumber-sumber informasi, sehingga dapat meningkatkan keterampilan siswa untuk mencari dan mendapatkan informasi.
  5. Increased resource-management skills. Memberikan pengalaman kepada siswa dalam mengorganisasi proyek, mengalokasikan waktu, dan mengelola sumber daya seperti alat dan bahan menyelesaikan tugas. Ketika siswa bekerja dalam kelompok, mereka belajar untuk mempelajari keterampilan merencanakan, mengorganisasi, negosiasi, dan membuat kesepakatan tentang tugas yang akan dikerjakan, siapa yang akan bertanggungjawab untuk setiap tugas, dan bagaimana informasi akan dikumpulkan dan disajikan.
  6. Memberikan kesempatan belajar bagi siswa untuk berkembang sesuai kondisi dunia nyata
  7. Meningkatkan kemampuan berpikir. Laporan PjBL tidak hanya berdasar informasi yang dibaca saja, tetapi melibatkan siswa untuk belajar mengembangkan masalah, mencari jawaban dengan mengumpulkan informasi, berkolaborasi dan menerapkan pengetahuan yang dipahami untuk menyelesaikan permasalahan dunia nyata.
  8. Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan.

Selain kelebihan PjBL yang telah dijelaskan di atas, pelaksanaan PjBL juga memiliki beberapa keterbatasan yaitu (Kemendikbud, 2016):

  1. Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah.
  2. Membutuhkan biaya yang cukup banyak
  3. Banyak instruktur yang merasa nyaman dengan kelas tradisional, di mana instruktur memegang peran utama di kelas.
  4. Banyaknya peralatan yang harus disediakan.
  5. Peserta didik yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan.
  6. Ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok.
  7. Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda, dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik secara keseluruhan

Menurut Thomas (2000) berdasarkan berbagai bentuk penelitian, PjBL lebih efektif untuk:

  1. Peningkatan prestasi belajar siswa
  2. Peningkatan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah
  3. Peningkatan pemahaman siswa dalam materi pelajaran
  4. Peningkatan dalam pemahaman yang berhubungan dengan keterampilan khusus dan strategi pengenalan pada proyek.
  5. Adanya perubahan dalam kelompok pemecahan masalah, kebiasaan kerja dan proses PjBL lainnya (https://ermiwid.wordpress.com/2016/12/22/model-pembelajaran-pjbl/).

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Proyek

Untuk mengetahui bagaimana menerapkan Project Based Learning (PjBL) ini tentu tidak akan terlepas dari langkah-langkah penerapan model pembelajaran ini. Adapun penerapan model ini dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:

  1. Melakukan analisis KI dan KD. Hal ini dilakukan dalam rangka mengetahui apakah materi yang akan disajikan kepada para peserta didik cocok menggunakan model pembelajaran ini. Ketika materi yang akan disampaikan tidak cocok menggunakan model ini, maka guru tidak perlu memaksakan diri untuk menerapkan model PjBL ini dalam pembelajaran.
  2. Lihat kurikulum. Pelajaran apa saja yang bisa diintegrasikan. Ambil KD dan Indikatornya. Misal Pelajaran fisika, Pelajaran Bahasa Indonesia dipakai untuk membuat laporan setelah melakukan pengamatan.
  3. Menetapkan judul/tema proyek. Judul/tema ini adalah suatu judul/tema yang menarik dan kontekstual, yang di dalamnya akan didalami dengan multidisipliner dalam satu kurikulum pertingkat jenjang kelas. Judul/tema proyek hendaknya memenuhi indikator-indikator berikut: (a) memuat gagasan umum dan orisinil, (b) penting dan menarik, (c) mendeskripsikan masalah kompleks, (d) mencerminkan hubungan berbagai gagasan, (e) mengutamakan pemecahan masalah.
  4. Menetapkan konteks belajar; konteks belajar hendaknya memenuhi indikator-indikator berikut: (a) Pertanyaan-pertanyaan proyek mempersoalkan masalah dunia nyata, (b) mengutamakan otonomi siswa, (c) Melakukan inquiry dalam konteks masyarakat, (d) Siswa mampu mengelola waktu secara efektif dan efesien, (e) Siswa belajar penuh dengan kontrol diri, (f) Menyimulasikan kerja secara profesional.
  5. Buat deadline waktu pengerjaannya. Kapan dimulai, kapan presentasi
  6. Bagi siswa ke dalam kelompok kecil (maksimal per kelompok 5 orang). Anggota kelompok yang terlalu banyak bisa menyebabkan adanya anggota kelompok yang tidak aktif dalam mengerjakan proyek.
  7. Merencanakan aktivitas-aktivitas; berikan tugas kepada peserta didik untuk mencari data/bahan presentasi di berbagai sumber, misalnya buku, internet, majalah, wawancara dengan para ahli, dan lain-lain. Pengalaman belajar terkait dengan merencanakan proyek adalah sebagai berikut: (a) membaca, (b) meneliti, (c) observasi, (d) interviu, (e) merekam, (f) mengunjungi objek yang berkaitan dengan proyek, (g) akses internet.
  8. Memproses aktivitas-aktivitas; indikator-indikator memproses aktivitas meliputi antara lain: (a) membuat sketsa, (b) melukiskan analisa, (3) menghitung , (d) mengenerate, (e) mengembangkan prototipe.
  9. Penerapan aktivitas-aktivitas untuk menyelesaikan proyek. Dalam hal ini, siswa dalam kelompok akan menerapkan metode inquery, mereka akan saling berdiskusi menjawab pertanyaan dasar. Langkah-langkah yang dilakukan, adalah: (a) mencoba mengerjakan proyek berdasarkan sketsa, (b) menguji langkah-langkah yang telah dikerjakan dan hasil yang diperoleh, (c) mengevaluasi hasil yang telah diperoleh, (d) merevisi hasil yang telah diperoleh, (e) melakukan daur ulang proyek yang lain, (f) mengklasifikasi hasil terbaik.
  10. Guru melakukan monitoring. Guru bidang studi yang diintegrasikan berfungsi sebagai fasilitator, melakukan monitoring dalam rangka membantu kelompok bila kelompok menemui kesulitan.
  11. Kelompok akan menyusun laporannya di powerpoint
  12. Buat rubrik penilaian untuk setiap mata pelajaran yang diintegrasikan. Rubrik ini dibuat oleh guru bidang studi yang diintegrasikan dalam proyek.
  13. Presentasi produk. Di akhir presentasi dalam produk dicantumkan sebuah kesimpulan jawaban pertanyaan dasar setelah dilihat dari berbagai multidisiplin. Penilaian berdasarkan rubrik yang telah disepakati oleh siswa.

Simpulan

Dari paparan di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) adalah kegiatan pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar.
  2. Penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) dalam pembelajaran adalah dengan melakukan analisis KI dan KD untuk mengetahui apakah materi yang akan disampaikan sesuai menggunakan PjBL, melihat kurikulum untuk mengetahui pelajaran apa saja yang bisa diintegrasikan, menetapkan judul/tema proyek, menetapkan konteks belajar, membuat deadline waktu pengerjaannya, membagi siswa menjadi beberapa kelompok kecil, merencanakan dan memproses aktivitas-aktivitas, menerapkan aktivitas-aktivitas untuk menyelesaikan proyek, guru memonitoring kerja siswa, kelompok menyusun laporan, membuat rubrik penilaian, dan yang terakhir siswa mempresentasikan produk

Daftar Pustaka

Blumenfeld, P.C., E. Soloway, R.W. Marx, J.S. Krajcik, M. Guzdial, and A. Palincsar. 1991. Motivating Project-Based Learning: Sustaining the Doing, Supporting the Learning. Educational Psychologist

Buck Institute for Education. 1999. Project-Based Learning. http://www.bgsu.edu/organizations/etl/proj.html.CORD, 2001.

https://ermiwid.wordpress.com/2016/12/22/model-pembelajaran-pjbl/

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2016. Modul Pelatihan Kurikulum 2013, Jakarta: Kemendikbud.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Materi Bimtek Fasilitator dan Instruktur Kurikulum 2013, Jakarta: Kemendikbud

Wena, Made. 2011. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer : suatu Tinjauan Konseptual Operasional. Jakarta: Bumi Aksara

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply