Penerapan Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching And Learning (CTL)) Dalam Pembelajaran IPS MI | Website BDK Palembang
Weak Gravitational Lensing 2006 Bartelmann M. General Relativity 0 Bartelmus P. Scaling of Spatial Correlations in Cooperative Sequential Adsorption with Clustering 1994 Barter J. Space Stations 2004 Barter J. Telescopes 2005 Barter J. Lucent Library of Science and Technology. Dry spots can be prepared by spotting BAC DNA or the like (of which inexhaustible supplies have been realized) on a substrate using a spotter, forming a plurality of spots, and then drying the spots, for example. An inkjet printer, a pin array printer, or a bubble jet (trademark) printer can be used as a spotter. The use of an inkjet printer is desirable. Most of these systems are based on the knowledge that anaerobic bacteria in the colon are able to recognize the various substrates and degrade them with the enzymes. The application of biodegradable natural polymers, which are resistant to degradation in the upper GIT (above the colon), has gained tremendous importance in pre-biotic food systems. Most of the recent research includes natural polysaccharides, especially from plant origin, being applied to create degradable colon-specific substrates. A very efficient, mutually beneficial arrangement has evolved from a nutritional perspective (Figure 2). In the proximal gut, bacterial competition for absorbable monosaccharides could be detrimental to the host, but in nonruminants colonization is sparse in this region. The word Caporetto has entered the Italian language as a synonym for disaster. The memoir of a New Zealand surgeon in the bimatoprost online BEF. World War One Aircraft Carrier Pioneer: The Stories and Diaries of J. Memoirs of service on HMS Furious. British Military Service Tribunals, 1916-18: "A Very Much Abused Body of Men," James McDermott, Manchester University Press, 2011, 272 pages, ISBN 978 0 7190 8477 5, $95 HB. Defence Science and Technology Organisation. DSTO Research Library - Melbourne. La Trobe University Library. Borchardt Library, Melbourne (Bundoora) Campus. Forensic and Scientific Services.. Early tissue interactions leading to embryonic lens formation in Xenopus laevis. Henry J, Mittleman J. The matured eye of Xenopus laevis tadpoles produces factors that elicit a lens-forming response in embryonic ectoderm. Henry JJ, Tsonis PA. Based on the person's daily routine or "best times," insist upon a morning or afternoon appointment. If the staff knows the situation, they may be willing to give you an appointment when the office is less crowded or noisy. Consider calling the office before you leave the house to check if the doctor is on time. Never leave the person alone in a waiting room. Consider taking a third person with you who can drive and help keep the person occupied. It is helpful to offer extra reassurance to the person with Alzheimer's because (s)he is away from the familiar environment. http://www.jerseycanada.com/jerseyatlantic/fnt/ultramer.php The global interest in the medicinal potential of plants during the last few decades is therefore quite logical. India is one of the richest countries in the world with regard to diversity of medicinal plants. This short-lived perennial with dark green and glossy leaves is native to Madagascar..

Penerapan Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching And Learning (CTL)) Dalam Pembelajaran IPS MI

Oleh : Dra. Hj. Yurnalis Nurdin, M.Pd

Widyaiswara Madya

Balai Diklat Keagamaan Palembang

e-mail : yurnalisnurdin@gmail.com

 

 

Abstrak: Tulisan ini akan mengkaji tentang penerapan pendekatan kontekstual, dan menyusun rencana pembelajaran berbasis kontekstual dalam pembelajaran IPS MI. Tulisan ini akan mengajak para guru pada umumnya dan guru Madrasah Ibtidaiyah (MI), pada khususnya untuk memahami penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran IPS di MI. Pembelajaran kontekstual melibatkannya tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Contructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assesment). Hal ini sangat penting mengingat berbagai pertimbangan yang menunjukkan bahwa lemahnya minat dan motivasi peserta didik belajar IPS salah satunya disebabkan oleh penggunaan pendekatan pembelajaran selama ini masih konvensianal yang lebih menekankan kepada hafalan dan melupakan kehidupan nyata dalam proses pembelajarannya. Mudah-mudahan setelah membaca tulisan ini, dapat  menolong guru dan pihak yang terkait, untuk menerapkan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran IPS MI di lapangan.

 

       Kata kunci: Penerapan pendekatan kontekstual IPS MI

PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING) DALAM PEMBELAJARAN IPS MI

I. PENDAHULUAN

Udin S. Winataputra, dkk (2011), mengatakan “Mengapa pengajar perlu memiliki kemampuan tentang pendekatan kontekstual?” menurut beliau jawabannya ada pada tugas pokok professional seorang guru sebagai pengajar, yang pasti sangat memerlukan berbagai pendekatan dalam pembelajaran. Kontekstual diambil dari kata asalnya dalam Bahasa Inggris, yaitu contekstual berarti yang berhubungan dengan konteks atau dalam konteks. Konteks pula membawa maksud keadaan, situasi, dan kejadian. Secara umum, kontekstual membawa pengertian:

1. yang berkenaan, relevan, ada hubungan atau kaitan langsung, mengikuti konteks;

2. yang membawa maksud, makna, dan kepentingan (meaningful).

Pendekatan kontekstual juga merupakan strategi yang berasosiasi dengan strategi lainnya. Beberapa strategi tersebut antara lain  akan dijelaskan secara singkat pada uraian materi berikut.

II. URAIAN MATERI

A.  PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL

1.   Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)

Selama ini kita guru selalu mendengarkan kata-kata CBSA. Tapi ada saja diantara kita (guru) yang masih belum tau apa sebenarnya CBSA itu. Menurut Aqib, (dalam Udin S. Winataputra, dkk (2011:7.15), mengatakan bahwa CBSA adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menitik beratkan pada keaktifan peserta didik  dalam proses pembelajaran melalui asimilasi dan akomodasi kognitif untuk mengembangkan pengetahuan, tindakan, serta internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap

Rasional penerapannya dalam system pembelajaran adalah pandangan mengenai peserta didik sebagai objek pembelajaran dan subjek yang belajar, titik berat proses pembelajaran pada keaktifan peserta didik dan keaktifan guru, peran dan fungsi guru secara aktif dan kreatif, dan kadar CBSA terletak pada banyak keaktifan dan keterlibatan peserta didik dalam proses belajar mengajar dilihat dari segi masukan, proses, dan produksi. Untuk itu, dalam penyelenggaraan CBSA harus memperhatikan rambu-rambu sebagai berikut.

a.  Derajat partisipasi dan responsif peserta didik yang tinggi.

b. Keterlibatan peserta didik dalam pelaksanaan dan pembuatan tugas.

c. Kesadaran guru mengenai tujuan yang hendak dicapai.

d. Penggunaan metode pengajaran secara bervariasi.

e. Penyediaan media dan peralatan/fasilitas belajar.

f. Perlunya bimbingan dan pengajaran remedial pada waktu tertentu sesuai dengan

kebutuhan.

2.   Pendekatan Proses

Penggunaan pendekatan keterampilan proses berdasarkan pertimbangan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dan guru, proses mengalami secara langsung melalui interaksi dengan lingkungan, proses untuk mengembangkan kemampuan dasar, dan belajar bagaimana belajar untuk memperoleh hasil belajar yang baik. Pendekatan keterampilan proses adalah pendekatan pembelajaran yang bertujuan mengembangkan kemampuan fisik dan mental sebagai dasar untuk mengembangkan kemampuan yang lebih tinggi pada diri peserta didik dalam rangka menemukan fakta dan konsep serta menumbuhkan kembangkan sikap dan nilai.

Melalui pendekatan keterampilan proses hendak di kembangkan kemampuan-kemampuan mangamati, mengelompokkan, memproyeksikan, menerapkan, menganalisis, melakukan penelitian sederhana, dari mengkomunikasikan hasil.

3.   Life Skills Education

Pembelajaran yang bernuansa life skills berupaya memberikan keterampilan kepada peserta didik untuk memahami dirinya dan potensinya dalam kehidupan, antara lain mencakup penentuan tujuan, memecahkan masalah, dan hidup bersama orang lain. Keterampilan-keterampilan tersebut akan membantunya untuk kehidupan dalam lingkungannya dan mencapai kesehatan serta memiliki prilaku yang produktif. Pendidikan life skills membantu peserta didik untuk melindungi dirinya dari berbagai bahaya dan membantu peserta didik dalam memasuki kehidupan sebagai orang dewasa dengan berhasil. Kecakapan hidup (life skills) lebih luas pengertiannya dari keterampilan untuk bekerja. Kecakaan hidup terdiri dari.

a. Kecakapan mengenal diri/kemampuan personal (personal  skills)

b. Kecakapan berpikir rasional (thinking skills)

c. kecakapan social ( social skills)

d. Kecakapan akademik (academic skills)

e. Kecakapan vokasional (vocational skills).

4.   Inquiry-Based Learning

Tujuan utama dari pendekatan inkuiri adalah membantu peserta didik mengembangkan disiplin intelektual dan keterampilan yang diperlukan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan dan memberikan jawaban atas dasar keingintahuan mereka. Inkuiri juga bertujuan   agar peserta didik memperoleh pengetahuan baru dari hasil gagasan yang ditemukan peserta didik. Pendekatan ini dimulai dari suatu permasalahan  dalam disiplin ilmu, sehingga memotivasi peserta didik untuk mencari pemecahannya. Langkah kegiatan yang dilakukan dalam inkuiri terdiri atas: perumusan masalah, pengembangan hipotesis, pengumpulan data, pengolahan data, uji hipotesis, dan penarikan kesimpulan.

5.   Problem-Based Learning

      Kegiatan belajar melalui pemecahan masalah bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengidentifikasi, mengembangkan kemampuan berfikir alternatif, dan kemampuan mengambil keputusan ini adalah kemampuan yang melibatkan keterampilan peroses tinggi . Pengajaran melalui pemecahan masalah terdiri atas lima langkah, yaitu: identifikasi masalah; pengembangan alternatif; pengumpulan data untuk menguji alternatif; pengujian alternatif; dan pengambilan keputusan.

Inti dari suatu pemecahan masalah adalah keputusan terbaik untuk menyelesaikan masalah yang ada. Karena itu dalam pemecahan masalah kemampuan mengidentifikasi merupakan kegiatan pertama yang sangat penting.

6.   Cooperative-Learning

Pendekatan kooperatif adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri atas dua orang atau lebih. Straregi ini menempatkan  peserta didik sebagai bagian dari suatu sistem kerja sama dalam mencapai hasil belajar yang optimal, metode ini mendorong kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah yang ditemui selama pembelajaran karena peserta didik dapat bekerja sama dengan peserta didik lainnya dalam menemukan dan merumuskan alternatif pemecahan masalah pada materi yang dihadapi. Untuk melaksanankan strategi pembelajaran ini, guru perlu mempersiapkan dan merencanakannya dengan matang, agar peserta didik dapat berinteraksi satu sama lain. Dalam interaksi ini, peserta didik akan membentuk komunitas yang memungkinkan mereka menyenangi dan mencintai proses belajar.

Menurut Zahorik dalam Udin S. Winataputra, dkk (2011:7.17) mengatakan ada lima elemen yang harus diperhatikan dalam praktik pembelajaran kontekstual yaitu.

a. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge)

b. Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari

secara keseluruhan dulu, kemudian memperhatikan detailnya.

c. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), yaitu dengan cara menyusun (1) konsep sementara (hipotesis), (2) melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan (validasi) dan atas dasar tanggapan itu (3) konsep tersebut direvisi dan dikembangkan.

d. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge)

e. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut.

Penerapan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, terdapat tujuh

langkah yang harus diperhatikan, sebagai berikut.

  1. Kembangkan pemikiran bahwa peserta didik akan belajar lebih bermakna dengan cara membangun pengetahuannya sendiri sedikit demi sedikit, yang hasilnya dierluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong (constructivism). Pembelajaran yang berorientasi kontruktivisme menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif, dan produktif melalui proses pembelajaran yang bermakna. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada peserta didik. Oleh karena itu, peserta didik dapat belajar dari teman melalui kerja kelompok ataupun diskusi. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata atau masalah yang disimulasikan. Dengan demikian, pengetahuan akan keterampilan akan didapat, perilaku akan terbentuk atas terbentuk atas kesadaran sendiri.
  2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan menemukan untuk semua topik (Inkuiry). Kegiatan menemukan (Inkuiry )merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta didik bukan hasil mengingat fakta dan konsep, tetapi hasil menemukan sendiri. Hal ini bisa terjadi jika, guru selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan. Kegiatan ini merupakan sebuah siklus. Siklus tersebut adalah: “(1) Observasi (Observation); (2) Bertanya ( questioning); (3) mengajukan dugaan (hipothesis); (4) Pengumpulan data (Data gathering); dan (5) Penyimpulan (conslucion)”.
  3. Kembangkan sifat ingin tahu dengan bertanya (questioning) karena pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam rangka menggali informasi, menginformasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. Kegiatan bertanya, mutlak diperlukan dalam pembelajaran pengetahuan sosial. Bertanya dapat dilakukan antara peserta didik dengan peserta didik, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan nara sumber. Aktifitas bertanya, juga ditemukan ketika mengamati. Melalui bertanya, peserta didik   akan memperoleh pengetahuan. Sejalan dengan berkembangnya pengetahuan, akan berkembang pula keterampilan dan sikap.
  4. Ciptakan masyarakat belajar atau belajar dalam dalam kelompok-kelompok (Learning Community). Hasil belajar akan akan diperoleh dari sharing atau kerja sama antara teman, antar kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu. Dalam kelas kontekstual, guru diharapkan melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Belajar dalam kelompok, tetap lebih baik hasilnya dari pada belajar sendiri. Wujud masyarakat belajar di dalam kelas adalah pembentukan kelompok, bekerja berpasangan, mendatangkan nara sumber di kelas.
  5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran (Modeling). Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru oleh peserta didik, misalnya tentang berupa cara mengopersikan sesuatu. Dalam pemodelan, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan peserta didik. Kegiatan permodelan dapat berbentuk demonstrasi, bermain peran, pemberiaan contoh tentang konsep atau aktifitas belajar. Wujud modelling dalam pembelajaran pengetahuan sosial misalnya cara menggunakan globe, menunjuk gambar, menunjukkan perilaku seseorang, menggunakan alat komunikasi telepon dan sebagainya.
  6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan (reflection), yaitu cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir ke belakang tanpa apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Kegiatan refleksi merupakan bagian penting dalam pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Guru perlu menyiksakan sedikit waktu pada akhir pembelajaran, untuk mengadakan refleksi. Realisasinya dapat berupa pernyataan langsung dari guru, catatan atau jurnal di buku peserta didik, cara-cara lain yang ditempuh guru untuk mengarahkan peserta didik kepada pemahaman mereka tentang materi yang telah dipelajari
  7. Makukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara (Authentic Assesment).Assesment merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar peserta didik. Penilaian sebenarnya perlu dilakukan guru dalam pembelajaran, baik penilaian proses maupun hasil. Adapun ciri-ciri penilaian autentik adalah sebagai berikut.
    1. Harus mengukur semua aspek pembelajaran: proses, kinerja dan produk
    2. Dilaksanakan selama selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung
    3. Menggunakan berbagai cara dan berbagai sumber
    4. Tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian
    5. Tugas-tugas yang diberikan kepada peserta didik harus mencerminkan bagian-bagian kehidupan peserta didik yang nyata setiap hari, mereka harus dapat menceritakan pengalaman atau kegiatan yang mereka lakukan setiap hari.
    6. Penilaian harus menekankan kedalaman pengetahuandan keahlian peserta didik, bukan keluasannya (kuantitas).
  8. Dalam penilaian otentik digunakan sebagai bentuk penilaian yang merefleksikan proses pembelajaran yang dialami peserta didik, kemampuan peserta didik, motivasi dan sikap-sikap yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.Penilaian otentik juga didefenisikan sebagai metode yang menekankan pada pendiskripsian proses berfikir tingkat tinggi dan proses belajar yang dialami peserta didik. Alat-alat penilaian otentik adalah seperti portofolio, tes performasi/unjuk kerja, jurnal, lembar observasi, skalasikap, tes tertulis (esai, objektif)

B.  MENYUSUN RENCANA PEMBELAJARAN (RP) BERBASIS

      KONTEKSTUAL

      Pembelajaran kontekstual melibatkannya tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Contructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assesment).

      Program pembelajaran dalam pendekatan kontekstual, lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang direncanakan guru, berisikan skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama peserta didiknya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya.

Penekanan program yang berbasis kontekstual terletak pada gambaran kegiatan tahap demi tahap dan media pembelajaran yang dugunakan, bukan pada rincian dan kejelasan umum seperti halnya pada paham objektivis. Perumusan tujuan yang detail, bukan menjadi prioritas dalam penyusunan RP kontekstual, mengingat target pencapaiannya bukan berdasarkan “hasil”, tetapi lebih pada prosesnya yaitu “strategi belajar”. Yang diinginkan bukan banyak tetapi dangkal, melainkan sedikit tetapi mendalam.

Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar ‘rencana pribadi’ tentang apa yang akan dikerjakannya bersama peserta didiknya. Gambaran selama ini bahwa RP adalah laporan untuk kepala sekolah atau pihak lain secara administrasi, haruslah di buang jauh-jauh. Melalui RP lah yang mengingatkan guru tentang benda apa yang harus dipersiapkan, alat apa yang harus dibawa, berapa banyak, ukuran berapa, dan langkah-langkah apa yang akan dikerjakan peserta didik. RP lah yang mengingatkan guru ketika akan berangkat ke sekolah.

Secara umum, tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Perbedaannya hanya terletak pada penekanannya, di mana program perogram pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya.

Atas dasar tersebut, hal penting dalam penyusunan program pembelajaran berbasis kontekstual sebagai berikut.

1. Nyatakan kegiatan utama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan

peserta didik  yang merupakan gabungan antara Kompetensi Dasar (KD), Materi

Pokok (MP) dan Indikator Pencapaian Hasil Belajar.

2. Nyatakan tujuan umum pembelajaran

3. Rincilah media untuk mendukung kegiatan tersebut

4. Buatlah skenario tahap demi tahap kegiatan peserta didik

5. Nyatakan authentic assesmen-nya, yaitu dengan data apa peserta didik dapat

diamati partisipasinya dalam pembelajarannya.

Salah satu peran pendidikan adalah untuk memperoleh pengetahuan. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit), dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, kosep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.  Filosofi itulah yang mendasari pendekatan kontekstual Contextual Teaching and Learning, (CTL).

Pendekatan kontekstual merupakan paradigma baru dalam proses pembelajaran yang berorientasi pada aktifitas peserta didik, kegiatan yang  bervariasi, berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan peserta didik bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke peserta didik, strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil, mendorong berkembangnya kemampuan baru, menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah, rumah dan lingkungan masyarakat. Pendekatan kontekstual juga merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara meteri yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna.

Yang perlu diingat oleh guru dari rencana pembelajaran (RP)  itu adalah;

ü  Ilmu dan pengalaman diperoleh peserta didik dari menemukan sendiri. Itu berarti konstruktivisme.

ü  Proses inquiry muncul pada cara dan kiat mendeskripsikan yang ditempuh peserta didik

ü  Questioning muncul ketika peserta didik mengamati benda, bertanya, mengajukan usul, dan menebak.

ü  Learning community muncul pada kerja kelompok dan saling menebak dengan kelompok lain.

ü  Authentic assessment: yang dinilai dari kegiatan itu adalah kerja sama dalam kelompok dan hasil presentasi peserta didik

Selamat mencoba, semoga berhasil

DAFTAR PUSTAKA

 

Dirjen Dikdasmen Depdiknas. (2003). Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta:LTP

Husaini Usman. (2009). Manajemen: Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Udin S. Winataputra, dkk. ( 2011). Materi dan Pembelajaran IPS SD. Jakarta: Universitas Terbuka

Usman, U.M. (1999). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Rosdakarya

Nurhadi Dan Senduk, A.G. (2003). Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching And Learning/CTL) dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang.

Yusuf, S. (1993). Dasar-Dasar Pembinaan Kemampuan Proses Belajar Mengajar. Bandung: Adira

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply