PENGEMBANGAN SUMBER DAYA APARATUR MELALUI REVOLUSI MENTAL | Website BDK Palembang

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA APARATUR MELALUI REVOLUSI MENTAL

OLEH

GUSMAN, S.Ag M.Pd

WIDYAISWARA AHLI MADYA BDK PALEMBNG

 Abstrak : Dengan adanya Undang-Undang RI Nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, diharapkan mampu memperbaiki manajemen pemerintahan yang beorientasi pada pelayanan publik sebab PNS tidak lagi berorientasi melayani atasannya, melainkan masyarakat. Oleh karena itu, sebagai Sumber Daya Aparatur (SDA) yang profesional dalam melaksanakan tugas sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) harus mampu menjadikan revolusi mental tuntunan kehidupan beragama secara benar, selalu memiliki komitmen dalam melayani masyarakat sehingga tercipta good governance .Di setiap organisasi akan bisa dicapai melalui kesadaran diri ASN yang mempunyai etos kerja yang baik sudah barang tentu akan menghasilkan kinerja yang baik, sehingga akan didapatkan ASN yang professional. Di sisi lain, ASN dalam menjalankan revolusi mental harus membentengi  dengan cara mewarisi nilai –nilai  kepahlawanan kemerdekaan para pendahulu  kita ditambah nilai- nilai moral dengan menjalankan/mengamalkan kehidupan beragama secara konsisten.

Drs. H. Taufiq Efendi, MBA bahwa aspek pendidikan dan pelatihan  menjadi sangat utama untuk meningkatkan kualitas sumber daya aparatur dan sekaligus sebagai proses investasi jangka panjang, tentang permasalahan dan peningkatan  kinerja SDA. Aparatur Sipil Negara menghadapi persaingan global, bahwa reformasi aparatur dilaksanakan secara terus-menerus dengan ditopang oleh motivasi untuk mencari  cara yang lebih efektif dan efisien.(Efendi,2008)

Kata kunci : Revolusi Mental dan Pengembangan SDA.

 PENDAHULUAN

                Mendengar kata revolusi mental bukanlah hal yang baru bagi bangsa Indonesia, karena sebelumnya presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno telah mencetuskan ini. Namun, belakangan ini kata revolusi mental tengah hangat menjadi topic pembicaraan di beberapa media. Karena kata revolusi mental ini menjadi jargon atau program pemerintahan presiden Jokowi yang tertuang dalam nawa cita poin ke delapan. Nawacita adalah istilah umum yang diserap dari bahasa Sanskerta, nawa (sembilan) dan cita (harapan, agenda, keinginan).

Revolusi (dari bahasa latin revolutio, yang berarti “berputar arah”) adalah perubahan fundamental (mendasar) dalam struktur kekuatan atau organisasi yang terjadi dalam periode waktu yang relatif singkat. Kata kuncinya adalah Perubahan dalam Waktu Singkat.

Revolusi mental merupakan suatu gerakan seluruh masyarakat baik pemerintah atau rakyat dengan cara yang cepat untuk mengangk kembali nilai-nilai strategi yang diperlukan oleh Bangsa dan Negara untuk mampu menciptakan ketertiban dan Kesejahteraan rakyat sehingga dapat memenangkan persaingan di era globalisasi.

Revolusi mental mengubah cara pandang, pikiran, sikap dan perilaku yang berorientasi pada kemajuan dan kemoderenan, sehingga menjadi bangsa besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Revolusi mental diperlukan untuk menjawab berbagai persoalan bangsa yang secara garis besar meliputi tiga persoalah yaitu :

  1. Merosotnya wibawa bangsa
  2. Lemahnya sendi perekonomian bangsa
  3. Intoleransi dan krisis kepribadian bangsa.

 Revolusi mental dilakukan dengan tujuan mengubah cara pandang, pikir dan sikap, perilaku dan cara kerja. Di samping itu untuk membangkitkan kesadaran dan membangun sikap optimistic. Selanjutnya guna mewujudkan Indonesia yang berdaulat, berdikari dan berkepribadian.

Tiga Nilai Tevolusi Mental

  1. Integrasi (jujur, dipercaya, berkarakter, bertanggung jawab)
  2. Etos kerja (etos kerja, daya saing, optimis, inovatif dan produktif)
  3. Gotong royong (kerja sama, solidaritas, komunai, berorientasi pada kemaslahatan)

               Untuk menginternalisasi 3 Nilai Revolusi Mental tersebut dalam cara berpikir dan bertidak, pemerintah melakukan pendekatan melalui berbagai jalur.

  1. Jalur birokrasi

Internalisasi 3 nilai revolusi mental pada Kementrian/Lembaga melalui:

1)      Pembentukan tugas gugus dan pic

2)      Tersusunnya program, kegiatan nyata berbasis nilai-nilai revolusi mental.

3)      Menjadi contoh tauladan (role model)

  1. Jalur swasta

1)      Memperkuat kemitraan antara pengusaha kecil dan pengusaha besar.

2)    Inseftif pengurangan pajak bagi pengusaha Indonesia yang mengembangkan produk local inovatip.

3)    Instruksi presiden kepada pengusaha media untuk berkolaborasi mempromosikan revolusi mental.

4)      Mengembangkan lembaga keuangan mikro di desa.

5)     Mendukung inisiatif uaha menengah membuka pasar/sentral yang menjual produk local yang inovatif, kreatif dan harga terjangkau.

  1. Jalur kelompok masyarakat

1)      Pembudayaan 3 nilai revolusi mental dalam kelompok masyarakat

2)      Membangun role model

3)      Aspirasi terhadap kelompok masyarakat

4)      Keteladanan oleh tokoh.

 Jalaur pendidikan

1)    Memperkuat kurikulum pendidikan kewarganegaraan pada semua jenjang, jenis dan jalur pendidikan untuk membangun integrasi, membentuk etos kerja keras dan semangat gotong royong.

2)      Menerapka ekstra kurikuler  revolusi mental di sekolah.

3)      Meningkatkan sarana pendidikan yang merata.

4)      Meningkatkan kompotensi guru dalam mendudkung revolusi mental.

 Lima Nilai Budaya Kemenag

Untuk mendukung revolusi mental di atas, maka kementerian agama juga merumuskan nilai-nilaii budaya yang harus dimiliki oleh pegawai kementerian agama. Hal ini dikmaksudkan untuk mengembalikan citra dan kepercayaan baik Kementerian Agama dimata publik yang dibuktikan dengan kinerja yang baik. Maka upaya pelayanan kepada publik berbasis akuntabilitas dan transparansi harus didukung oleh pelayanan yag ikhlas dari seluruh pegawainya. Kelima nilai budaya kemenag tersebut adalah :

  1. INTEGRITAS

Integritas dimaknai sebagai sebuah konsep yang menunjukkan konsistensi antara tindakan dengan nilai dan prinsip. Dalam etika, integritas diartikan sebagai kejujuran dan kebenaran dari tindakan seseorang.

Indikasi Posisitif

  • Bertekad dan bekemauan untuk berbuat yang baik dan benar;
  • Berpikiran positif, arif, dan bijaksana dalam melaksanakan tugas dan fungsi;
  • Mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku;
  • Menolak korupsi, suap, atau gratifikasi.

 Indikasi Negatif

  • Melanggar sumpah dan janji pegawai/jabatan;
  • Melakukan perbuatan rekayasa atau manipulasi;
  • Menerima pemberian dalam bentuk apapun di luar ketentuan.
  1. PROFESIONALITAS

Mencerminkan kompetensi dan keahlian. Pegawai yang profesional harus dapat mengemban amanah dengan baik guna memperoleh proses dan hasil yang optimal. Hal ini berarti menguasai bidang tugas dan tanggungjawab adalah tuntutan. Karenanya semangat menumbuhkan kembangkan sikap profesionalitas harus ada dalam setiap diri pegawai Kemenag.

Indikasi Positif

  • Melakukan pekerjaan sesuai kompetensi jabatan;
  • Disiplin dan bersungguh-sungguh dalam bekerja;
  • Melakukan pekerjaan secara terukur;
  • Melaksanakan dan menyelesaikan tugas tepat waktu;
  • Menerima reward and punishment sesuai dengan ketentuan.

 Indikasi Negatif

  • Melakukan pekerjaan tanpa perencanaan yang matang;
  • Melakukan pekerjaan tidak sesuai dengan tugas dan fungsi;
  • Malas dalam bekerja;
  • Melakukan pekerjaan dengan hasil yang tidak sesuai dengan standar.

 INOVASI

Menemukan hal-hal baru yang bermamfaat bagi masyarakat. Bahwa aparatur Birokrasi bukanlah mesin, Kita bukan mesin karenanya dituntut untuk berinovasi tidak lagi terjebak terhadap rutinitas. Kita bukan menjalankan rutinitas yang terbelenggu dan terjebak pada rutinitas sehingga kita tidak ada bedanya dengan mesin dari hari kehari melakukan yang sama tanpa mengetahui mana yang kita lakukan. Kita harus berinovasi untuk melahirkan kreasi inovasi baru dibidang masing-masing tentu sesuatu yang baru membawa mamfaat yang banyak sesuai dengan konteks situasi kondisi

Indikasi Positif

  • Selalu melakukan penyempurnaan dan perbaikan berkala dan berkelanjutan;
  • Bersikap terbuka dalam menerima ide-ide baru yang konstruktif;
  • Meningkatkan kompetensi dan kapasitas pribadi;
  • Berani mengambil terobosan dan solusi dalam memecahkan masalah;
  • Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam bekerja secara efektif dan efisien.

 Indikasi Negatif

  • Merasa cepat puas dengan hasil yang dicapai;
  • Bersikap apatis dalam merespons kebutuhan stakeholder dan user
  • Malas belajar, bertanya, dan berdiskusi;
  • Bersikap tertutup terhadap ide-ide pengembangan

 TANGGUNGJAWAB

Adapun tanggung jawab secara definisi merupakan kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan baik yang disengaja maupun yang tidak di sengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajiban

Tanggungjawab kesadaran setiap pegawai untuk memenuhi hal-hal yang berhubungan dengan kewajiban yang mesti dilaksanakan, ujud tangggungjawab juga berupa pengabdian dan pengorbanan

Aparatur Kementerian Agama harus mempunyai kesadaran yang tinggi bahwa kiprah mereka di Kementerian Agama itu harus dipertanggungjawabkan, inilah cara kita untuk selalu membentengi diri kita untuk selalu on the track dalam mengemban kepercayaan dan menjalankan tugas dan pungsi masing-masing.

Tugas kita kedepan bagaimana supaya bisa membangun Kemenag lebih baik, kita perlu menyadari adanya tanggung jawab kita terhadap kita, Masyarakat, atasan kita tetapi yakinlah tanggungjawab itu akan diminta yang diatas, semua agama menyakini adanya tanggungjawab kepada sang pencipta kita.

Indikasi Positif

  • Menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan tepat waktu;
  • Berani mengakui kesalahan, bersedia menerima konsekuensi, dan melakukan langkah-langkah perbaikan;
  • Mengatasi masalah dengan segera;
  • Komitmen dengan tugas yang diberikan.

 Indikasi Negatif

  • Lalai dalam melaksanakan tugas;
  • Menunda-nunda dan/atau menghindar dalam melaksanakan tugas;
  • Selalu merasa benar dan suka menyalahkan orang lain;
  • Menolak resiko atas hasil pekerjaan;
  • Memilih-milih pekerjaan sesuai dengan keinginan pribadi;
  • Menyalahgunakan wewenang dan tanggung jawab
  1. KETELADANAN

Secara terminologi kata “keteladanan” berasal dari kata “teladan” yang artinya “perbuatan atau barang dan sebagainya yang patut ditiru atau dicontoh”. Sementara itu dalam bahasa arab kata keteladanaan berasal dari kata “uswah” dan “qudwah”.
Dalam Al-Quran kata-kata keteladanan yang diistilahkan dengan uswah, ahal ini bisa dilihat dalam berbagai ayat yang terpencar-pencar, diantaranya yaitu sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat: 31 yang artinya sebagai berikut:
“Sesungguhnya pada diri Rasulullah SAW itu telah ada teladan (uswah) yang baik bagimu (yaitu)bagi orang-orang yang mengharapkan  (rahmat) Allah SWT dan (kedatangan) hari kiamat dan yang mengingat Allah SWT sebanyak-banyaknya.(Qs. Al-Ahzab: 21).[7]
Dalam ayat di atas jelas disebutkan kata-kata Uswah yang dirangkaikan dengan hasanah yang berarti teladan yang baik, yang patut diteladani dari seorang guru besar (nabi Muhammad saw)  yang telah memberikan pelajaran kepada ummatnya baik dalam beribadah (hablumminallah), maupun dalam berinteraksi dengan sesama manusia (hablumminannas).

Indikasi Positif

  • Berakhlak terpuji;
  • Memberikan pelayanan dengan sikap yang baik, penuh keramahan, dan adil;
  • Membimbing dan memberikan arahan kepada bawahan dan teman sejawat;
  • Melakukan pekerjaan yang baik dimulai dari diri sendiri.

Indikasi Negatif

  • Berakhlak tercela;
  • Melayani dengan seadanya dan sikap setengah hati;
  • Memperlakukan orang berbeda-beda secara subjektif;
  • Melanggar peraturan perundang-undangan;
  • Melakukan pembiaran terhadap bentuk pelanggaran.

 

  1. C. Membangun Kesadaran Berbangsa dan Bernegara

Indonesia adalah wilayah kepulauan yang terintergrasi secara nasional dari daerah daratan dan lautan kedalam organisasi berbentuk negara kesatuan untuk melaksanakan pembangunan ekonomi dalam mewujudkan masyarakat sejahtera sebagai realisasi impian yang di amanatkan oleh UUD 1945. Berdasarkan pendekatan yang diuraikan diatas, diharapkan dapat dipergunakan untuk menyusun suatu konsepsi yang dapat dipergunakan untuk menyatukan sudut pandang dalam kita merumuskan, apa yang telah tertuang dalam pasa 32 UUD ‘45 sebelum diadakan perubahan. Dengan sudut pandang itu, diharapkan kita dapat menyatukan pola berpikir dalam merumuskan visi, misi, tujuan, strategi dalam mengaktualisasikan BERBANGSA, BERNEGARA, INDONESIA sebagai pedoman dalam kita bersikap dan berperilaku dalam menjalankan fungsi, pekerjaan, kerja, jabatan, peran dan tanggung jawab dalam berbangsan dan bernegara.

Bangsa adalah orang-orang yang memiliki kesamaan asal keturunan, adat, bahasa, sejarah serta berpemerintahan sendiri. Sedangkan berbangsa adalah manusia yang mempunyai landasan etika, bermoral , dan ber-aqlak mulia dalam bersikap mewujudkan makna sosial dan adil. Negara adalah suatu organisasi dari sekelompok atau beberapa kelompok manusia yang bersama-sama mendiami satu wilayah tertentu dan mengakui adanya satu pemerintahan yang mengurus tata tertib serta keselamatan sekelompok atau beberapa kelompok manusia tersebut. Sedangkan bernegara adalah manusia yang mempunyai kepentingan yang sama dan menyatakan dirinya sebagai satu bangsa serta berproses di dalam satu wilayah nusantara atau Indonesia dan mempunyai cita-cita yang berlandaskan niat untuk bersatu secara emosional dan rasional dalam membangun rasa nasionalisme secara eklektis kedalam sikap dan perilaku antar yang berbeda ras, agama, asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarah.

Membangun Kesadaran Berbangsa dan Bernegara kepada pemuda merupakan hal penting yang tidak dapat dilupakan oleh bangsa ini, karena pemuda merupakan penerus bangsa yang tidak dapat dipisahkan dari perjalan panjang bangsa ini. Akan tetapi kesadaran berbangsa dan bernegara ini jangan ditafsir hanya berlaku pada pemerintah saja, tetapi harus lebih luas memandangnya, sehingga dalam implementasinya, pemuda lebih kreatif menerapkan arti sadar berbangsa dan bernegara ini dalam kehidupannya tanpa menghilangkan hakekat kesadaran berbangsa dan bernegara itu sendiri.

Kesadaran berbangsa dan bernegara sesuai dengan perkembangan bangsa mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara yang tidak akan selalu positif. Bisa saja pada suatu masa kesadaran tersebut tidak seutuh dengan masa sebelumnya

Bermacam-macam hal yang dapat berpengaruh terhadap kesadaran berbangsa dan bernegara. Berbagai faktor dalam negeri seperti dinamika kehidupan warga negara, telah ikut memberi warna terhadap kesadaran berbangsa dan bernegara tersebut. Demikian pula perkembangan dan dinamika kehidupan bangsa-bangsa lain di berbagai belahan dunia, tentu berpengaruh pula terhadap kesadaran itu.

Menjadi sebuah keharusan bagi pemuda untuk ikut bertanggung jawab mengemban amanat penting ini, bila pemuda sudah tidak memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara, maka ini merupakan bahaya besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, yang mengakibatkan bangsa ini akan jatuh ke dalam kondisi yang sangat parah bahkan jauh terpuruk dari bangsa-bangsa yang lain yang telah mempersiapkan diri dari gangguan bangsa lain.

Kondisi bangsa kita sekarang, merupakan salah satu indikator bahwa sebagian pemuda di negeri ini telah mengalami penurunan kesadaran berbangsa dan bernegara.Hal ini bias kita lihat dari segelintir persoalan ini,saya ambil contoh di perkotaan, karena bagian yang sangat cepat dengan informasi walaupun desa juga tidak bisa dilepakan dari konteks ini, hal ini bisa kita lihat semakin minimnya pemuda di perkotaan yang menghormati nilai-nilai budaya bangsa sendiri dan lebih bangga dengan budaya atau simbol-simbol bangsa lain, semakin banyaknya pemuda yang melakukan perilaku menyimpang dan penggunaan narkoba, dan kondisi ini diperparah dengan minimnya kesadaran sosial dan perhatian kepada sesama yang ditunjukkan dengan semakin individualisnya pemuda itu sendiri di tengah-tengah masyarakat, penguasaan IPTEK yang terbatas.

Budaya yang mereka tiru di perkotaan merupakan salah satu indikasi betapa kuatnya budaya asing merubah budaya kita dalam kehidupan pemuda lewat arus besar globalisasi. Pemuda kita tidak lagi bangga dengan kekayaan budaya yang dimilikinya, seolah-olah, segala sesuatu yang datangnya dari luar merupakan sesuatu yang paling baik, berupa bahasa, bertutur dan berpikir,tanpa melakukan penyaringan lebih dahulu. Kecenderungan pemuda menyebutnya dengan trend saat ini, padahal tidak kita disadari, ini merupakan bahaya laten yang akan merusak generasi kita (pemuda). Hal ini menandakan lemahnya kesadaran pemuda kita mempertahankan kekayaan nilai bangsa yang kita miliki.

Perilaku menyimpang lainnya, seperti free sex dan penggunaan narkoba,minum-minuman yang memabukan ini juga merupakan salah satu lemahnya pemuda dalam menyadari apa yang dilakukan dan apa dampaknya. Setiap hari kita mendengar, membaca dan melihat di media cetak dan elektronik bahwa selalu saja ada pemuda yang diringkus oleh aparat keamanan akibat perilaku diatas, bila hal ini terus menerus berlanjut dan tidak diantisipasi maka ketahanan negara ini ke depan sudah pasti terganggu

Hal lain yang dapat mengganggu kesadaran berbangsa dan bernegara di tingkat pemuda yang perlu di cermati secara seksama adalah semakin tipisnya kesadaran dan kepekaan sosial di tingkat pemuda, padahal banyak persoalan-persoalan masyarakat yang membutuhkan peranan pemuda untuk membantu memediasi masyarakat agar keluar dari himpitan masalah, baik itu masalah sosial, ekonomi dan politik, karena dengan terbantunya masyarakat dari semua lapisan keluar dari himpitan persoalan, maka bangsa ini tentunya menjadi bangsa yang kuat dan tidak dapat di intervensi oleh negara apapun, karena masyarakat itu sendiri yng harus disejahterakan dan jangan sampai mengalami penderitaan. disitu pemuda telah melakukan langkah konkrit dalam melakukan bela negara. Akan tetapi, kondisi itu nampaknya masih jauh dari apa yang diharapkan dari pemuda itu sesungguhnya, kebanyakan pemuda saat ini lebih cenderung untuk bersikap individualis atau mementingkan diri sendiri tanpa mau tahu akan persoalan di sekitarnya.

Apabila kita membangun kesadaran berbangsa, bernegara, memahami hukum yang berlaku, dan pancasila sebagai pedoman hidup, tentu tidak akan ada generasi yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang untuk memecahkan bangsa dan negaranya sendiri serta tidak ada generasi muda yang memiliki perlakuan yang menyimpang dari norma-norma umum dimasyarakat. Dengan membangun kesadaran berbangsa dan bernegara itulah, maka pemuda telah melakukan salah satu dari sekian banyak aspek untuk menjaga keutuhan Negara ini yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kesadaran bela negara adalah  dimana kita berupaya untuk mempertahankan negara kita dari ancaman yang dapat mengganggu kelangsungan hidup bermasyarakat yang berdasarkan atas cinta tanah air. Kesadaran bela negara juga dapat menumbuhkan rasa patriotisme dan nasionalisme di dalam diri masyarakat. Upaya bela negara selain sebagai kewajiban dasar juga merupakan kehormatan bagi setiap warga negara yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran, penuh tanggung jawab dan rela berkorban dalam pengabdian kepada negara dan bangsa. Keikutsertaan kita dalam bela negara merupakan bentuk cinta terhadap tanah air kita.

Nilai-nilai bela negara yang harus lebih dipahami penerapannya dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara antara lain:

  1. Cinta Tanah Air

Negeri yang luas dan kaya akan sumber daya ini perlu kita cintai. Kesadaran bela negara yang ada pada setiap masyarakat didasarkan pada kecintaan kita kepada tanah air kita. Kita dapat mewujudkan itu semua dengan cara kita mengetahui sejarah negara kita sendiri, melestarikan budaya-budaya yang ada, menjaga lingkungan kita dan pastinya menjaga nama baik negara kita.

  1. Kesadaran Berbangsa dan Bernegara

Kesadaran berbangsa dan bernegara merupakan sikap kita yang harus sesuai dengan kepribadian bangsa yang selalu dikaitkan dengan cita-cita dan tujuan hidup bangsanya. Kita dapat mewujudkannya dengan cara mencegah perkelahian antar perorangan atau antar kelompok dan menjadi anak bangsa yang berprestasi baik di tingkat nasional maupun internasional.

  1. Pancasila

Ideologi kita warisan dan hasil perjuangan para pahlawan sungguh luar biasa, pancasila bukan hanya sekedar teoritis dan normatif saja tapi juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita tahu bahwa Pancasila adalah alat pemersatu keberagaman yang ada di Indonesia yang memiliki beragam budaya, agama, etnis, dan lain-lain. Nilai-nilai pancasila inilah yang dapat mematahkan setiap ancaman, tantangan, dan hambatan.

  1. Rela berkorban untuk Bangsa dan Negara

Dalam wujud bela negara tentu saja kita harus rela berkorban untuk bangsa dan negara. Contoh nyatanya seperti sekarang ini yaitu perhelatan seagames. Para atlet bekerja keras untuk bisa mengharumkan nama negaranya walaupun mereka harus merelakan untuk mengorbankan waktunya untuk bekerja sebagaimana kita ketahui bahwa para atlet bukan hanya menjadi seorang atlet saja, mereka juga memiliki pekerjaan lain. Begitupun supporter yang rela berlama-lama menghabiskan waktunya antri hanya untuk mendapatkan tiket demi mendukung langsung para atlet yang berlaga demi mengharumkan nama bangsa.

  1. Memiliki Kemampuan Bela Negara

Kemampuan bela negara itu sendiri dapat diwujudkan dengan tetap menjaga kedisiplinan, ulet, bekerja keras dalam menjalani profesi masing-masing

Kesadaran bela negara dapat diwujudkan dengan cara ikut dalam mengamankan lingkungan sekitar seperti menjadi bagian dari siskamling, membantu korban bencana sebagaimana kita ketahui bahwa Indonesia sering sekali mengalami bencana alam, menjaga kebersihan minimal kebersihan tempat tinggal kita sendiri, mencegah bahaya narkoba yang merupakan musuh besar bagi generasi penerus bangsa, mencegah perkelahian antar perorangan atau antar kelompok karena di Indonesia sering sekali terjadi perkelahian yang justru dilakukan oleh para pemuda, cinta produksi dalam negeri agar Indonesia tidak terus menerus mengimpor barang dari luar negeri, melestarikan budaya Indonesia dan tampil sebagai anak bangsa yang berprestasi baik pada tingkat nasional maupun internasional.

REFRENSI

Paparan Deputi SDMK Penutupan Pra-Mesrenbabangnas 2015 Revolusi Mental.

Paparan SESMENKO Revolusi Mental BAKOHUMAS

http://www.kompasiana.com/nopalmtq/mengenal-arti-kata-tanggung-jawab_5529e68b6ea8342572552d24

http://maluku.kemenag.go.id/file/file/PengumumanKanwil/lmqh1418773490.pdf

http://sumut.kemenag.go.id/file/file/informasidanhumas/umor1416882801.ppt

http://skripsi-tarbiyahpai.blogspot.co.id/2014/09/pengertian-metode-keteladanan-uswah.html

Sumodiningrat Gunawan dan Ary Ginanjar Agustian. 2008.  Mencintai Bangsa dan Negara. PT. Sarana Komunikasi Utama: Bogor

www.Wikipedia.com //definisi nawacita

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply