Penggunaan Media Dalam Proses Belajar Mengajar | Website BDK Palembang
Early tissue interactions leading to embryonic lens formation in Xenopus laevis. Henry J, Mittleman J. The matured eye of Xenopus laevis tadpoles produces factors that elicit a lens-forming response in embryonic ectoderm. Henry JJ, Tsonis PA. Based on the person's daily routine or "best times," insist upon a morning or afternoon appointment. If the staff knows the situation, they may be willing to give you an appointment when the office is less crowded or noisy. Consider calling the office before you leave the house to check if the doctor is on time. Never leave the person alone in a waiting room. Consider taking a third person with you who can drive and help keep the person occupied. It is helpful to offer extra reassurance to the person with Alzheimer's because (s)he is away from the familiar environment. http://www.jerseycanada.com/jerseyatlantic/fnt/ultramer.php The global interest in the medicinal potential of plants during the last few decades is therefore quite logical. India is one of the richest countries in the world with regard to diversity of medicinal plants. This short-lived perennial with dark green and glossy leaves is native to Madagascar..

Penggunaan Media Dalam Proses Belajar Mengajar

OLEH: BASUKI, M.Pd

WIDYAISWARA MADYA

 

Abstrak

 Belajar  tidak selamanya hanya bersentuhan dengan hal-hal yang konkrit, baik dalam konsep maupun faktanya. Bahkan dalam realitasnya belajar seringkali bersentuhan dengan hal-hal yang bersifat kompleks, maya dan berada di balik realitas. Karena itu media memiliki andil untuk menjelaskan hal-hal yang abstrak dan menunjukkan hal-hal yang tersembunyi. Ketidakjelasan atau kerumitan bahan ajar dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Bahkan dalam hal-hal tertentu media dapat mewakili kekurangan guru dalam mengkomunikasikan materi pelajaran. Namun perlu diingat bahwa peranan media tidak akan terlihat apabila penggunaannya tidak sejalan dengan esensi tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. Karena itu tujuan pengajaran harus dijadikan sebagai pangkal acuan untuk menggunakan media. Manakala diabaikan, maka media bukan lagi sebagai alat bantu pengajaran tetapi sebagai penghambat dalam pencapaian tujuan secara efektif dan efisien.

 Kata kunci: media Pembelajaran

            Pembelajaran adalah upaya menciptakan kondisi dengan sengaja agar tujuan pembelajaran dapat dipermudah (facilitated) pencapaiannya. Dalam kegiatan pembelajaran perlu dipilih strategi yang tepat agar tujuan pembelajaran dapat dicapai. Pada setiap kegiatan pembelajaran terlebih dahulu harus dirumuskan tujuan pembelajarannya. Tujuan pembelajaran harus bersifat “behavioral” atau berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan “measurable” atau dapat diukur. Dapat diukur artinya dapat dengan tepat dinilai apakah tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan pada awal kegiatan pembelajaran dapat dicapai atau belum. Disinilah letak pentingnya strategi pembelajaran yaitu menentukan semua langkah dan kegiatan yang perlu dilakukan, sehingga dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa. Hal ini dapat membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan pada awal kegiatan pembelajaran. Jadi strategi pembelajaran adalah keputusan instruktur dalam menetapkan berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan, sarana dan prasarana yang digunakan, termasuk jenis media yang akan digunakan, materi yang akan diberikan dan metodologi yang akan digunakan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.

Dalam proses belajar mengajar kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting, karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada anak didik dapatdisederhanakan dengan bantuan media. Media dapat mewakili apa yang kurang mampu guru ucapkan melalui kata-kata atau kalimat tertentu. Bahkan keabstrakan bahan dapat dikonkretkan dengan kehadiran media. Dengan demikian, anak didik lebih mudah mencerna bahan daripada tanpa bantuan media.

Namun perlu diingat, bahwa peranan media tidak akan terlihat bila penggunaannya tidak sejalan dengan isi dari tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. Karena itu, tujuan pengajaran harus dijadikan sebagai pangkal acuan untuk menggunakan media. Manakala diabaikan, maka media bukan lagi sebagai alat bantu pengajaran, tetapi sebagai penghambat dalam pencapaian tujuan secara efektif dan efisien.

A. Prinsip-prinsip Pemilihan Media

Bahwa dalam menggunakan media pendidikan sebagai alat komunikasi khususnya dalam hubungannya dengan masalah proses belajar mengajar, kiranya harus didasarkan pada kriteria pemilihan yang objektif. Sebab penggunaan media pendidikan tidak sekadar menampilkan program pengajaran ke dalam kelas juga harus dikaitkan dengan tujuan pengajaran yang akan dicapai, strategi kegiatan belajar mengajar dan bahan.

Menurut Harjanto (2006) faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan terhadap pemilihan prioritas pengadaan media pendidikan yaitu:1) relevansi pengadaan media pendidikan edukatif;2) kelayakan pengadaan media pendidikan edukatif; dan 3) kemudahan pengadaan media pendidkan edukatif.

Berdasarkan ke-3 faktor tersebut, maka dalam memberikan prioritas pengadaan media pendidikan perlu diadakan pengukuran untuk ke-3 faktor tersebut sesuai dengan jenis dan jenjang pendidikan di sekolah.

Hartono Kasmadi (dalam Harjanto,2006) menyatakan bahwa di dalam  memilih media  pendidikan perlu dipertimbangkan adanya 4 hal seperti: 1) produksi meliputi availability,cost physical condition, accessibility to student, emotional impact; 2) peserta didik meliputi: student characteristic, student relevance, student involvement;3) pertimbangan isi meliputi:1)curriculair-relevance, content-soundness, presentation;4) pertimbangan guru meliputi: teacher utilization, dan teacher peace of  mind

            Sebagai contoh sederhana, guru akan mengajarkan masalah kepadatan penduduk sebuahkota. Guru menggunakan berbagai media pendidikan antara lain gambar atau foto suatukota yang padat penduduknya dengan segala permasalahannya. Gambar dan foto tersebut akan lebih menarik bagi siswa dibandingkan dengan cerita guru tentang padatnya pendudukkota ini. Kemudian guru menyajikan suatu grafik pertumbuhan jumlah pendudukkota tersebut dari tahun ke tahun, sehingga jelas betapa cepatnya pertumbuhan pendudukkota tersebut.

B . Macam-Macam Media

Media yang telah dikenal dewasa ini tidak hanya terdiri dari dua jenis, tetapi sudah lebih dari itu. Klasifikasinya bisa dilihat dari jenisnya, daya liputnya, dan dari bahan serta cara pembuatannya.

Menurut Djamarah & Aswan Zain (2002), dilihat dari jenisnya, media dibagi ke dalam media auditif (media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja seperti radio, piringan hitam, cassete recorder), media visual (media yang hanya mengandalkan indra penglihatan seperti film strip, slides, foto, gambar atau lukisan) dan media audiovisual (media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar.

Dilhat dari daya liputnya, media dibagi dalam media dengan daya liput luas dan serenta, media dengan daya liput yang terbatas oleh ruang dan tempat, media untuk pengajaran individual. Dilihat dari bahan pembuatannya, media dibagi dalam media sederhana dan media kompleks.

Dari jenis-jenis dan karakteristik media sebagaimana disebutkan di atas, kiranya patut menjadi perhatian dan pertimbangan bagi guru ketika akan memilih dan mempergunakan media dalam pengajaran. Karakteristik media yang mana dianggap tepat untuk menunjang pencapaian tujuan pengajaran itulah media yang seharusnya dipakai.

C. Kriteria Pemilihan Media Pengajaran

Jika guru akan menggunakan media pengajaran dengan cara memanfaatkan media yang telah ada, menurut Fathurrohman & Sobry Sutikno (2007) maka dapat merujuk pada kriteria sebagai berikut: 1) apakah topik yang akan dibahas dalam media tersebut dapat menarik minat anak didik untuk belajar ?; 2)apakah materi yang terkandung dalam media tersebut penting dan berguna bagi anak didik?;3) apakah media itu sebagai sumber pengajaran yang pokok, apakah isinya relevan dengan kurikulum yang berlaku ?, apakah materi yang disajikan otentik dan aktual, ataukah informasi yang sudah lama diketahui dan peristiwanya telah terjadi; apakah fakta dan konsepnya terjamin kecermatannya atau ada suatu hal yang masih diragukan; apakah format penyajiannya berdasarkan tata urutan belajar yang logis; apakah pandangannya objektif dan tidak mengandung unsur propaganda atau hasutan terhadap anak didik; apakah narasi, gambar efek, warna dan sebagainya memenuhi syarat standar kualitas teknis; apakah bobot penggunaan bahasa, simbol-simbol dan ilustrasi sesuai dengan tingkat kematangan berpikir, apakah sudah diuji kesahihannya.

Untuk jenis media rancangan ( yang dibuat sendiri) pertanyaan yang dijadikan sebagai acuan diantaranya: apakah materi yang akan disampaikan itu untuk tujuan pengajaran atau hanya informasi tambahan atau hiburan, apakah media yang dirancang itu untuk kepentingan pembelajaran atau alat bantu pengajaran (peraga), apakah dalam pengajarannya akan menggunakan strategi kognitif, afektif dan psikomotor, apakah materi pelajaran yang akan disampaikan itu masih asing bagi anak didik, apakah perlu rangsangan gerak seperti untuk pengajaran seni atau olahraga, apakah perlu rangsangan warna.

Setelah pertanyaan tersebut terjawab, maka guru dapat mengajukan alternatif media yang akan dirancang. Alternatif tersebut mungkin jenis media audio, media visual atau media audiovisual. Selanjutnya ajukan lagi pertanyaan sebagai acuan berikutnya seperti: apakah bahan dasarnya tersedia atau mudah diperoleh, apakah alat pembuatannya tersedia, apakah pembuatannya tidak terlalu rumit, apabila menghadapi kesulitan, apakah ada orang-orang yang dapat dimintai bantuannya, apakah mudah dalam penggunaannya dan tidak membahayakan seperti meledak, menimbulkan kebakaran dan sebagainya, apakah tersedia dana untuk pembuatannya.

Lebih lanjut Nana sudjana & Ahmad Rivai (1991) mengemukakan rumusan pemilihan media dengan kriteria sebagai berikut:1) ketepatannya dengan tujuan pengajaran, artinya media pengajaran dipilih atas dasar tujuan intruksional yang telah ditetapkan. Tujuan intruksional yang berisikan unsur-unsur pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, biasanya lebih mungkin menggunakan media pengajaran; 2) dukungan terhadap isi bahan pelajaran artinya bahan pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami siswa;3) kemudian memperoleh media artinya media yang diperlukan mudah diperoleh, setidak-tidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar. Media grafis umumnya mudah dibuat oleh guru tanpa biaya yang mahal, disamping sederhana dan praktis penggunaannya.

D. Langkah-Langkah Mempergunakan Media Dalam Mengajar

Ada enam langkah yang bisa ditempuh guru dalam mengajar mempergunakan media yakni: 1) merumuskan tujuan pengajaran dengan memanfaatkan media; 2) persiapan guru dengan cara memilih dan menetapkan media mana yang akan dimanfaatkan guna mencapai tujuan;3) persiapan kelas, anak didik dan kelas dipersiapkan sebelum pelajaran dengan bermedia dimulai. Guru harus dapat memotivasi  mereka agar dapat menilai, menganalisis, menghayati pelajaran dengan menggunakan media pelajaran; 4) langkah penyajian pelajarandan pemanfaatan media. Media diperankan guru untuk membantu tugasnya menjelaskan bahan pelajaran; 5) langkah kegiatan belajar siswa. Pemanfataan media oleh siswa sendiri dengan mempraktekkannya atau oleh guru langsung baik di kelas atau di luar kelas;6) langkah evaluasi pengajaran. Sampai sejauh mana tujuan pengajaran tercapai, sekaligus dapat dinilai sejauhmana penggunaan media sebagai alat bantu dapat menunjang keberhasilan proses belajar siswa.

Berkaitan dengan nilai media pengajaran, Sudjana (1991) mengemukakan beberapa nilai praktis yakni: a) dengan media dapat meletakkan dasar-dasar  yang nyata untuk berpikir dan dapat mengurangi verbalisme;b) dengan media dapat memperbesar minat dan perhatian siswa untuk belajar; c) dengan media dapat meletakkan dasar untuk perkembangan belajar sehingga hasil belajar bertambah mantap; d) memberikan pengalaman yang nyata dan menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri pada setiap siswa; e) menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambingan; f) membantu tumbuhnya pemikiran dan berkembangnya kemampuan berbahasa; g) memberikan pengalaman yang tak mudah diperoleh dengan cara lain dan membantu berkembangnya pengalaman belajar yang lebih sempurna; h) bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran yang baik; i) metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal kata-kata, tetapi lebih sekedar ungkapan kata-kata.

Sedangkan nilai-nilai praktis media pengajaran  yang dikemukakan Sudirman (1991) adalah: 1) meletakkan dasar-dasar yang konkret dari konsep yang abstrak sehingga dapat menjelaskan bagaimana sistem peredaran darah manusia digunakan film; 2) Menampilkan objek yang terlalu besar yang tidak memungkinkan untuk dibawa ke dalam kelas, misalnya pasar, pabrik, bintang-bintang yang besar, alat-alat perang. Pbjek-objek tersebut cukup ditampilkan melalui foto, film atau gambar; 3)  memperlambat gerakan yang terlalu cepat dan mempercepat gerakan yang lambat. Gerakan yang terlalu cepat misalnya gerakan kapal terbang, mobil, mekanisme kerja suatu mesin dan perubahan wujud suatu zat atau metamorfosis; 4) karena informasi yang diperolehsiswa berasal dari satu sumber dalam situasi dan kondisi yang sama, maka dimungkinkan keseragaman pengamatan dan persepsi siswa; 5) membangkikan motivasi siswa; 6)dapat mengontrol dan mengatur waktu belajar siswa; 6) memungkinkan siswa berinteraksi secara langsung dengan lingkungannya (sumber Belajar); 7) bahan pelajaran dapat diulangi sesuai dengan kebutuhan dan atau disimpan untuk digunakan pada saat yang lain; 8) memungkinkan untuk menampilkan objek yang langkah seperti peristiwa gerhana matahari total atau bintang yang hidup dikutub; 9) menampilkan objek yang sulit diamati oleh mata telanjang, misalnya mempelajari tentang bakteri dengan menggunakan miskoskop.

E. Penutup

Dalam kegiatan pembelajaran perlu dipilih strategi yang tepat agar tujuan pembelajaran dapat dicapai. Pada setiap kegiatan pembelajaran terlebih dahulu harus dirumuskan tujuan pembelajarannya. Tujuan pembelajaran harus bersifat “behavioral” atau berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan “measurable” atau dapat diukur. Dapat diukur artinya dapat dengan tepat dinilai apakah tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan pada awal kegiatan pembelajaran dapat dicapai atau belum.

 Dilihat dari jenisnya, media dibagi ke dalam media auditif (media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja seperti radio, piringan hitam, cassete recorder), media visual (media yang hanya mengandalkan indra penglihatan seperti film strip, slides, foto, gambar atau lukisan) dan media audiovisual (media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar.

 

 DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Bahri Syaiful & Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar.   Penerbit PT Rineka Cipta. Jakarta.

Fathurrohman, Pupuh & M. Sobry Sutikno. 2007. Strategi Belajar Mengajar’ Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami”. Penerbit Refika Aditama.Jakarta.

Harjanto, 2006. Perencanaan Pengajaran.Penerbit Reneka Cipta. Jakarta.

Nana, sudjana & Ahmad Rivai.  1991. Media Pengajaran. Sinar Baru. Bandung

Sudjana, Nana. 1991. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Sinar Baru. Bandung.

Sudirdjo, Sudarsono & Eveline Siregar.2007. Mozaik Teknologi Pendidikan”Media Pembelajaran Sebagai Pilihan Dalam Strategi Pembelajaran.Diterbitkan Atas kejasama Dengan Universitas Negeri Jakarta.Jakarta.

Sudirman, 1991.  Ilmu Pendidikan. Remaja Rosdakarya.Bandung

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply