POLA PEMBELAJARAN BERBASIS STUDENT CENTER | Website BDK Palembang
Weak Gravitational Lensing 2006 Bartelmann M. General Relativity 0 Bartelmus P. Scaling of Spatial Correlations in Cooperative Sequential Adsorption with Clustering 1994 Barter J. Space Stations 2004 Barter J. Telescopes 2005 Barter J. Lucent Library of Science and Technology. Dry spots can be prepared by spotting BAC DNA or the like (of which inexhaustible supplies have been realized) on a substrate using a spotter, forming a plurality of spots, and then drying the spots, for example. An inkjet printer, a pin array printer, or a bubble jet (trademark) printer can be used as a spotter. The use of an inkjet printer is desirable. Most of these systems are based on the knowledge that anaerobic bacteria in the colon are able to recognize the various substrates and degrade them with the enzymes. The application of biodegradable natural polymers, which are resistant to degradation in the upper GIT (above the colon), has gained tremendous importance in pre-biotic food systems. Most of the recent research includes natural polysaccharides, especially from plant origin, being applied to create degradable colon-specific substrates. A very efficient, mutually beneficial arrangement has evolved from a nutritional perspective (Figure 2). In the proximal gut, bacterial competition for absorbable monosaccharides could be detrimental to the host, but in nonruminants colonization is sparse in this region. The word Caporetto has entered the Italian language as a synonym for disaster. The memoir of a New Zealand surgeon in the bimatoprost online BEF. World War One Aircraft Carrier Pioneer: The Stories and Diaries of J. Memoirs of service on HMS Furious. British Military Service Tribunals, 1916-18: "A Very Much Abused Body of Men," James McDermott, Manchester University Press, 2011, 272 pages, ISBN 978 0 7190 8477 5, $95 HB. Defence Science and Technology Organisation. DSTO Research Library - Melbourne. La Trobe University Library. Borchardt Library, Melbourne (Bundoora) Campus. Forensic and Scientific Services.. Early tissue interactions leading to embryonic lens formation in Xenopus laevis. Henry J, Mittleman J. The matured eye of Xenopus laevis tadpoles produces factors that elicit a lens-forming response in embryonic ectoderm. Henry JJ, Tsonis PA. Based on the person's daily routine or "best times," insist upon a morning or afternoon appointment. If the staff knows the situation, they may be willing to give you an appointment when the office is less crowded or noisy. Consider calling the office before you leave the house to check if the doctor is on time. Never leave the person alone in a waiting room. Consider taking a third person with you who can drive and help keep the person occupied. It is helpful to offer extra reassurance to the person with Alzheimer's because (s)he is away from the familiar environment. http://www.jerseycanada.com/jerseyatlantic/fnt/ultramer.php The global interest in the medicinal potential of plants during the last few decades is therefore quite logical. India is one of the richest countries in the world with regard to diversity of medicinal plants. This short-lived perennial with dark green and glossy leaves is native to Madagascar..

POLA PEMBELAJARAN BERBASIS STUDENT CENTER

Drs.Suberia.MM

 Abstrak : Pola pembelajaran yang selama ini dipakai didalam dunia pendidikan sudah mengalami pergeseran, dalam pembelajaran misalnya siswa selam ini hanya mendengarkan penjelasan dari guru, siswa bertanya guru menjawab dan begitu juga sebaliknya, akhirnya dengan pola pembelajaran yang seperti itu siswa menjadi tumpul pemikirannya, sehingga dia tidak dapat atau sukar untuk berpikir lebih jauh atau berkreatifitas dengan hal-hal yang lain karena ia hanya terpaku pada guru. untuk menghindari hal tersebut, guru harus pintar-pintar mencari solusi agar siswa dapat mencapai pengetahuan yang lebih dari apa yang ia inginkan secara labih luas, yaitu kalau selama ini pola pembelajaran berbasis teacher center, maka sekarang harus diubah dengan pola pembelajaran student center, yaitu pola pembelajaran yang berpusat pada diri siswa. Dengan pola student center ini diharapkan siswa akan dapat mengembangkan model-model pembelajaran lain yang selama ini belum pernah ia dapatkan pada pola pembelajaran sebelumnya.

Kata kunci : Pembelajaran, Student center, Model

Secara historis-faktual sampai saat ini, pola pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikan Islam tanpa terkecuali di lingkungan IAIN Raden Fatah masing sangat kental dengan nuansa  pendekatan pembelajaran yang berbasis teacher center dimana proses pembelajaran lebih berpusat pada guru. Out put yang dihasilkan oleh pendekatan belajar seperti ini tidak lebih hanya menghasilkan siswa yang kurang mampu mengapresiasi ilmu pengetahuan, takut berpendapat, tidak berani mencoba yang akhirnya cenderung menjadi siswa yang pasif dan miskin kreativitas. Model siswa seperti inilah yang sampai saat ini sering kita lihat di ruang-ruang   kuliah  perguruan tinggi tinggi kita, yakni peserta didik yang kurang kreatif dan terkesan pasif.

Pola pembelajaran yang bersifat teacher centered ini dibangun atas dasar pada model pembelajaran komando atau banking learning concept. Pembelajaran model bank ini lebih memposisikan siswa seperti bank dan guru sebagai person yang mendeposit uang ke dalamnya. Dikotomi model pembelajaran gaya bank selalu bertolak belakang antara posisi guru dan peserta didik, yakni jika guru ceramah siswa mendengarkan dengan tekun, guru bertanya siswa menjawab, guru mengerti semua siswa tidak tahu apa-apa, guru mendiktekan teks siswa mencatat, guru pandai siswa bodoh, guru sebagai subjek siswa sebagai objek, guru membuat program belajar siswa menerima program, dan seterusnya. Dengan kata lain, pembelajaran sebagaimana yang populer disebut Freire dengan istilah Bank System ini berangkat dari asumsi bahwa siswa ibarat bejana kosong atau kertas putih. Guru atau pengajarlah yang harus mengisi bejana tersebut atau menulis apapun di kertas putih tersebut (Freire, 2000).

Konsep ini selanjutnya mewujud dalam model pendidikan satu arah, yang anti dialog dan anti kekritisisan. Guru berbicara, dan tugas para siswa adalah diam mendengarkan. Jikapun kemudian bertanya, pertanyaan itu mesti menunjukkan bahwa ia adalah sosok bodoh yang mesti diterangkan berkali-kali supaya bisa mengerti. Ajuan pertanyaan yang berpeluang membongkar kebenaran versi sang guru, bisa dipandang bagian dari tindak pembangkangan. Maka kemudian berkembanglah apa yang disebut dengan budaya bisu dan budaya diam.

Cara pandang seperti itu kini mulai ditinggalkan seiring dengan munculnya kesadaran yang makin kuat di dunia pendidikan bahwa proses belajar mengajar akan lebih efektif apabila peserta didik secara aktif mengalami, menghayati, dan menarik pelajaran dari pengalamannya itu, dan pada gilirannya hasil belajar akan merupakan bagian dari diri, perasaan, pemikiran dan pengalamannya. Hasil belajar kemudian akan lebih melekat, dan tentu saja, dalam proses seperti  itu peserta didik didorong dan dikondisikan untuk lebih  kreatif.

Kesadaran baru ini dianggap lebih manusiawi karena tidak lagi melihat siswa atau warga belajar sebagai bejana kosong atau kerta putih. Pandangan ini menganggap peserta didik atau warga belajar sebagai manusia yang memiliki pengalaman, pengetahuan, perasaan, keyakinan, cita-cita, kesenangan, dan keterampilan. Oleh karena itu, pengalaman mereka harus dihargai dan diangkat  dalam proses dan aktivitas pembelajaran di kelas. Hal ini juga berimplikasi terhadap perlunya strategi pembelajaran yang interaktif, baik antara siswa dengan guru maupun antar siswa.

Fenomena yang tampak di ruang-ruang kelas di lembaga pendidikan kita, sampai saat ini terdapat realitas bahwa mayoritas guru masih asyik dan enjoy dengan pola pembelajaran konvensional  dan terkesan belum memiliki kemampuan untuk mengaplikasikan varian metodologi pembelajaran aktif yang bernuansa mengaktifkan para siswa (active learning). Melihat kenyataan demikian, maka menurut hemat penulis tidak dapat ditawar lagi dan merupakan keniscayaan untuk segera melakukan langkah-langkah pengembangan kompetensi guru pada wilayah kajian epistemologis-metodologis tentang pembelajaran yang berbasis kepada student center (student-centered learning).

Paradigma Student-Centered Learning

Paradigma pembelajaran berbasis student center ini mengembang menjadi paradigma pendekatan belajar mutakhir, menggeser kebiasaan lembaga pendidikan tradisional yang cenderung menempatkan guru sebagai pusat  kegiatan (Teacher-Centered Learning). Umum terjadi, guru yang terlihat sangat aktif di ruang kuliah dan menjadi subjek dominan dalam proses pembelajaran, sementara siswa menjadi partisipan pasif, yakni hanya mendengar dan menerima dari gurunya tanpa ada unsur kreatifitas. Kecenderungan ini berkaitan juga dengan implikasi lebih lanjut dari banking concept of education; guru lebih menekankan pada memorisasi, menekankan hafalan ketimbang pemikiran kritis. Sehingga siswa yang baik menurut sistem pembelajaran seperti ini adalah anak yang penurut, tidak kritis serta mematuhi aturan yang sudah ada.

Sementara pembelajaran berbasis student center dalam implementasinya, menempatkan siswa sebagai pusat belajar, siswa harus lebih aktif beraktivitas untuk membangun suatu pemahaman, keterampilan, dan sikap/prilaku tertentu (active learning). Aktivitas siswa penjadi penting ditekankan karena belajar itu pada hakikatnya adalah proses yang aktif di mana siswa menggunakan pikirannya untuk membangun pemahaman (constructivism approach). Model pembelajaran ini selalu melibatkan siswa dalam proses pembelajaran dengan dibantu guru sebagai fasilitator dan pembimbing siswa. Para pengusung konsep ini menganggap bahwa pembelajaran adalah sebuah tindakan seseorang  yang mencoba untuk membantu orang lain  mencapai kemajuan dalam berbagai aspek  seoptimal mungkin sesuai dengan potensi masing-masing siswa. Fokus pembelajaran model ini adalah memberikan pengalaman belajar bagi siswa seluas mungkin.

Siswa tidak lagi cukup belajar hanya dengan sekedar menyerap dan menghafal secara verbal pengetahuan yang dituangkan oleh guru (transfer of knowledge). Potensi otak manusia tidak hanya dapat difungsikan untuk menghafal dan mengingat, tetapi juga untuk mengolah informasi yang diperoleh dan membangun pengertian-pengertian baru. Inilah yang lazim disebut dengan istilah keterampilan mengolah informasi.

Dengan diaktifkan dalam proses pembelajaran, siswa akan terlatih menggunakan kemampuan berpikirnya, semakin lama semakin tinggi, semakin mampu memikirkan hal-hal yang abstrak dan kompleks, hingga dapat menemukan gagasan-gagasan baru. Oleh sebab itu, esensi pembelajaran aktif tidak terletak pada heboh dan gaduhnya kegiatan fisik siswa, melainkan pada penggunaan tingkatan berpikir yang lebih tinggi. Siswa yang diam tak bersuara menganalisis sebuah teks misalnya, layak disebut aktif dalam belajar, karena dia menggunakan seluruh kemampuan berpikirnya untuk melakukan analisis dan menyusun kesimpulan. Kegiatan pembelajaran seperti ini akan menyebabkan siswa mampu berpikir inovatif dan kreatif.

            Penggunaan aneka kegiatan pembelajaran akan memungkinkan guru untuk melayani berbagai gaya belajar yang dimiliki siswa dalam satu kelas, sebab gaya belajar seseorang dapat dipastikan selalu berbeda dengan orang lain, entah sebagian atau secara keseluruhan. Perbedaan ini dikarenakan kecenderungan kekuatan setiap modalitas belajar siswa berbeda-beda, misalnya ada yang kuat dalam persepsi auditif, visual, taktil, konatif atau gabungan beberapa persepsi. Demikian juga dengan mobilitasnya, ada siswa yang senang belajar dengan diam memaku, sementara yang lain baru bias berkonsentrasi ketika bebas bergerak. Dengan demikian, paradigma pembelajaran yang berbasis kepada siswa dengan berbagai pendekatan pembelajaran dan memperhatikan gaya dan modalitas belajarnya menjadi penting untuk didiskusikan.

Beberapa Pendekatan pembelajaran sebagai lternatif  Tawaran Menuju  Student-Centered Learning

Beberapa tahun terakhir dunia pembelajaran di Indonesia diperkenalkan dengan berbagai model pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada nuansa pemberian pengalaman belajar siswa dengan dominasi keaktifan lebih berada pada sisi siswa, bukan pada dominasi guru. Model pendekatan pembelajaran seperti quantum teaching, active learning,  cooperative learningcontextual teaching and learning, dan lain-lain adalah loncatan perkembangan terbaru yang penting untuk dicermati oleh para guru. Pendekatan pembelajaran lama yang kering nuansa dan cenderung belum diorientasikan untuk menyenangkan siswa dan sering terkesan membosankan, tegang dan kurang rileks, agaknya perlu dipertimbangkan untuk diganti dengan pendekatan-pendekatan baru seperti yang ditawarkan pada konsep activel learning dan quantum learning.

Pertama, Active LearningApa yang dipikirkan ketika mendengar istilah “belajar aktif”? Banyak orang berpikir bahwa belajar aktif adalah membuat siswa beraktifitas, bergerak, dan  melakukan sesuatu dengan aktif. Salah satu indikator pentingnya  aktif adalah situasi kelas yang ramai bergemuruh, sementara guru lebih santai. Mungkin juga ada yang berpikir aktif menggunakan otak.

            Belajar aktif merupakan sebuah kesatuan sumber kumpulan strategi-strategi pembelajaran yang komprehensif, yang meliputi berbagai cara untuk membuat siswa aktif sejak awal melalui aktivitas-aktivitas yang membangun kerja kelompok dan dalam waktu singkat membuat mereka berpikir tentang materi pelajaran. Juga terdapat tehnik-tehnik memimpin belajar bagi seluruh kelas, bagi kelompok kecil, merangsang diskusi dan debat, mempraktekkan keterampilan-keterampilan, mendorong adanya pertanyaan-pertanyaan, bahkan membuat siswa saling mengajar satu sama lain.

            Belajar aktif sangat diperlukan oleh siswa untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimum. Ketika siswa pasif, atau hanya menerima apa yang disampaikan guru, ada kecenderungan untuk cepat melupakan apa yang telah disampaikan. Dengan begitu diperlukan perangkat tertentu untuk dapat mengikat informasi yang baru diterima dari guru. Belajar aktif adalah salah satu alternatif untuk mengikat informasi yang baru kemudian menyimpannya dalam otak.  Belajar yang hanya mengandalkan indera pendengaran tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal.

            Dalam kaitan ini misalnya, Mel Silberman dalam karyanya Active Learning, 101  Strategi to Teach Any S ubject, mengawali tulisannya dengan mengutif kata-kata bijak konfusius, seorang filosof Cina yang hidup lebih dari 2400 tahun lalu:

            “Apa yang saya dengar saya lupa.

            Apa yang saya lihat saya ingat.

            Apa yang saya kerjakan saya paham.”

            Tiga pernyataan sederhana ini membicarakan bobot penting belajar aktif.

            Ungkapan filosof itu dikembangkan oleh Mel Silberman menjadi apa yang disebut dengan active learning credo:

            “Apa yang saya dengar saya lupa.

            Apa yang saya dengar dan lihat saya ingat sedikit.

Apa yang saya dengar, lihat, dan saya diskusikan,  saya mulai paham.

Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan, dan lakukan saya peroleh pengetahuan dan keterampilan.

Apa yang saya ajarkan kepada orang lain saya kuasai.” (Silberman, 1996).

Secara implisit Mel Silberman ingin menunjukkan bahwa belajar lebih bermakna dan bermanfaat apabila siswa menggunakan semua alat indra, mulai dari telinga, mata, sekaligus berpikir mengolah informasi dan ditambah dengan mengerjakan sesuatu. Dengan mendengarkan saja, kita tidak dapat mengingat banyak dan akan mudah lupa.

Ada banyak  alasan mengapa orang cenderung lupa terhadapa apa yang  mereka dengar. Salah satu alasan yang paling menarik adalah berkaitan dengan jumlah kata yang diucapkan oleh seorang guru dan kemampuan mendengar siswa. Sebagian besar guru rata-rata mengucapkan kurang lebih antara 100 sampai 200 kata per menit. Jumlah kata yang didengar oleh siswa sangat tergantung pada bagimana cara ia mendengar. Kalau ia mendengarkan dengan penuh konsentrasi siswa mungkin dapat mendengarkan 50 sampai 100 kata dalam setiap menitnya, atau setengahnya dari yang dikatakan oleh guru. Hal itu disebabkan oleh mereka berpikir keras sambil mendengar. Oleh karena itu, siswa akan merasa kesulitan mendengarkan pelajaran dari guru yang banyak bicara, apalagi bicara dengan tempo yang cepat.

Kemungkinan lain siswa tidak mendengarkan dengan penuh konsentrasi karena keterbatasan kemampuan manusia untuk berkonsentrasi secara terus menerus dalam jangka waktu tertentu walaupun materi yang disampaikan menarik. Ketika mendengarkan seorang guru yang berbicara dengan tempo yang lambat, sangat mungkin siswa akan merasaa bosan dan jenuh, dan pikiran mereka mulai menerawang ke mana-mana.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dalam ruang kelas mampu memperhatikan dan berkonsentrasi penuh kurang lebih sekitar 60% dari waktu yang tersedia (Pollio, 1984). Lebih lanjut siswa mampu mengingat mencapai 70% informasi yang sampaikan oleh guru pada 10 menit pertama, tetapi pada 10 menit terakhir mereka hanya mampu mengingat 20% dari materi yang disampaikan (McKeachie, 1986).

Studi lain menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang menempatkan siswa hanya mendengar akan menimbulkan beberapa masalah sebagai berikut:

  1. Perhatian siswa berkurang seiring dengan berlalunya  waktu.

  2. Hanya menarik dan cocok bagi siswa auditory

  3. Cenderung mengarah pada tingkat belajar rendah dari informasi faktual.

  4. Ini mengasumsikan bahwa siswa memerlukan informasi yang sama dan pada langkah yang sama.

  5. Mahaiswa cenderung tidak menyukai (Johnson & Smith, 1991).

Dengan menambahkan visual pada pelajaran menaikkan ingatan dari 14% ke 38% (Pike, 1989). Penelitian itu juga menunjukkan perbaikan sampai 200% ketika kosa kata diajarkan dengan menggunakan  alat visual. Bahkan, waktu yang diperlukan untuk menyampaikan konsep berkurang sampai 40% ketika visual digunakan untuk menambahkan presentasi verbal. Sebuah gambar barangkali tidak bernilai ribuan kata, namun tiga kali lebih efektif dari pada hanya kata-kata saja.

Karena mengajar menyangkut dua dimensi (pendengaran dan penglihatan), pesan yang disampaikan hendaknya diperkuat dengan dua sistem penyampaian. Meskipun demikian, sebagian siswa lebih menyenangi satu bentuk penyampaian dibandingkan dengan bentuk yang lain. Dengan menggunakan keduanya kita memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan siswa. Akan tetapi, dengan hanya mendengarkan atau melihat, tidak berarti proses belajar telah sempurna. Sampai di sini kita dapat mengenal beberapa aspek yang berkaitan dengan belajar aktif.

Kedua, quantum learning, Asas utama sistem pengajaran quantum: “bawalah dunia siswa ke dunia kita (guru) dan antarkan dunia kita ke dunia mereka (siswa)”, menyiratkan filosofi pembelajaran yang saling mengisi dan melengkapi antara kepentingan dan kebutuhan siswa dengan idealisme guru dalam menanamkan pesan-pesan pendidikan kepada siswa. Sangat kuat nuansa demokratis dalam proses pembelajaran dimana guru tidak akan pernah memaksa kepentingan dan idealismenya kepada siswa, tetapi memberikan penyadaran kepada siswa untuk secara mandiri dan dengan kesiapan psikologis yang baik untuk menerima materi ajar dengan berbagai metode dan strategi pembelajaran yang disukai siswa.

Tugas pembelajaran  yang diperankan guru di ruang-ruang kuliah quantum yang tentu saja bervariasi dari segi potensi siswa, latar belakang sosial-ekonomi-budaya-etnis, berbeda dari aspek kesiapan intelektual, daya serap, pengalaman belajar dan lain-lain, menuntut guru untuk piawai memaksimalkan pengembangan potensi yang berbeda-beda tadi tanpa menimbulkan “konflik” dan ketegangan di antara siswa. Kemampuan manajemen seperti inilah yang dikatakan Abudin Nata bahwa guru bertindak sebagai seorang composer orkestra yang unggul, dimana guru mampu menempatkan posisi yang tepat bagi tiap-tiap siswa yang memiliki keunggulan-keunggulan yang unik dan beragam itu untuk selanjutnya menghadirkan sebuah proses pembelajaran yang enjoy, fun, dan sangat disenangi siswa (Nata: 2003: 36).

Nuansa demokratis dalam pendekatan pembelajaran quantum dapat terlihat dari beberapa prinsip yang mendasari pelaksanaan pendekatan ini. Pertama, segalanya berbicara. Prinsip ini dimaksudkan untuk memaksimalkan penggunaan semua yang berada di lingkungan belajar siswa untuk memberikan kontribusi dan dimanfaatkan untuk membantu menyampaikan pesan-pesan pembelajaran, mulai dari fasilitas yang ada di sekililing siswa sampai pada bahasa tubuh siswa atau guru harus “berbicara” dalam kerangka menghangatkan dan memberikan efek rileks dan menyenangkan bagi siswa sebagai peserta belajar. Kedua, segalanya bertujuan. Prinsip ini mengisyaratkan semua aktivitas yang dilakukan dalam proses pembelajaran tidak ada yang berlangsung secara sia-sia, karena semuanya memiliki tujuan positip dan sarat makna (meaningfull). Ketiga, pengalaman sebelum pemberian nama. Prinsip ini berorientasi pada pemberian kesadaran dan kesiapan siswa ketika mengikuti materi pembelajaran. Seorang guru harus memastikan siswa mempunyai kesiapan belajar sebelum dilaksanakan proses belajar mengajar. Keempat, akui setiap usaha. Prinsip ini terkait dengan aplikasi pemberian reward (penghargaan) atas sekecil apapun hasil kerja siswa. Siswa membutuhkan apresiasi setiap hasil pekerjaan belajarnya. Kelima, jika layak dipelajari layak pula dirayakan. Prinsip ini terkait dengan menanaman bibit kesuksesan dan selalu menghubungkan belajar dengan perayaan (lihat Bobbi,  2003 : 7).

Pada tataran yang lebih praktis, ada dua hal yang menjadi kajian dalam menata atau pembelajaran quantum learning, yakni: menata ruang kelas dan menata proses penyampaian materi ajar. Penataan ruang kelas dalam pendekatan quantum learning harus memenuhi prinsip menghadirkan suasana yang menyenangkan, landasan yang kukuh, lingkungan yang kondusif dan rancangan belajar yang dinamis. Seorang guru penting memperhatikan suasana belajar yang memberdayakan. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa lingkungan belajar yang menyenangkan seperti penataan ruang kelas yang memberikan suasana dinamis berkorelasi terhadap hasil belajar yang tinggi. Di sinilah guru perlu membangun niat belajar siswa yang tulus dan sungguh-sungguh dan rasa saling memiliki.

Ada hal menarik dari pola interaksi guru-siswa pada pendekatan quantum learning, bahwa perlakuan terhadap siswa sebagai manusia yang sederajat. Prinsip ini penting untuk membangun saling menghargai di antara guru dan siswa, serta menumbuhkan semangat akademis dalam suasana dialog. Karena itu, salah satu ciri kelas quantum learning adalah suasana yang akrab dan guru selalu terlihat ceria dan siap membantu setiap kesulitan belajar siswa.

Senada dengan penjelasan di atas, Nurhadi (Nurhadi, 2002: 4) mengatakan pentingnya pola pembelajaran aktif dengan memperhatikan beberapa prinsip. Pertama, belajar aktif dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Kedua, pembelajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka, dimana strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya. Ketiga, umpan balik amat penting bagi siswa  yang berasal dari penilaian (assessment) yang benar. Keempat, menumbuhkan komunikasi belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.

Dari pandangan beberapa pakar pembelajaran di atas, dalam sebuah proses pembelajaran yang berbasis pada siswa (student-centered learning) jelas terlihat nuansa pengaktifan potensi dan keterlibatan siswa dengan lebih dominan dibandingkan dominasi guru. Di sinilah aspek pemberdayaan siswa semakin muncul. Untuk menumbuhkan dan memberdayakan siswa di kelas, seorang guru harus percaya akan kemampuan siswa dan dapat mempelajari dan menguasai materi pembelajaran yang akan disampaikan, sehingga guru tidak ragu untuk mengajarkan hal-hal yang dapat bermanfaat bagi siswa dalam kehidupannya. Kepercayaan inilah yang memotivasi siswa untuk antusias belajar karena guru telah menunjukkan antusiasmenya dalam mengajar. Para guru juga penring membangun simpati dan saling pengertian dengan memperlakukan siswa sebagai manusia sederajat, berbicara jujur, mengetahui apa yang disukai siswa dan merealisasikannya dalam pembelajaran di kelas-kelas, mengetahui cara berpikir siswa dan perasaan mereka mengenai hal-hal yang terjadi dalam kehidupan mereka. Untuk membangun sikap itu guru harus mengembangkan sikap terbuka dan berterus terang mengenai kondisi mereka. Suasana kegembiraan dan memberikan affirmation (penguatan, pengakuan dan perayaan) yang berupa memberikan tepuk tangan, teriakan hore atau poster.

Selain itu, guru juga penting mencoba beberapa pendekatan dan metode pembelajaran baru yang dirancang dan dikembangkan oleh guru sendiri. Atau guru membuat beberapa prosedur pembelajaran yang merupakan kesepakatan antara guru dengan siswa. Sebut saja misalnya, pada pembelajaran perdana seorang guru melakukan kontrak belajar kepada siswa yang meliputi: strategi dan kegiatan pembelajaran, referensi dan sumber belajar yang digunakan, materi yang akan disajikan, cara penilaian dan alokasi waktu yang digunakan. Dengen melibatkan siswa dalam merancang pembelajaran akan dapat membangun rasa saling memiliki dan rasa tanggung jawab bersama antara guru dan siswa.

Pengadaan ikon-ikon atau poster-poster di dinding kelas, menyediakan alat bantu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, mengatur posisi bangku dan meja belajar di kelas dengan variatif, memberikan aroma kelas yang berfungsi untuk relaksasi, atau bahkan mulai mengembangkan kelas dengan menggunakan musik yang dapat mengubah mental siswa dan mendukung lingkungan belajar. Untuk penggunaan musik atau suara-suara indah dalam belajar, seperti yang ditegaskan Gordon Dryden dan Jeannette (2002: 310) berdasarkan hasil penelitian mereka, justru dapat membantu mengurangi stress, meredakan ketegangan, meningkatkan energi dan memperbesar daya ingat, serta bahkan dapat menjadikan orang lebih cerdas.

Dalam konteks IAIN, hal penting yang patut diperhatikan oleh guru di lingkungan IAIN—terutama ketika mengajar materi keislaman (Islamic Studies) misalnya—selain mempertimbangkan suasana kelas dengan nuansa musik, juga perlu melihat kembali orientasi pembelajaran yang tidak lagi semata-mata menggunakan pendekatan doktriner, tetapi harus dimulai merangsang daya nalar dan potensi pikir siswa. Pendekatan ini hanya dapat dilakukan oleh guru yang cerdas dan memiliki wawasan keilmuan dan logika yang baik. Pendekatan seperti ini bermanfaat untuk melatih siswa berpikir empirik, sehingga tidak memandang doktrin Islam hanya terbatas pada persoalan ritual-normatif semata. Siswa di lingkungan IAIN harus diajak memahami agama secara rasional dan membuat mereka mampu menawarkan dan mencari berbagai solusi atas persoalan keumatan dengan pemecahan masalah yang konkrit dan terukur. Pola penataan materi pelajaran yang terkesan mengabaikan pembentukan daya nalar perlu direkonstruksi ulang.

Dalam kaitan ini, Amin Abdullah mencoba menawarkan sebuah metodologi baru dalam proses pendidikan dan pengajaran di lingkungan IAIN, yakni suatu pendekatan yang melibatkan dimensi historis-empiris-saintifik. Dengan memberi bobot muatan sosial-keagamaan melalui dimensi historis-empiris-saintifik, seorang guru IAIN diharapkan berperan sebagai orang yang tekun membaca situasi dan perkembangan masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Bukan sekedar pembaca atau penyampai teks-teks keislaman, dan bukan pula sekedar sebagai transmiter bahan-bahan keagamaan klasik yang memang telah berjasa pada zamannya, tetapi belum tentu dapat diterapkan pada era sekarang. Namun demikian, Amin mengakui bahwa pendekatan ini bukan suatu yang final, karena mungkin pada klimaksnya juga tidak dapat membentuk sikap hidup dan pandangan hidup yang jelas. Telaah saintifik-historis-empiris, supaya lebih bermakna dan berbobot, harus dibarengi pula oleh pendekatan doktriner-religius (Amin: 64-65, ).

Tampaknya metodologi yang ditawarkan Amin tersebut adalah sintesa harmonis antara doktriner-saintifik—sehingga aspek kognitif, afektif dan psikomotorik tersaji dalam satu kesatuan yang utuh lewat berbagai diskusi yang melibatkan partisipasi siswa secara aktif-responsif. Bagaimana dua model pendekatan ini dapat teramu sedemikian rupa sehingga menjadi perpaduan yang harmonis merupakan tugas dan agenda bersama para guru IAIN pada era sekarang ini.

Menurut Hasan langgulung, proses pembelajaran dengan ilustrasi menuangkan bakul yang kosong dari bakul yang berisi adalah merupakan pemahaman yang sudah usang. Cara memahami proses belajar mengajar seperti itu akan selalu memposisikan siswa sebagai objek yang belum memiliki apa-apa, sehingga memungkinkan guru untuk sungkan merangsang terjadinya komunikasi dialogis antara pengajar- anak didik. Dan proses belajar mengajar itu bisa berlaku, jika memenuhi syarat-syarat: Pertama, ada stimulus. Kedua, muncul respon (gerak balas siswa). Dan ketiga, reinforcement (peneguhan). Ketiga syarat itu nampaknya akan segera terlibat pada penerapan metode munadhara (dialogis), yang oleh sejarah dibuktikan sebagai hasil penting dari pendidikan Islam, yang masa selanjutnya dianggap sebagai cara untuk memajukan kegiatan intelektual di lembaga-lembaga pendidikan di dunia Islam di Timur Tengah dan Barat (Hasan Langgulung: 362, 1992).

Sejalan dengan pemikiran tersebut, bila dihubungkan dengan tawaran Friere dapat juga ditarik benang merah bahwa pembelajaran di lingkungan IAIN berlangsung selama ini boleh dikatakan berjalan dengan pola relasi monolog-otoriter, maka dari itu sudah sepatutnya diganti dengan model dialogis. Pentingnya dibangun hubungan dialogis itu, karena dialoglah yang memungkinkan akan munculnya suatu kesadaran pada anak didik.

Dasar penegasan Paulo Friere akan perlunya pola dialogis itu adalah keyakinannya yang mendasar tentang peranan pendidikan sebagai wadah yang paling strategis dalam menumbuhkembangkan kesadaran, dan kesadaran itu hanya akan muncul manakala jati diri anak didik diakui sebagai subyek. Pengakuan terhadap diri anak didik sebagai subyek hanyalah mungkin terjadi dalam relasi dialogis itu (Friere: 73, 2001).

Masih dalam kerangka rekonstruksi metodologis pembelajaran berbasis student center di lingkungan IAIN, hemat penulis, model pembelajaran di lingkungan IAIN masih bercorak pedagogi yang selalu memposisikan siswa sebagai objek pasif yang “bodoh”, sedang guru adalah subjek aktif yang pintar dan sumber kebenaran. Pola ini sudah sepantasnya diganti dengan corak andragogi yang selalu melihat siswa sebagai subyek aktif dan dalam relasi guru-siswa didasarkan atas prinsip kesetaraan dan komunikasi dialogis antara keduanya.

Selain itu pula, pendekatan pembelajaran yang cenderung lebih banyak top down atau deduktif yang selalu membawakan kebenaran dari atas, sehingga kurang menghiraukan  kenyataan-kenyataan yang unik dan melibatkan dengan kebutuhan keseharian hendaknya juga segera dibarengi dengan model pendekatan bottom up atau induktif, sebagai kebalikan metode deduktif, yakni dalam proses pembelajaran seorang guru memulai mengenalkan kasus-kasus dalam kehidupan empiris, kemudian ditarik maknanya secara hakiki tentang nilai-nilai kebenaran yang berada dalam kehidupan tersebut.

Dalam kajian desain instruksional, seorang guru sangat dituntut untuk mampu melakukan penataan terhadap kompetensi pembelajaran, materi dan bahan ajar, metodologi pembelajaran, pengalaman belajar, media dan sumber belajar, evaluasi, serta mampu memperkirakan waktu yang diperlukan untuk memberikan kompetensi tertentu kepada siswa. Dari desain ini diharapkan guru bisa memastikan dan memberikan “jaminan mutu” atas semua yang diajarkan kepada siswa. Selama ini terdapat kesan bahwa proses pembelajaran cenderung kurang memberikan jaminan mutu dan waktu yang dialokasikan untuk sebuah pembelajaran tidak pernah dikaji dengan berorientasi pada ketuntasan pembahasan materi ajar.

Memang harus diakui, bahwa pola dan tradisi pembelajaran yang dipraktikkan para guru kita yang belum mengarah pada perbaikan mutu pembelajaran, juga disebabkan sistem pendidikan kita yang secara nasional masih lebih terkesan belum mengoptimalkan proses dan pemberian pengalaman belajar pada siswa, tetapi justru sangat jelas kesan berorientasi pada hasil belajar semata. Meskipun demikian, harapan untuk terjadinya perubahan tidak harus pupus, dan di sinilah peran dan fungsi guru menjadi ujung tombak perubahan pola pembelajaran di tataran yang paling praktis di ruang-ruang kelas.

Catatan Akhir

Berbagai gagasan yang terurai di atas adalah merupakan suatu kesepakatan akan keharusan dilakukannya konstruksi ulang atas metodologi pembelajaran di lingkungan sekolah  yang berlangsung selama ini dengan pemaknaan-pemaknaan yang baru (al-qira’ah al-muntijah). Dengan mencermati  ide-ide pendekatan pembelajaran yang mutakhir sebagaimana telah terurai di atas, sepantasnya menginspirasi kita untuk menawarkan pendekatan-pendekatan baru sehingga suasana Pembelajaran Aktif Kreatif Epektif Menyenangkan dan Mencerahkan (PAKEM) benar-benar tercipta di perguruan tinggi kita. Untuk menuju ke arah itu diperlukan pola berpikir dan mentalitas para guru yang kreatif-dinamis-inovatif, tidak bersandar pada pola pemikiran yang bersifat pasif-represif-reparatif. Allahu a’lam bi-al-Shawab.


   Daftar Pustaka

 Abdullah, Amin, “Problem Epistimologis-Metodologis Pendidikan Agama”, dalam Munir Mulkhan, dkk, Rekonstruksi Pendidikan dan Tradisi Pesantren, Religiusitas Iptek, Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2001

Al-Abrasyi, M. Athiyah, Beberapa Pemikiran Pendidikan Islam, Terj. Syamsuddin Ashrafi, Yogyakarta: Titian Ilhai Press, 1996.

Azra, Azyumardi, “Rekonstruksi Kritis Ilmu dan Pendidikan Islam”, dalam Munir Mulkhan dkk, Rekonstruksi Pendidikan dan Tradisi Pesantren.Religiusitas Iptek, Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2001

Beidler, Peter G. 1997. “What Makes A Good Teacher”, dalam John K. Roth, Inspiring  Teaching, USA: Anker Publishing.

Burhani, Ahmad Najib, Islam Dinamis Menggugat Peran Agama membongkar Doktrin Yang Membatu, Jakarta: Kompas, 2001.

De Porte, Bobbi dan Mike Hernacki, 2001.Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, Bandung: Kaifa.

DePorte, Bobby DePorte dkk, Quantum Teaching: Orchestrating Student Succes.

Dryden, Gordon dan Jeannette VOS, 2002, The Learning Revolution: Belajar Akan Lebih Efektif Kalau Anda Dalam Keadaan Fun, Bandung: Kaifa.

Freire, Paulo, Pedagogy of The Oppressed

Friere, Paulo, Pedagogi pengharapan, Terj. A. Widyamartaya, Jogjakarta: Kanisius, 2001

Freire, Paolo at.al., 1999. Menggugat Pendidikan: Fundamentalisme, Konservatisme, Liberal dan Anarkisme, Alih Bahasa: Omi Intan Naomi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Gibson, T., Jenice, 1972. Educational Psychology, New York: Appletown Century Crofts.

Hunt, V. Daniel, 1993. Quality Management for Government: a Guid to Federal State and Local Implementation, Winconsin: ASQC Quality Press.

Hidayat, Komaruddin, Memetakan Struktur Keilmuan Islam: Sebuah Pengantar”, dalam Fuaduddin dan Cik Hasan Bisri (Ed), Dinamika Pemikiran Islam di Perguruan Tinggi: Wacana tentang Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Logos, 1999

Kasinyo harto, rekonstruksi pola pembelajaran  Berbasis student center.Palembang ,2013

Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi,, Bandung: Mizan, 1991

Langgulung, Hasan, Asas-asas Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka al-Husna, 1992

Ludjito, Ahmad,  “Pendekatan Integralistik Pendidikan Agama Islam di Sekolah” dalam Chabib Thaha , Syukur dan Priyono (Pen), Reformulasi  Filsafat Pendidikan Islam, Jogjakarta: Pustaka Pelajar,  1996.

McNergney, Robert F. and Carrol A. Carrier. 1981. Teacher Development, New York: MacMillan Publishing co. Inc.

Mulyasa, E. 2005, Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, strategi dan Implementasi, Bandung: Rosdakarya.

Mulyasa, Enco, 2005, Implementasi Kurikulum 2004: Pandungan Pembelajaran KBK, Bandung: Rosdakarya.

Mastuhu, Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, 2001).

Muhaimin, et. al., Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Bandung: Rosdakarya, 2001.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply