SERBA SERBI HAJI DAN UMRAH | Website BDK Palembang

SERBA SERBI HAJI DAN UMRAH

SERBA SERBI HAJI DAN UMRAH

Oleh

Dr. H. Nawawi Nurdin, M.Pd.I

Widyaiswara Ahli Utama

 Sunah-sunah Haji

       Bagi siapa saja yang melakukan atau mengamalkan sunah haji, maka lebih utama dan orang yang meninggalkannya, maka tidak ada dosa atasnya. Amal-amal sunah tersebut:

  1. Amal perbuatan di miqat
  2. Mandi
  3. Memakai parfum (hanya bagi laki-laki)
  4. Mengenakan pakaian ihram
  5. Perjalanan menuju Makkah

  Memperbanyak talbiyah

لبيك اللهم لبيك  –لبيك لاشريك لك لبيك – إن الحمد والنعمة لك والملك لاشريك لك

  1. Tiba di Makkah dan memasuki Baitul Haram
  2. Mandi sebelum masuk Makkah (jika demikian mudah bagimu)
  3. Mendahulukan kaki kanan ketika masuk Masjid Haram

Sambil baca Bismillah wassalatu wassalamu ala Rasulillah, Allahummaftaf li abwaba rahmatik

  1. Berhenti membaca talbiyah ketika tiba di ka`bah sebelum memulai ibadah tawaf
  2. Melakukan idhthiba` ketika tawaf saja yaitu dengan meletakkan bagian tengah selendang di bawah pundak kanan, sedangkan dua ujungnya di atas pundak kiri.
  3. Mengusap Hajarul Aswad

Setiap anda sampai sejajar dengan hajarul aswad pada putaran thawaf berikutnya, maka usaplah ia dengan tangan kananmu dan ciumlah atau berikan isyarat tangan ke arahnya (tanpa dicium) lalu ucapkan:

بسم الله والله اكبر

  1. Thawaf
  2. Melakukan tarammul pada tiga putaran pertama. Tarammul adalah berjalan dengan cepat dengan cara memendekkan langkah.
  3. Berjalan pada putaran thawaf selanjutnya dengan zikir kepada Allah dan berdoa atau membaca al-Quran.
  4. Mengusap rukun yamani dengan tangan kanan seraya mengucapkan:

بسم الله والله اكبر

  1. Di antara hajarul aswad denga rukun yamani mengucapkan:

ربنا اتنا فى الدنيا حسنة وفى الاخرة حسنة وقنا عذاب النار

  1. Maqam Ibrahim
  2. Jika selesai menunaikan thawaf, maka tutuplah pundak mu dan mendekatlah ke Maqam Ibrahim lalu membaca
  3. مقام إبراهيم مًصلى : واتخِذوا من
  4. Menunaikan shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim jika hal itu mudah dilakukan, atau bagian manapun dalam masjid dengan membaca surat al-Kafirun  pada rakaat pertama dan membaca surat al-Ikhlas pada rakaat kedua.
  5. Setelah itu kembali ke hajarul aswad dengan menciumnya atau memberi isyarat kepadanya.

  1. Sa`i di antara Shafa dan Marwah
    1. Selesai shalat di belakang maqam ibrahim, lalu pergi ke shafa, setelah dekat baca

إن الصفا والمروة من شعائر الله فمن حج البيت اواعتمر فلا جناح عليه أن يطوف بهما ومن تطوع خيرا فإن الله شاكر عليم (البقرة 158)

            Lalu ucapkan:

نبدأ بما بدأ الله

  1. Mendaki bukit shafa, lalu mengahadap kiblat mengucapkan:

الله اكبر الله اكبر الله اكبر لا اله الا الله وحده لا شريك له  -

 له الملك وله الحمد يحيِى ويميت وهو على كل شيء قدير

لا اله الا الله  أنجز وعده ونصر عبده وهزم الاحزاب وحده

Lalu anda berdoa dengan doa-doa yang mudah, lalu mengulang-ulang dzikir dan doa sebanyak tiga kali

  1. Mendaki bukit marwah, menghadap kiblat seraya mengucapkan:

الله اكبر الله اكبر الله اكبر لا اله الا الله وحده لا شريك له  -

    له الملك وله الحمد يحيِى ويميت وهو على كل شيء قدير لا اله الا الله  أنجز وعده ونصر عبده وهزم الاحزاب وحده

  1. Melakukan sa`i tujuh kali dari shafa hingga marwah dihitung satu kali, dari marwah hingga shafa dihitung satu kali, hendaknya memperbanyak doa dan dzikir ketika melakukan sa`i.

Caranya berjalan sebelum dua tanda hijau, selanjutnya berjalan cepat antara dua tanda hijau dan hal ini khusus bagi laki-laki, kemudian berjalan biasa setelah tanda hijau. Mengulang cara yang demikian itu pada setiap putaran.

  1. Tahallul dari Umrah
  • Menggundul rambut atau memendekkannya. Menggundul rambut lebih utama kecuali jika waktu haji telah dekat, maka memendekkannya lebih utama.
  • Bagi seorang wanita tahallulnya dengan memotong setiap jalinan rambutnya seukuran ujung jari kuku atau lebih sedikit dari itu.

  1. Tidak mengerjakan Umrah Berulang-ulang Dalam Satu Pekerjaan ke Makkah

Setiap orang yang pergi ke Makkah tintuk melaksanakan umrah/haji, akan menjumpai sebagian kaum Muslimin yang mengerjakan umrah berulang-ulang setelah mengerjakan umrah mereka yang pertama. Di antara mereka ada yang mengerjakannya Bari Tan’im (Masjid Aisyah) dan ada juga yang mengerjakannya dari Ji’ranah. Perlu dijelaskan di sini bahwa perbuatan tersebut pada hakikatnya tidak pernah dicontohkan Nabi kita, Muhammad saw dan para Sahabat beliau serta para ularna Salafush Shalih. Bahkan di antara mereka ada yang melarang atau memakruhkannya.

Thawus, salah se-orang murid besar Abdullah bin Abbas berkata tentang mereka yang berumrah dari Tan’im: “Aku tidak mengetahui, apakah orang-orang yang mengerjakan umrah dari Tan’im akan diberi pahala atas umrahnya atau diadzab!”

Ditanyakan kepada beliau, Mengapa diazab? Beliau menjawab, Karena ia meninggalkan thawaf di Baitullah dan keluar ke tempat berjarak sejauh 4 mil, lalu kembali lagi. Padahal waktu 4 mil itu sama dengan thawaf 200 kali. Thawaf di Baitullah tentu lebih afdhal daripada berjalan tanpa berbuat sesuatu. Pendapat ini disetujui oleh Imam Ahmad bin Hambal.

Atha` bin as-Saib berkata: Kami pernah mengerjakan umrah setelah melaksanakan haji, maka kami dicela oleh Sa`id bin Jubair.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata: Seumur hidupnya, Rasul tidak pernah mengerjakan umrah dengan cara keluar dari kota Makkah sebagaimana yang dilakukan banyak orang pada zaman ini. Akan tetapi umrah beliau semuanya adalah dengan sengaja memasuki kota Makkah.

Adapun umrah yang dikerjakan oleh Aisyah ra dari Tan`im atas perintah Rasulullah, dapat dijelaskan sebagai berikut:

Tatkala Aisyah melaksanakan haji bersama Rasulullah pada haji wada`, tiba di sebuah tempat dekat kota Makkah bernama SARIFA, ia haidh, sehingga tidak mungkin menyempurnakan umrah tamattu`nya. Karena itu Rasulullah pun memerintahkannya untuk ber-ihlal haji ( maksudnya langsung berniat haji digabungkan dengan umrah yang belum diselesaikannya karena haidh. Dengan demikian jenis haji Aisyah berubah menjadi haji Qiran) dan melakukan semua yang dikerjakan oleh jamaah haji kecuali thawaf di Baitullah dan shalat, sebab kedua amalan tersebut tidak boleh dikerjakan kecuali setelah bersih dan suci dari haidh.

Apa yang diperintahkan Rasulullah dikerjakan oleh Aisyah. Setelah suci dari haidhnya, ia thawaf di Baitullah dan sa`i di antara shafa dan marwah sehingga beliau berkata kepadanya” Engkau telah tahallul dari haji dan umrahmu semua.

Aisyah menyatakan” Wahai Rasulullah, aku merasakan sesuatu di dalam diriku. Aku tidak thawaf di Baitullah hingga aku mengerjakan haji.

Ketika itu adalah harl pulangnya (jamaah haji), maka Aisyah pun enggan, lalu bertanya: `Apa orang-orang pulang dengan meraih dua pahala sedang aku pulang dengan satu pahala?’ Pada redaksi yang lain la berkata: `Orang-orang pulang dengan membawa dua nusuk (haji dan umrah) dan aku dengan satu nusuk (haji) saja?’ (HR Ahmad).

Rasulullah saw adalah seorang yang mempermudah dan jika Aisyah ingin sesuatu, maka beliau turuti. Maka beliau menyuruh Abdurrahman (saudara Aisyah) untuk mengantar Aisyah ke Tan’im. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah berkata kepada Abdurrahman:

“Wahal Abdurrahman, antarkan saudarimu Aisyah, lalu biarkan dia umrah dari Tan’im, Jika kamu telah turun dengannya dari bukit, maka suruhlah la berlhram, karena sungguh itu adalah umrah yang diterima.”( HR. Abu Dawud dan Hakim )

Dari penjelasan di atas, kita dapat mengetahui bahwa Aisyah melaksanakan umrah  setelah haji dari Tan’im atas perintah Rasulullah. sebagai ganti bagi umrah tamattu’ yang tidak sempat dikerjakannya karena beliau haidh. Jadi, jelaslah bahwa umrah yang dikerjakan setelah haji adalah umrah  yang khusus untuk wanita haidh yang tidak sempat mengerjakan umrah tamattu’.

Ibnul Qayyim berkata: “Dari semua yang hadir bersama Nabi, tidak ada seorang pun yang mengerjakan umrah tersebut di zaman beliau kecuali Alsyah.

Bahkan Abdurrahman bin Abu Bakar yang mengantar Aisyah ke Tan’im, tidak mengerjakan umrah. Sekiranya umrah tersebut baik dan afdhal tentunya Abdurrahman ikut mengerjakannya.

Dalam masalah ini, Syaikh al-Albani berkata: “Dengan demikian, jelaslah bagi Anda bahwa umrah tersebut khusus untuk wanita haidh yang tidak sempat melaksanakan umrah tamattu’ dan tidak disyariatkan bagi para wanita yang suci, apalagi bagi kaum laki-laki.

Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa umrah berulang-ulang (tan`im/ Ji`ranah) adalah bid`ah, tidak pernah dilakukan oleh salafus shalih dan tidak terdapat perintah dan dalil syar`I yang mensunnahkannya, maka dengan demikian perbuatan itu merupakan bid`ah dengan kesepakatan para ulama.

  1. Thawaf Wada` pada Umrah Biasa

Tidak ada thawaf Wada` pada ibadah umrah biasa. Thawaf ini hanya dilakukan pada ibadah haji.

Tidak ada amalan ketika Anda hendak meninggalkan Masjidil Haram atau Makkah selain yang telah disyari`atkan.

Amalan yang disyari`atkan tersebut adalah keluar dari Masjidil Haram dengan mendahulukan kaki kiri serta mengucap do`a berikut:

اللهم صل وسلم على محمد اللهم إنّي أسألُك من فضلِك

“Ya Allah, semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada Nabi Muhammad. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu karunia-Mu.”(H.R. Muslim)

Setelah kembali dan sampai di negeri anda, bersegeralah mendatangi masjid dan kerjakanlah shalat sebanyak dua rakaat. Ini sebagai ungkapan syukur anda kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan, yang berupa amal shaleh, kesehatan dan keselamatan.

  1. Hukum badal haji, waktu, dan orang yang membadalkan.

 

Badal haji adalah ibadah haji yang dilaksanakan oleh seseorang atas nama orang lain yang telah memiliki kewajiban  untuk menunaikan ibadah haji, namun karena orang tersebut uzur(berhalangan) sehingga tidak dapat melaksanakannya sendiri, maka pelaksanaan ibadah tersebut didelegasikan kepada orang lain.

Badal haji ini menjadi masalah mengingat ada beberapa ayat Al-Qur’an yang dapat difahami bahwa seseorang hanya akan mendapatkan pahala dari hasil usahanya sendiri. Artinya, seseorang tidak dapat melakukan suatu peribadatan untuk orang lain, pahala dari peribadatan itu tetap bagi orang yang melakukannya bukan bagi orang lain. Disamping itu ada juga Hadits Nabi saw yang menerangkan babwa seorang anak dapat melaksanakan ibadah haji untuk orang tuanya atau seseorang melaksanakan haji untuk saudaranya yang  telah uzar baik karena sakit, usia tua atau telah meninggal dunia, padahal ia sudah berkewajiban untuk menunaikan ibadah haji.

Adapun ayat-ayat Al-Qur’an yang  dimaksud antara lain:

  1. Surat Al-Baqarah ayat 286:

Artinya “…ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya, dan la mendapat siksa (dari kejahatan) yang di kerjakannya …”(Qs. Al-Baqarah [2]: 286)

  1. Surat Yasin ayat 54:

Artinya:”Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun, dan kamu tidak dibalas kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.”(Qs. Yasin [36]: 54)

  1. Surat An-Najm ayat 38 dan 39:

Art nya: “(yaitu) bahwasanya seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya seseorang manusia tidak memperoleh sesuatu selain dari apa yang telah diusahakannya. (Qs. An-Najm [53]: 38-39)

     Adapun Hadits-Hadits yang dapat dijadikan acuan atau memberi petunjuk dibolehkannya seorang anak menunaikan ibadah haji atas nama orang tuanya dan seseorang melaksanakan haji untuk saudaranya diantaranya adalah:

Arti nya:”Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., bahwa seorang perempuan datang kepada Nabi saw,lalu berkata : Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk berhaji, lalu la meninggal dunia sebelum ia melaksanakan haji, apakah saya harus menghajikannya? Nabi saw bersabda: Ya hajikanlah untuknya, bagaimana pendapatmu seandainya ibumu memiliki tanggungan hutang, apakah kamu akan melunasinya? la menjawab: Ya. Lalu Rasulullah saw bersabda: Tunaikanlah hutang (janji) kepada Allah, karena sesungguhnya hutang kepada Allah lebih berhak untuk dipenuhi.”[HR. al-Bukhari]

  Arti nya:”Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., apabila seorang manusia meninggal dunia, terputuslah amal perbuatannya kecuali tiga hal; shadagah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakannya.”[HR. Muslim]

 Artinya:”Bahwasanya seorang wanita dari Khas’am berkata kepada Rasulullah saw: Ya Rasulullah sesungguhnya ayahku telah tua renta, baginya ada kewajiban Allah dalam berhaji, dan dia tidak bisa duduk tegak di atas punggung onta. Lalu Nabi saw bersabda: Hajikanlah dia.” [ H R. Muslim dan jamaah ahli Hadits]

Artinya: “Seorang taki-laki dari bani Khas’am menghadap kepada Rasulullah saw, la berkata: Sesungguhnya ayahku masuk islam pada waktu la telah tua, dia tidak dapat naik kendaraan untuk haji yang diwajibkan, bolehkan aku menghajikannya? Nabi saw bersabda: Apakah kamu anak tertua? Orang itu menjawab: Ya. Nabi saw bersabda: Bagaimana pendapatmu jika ayahmu mempunyai hutang, lalu  Engkau membayar hutang itu untuknya, apakah itu cukup sebagai gantinya? Orang itu menjawab: Ya. Maka Nabi saw bersabda: Hajikaniah dia.”(HR Ahmad)

Para ulama berbeda pendapat dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits-Hadits tersebut di atas. Ada yang berpendapat bahwa Hadits-Hadits tersebut bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an Oleh karena itu, Hadits-Hadits tersebut tidak dapat diamalkan. Hadits-Hadits itu zhanni sedangkan ayat Al-Qur’an gath’i. Pendapat ini didukung oleh ulama Hanafiyah. Ulama’ lain seperti Ibnu Hazm berpendapat bahwa Hadits Ahad mempunyai kekuatan gath’I sehingga dapat mengecualikan atau mengkhususkan ayat Al-Qur’an. Pendapat ketiga dikemukakan oleh ulama Mutakallimin khususnya ulama Syafi’iyah yang mengatakan bahwa Hadits Ahad apalagi Hadits Mutawatir dapat mentakhsis atau mengecualikan ayat-ayat Al-Qur’an. Oleh karena itu, menurut mereka anak bahkan orang lain pun dapat melaksanakan haji atas nama orang tuanya atau orang lain. Pelaksanaan haji yang demikian ini disebut “badal haji” atau “haji amanat”.

Sejauh yang dapat difahami dari pendapat di kalangan ulama Tarjih Muhammadiyah, Hadits Ahad dapat mentakhsis ayat Al-Qur’an, yakni sebagal bayan (penjelas). Contohnya dalam masalah wakaf, Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah menetapkan bahwa orang yang berwakaf  akan tetap mengalir pahalanya sekalipun la telah meninggal dunia berdasarkan Hadits riwayat Muslim yang menyatakan bahwa apabila manusia meninggal dunia putuslah amalnya kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak  shalih yang selalu mendoakan kedua orangtuanya, sebagaimana dikutip di atas.

Hadits ini secara lahiriyah tampak bertentangan dengan ayat-ayat Ai-Qur’an tersebut di atas, namun Hadits ini juga dapat diartikan sebagai takhsis (pengkhususan) atau bayan (penjelas) terhadap ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.

Dengan memperhatikan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits-Hadits serta keterangan di atas, maka haji bagi seseorang yang telah memenuhi kewajiban haji tetapi tidak dapat melakukannya karena udzuratau karena sudah meninggal dunia padahal la sudah berniat atau bemazar untuk menunaikan ibadah haji, hanya dapat dilakukan oleh anak dan saudaranya (ahli warisnya) pada asyhuri al-hafj(musim haji), hanya saja pengganti harus telah berhaji terlebih dahulu, sebagaimana dijelaskan dalam Hadits berikutini:

Artin ya  .. diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwasanya Nabi saw mendengar seseorang berkata labbaik (aku dating memenuhi panggilanmu) dari (untuk) Syubrumah. Rasulullah saw bertanya; Siapakah Syubrumah itu, ia menjawab; saudaraku atau kerabatku, lalu Rasulullah bertanya; Apakah kamu sudah berhaji untuk dirimu? la menjawab; Belum. Lalu Rasulullah saw bersabda; Berhajilah untuk diri- mu (terlebih dahulu) kemudian kamu berhaji untuk Syubrumah.”( H R Abu Dawud dan Ibnu Majah)

  1. Badal Umrah

 Para ulama sepakat bahwa umrah hukumnya sunnah, sehingga tidak ada kewajiban bagi seseorang atau ahli waris untuk mengumrahkan orang tuanya yang sudah udzur atau meninggal dunia. Kecuali jika orang tuanya pernah bernazar untuk melaksanakan umrah, maka anaknya (ahli warisnya) yang memiliki kemampuan harus menunaikan nazar kedua orang tuanya. Hal tersebut didasarkan pada Hadits-Hadits tersebut di atas dan Hadits berkut ini:

Artinya: “Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra., dari Nabi saw bersabda: Barangsiapa  yang bernazar untuk mentaati Allah maka  hendaknya ditaati (ditunaikan), dan barangsiapa bernazar untuk bermaksiat ke pada Allah maka janganlah la (tunaikan  nazarnya) untuk berbuat maksiat.” ( H R . al-Bukhari dan jamaah ahli Hadits)

 Waktu antara umrah ke umrah berikut  nya dan hukum bagi jamaah haji yang melakukan umrah beberapa kali saat di Makkah ?

 Waktu pelaksanaan umrah tidak ditentukan secara khusus. Umrah dapat dilakukan kapan saja, baik pada musim haji maupun di luar asyhur al-haj/(bulan-bulan haji). Sehingga bagi orang yang memiliki kemampuan baik secara finansial, fisik maupun transportasi dapat melakukannya”kapan saja” dengan memperhatikan kewajiban-kewajiban yang lain baik kepada  keluarga, kerabat maupun lingkungan sosiainya, sehingga ia tidak hanya mementingkan dirinya sendiri namun juga orang lain. Jika ia sudah berkali-kali melaksana kan umrah dengan kemampuan materi yang dimilikinya, hendaknya la mengajak atau memberikan kesempatan (bantuan) kepada orang untuk melaksanakannya, dan hal tersebut tidak akan mengurangi pahala dan kebaikan yang akan didapatkannya. Sedangkan bagi orang yang sedang melaksanakan ibadah haji, ada beberapa ketentuan yang harus diperhatikan seputar pelaksanaan umrah terutama menjelang melaksanakan haji.

 Sebelum menjawab substansi pertanyaan yang ketiga, perlu difahami terlebih dahulu pengertian umrah berkali-kali bagi jama’ah haji tersebut. Bahwa yang dimaksud dengan umrah berkali-kaii menjelang ibadah haji di sini adalah umrah yang dilaksanakan berkali-kali oleh jamaah haji setelah mereka melakukan umrah dalam melakukan haji tamattu’. Umrah ini dilaksanakan dalam rangkaian ibadah haji guna mengisi waktu senggang sebelum melaksanakan ibadah haji pada tanggai 8 Dzulhijjah. Umrah seperti ini juga disebut dengan umrah Makkiyah, yakni umrah yang dilaksanakan oleh jamaah haji dari luar Makkah yang sedang berada di kota Makkah. Mereka keluar dari Tanah Haram seperti Tan’im dan Ji’ranah, Ialu melakukan ihram untuk umrah dari tempat tersebut.

Jamaah haji yang melakukan umrah dari Tan’im atau Ji’ranah tersebut berlandaskan pada adanya izin dari Nabi saw kepada ‘Aisyah untuk meiakukan umrah dengan diantar oieh saudaranya yang bernama Abdurrahman bin Abi Bakar. Pada saat itu Nabi saw beserta para sahabat akan meninggalkan Makkah menuju Madinah seusai melaksanakan ibadah haji. Saat itu ‘Aisyah gelisah karena pada waktu tiba di Makkah ia tidak dapat menyempurnakan umrahnya dengan thawaf, karena haid. Kegelisahan ini kemudian disampaikan kepada Rasulullah saw, dengan mengatakan bahwa orang lain bisa melakukan ibadah haji dan umrah dengan sempuma, sedangkan la hanya ibadah haji saja. Mendengar keluhan ‘Aisyah ini, kemudian Nabi saw menyuruh Abdurrahman bin Abi Bakar mengantarkannya ke Tan’im melakukan Umrah

Artinya: “… ( Aisyah ra) berkata: Aku sendiri termasuk orang yang berniat ihram untuk umrah dan kita semua meninggalkan Madinah sampai dating di Makkah. Pada saat datangnya hari atau waktu Arafah saya haid, sehingga saya tidak dapat tahallul untuk umrahku. Aku mengadu kepada Nabi saw, lalu Nabi bersabda: Tinggalkan umrahmu dan lepaskan rambutmu dan bersisirlah kemudian niatlah ihram untuk haji. Selanjutnya Aisyah berkata: Akupun  mengerjakannya, dan setelah sampai malam Hasabah  sesudah hari tasyrig)  dan setelah kami selesai ibadah haji,  Nabi saw menyuruh Abdurrahman bin Abi Bakar memboncengkan aku keluar ke Tan’im dan akupun ihram untuk umrah dan selesai. Maka Allah telah menentukan selesai haji dan umrah kami. Dalam hal ini tidak diperlukan membayar dam (menyembelih hewan), membayar sadagah ataupun berpuasa.” ( H R Muslim)

Berdasarkan Hadits di atas, jelas bahwa umrah tersebut dilakukan sesudah selesai haji dan dalam rangka menyempurnakan umrah sebelumnya. Nabi saw tidak memberikan tuntunan dan tidak menyuruh para sahabat untuk melakukan umrah berkali-kali dalam musim haji sebelum waktu wukuf di Arafah. Oleh karena itu, umrah seperti itu tidak perlu dilaksanakan. Amalan-amalan yang dianjurkan kepada jama’ah haji adalah tadarrus al-Qu’an, memperbanyak do’a atau thawaf di masjidil haram. Adapun melaksanakan umrah selesai ibadah haji boleh saja dilakukan.

  1. DAM

Pengertian DAM

Dam secara makna kebahasaan dam berarti darah. Sedangkan menurut istilah syara’, dam adalah mengalirkan darah ( menyembelih ) binatang tertentu sebagai denda ( sanksi ) karena pelanggaran terhadap larangan atau meninggalkan sesuatu yang diperintahkan atau meninggalkan suatu tata cara yang lebih utama atau karena terhalang dalam pelaksanaan ibadah haji atau umroh.

Sebenarnya, sanksi yang diberikan atas tindakan – tindakan yang disebutkan diatas bukan hanya menyembelih hewan tertentu, melainkan terdapat juga bentuk – bentuk sanksi lain yang disediakan , seperti Puasa, memberikan harga hewan kurban kepada fakir miskin. Namun, semua bentuk sanksi yang lain itu hanya sebagai alternatif pengganti apabila penyembelihan hewan tidak dapat dilaksanakan.

 Kewajiban membayar DAM disebabkan oleh tiga hal:

  1. Diwajibkan membayar dam karena mengerjakan hal – hal yang dilarang. Yang termasuk dalam hal – hal sebagai berikut :
  1. Memakai pakaian berjahit bagi pria ketika sedang melakukan ihram. Yang dimaksud pakaian berjahit disini adalah jahitan tersebut menyatukan dua ujung kain ihram sehingga membentuk sarung.
  2. Menutup kepala bagi pria dan memutup muka dan telapak tangan bagi wanita yang sedang melaksanakan ihram.
  3. Memakai wangi – wangian pada badan atau pakaian ketika dalam melaksanakn ihram, seperti memakain minyak kesthuri.
  4. Memotong atau menghilangkan rambut atau bulu badan dan kuku selama dalam melaksanakan ihram.
  5. Melakukan akad nikah ketika sedang ihram.
  6. Bersenggama atau melakukan pendahuluan bagi persenggamaan, seperti menciuim, meraba dan lain – lain.
  7. Melakukan tawaf dalam keadaan junub, haid, atau nifas.
  8. Membunuh binatang buruan.
  9. Memotong tumbuh – tumbuhan yang masih hidup ketika sedang ihram.
  1. Diwajibkan  membayar dam karena meninggalkan sesuatu yang diperintahkan. Yang termasuk dalam kategori ini adalah meninggalkan hal – hal yang menjadi wajib haji, yaitu :
  1. Tidak melaksanakn ihram sesuai dengan miqat ( waktu dan tempat untuk melaksanakn ihram ).
  2. Meninggalkan hadir di muzdalifah.
  3. Meninggalkan melontar jumrah, yaitu jumroh ‘aqabah pada hari nahar 10 dzulhijjah dan melontar ketiga jumrah pada setiap hari dari hari hari tasyri’, yakni tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah.
  4. Meninggalkan mabit di mina.
  1. Diwajibkan membayar dam karena meninggalkan tata cara pelaksaan haji yang lebih utama. Yang termasuk dalam kategori ini adalah hal – hal sebagai berikut :
  1. Melaksanakan haji dengan cara tamattu’ , yakni mendahulukan pelaksanaan umroh pada musim haji, kemudian melaksanakan haji.
  2. Melaksanakan haji dengan cara qiran, yakni mengerjakan haji dan umroh pada musim haji secara bersamaan. Sebagian besar ulama telah menyatakan bahwa tata cara pelaksaan haji yang utama adalah dengan cara haji ifrad, yaitu mendahulukan pelaksaan haji dan kemudian melaksanakan umroh pada musim haji tersebut.
  1. Diwajibkan membayar dam karena terhalang dalam perjalanan haji. Ketentuan ini didasarkan kepada firman Allah SWT dalam Al – Quran surat Al – Baqarah (2) ayat 196 yang artinya :

“ Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Jika kamu terkepung ( terhalang oleh musuh atau karena sakit ), maka sembelihlah kurban yang mudah didapat dan janganlah kamu mencukur kepalamu sebelum kurban sampai ketempat penyembelihan… “

Bagi orang yang melakukan tindakan – tindakan yang melanggar seperti tersebut diatas, maka diwajibkan atasnya membayar dam sesuai dengan ketentua syara’.

Ditinjau jenis dan bentuknya, dam dapat dibagi kepada empat jenis. Jenis dan bentuk dam serta ketentuan pemberlakuannya dapat dilihat pada keterangan dibawah ini :

  1. Dam tartib wa taqdir, yakni dam yang wajib dibayar dalam bentuk dan tertib tertentu. Dam kategori ini tidak boleh dibayar dalam bentuk lain kecuali seseorang tidak mampu atau ada halangan untuk membayarnya, maka dibolehkan membayar dalam bentuk lain sesuai dengan yang telah di tentukan oleh syara’. Dam jenis ini berlaku atas : melaksanakan haji dengan cara haji tamattu’, melaksanakan haji denga cara haji qiran, melakukan ihram dengan meninggalkan miqat (tempat/waktu) nya, meninggalkan lontar jumrah, meninggalkan bermalam di muzdalifah, meninggalkan bermalam di mina, meninggalkan tawaf wada’, ketinggalan hadir dipadang arafah. Adapun bentuk dam nya ialah :
  1. Menyembelih seekor kambing yang sah untuk kurban.
  2. Kalau tidak sanggup menyembelih kambing, maka khusus bagi pelaku haji tamattu’ dan orang yang melakukan ihram tidak pada miqat nya, wajib berpuasa sepuluh hari dengan ketentuan tiga hari dikerjakan dalam masa haji, tujuh hari lainnya dikerjakan setelah sampai dikampung halaman. Sedangkan bagi pelanggaran yang selebihnya wajib melaksanakan puasa sehabis hari tasyriq (setalah 13 dzulhijjah). Dalilnya yaitu firman Allah SWT dalam al-Quran surat Al-baqarah (2) ayat 196yang artinya:

“ Barang siapa bersenang – senang dengan mendahulukan umrah (dibulan haji) sebelum melaksanakn haji, maka (wajiblah ia menyembelih) hadyu (kurban) yang mudah didapat. Barang siapa yang tidak memperoleh (tidak mendapatkan hewan kurban atau tidak mampu), maka wajiblah dia berpuasa tiga hari diwaktu haji, dan tujuh hari bapabila ia sudah kembali kekampungnya. Itulah sepuluh hari yang sempurna.”

Ayat ini secara jelas menentukan bentuk dam dan cara pelaksanaanya bagi pelaku haji tamattu’.

  1. KESEHATAN JAMAAH HAJI

Hidup sehat merupakan  hidup tanpa permasalahan kesehatan baik berupa penyakit fisik  maupun non fisik (kondisi jiwa, pikiran dan hati).Perilaku yang sehat merupakan tindakan yang dilakukan oleh individu untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan.

Kesehatan yang harus diperhatikan calon haji meliputi:

  1. Sebelum melaksanakan perjalanan ibadah haji

Calon jamaah haji harus menjaga kesehatan fisik dan mental sesuai tuntunan Islam. Cara yang paling baik adalah mengikuti pola hidup rasulullah :

  1. Membiasakan menghirup udara segar dipagi hari
  2. Bersiwak dan memebersihkan diri
  3. Minum segelas air dan bila perlu dicampur sesendok madu
  4. Tidak pernah banyak makan
  5. Gemar berjalan kaki (olahraga)
  6. Tidak pemarah
  7. Optimis dan tidak putus asa
  8. Tidak pernah iri hati

Bagi calon haji yang mempunyai penyakit kronis atau sudah rutin menggunakan obat-obatan  harus kontrol secara teratur ke dokter. Ikuti semua program pencegahan penyakit dari pemerintah.

  1. Selama berhaji di tanah suci
  2. Obat-obatan yang digunakan dan dibawa selama haji maka wajib dilaporkan kepada dokter petugas haji.
  3. Di dalam pesawat: sering bergerak dan tidak statis, lakukan valsava maneuver bila telinga sakit/ berdenging, jangan menahan bak dan bab, istirahat cukup
  4. Di tanah suci : tidak memaksakan ibadah, menjaga stamina sampai ibadah di Arafah-Musdalifah-Mina
  5. Selalu menggunakan masker dan tubuh sering dibasahi air
  6. Selalu mencuci tangan sebelum makan dan minum
  7. Makan dan minum secukupnya, perbanyak buah dan sayur
  8. Tidak makan dan minum apapun yang tidak pernah diketahui di tanah air
  9. Tidak melakukan ibadah yang tidak ada tuntunannya dari rasulullah

  1. Setelah pulang ke tanah air
  2. Memelihara diri sebagai individu yang mendapatkan haji yang mabrur
  3. Melaksanakan The nine golden habits (dari rasulullah)

1). Shalat wajib dan sunnah tepat waktu.

2)  Puasa

  • Zis.
  • Membaca alquran
  • Gemar membaca
  • Tertib berorganisasi
  • Mendatangi majelis ilmu (pengajian, seminar, dll)
  • Melaksanakan adab Islam
  • Berpikiran positif dan murah senyum.

  1. Keutamaan Haji dan Umrah
    1. Kembali ke fitrah

مَنْ حجَ هذا البيتَ فلمْ يرفُثْ ولم يفسُقْ رجَعَ كيَومٍ ولدَتْه أُمُه رواه البخارى ومسلم

 ( Hadits al-Buhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

  1. Sebagai pelebur dosa.

العمرةُ إلى العمرةِ كَفارَةٌ لِما بينهما رواه البخارى ومسلم

  1. Menghapuskan dosa-dosa sebelumnya.

وأنّ الحجً يهْدِمُ ما كان قبْلَه رواه مسلم

  1. Melenyapkan kefakiran dan kemiskinan.

       تابعوا بين الحج والعمرة فإنهما ينفيان الفقر والذنوب رواه النسأ وأحمد والترمذى

Iringilah pelaksanaan haji dengan umrah karena keduanya dapat melenyapkan kefakiran dan dosa-dosa.

5     Haji dan Umrah adalah jihad para wanita

علَيهِن جِهادٌ لا قِتالَ فيه الحجُ والعمرةُ رواه احمد وابن ماجه

Mereka wajib jihad yang tiada peperangan di dalamnya yaitu haji dan umrah

  • Orang yang berhaji dan umrah adalah tamu Allah.

وفد الله ثلاث الغَازِى والحجُ والمُعتمر رواه الخزيمة

Tamu Allah ada tiga, orang yang berperang di jalan Allah, orang yang menunaikan haji dan orang yang berumrah.

  1. Doa orang yang berhaji dan umrah dikabulkan Allah

 الغازى فى سبيل الله والحجُ والمُعتمرُ وفْدُ اللهِ دَعاهم

فَاَجابُوه وسَأَلُوه فأَعْطاهم رواه ابن ماجه وابن حبان

Orang yang berperang di jalan Allah, Orang yang menunaikan ibadah haji dan umrah, mereka adalah para tamu Allah, Dia memanggil mereka, merekapun menjawab panggilanNya dan mereka memohon kepadaNya, Diapun memberikan kepada mereka.

  1. Orang yang meninggal dunia ketika pergi melaksanakan haji dan umrah akan dicatat baginya pahala haji dan umrah sampai hari kiamat. )Hadits riwayat Abu Ya`la dalam al-musnad)
  2. Infaq atau biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan ibadah haji dan umrah punya keutamaan tersendiri di sisi Allah.

إن لكِ مِنَ الاَجْرِ على قدْرِ نَصَبِك ونَفَقَتِك إنما أجْرُكِ فى عُمْرَتِك على قدرِ نفقتِك

Sesungguhnya pahalamu sesuai dengan kadar kepayahanmu dan nafkahmu. Sesungguhnya pahalamu dalam umrahmu sesuai dengan kadar nafkahnya. (Riwayat al-Hakim)

  1. Pahala ibadah umrah yang dikerjakan di bulan ramadhan sebanding dengan ibadah haji yang dikerjakan bersama Rasulullah’

عُمْرَةٌ فى رمضانَ تَقْضِى حَجْةً مَعِي  رواه البخارى

Umrah pada bulan ramadhan (pahalanya) menyamai pahala haji bersamaku.

DAFTAR  PUSTAKA

 

Ibnu Katsir, tahqiq Sami Salamah, Tafsir al-Qur-an al-Karim, Dar Thayyibah, 1428 H.

Divisi Terjemah Kantor Dakwah dan Penyuluhan bagi Pendatang al-Sulay- Bekal Bagi Jamaah Haji, Riyadh

Bukhari, Shahih al-Bukhari, Dar as-Salam, Riyadh, 1417 H.

Muslim, Shahih Muslim, Dar al Kutub al-Ilmiyyah, 1421 H.

Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, Maktabah al-Ma’arif.

Tirmidzi Sunan at-Tirmidzi, Maktabah al-Ma’arif.

Nasa`i, Sunan an-Nasa-i, Dar al-Fikr, 1398 H.

Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Maktabah al-Ma’arif.

Darimi, Sunan ad-Darimi, Dar al-Fikr, 1398 H.

Daraquthni, Sunan ad-Daraquthni, Dar al-Ma’rifah, 1422 H.

Baihaqi, Sunan al-Kubra, al-Baihaqi, Dar al-Ma’rifah

Imam Ahmad, All-Musnad, Imam Ahmad, Dar al-Fikr.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz dan Nashiruddin Al-Bani, Manasik Haji dan Umrah, Penerjemah, Asmuni, Riyadh

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Silsilah al-Ahadits ash-Shahibah,

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah,

Syaikh al-Albani, Manasikul Hajj wal Umrah fil Kitab was Sunnah wa Atsar as-Salaf,

Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah,

Mubarak bin Mahfudh, Meneladani Manasik Haji dan Umrah Rasulullah, Pustaka Imam asy-Syafi’i.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply