SISTEMATIKA PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH | Website BDK Palembang

SISTEMATIKA PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH

SISTEMATIKA PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH 

Oleh: RUDI HERMAWAN

PENDAHULUAN

Karya ilmiah merupakan karya tulis yang menyajikan gagasan, deskripsi atau pemecahan masalah secara sistematis, disajikan secara objektif dan jujur, dengan menggunakan bahasa baku, serta didukung oleh fakta, teori, dan bukti-bukti empirik lainnya. Tujuan penulisan karya ilmiah, antara lain untuk menyampaikan gagasan, memenuhi tugas dalam studi, untuk mendiskusikan gagasan dalam suatu pertemuan, mengikuti perlombaan, serta untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan/hasil penelitian. Karya ilmiah dapat berfungsi sebagai rujukan, untuk meningkatkan wawasan, serta menyebarluaskan ilmu pengetahuan. Bagi penulis/guru-guru, menulis karya ilmiah bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan membaca dan menulis, berlatih mengintegrasikan berbagai gagasan dan menyajikannya secara sistematik, memperluas wawasan, serta memberi kepuasan intelektual, disamping menyumbang terhadap perluasan cakrawala ilmu pengetahuan.

Saat ini menulis sebuah karya ilmiah merupakan yang urgen bagi guru-guru dalam memasuki sistem pendidikan nasional yang menuntut setiap guru dan kependidikan memiliki kinerja profesional. Maka kepada setiap guru dan kependidikan dituntut untuk memiliki kemampuan menulis karya ilmiah. Menulis karya ilmiah bagi tenaga pendidik khususnya kepada guru-guru, merupakan hal yang masih dianggap baru, sehingga tidak setiap guru memiliki kemampuan membuat karya tulis. Membuat karya tulis ilmiah tidak bisa dilakukan dalam waktu sesaat. Menulis adalah sebuah kebiasaan, maka dibutuhkan waktu yang panjang. Ironinya kebiasaan menulis ini masih sangat jarang terjadi pada guru-guru. Selama ini guru-guru hanya dituntut kompetensinya untuk melaksanakan tugas-tugas belajar dan pembelajaran di kelas saja. Setelah tugas guru menjadi sebuah profesi, maka ada empat kompetensi yang harus dimiliki oleh guru, yaitu kompetensi pedagogik, komptensi sosial, kompetensi kepribadian, dan kompetensi profesional.

Di dalam kompetensi profesional termuat kemampuan seorang guru untuk membuat karya tulis ilmiah. Bentuk karangan ilmiah di sini identik dengan jenis karya tulis keilmuan berupa makalah, laporan praktik kerja, kertas kerja, skripsi, tesis, dan disertasi. Pertama, makalah adalah adalah karya tulis ilmiah yang menyajikan masalah atau topik dan dibahas berdasarkan data di lapangan atau kepustakaan; data itu bersifat empiris dan objektif. Kedua, kertas kerja adalah karya tulis ilmiah yang bersifat lebih mendalam daripada makalah dengan menyajikan data di lapangan atau kepustakaan; data itu bersifat empiris dan objektif. Ketiga, skripsi adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasarkan pendapat orang lain (karya ilmiah S1). Karya ilmiah ini ditulis untuk meraih gelar sarjana. Langsung (observasi lapangan) skripsi tidak langsung (studi kepustakaan). Keempat, tesis adalah karya tulis ilmiah yang mengungkapkan pengetahuan baru dengan melakukan pengujian terhadap suatu hipotesis. Tesis ini sifatnya lebih mendalam daripada skripsi (karya ilmiah S2). Karya ilmiah ini ditulis untuk meraih gelar magister. Kelima, disertasi adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan teori atau dalil baru yang dapat dibuktikan berdasarkan fakta secara empiris dan objektif (karya ilmiah S3). Karya ilmiah ini ditulis untuk meraih gelar doktor.

Dari kelima jenis karya tulis ilmiah inilah seorang guru dapat memilih bentuk-bentuk jenis penulisan karya ilmiah. Tentu saja seorang guru dapat memilih berdasarkan tingkat kemampuannya. Meskipun kelima bentuk karya tulis ilmiah ini berbeda pada hal-hal tertentu, tetapi pada intinya secara umum semua karya tulis ilmiah itu memiliki kesamaan.

Bagian-Bagian dalam Tulisan Karya Ilmiah

Bagian-bagian karangan ilmiah meliputi berikut: kelengkapan awal, kelengkapan isi, dan kelengkapan akhir. Kelengkapan awal meliputi kulit luar, halaman judul, halaman pengesahan, halaman persembahan, abstrak (dalam bahasa Indonesia dan Inggris), kata pengantar, daftar tabel, daftar grafik, atau gambar (jika ada), serta daftar singkatan dan lambang. Kelengkapan isi meliputi pendahuluan, kajian teori, seputar lokasi objek penelitian (khusus praktik kerja), pembahasan, dan penutup. Kelengkapan akhir meliputi daftar pustaka, riwayat hidup penulis, penulisan indeks, dan lampiran.

Teknik Penomoran

Dalam memberikan nomor, harus diperhatikan hal-hal berikut.

1. Romawi Kecil

Penomoran dengan angka Romawi kecil dipakai untuk halaman judul, abstrak, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar grafik, serta daftar singkatan dan lambang.

Contoh: i, ii, iii, dan seterusnya.

2. Romawi Besar

Angka Romawi besar digunakan untuk menomori tajuk bab (bab pendahuluan, bab teoretis, bab metode dan objek penelitian, bab analisis data, dan bab penutup).

Contoh: I, II, III, dan seterusnya.

3. Penomoran dengan Angka Arab

Penomoran dengan angka Arab (0―9) dimulai dari bab I sampai dengan daftar pustaka (termasuk riwayat hidup dan lampiran).

4. Letak Penomoran

Setiap penomoran yang bertuliskan dengan huruf kapital, nomor halaman diletakkan atau berada di tengah-tengah, sedangkan untuk nomor selanjutnya berada di tepi batas (pias) kanan atas.

Contoh:

5. Sistem Penomoran

Sistem penomoran dengan angka Arab menggunakan sistem digital. Angka terakhir dalam sistem digital tidak diberikan titik, misalnya, 1.1 Latar Belakang Masalah, 3.2.2 Peranan Bahasa dalam Pembangunan. Akan tetapi, bila satu angka diberi tanda titik, misalnya, 1. Pendahuluan 2. Landasan Teori dan lain-lain (dalam makalah). Apabila ada penomoran sistem digital antara angka Arab dan huruf, harus dicantumkan titik, misalnya, 3.2.2.a.

Contoh:

Bab I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Masalah

2.1 Rumusan Masalah

3.1 Tujuan Penelitian

4.1 Manfaat Penelitian

 

Penutup

Penulisan karya ilmiah merupakan perihal yang sangat perlu bagi guru-guru dari tingkat pendidikan sekolah dasar sampai ke tenaga kependidikan di jenjang yang paling tinggi. Oleh karena karya tulis merupakan kebutuhan bagi guru-guru, maka mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap setiap guru harus mempelajari bagaimana teknik menulis karya ilmiah. Guru yang tidak memiliki kemampuan menulis karya ilmiah diperkirakan akan mengalami banyak hambatan dalam membina karier sebagai tenaga pendidik. Kinerja guru tidak hanya ditunjukkan oleh kompetensi mengajar di kelas saja, tetapi harus diikuti oleh kemampuan menuangkan ide-ide dan ikut memecahkan masalah pendidikan.  Hal ini hanya dapat dilakukan oleh guru dalam menyampaikan gagasan, memenuhi tugas dalam studi, untuk mendiskusikan gagasan dalam suatu pertemuan, mengikuti perlombaan, serta untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan/hasil penelitian.

DAFTAR RUJUKAN

Arifin, E. Zaenal, 1991. Penulisan Karya Ilmiah dengan Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta: Mediyatama Sarana Perkasa.

Djuharie, Otong Setiawan., dan Suherli. 2005. Panduan Membuat Karya Tulis: Resensu – Laporan Buku, Skripsi, Tesis, Artikel, Makalah, Berita, Esai, dan lain-lain. Bandung: Yrama Widya.

Djajasudarma, T. Fatimah, 1993, Metode Linguistik Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Bandung: PT Eresco.

Effendi, S., 1978. Pedoman Penulisan Laporan Penelitian. Jakarta: Pusat Bahasa.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply