Strategi Belajar Fisika dalam Kurikulum 2006 | Website BDK Palembang

Strategi Belajar Fisika dalam Kurikulum 2006

OLEH:

BASUKI

WIDYAISWARA BALAI DIKLAT KEAGAMAAN PALEMBANG

 

Abstrak

 

Seorang guru dapat memilih strategi yang sesuai dalam pembelajaran Fisika untuk pokok dan subpokok bahasan yang akan diajarkan. Namun, khusus pelajaran Fisika akan lebih tepat menggunakan strategi eksperimen atau demonstrasi. Dengan strategi tersebut, siswa akan mudah untuk menemukan konsep sendiri secara langsung dari pengalaman melakukan eksperimen. Dengan strategi eksperimen tidak berarti siswa harus belajar dan bekerja sendiri tanpa bimbingan dan pengawasan. Peran guru tetap penting dalam mengarahkan siswa untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Namun, sekarang telah muncul dan dikembangkan kurikulum 2006 dengan menggunakan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL). Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa.

 

Kata kunci: Fisika, Kurikulum.

A.   Strategi Belajar

Pembelajaran pada umumnya mengenal beberapa macam strategi, antara lain informasi/ceramah, diskusi, demonstrasi, eksperimen, dan tugas.

Antara strategi satu dan yang lain ada kelebihan dan kekurangannya. Kita tidak dapat mengatakan bahwa strategi atau metode eksperimen lebih unggul dari ceramah/informasi atau sebaliknya. Seorang guru dapat memilih strategi yang sesuai dalam pembelajaran Fisika untuk pokok dan subpokok bahasan yang akan diajarkan. Namun, khusus pelajaran Fisika akan lebih tepat menggunakan strategi eksperimen atau demonstrasi. Dengan strategi tersebut, siswa akan mudah untuk menemukan konsep sendiri secara langsung dari pengalaman melakukan eksperimen.

Apakah pembelajaran Fisika hanya sesuai dengan menggunakan kedua strategi tersebut? Tentu saja tidak. Pembelajaran Fisika akan lebih mengena apabila menggabungkan beberapa strategi pembelajaran. Dengan strategi eksperimen tidak berarti siswa harus belajar dan bekerja sendiri tanpa bimbingan dan pengawasan. Peran guru tetap penting dalam mengarahkan siswa untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Dengan melakukan eksperimen, siswa dilatih untuk melakukan kerja kelompok dan berdiskusi, mengeluarkan pendapat dan adu argumentasi sehingga siswa akan dapat menyimpulkan hasil kerja eksperimen atau menemukan konsep sendiri. Selain itu, dalam proses pembelajaran perlu banyak melibatkan dan mengaktifkan kegiatan tanya jawab dan diskusi.

B.   Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/ CTL)

Pada kurikulum sebelumnya, pendekatan yang dianggap sesuai dalam pembelajaran Fisika adalah dengan pendekatan keterampilan proses. Pendekatan ini pada Kurikulum 2006  diharapkan untuk tetap dapat diterapkan. Namun, sekarang telah muncul dan dikembangkan kurikulum 2006 dengan menggunakan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL). Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa. Hal itu mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan demikian, proses pembelajaran berlangsung secara alamiah, sebab siswa bekerja dan mengalami bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Dalam hal ini, strategi lebih dipentingkan daripada hasil. Melalui pendekatan CTL, siswa diharapkan belajar dengan “mengalami” bukan “menghafal”. Keterampilan dan pengetahuan diper-luas secara bertahap. Untuk itu, diperlukan lingkungan belajar yang mendukung, yaitu lingkungan belajar yang berpusat pada siswa.

Pembelajaran kontekstual mengandung tujuh komponen utama, yaitu konstruktivisme (constructivism), bertanya (quetioning), refleksi (reflection), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment). Hal-hal penting dalam pendekatan kontekstual (CTL) adalah sebagai berikut:

  • Siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran.
  • Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata atau masalah yang disimulasikan, bukan bersifat abstrak dan teoritis.
  • Perilaku dibangun atas kesadaran diri, bukan kebiasaan.
  • Hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasan diri, bukan pujian atau nilai rapor.
  • Penghargaan terhadap pengalaman siswa sangat diutamakan.
  • Siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi, bukan belajar secara individu.

Selain menguasai materi Fisika, siswa diharapkan juga dapat mengembangkan jati dirinya, mengenal lingkungannya, dapat ber-sosialisasi, dan juga peka terhadap lingkungan serta tahu akan hak dan kewajiban. Dengan demikian, belajar tidak hanya berlangsung di dalam lingkungan sekolah, tetapi juga dapat berlangsung di luar sekolah, di masyarakat, dan alam sekitar yang bertujuan untuk dapat mengembang­kan kreativitas siswa sendiri. Tidak dipungkiri, siswa yang kreatif akan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan dan tidak bergantung pada orang lain, la tidak mudah menyerah yang nantinya akan dapat menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

Keterampilan siswa bukan timbul secara tiba-tiba, melainkan perlu dilatih sejak dini. Keterampilan hidup (life skill) melalui pendekatan active learning perlu dikembangkan dari berbagai sector termasuk dalam pembelajaran Fisika. Salah satunya adalah kegiatan outbond (kegiatan di luar kelas). Kegiatan ini sangat baik diterapkan bagi siswa. Selain dapat mengenal lingkungan secara langsung, siswa dapat belajar lintas ilmu. Kegiatan ini dapat menanamkan sikap sosial kemasyarakatan dan juga sadar lingkungan. Dalam hal ini, pembelajaran Fisika tidak hanya mempelajari sesuatu yang berkaitan dengan Fisika, tetapi dapat dikaitkan dengan ilmu pengetahuan yang lain. Contoh yang sangat mendesak untuk ditangani adalah masalah lingkungan, yaitu pencemaran lingkungan, kerusakan alam, dan kerusakan hutan. Dengan demikian, siswa sekolah menengah nantinya menjadi pelopor untuk melestarikan lingkungan. Termasuk masalah lingkungan adalah pelestarian hutan, air, laut, dan memperbaiki kerusakan lingkungan.

Sangatlah penting membangkitkan motivasi siswa agar senang belajar dengan tidak ada tekanan dari pihak mana pun. Sesuatu yang dilakukan dengan motivasi tinggi dan rasa senang, hasilnya pasti akan lebih memuaskan.

C.   Bagaimana memotivasi siswa agar tertarik dan menyenangi Fisika?

Pengajar sekaligus pendidik yang baik tidak terlepas dari profil seorang guru. Seorang guru yang berwibawa, dekat dengan siswa, humoris, tidak menakutkan, menarik, pandai, disiplin, mengerti pada siswa, dan dapat sebagai panutan akan membuat siswa lebih mudah dan cepat menerima pelajaran. Membuat kesan bahwa pelajaran Fisika itu mudah dan perlu untuk dipelajari adalah penting. Setelah siswa tertarik dan termotivasi, segala sesuatu yang disarnpaikan, dianjurkan, dan diperintahkan akan dapat dilaksanakan dengan senang dan cepat tanpa ada rasa terbebani. Dengan kata lain, belajar bukan merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan, tetapi merupakan suatu kebutuhan yang menyenangkan.

Beberapa tips pembelajaran agar siswa senang dan tertarik belajar Fisika, antara lain guru Fisika dapat

  • bersikap santai, menarik, tetapi cepat dan efektif;
  • mampu mengaitkan materi pelajaran Fisika dengan peristiwa dalam kehidupan sehari-hari atau nyata;
  • menampilkan kesan pandai dan tahu segalanya (terutama materi pelajaran Fisika dan yang terkait) di hadapan siswa;
  • mengusahakan siswa terlibat dalam pembelajaran secara aktif dengan tanya jawab/diskusi;
  • melakukan demonstrasi disertai tanya jawab, hal ini selain untuk memahami materi juga memotivasi siswa;
  • Melakukan eksperimen atau demonstrasi dengan menggunakan peralatan yang sederhana terlebih dahulu kemudian dilengkapi dengan peralatan yang modern (kalau ada);
  • Menggunakan media yang bervariasi (gambar, charta, peralatan laboratorium, OHP, slide, VCD, komputer, terjun langsung di lapangan, kalau perlu darmawisata, dan Iain-lain);
  • Merancang peralatan demonstrasi atau eksperimen hasil kreasi guru untuk diperagakan di depan siswa yang tidak menutup kemungkinan melibatkan siswa untuk membuat peralatan. Misalnya, memanfaat-kan barang-barang bekas sebagai alat demonstrasi;
  • Memberi selingan dengan informasi tentang sejarah orang-orang terkenal khususnya penemu fisika dan hasil karyanya sehingga siswa akan tertank dan berusaha untuk mencontoh;
  • Melakukan diskusi untuk mengetahui bahwa fisika diperlukan dalam segala bidang ilmu (teknik, kedokteran, pertanian, peternakan, telekomunikasi, kimia, biofisika, dan biokimia) termasuk bidang ilmu ekonomi yang tidak luput dari penggunaan fisika dengan munculnya ilmu fisika ekonomi.

Dalam pembelajaran Fisika, tanya jawab dapat berfungsi untuk

  • Mengungkap/mengingat kembali rumus-rumus yang terkait sebelumnya;
  • Mengaitkan pembahasan yang baru berlangsung dengan kejadian sehari-hari;
  • Menghidupkan suasana kelas agar menjadi segar dan bergairah;
  • Mengingatkan siswa yang kurang perhatian/mengantuk;
  • Mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran;
  • Menyimpulkan hasil demonstrasi yang baru berlangsung.

Secara garis besar, strategi pembelajaran Fisika dalam KURIKULUM 2006 adalah menggunakan metode eksperimen, demonstrasi, dan diskusi. Guru perlu mengusahakan agar siswa dapat terjun di lapangan untuk memperoleh pengalaman, mengadakan pengamatan, pengukuran, analisis data, diskusi, dan menyimpulkannya. Hal itu bertujuan agar siswa tahu apa yang harus dilakukan dan berbuat yang terbaik di lingkungannya.

Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan Nasional.2002. Kurikulum Hasil Belajar Kompetensi Dasar      Mata Pelajaran Fisika. Jakarta.

Departemen Pendidikan Nasional.2002. Pendekatan kontekstual. Jakarta.

DepartemenPendidikan Nasional.2006. Kurikulum 2006.Jakarta

Purwanto, Budi.2004. Fisika Dasar Teori dan Implementasinya SMA dan MA.Solo. PT   Tiga Serangkai Pustaka Mandiri

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply