UPAYA MENINGKATKAN KECERDASAN SPIRITUAL | Website BDK Palembang

UPAYA MENINGKATKAN KECERDASAN SPIRITUAL

UPAYA MENINGKATKAN KECERDASAN SPIRITUAL

Oleh: Riduwan

Pendahuluan

Meningkatkan kecerdasan dalam era global seperti ini sangat diperlukan agar bisa menghadapi tantangan dan tuntutan kemajuan zaman. Akan tetapi bukan hanya kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) saja yang harus ditingkatkan, kecerdasan spiritual (SQ) juga sangat perlu untuk ditingkatkan, agar bisa menyeimbangkan kehidupan demi terwujudnya kebahagiaan dan kesuksesan. Dan kebahagiaan yang akan didapatkan ketika memiliki kecerdasan spiritual (SQ) adalah kebahagiaan yang lebih ke arah menentramkan batin, jiwa dan pikiran.

Kecerdasan spiritual (SQ) ini akan berimplikasi terhadap hubungan dengan orang lain dan alam semesta. Semakin tinggi kecerdasan spiritual (SQ) yang dimiliki seseorang, akan semakin tinggi pula kontribusinya pada sesama dan alam semsesta.  Lebih lanjut orang yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi akan mampu memaknai hidup dan akan selamat dari arus zaman yang semakin kehilangan nilai-nilai kehidupan, kurangnya rasa simpati dan empati pada sesama dan kurangnya kesadaran untuk menjaga alam semesta demi terjaganya kelangsungan hidup umat manusia.

Karena itu wajarlah kalau Danah Zohar dan Ian Marshall (2007) dalam bukunya berjudul Spiritual Intelligence: the Ultimete Intellegence, menjelaskan bahwa kecerdasan spiritual (SQ) adalah inti dari segala Intellegence dan berperan paling urgen di dalam menentukan keberhasilan. Lalu bagaimanakah upaya untuk meningkatkan kecerdasan spiritual tersebut?

Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan atau inteligensi secara bahasa diartikan sebagai kemampuan umum dalam memahami hal-hal yang abstrak. Sedangkan menurut istilah, inteligensi didefinisikan sebagai kesanggupan seseorang untuk beradaptasi dengan berbagai situasi dan dapat diabstraksikan pada suatu kualitas yang sama.

Menurut Mujib (2002), Kecerdasan (dalam bahasa Inggris disebut intelligence dan bahasa Arab disebut al-dzaka) menurut arti bahasa adalah pemahaman, kecepatan, dan kesempurnaan sesuatu. Dalam arti, kemampuan (al-qudrah) dalam memahami sesuatu secara cepatdan sempurna. Begitu cepat penangkapannya itu sehingga Ibnu Sina, seorang psikolog falsafi, menyebut kecerdasan sebagai kekuatanintuitif (al-hads)

Menurut Howard Gardner (dalam Linda Campbell, Dee Dickinson, 2002) kecerdasan adalah sebagai berikut :

  1. Kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia
  2. Kemampuan untuk menghasilkan pesoalan-persoalan baru untuk diselesaikan
  3. Kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan jasa yang akan menimbulkan penghargaan dalam budaya seseorang.

Sedangkan spiritual adalah dasar bagi tumbuhnya harga diri, nilai-nilai, moral, dan rasa memiliki. Ia memberi arah dan arti bagi kehidupan kita tentang kepercayaan mengenai adanya kekuatan non fisik yang lebih besar dari pada kekuatan diri kita; suatu kesadaran yang menghubungkan kita langsung dengan Tuhan, atau apa pun yang kita namakan sebagai sumber keberadaan kita (Mimi Doe & Marsha Walch, 2001). Spiritual juga berarti kejiwaan, rohani, batin, mental, moral (Kamus Besar Bahasa Indonesia,1989).

Menurut Burkhardt (1993)dalam (https://nezfine.wordpress.com/2010/05/05/pengertian-spiritual/) spiritualitas meliputi aspek-aspek :

  1. Berhubungan dengan sesuatau yang tidak diketahui atau ketidakpastian dalam kehidupan,
  2. Menemukan arti dan tujuan hidup,
  3. Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri sendiri,
  4. Mempunyai perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan dengan yang maha tinggi.

Sementara itu kecerdasan spiritual (dalam bahasa Inggris: spiritual quotient, disingkat SQ) pertama kali diperkenalkan oleh seorang psikolog Danah Zohar dan suaminya Ian Marshall, seorang ahli fisika. Menurut mereka kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain (Danah Zohar dan Ian Marshall 2001).

Kecerdasan spiritual menurut Stephen R. Covey adalah pusat paling mendasar di antara kecerdasan yang lain, karena dia menjadi sumber bimbingan bagi kecerdasan lainnya. Kecerdasan spiritual mewakili kerinduan akan makna dan hubungan dengan yang tak terbatas (Stephen R. Covey, 2005).

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan spiritual adalah kemampuan potensial setiap manusia yang menjadikan ia dapat menyadari dan menentukan makna, nilai, moral, serta cinta terhadap kekuatan yang lebih besar dan sesama makhluk hidup, karena merasa sebagai bagian dari keseluruhan. Sehingga membuat manusia dapat menempatkan diri dan hidup lebih positif dengan penuh kebijaksanaan, kedamaian, dan kebahagiaan yang hakiki.

Kecerdasan spiritual membantu seseorang untuk menemukan makna hidup dan kebahagiaan. Inilah kenapa kecerdasan spiritual dinilai sebagai kecerdasan yang paling penting dalam kehidupan seseorang. Karena, menemukan makna dari kehidupan dan kebahagiaan adalah tujuan dari setiap orang dalam hidupnya.

Kecerdasan spiritual (SQ) merupakan fasilitas yang membantu seseorang untuk mengatasi persoalan dan berdamai dengan persoalannya itu. Ciri utama dari Kecerdasan spiritual (SQ) ini ditunjukkan dengan kesadaran seseorang untuk menggunakan pengalamannya sebagai bentuk penerapan nilai dan makna.

Kecerdasan spiritual (SQ) yang berkembang dengan baik akan ditandai dengan kemampuan seseorang untuk bersikap fleksibel dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan, memiliki tingkat kesadaran yang tinggi, mampu menghadapi penderitaan dan rasa sakit, mampu mengambil pelajaran yang berharga dari suatu kegagalan, mampu mewujudkan hidup sesuai dengan visi dan misi, mampu melihat keterkaitan antara berbagai hal, mandiri, serta pada akhirnya membuat seseorang mengerti akan makna hidupnya.

Konsep kecerdasan spiritual (SQ) telah banyak dikemukakan oleh beberapa tokoh dengan tujuan yang berbeda-beda walaupun pada dasarnya sama yaitu: “Menjadikan hidup lebih berarti dan bahagia”.

Lima karakteristik orang yang cerdas secara spiritual menurut Roberts A. Emmons (dalam Juita), The Psychology of Ultimate Concerns:

  1. Kemampuan untuk mentransendensikan  yang  fisik dan  material.
  2. Kemampuan untuk mengalami tingkat  kesadaran yang memuncak.
  3. Kemampuan untuk mensakralkan pengalaman sehari-hari.
  4. Kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual untuk menyelesaikan masalah.
  5. Kemampuan untuk berbuat baik.

Dua  karakteristik  yang  pertama sering disebut sebagai komponen inti kecerdasan spiritual. Anak yang merasakan kehadiran Tuhan atau makhluk ruhaniyah di sekitarnya mengalami transendensi fisikal dan material. Ia  memasuki dunia spiritual. Ia mencapai kesadaran kosmis yang menggabungkan dia dengan seluruh alam semesta. Ia merasa bahwa alamnya tidak terbatas pada apa yang disaksikan dengan alat-alat indrianya.

Ciri yang ketiga yaitu sanktifikasi pengalaman sehari-hari akan terjadi ketika kita meletakkan pekerjaan biasa dalam tujuan yang agung. Misalnya: Seorang wartawan bertemu dengan dua orang pekerja yang sedang  mengangkut  batu-bata. Salah seorang di antara mereka bekerja dengan  muka  cemberut, masam, dan tampak kelelahan. Kawannya justru bekerja dengan  ceria, gembira, penuh semangat. Ia tampak tidak kecapaian. Kepada keduanya ditanyakan pertanyaan yang sama, “Apa yang sedang Anda  kerjakan? “Yang cemberut menjawab, “Saya sedang menumpuk batu. ”Yang ceria berkata, “Saya sedang membangun katedral!” Yang kedua  telah  mengangkat  pekerjaan “menumpuk bata” pada dataran makna yang lebih luhur. Ia telah melakukan sanktifikasi.

Orang yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya  secara rasional atau emosional saja. Ia menghubungkannya dengan makna  kehidupan secara spiritual yaitu melakukan hubungan dengan pengatur kehidupan. Contoh: Seorang anak diberitahu bahwa orang tuanya tidak akan  sanggup menyekolahkannya ke Jerman, ia tidak putus asa. Ia yakin bahwa  kalau orang itu bersungguh-sungguh dan minta pertolongan kepada Tuhan, ia  akan diberi jalan. Bukankah Tuhan berfirman, “Orang-orang yang  bersungguh-sungguh dijalan  Kami, Kami akan berikan kepadanya jalan-jalan Kami”? anak tersebut memiliki karakteristik  yang keempat.

Tetapi anak tersebut juga menampakkan karakteristik yang ke lima memiliki rasa kasih yang tinggi pada sesama makhluk. Tuhan. Memberi maaf, bersyukur atau mengungkapkan terimakasih, bersikap  rendah  hati, menunjukkan kasih sayang dan  kearifan, hanyalah sebagian dari kebajikan. Karakteristik terakhir ini mungkin disimpulkan  Muhammad saw, “Amal paling utama ialah engkau masukkan rasa bahagia pada sesama manusia.” (Leny Juwita, Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak, (online), (www.mail-archive.com/airputih@yahoogroup.com, artikel lepas Yayasan Muthahari, Akses 21:99 Kamis 14 Desember 2006)

Zohar & Marshaall mengindikasikan tanda dari SQ yang telah berkembang dengan baik mencangkup hal berikut:

  1. Kemampuan bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan aktif).
  2. Tingkat kesadaran yang tinggi.
  3. Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan.
  4. Kemanpuan untuk menghadapi dan melampui rasa sakit.
  5. Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai.
  6. Keengganan untuk untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu.
  7. Kecenderungan untuk melihat ketertarikan antara berbagai hal (holistik view).
  8. Kecenderungan untuk bertanya untuk mencari jawaban yang mendasar.
  9. Bertanggung jawab untuk membawakan visi dan dan nilai yang lebih tinggi pada orang lain.

Dari beberapa literatur yang ada bisa disimpulkan bahwa manfaat penerapan kecerdasan spiritual antara lain (http://www.kecerdasanspiritual.com/):

  1. Menjadikan etos kerja yang tidak terbatas.
  2. Menjadikan manusia peduli dengan sesama.
  3. Menjadikan menusia tidak mudah terpengaruh oleh lingkungannya.
  4. Menjadikan manusia mandapatkan kebahagiaan dan kedamaian dalam diri.
  5. Membawa manusia pada kunci kesuksesan hidup di dunia.
  6. Sebagai pusat kecerdasan dan yang memfasilitasi dialog antara IQ dengan EQ.
  7. Menyembuhkan penyakit jiwa-spiritual.
  8. Mengembangkan fitrah (potensi) yang ada dalam diri manusia menjadi lebih kreatif.
  9. Menjadikan seseorang lebih tahu akan hikmah kejadian yang ia alami dan dijadikan pelajaran dan renungan.

Usaha Meningkatkan Kecerdasan Spiritual

Mengingat pentingnya kecerdasan spiritual (SQ) ini, maka sudah selayaknya setiap orang untuk meningkatkan kecerdasan ini, agar bisa memberikan implikasi terhadap hubungannya dengan orang lain dan alam semesta, mampu memaknai hidup dan akan selamat dari arus zaman yang semakin bebas dari nilai-nilai kehidupan, kurangnya rasa simpati dan empati pada sesama dan kurangnya kesadaran untuk menjaga alam semesta demi terjaganya kelangsungan hidup umat manusia.

Ada beberapa cara meningkatkan kecerdasan spiritual dapat disajikan sebagai berikut:

  1. Kenali Diri Sendiri. Orang yang sudah tidak bisa mengenal dirinya sendiri akan mengalami krisis makna hidup maupun krisis spiritual. Karenanya, mengetahui siapa diri sendiri adalah mutlak dibutuhkan untuk bisa meningkatkan kecerdasan spiritual.
  2. Mengubah perspektif. Mengubah perspektif dapat lakukan dengan memberikan pertanyaan pada diri sendiri tentang tujuan hidup yang sebenarnya. Apa sebenarnya yang menjadi tujuan dari kehidupan?. Ketika digali lebih dalam lagi dan bertanya pada diri sendiri tentang tujuan hidup, maka akan ditemukan dua hal, yakni aktualisasi diri dan pelayanan kepada sesama manusia. Aktualisasi diri adalah suatu perjalanan penemuan diri untuk selalu belajar terus menerus, tumbuh dan menjadi orang yang lebih baik lagi. Pelayanan kepada sesama manusia adalah tentang bagaimana membantu orang lain. Dengan memiliki aktualisasi diri dan pelayan kepada sesama manusia akan mengurangi penderitaan dalam kehidupan diri sendiri maupun orang lain.
  3. Lakukan Intropeksi Diri. Dalam istilah keagamaan dikenal dengan istilah tadabbur atau muhasabah, ajukan pertanyaan pada diri sendiri, sudahkah saya berjalan dengan benar?, sudahkah karier saya itu lurus di jalan yang diridhai Allah?, dan lain-lain. Setelah melakukan introspeksi diri, bisa jadi yang bersangkutan menemukan bahwa selama ini dia telah melenceng jauh dari rel kebenaran, masuk dalam kecurangan, atau kemunafikan terhadap orang lain.
  4. Meluangkan waktu untuk lebih tenang. Meluangkan waktu di sini akan memberikan kesempatan bagi otak, pikiran dan jiwa untuk dapat berfikir dengan lebih tenang. Dengan keadaan yang tenang akan membuat otak, pikiran dan jiwa mampu memikirkan hal-hal lain di luar hal materi fisik maupun panca indra. Dengan memiliki waktu tenang, seseorang akan mampu menemukan jati diri dan tujuan dari kehidupannya.
  5. Aktifkan Hati Secara Rutin. Dalam konteks beragama adalah mengingat Tuhan (dzikir kepada Allah). Karena, Allah adalah sumber kebenaran tertinggi dan kepada Dia-lah segala sesuatu akan kembali. Dengan mengingat Allah, maka hati menjadi damai. Hal ini membuktikan kenapa banyak orang yang mencoba mengingat Tuhan melalui cara berzikir, tafakur, shalat tahajud, kontemplasi di tempat sunyi, bermeditasi, dan lain sebagainya.
  6. Berfikir dari sudut pandang yang berbeda. Artinya mencoba memikirkan sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dari sudut pandang biasanya. Melihat dan memikirkan sesuatu dengan perspektif atau cara pandang yang lebih luas dan menyikapi segala sesuatu dari sudut pandang yang positif sehingga akan menemukan keterkaitan dalam segala hal di dunia ini.
  7. Dengan melakukan refleksi seseorang akan bisa mengingat peristiwa atau kejadian-kejadian dalam hidupnya dan akan mampu merenungkan dan menemukan makna dibalik setiap peristiwa atau kejadiaan dalam kehidupannya.
  8. Merasakan kehadiran yang begitu dekat dengan Allah, saat berdzikir, berdoa dan aktivitas yang lain.

Simpulan

Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan yang terpenting bagi seseorang dalam rangka menyeimbangkan kehidupannya demi terwujudnya kebahagiaan dan kesuksesan.

Kecerdasan spiritual merupakan inti dari segala kecerdasan dan berperan paling urgen di dalam menentukan keberhasilan. Karena itu seseorang yang menginginkan kecerdasan spiritual bisa menjalani beberapa upaya yaitu: dengan mengenali diri sendiri, mengubah perspektif, melakukan intropeksi diri, meluangkan waktu untuk lebih tenang, mengaktifkan hati secara rutin, berfikir dari sudut pandang yang berbeda, melakukan refleksi, dan merasakan kehadiran yang begitu dekat dengan Allah dalam setiap keadaan.

Daftar Pustaka

Campbell, Linda. 2002. Multiple Intelligences: Metode terbaru melesatkan kecerdasan. Depok: Inisiasi Press

Covey, Stephen R. 2005. The8th Habit: Melampaui Efektifitas, Menggapai Keagungan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Doe, Mimi & Marsha Walch. 2001. 10 Prinsip Spiritual Parenting: Bagaimana Menumbuhkan dan Merawat Sukma Anak Anda. Bandung: Kaifa

Tim Penyusun Kamus. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Zohar, Danah dan Ian Marshal. 2001. SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spritual dalam Berfikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan. Bandung: Mizan,

Zohar, Danah dan Ian Marshall. 2007. SQ (Kecerdasan Spiritual), Terj. Rahmani Astuti dan Ahmad Nadjib Burhani. Bandung: PT Mizan Pustaka.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply