Urgensi Kecerdasan Emosional Dalam Pembelajaran Pendidikan Islam | Website BDK Palembang

Urgensi Kecerdasan Emosional Dalam Pembelajaran Pendidikan Islam

by. Drs.Suberia.MM

 

Abstrak : Kecerdasan seseorang sering dikaitkan dengan prestasi yang diperoleh melalui ajang adu pemikiran, adu pendapat, kecekatan dalam menyelesaikan persoalan secara akliyah. Bahkan tidak sedikit di antara kita yang merasa minder bila diri, anak, atau keluarga memiliki IQ yang kurang memenuhi standar, sebaliknya bila IQ yang tinggi menjadi kebanggaan dan harapan bagi masa depannya. Anggapan ini belum sepenuhnya benar, sebab manusia tidak hanya diberikan karunia beupa IQ saja. Memang Tuhan mengkaruniakan akal kepada manusia sebagai sesuatu yang berharga. Akan tetapi bukan berarti bahwa yang lain tidak berharga. Kecerdasan emosi (Emotional Intelligence) merupakan faktor penting yang tidak boleh diabaikan seseorang sebagai makhluk social (homo socius). Sebab tidak semua menurut akal diterima oleh rasa. Dalam proses komunikasi massa, komunitas yang tersedia memiliki latar belakang yang sangat variatif, baik segi pemikiran, pengalaman, kultur dan lain sebagainya. Seorang komunikator dalam proses komunikasi harus memiliki emosi yang cerdas. Namun ini tidak dipahami sebagai sebuah sikap yang agresif atau tinggi emosionalnya, melainkan kecerdasannya yang tinggi, ditandai dengan kepakaan sosialnya, mampu berkomunikasi secara efektif, dan pada gilirnnya ia mampu menjadi teladan bagi orang lain.

Kata kunci : Kecerdasan, Dakwah, Emosional

 Pendahuluan

Manusia adalah makhluk yang memiliki potensi kecerdasan yang tak terbatas. Makhluk yang keistimewaan utamanya adalah berpikir dan berimajinasi itu  kesempurnaannya mempunyai tugas sebagai khalifah di muka bumi. Begitu istimewa dan beragamnya kecerdasan yang telah diberikan kepada manusia sehingga masih banyak sisi lainnya dari kemampuan otak manusia yang belum diketahui. Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli, ditemukan bahwa seseorang manusia dewasa mungkin menggunakan dengan sungguh-sungguh hanya 1/10.000 dari potensi kecerdasannya selama hidup. Ringkasnya, manusia mempunyai banyak sekali kemampuan yang belum digali, yang kesemuanya itu tidak dapat hanya diukur dengan tes IQ semata.

Pada mulanya, kecerdasan hanya berkaitan dengan kemampuan struktur akal (intellect) dalam menangkap gejala sesuatu sehingga kecerdasan hanya bersentuhan dengan aspek-aspek kognitif. Akibatnya sisi-sisi kecerdasan manusia yang lain terabaikan. Namun pada perkembangan berikutnya, disadari bahwa kehidupan manusia bukan semata-mata memenuhi struktur akal, melainkan terdapat struktur lain yang perlu mendapat tempat tersendiri untuk menumbuhkan aspek-aspek afektif, yang salah satunya yaitu dibutuhkan kecerdasan emosional.

Selain itu, tidak sedikit di antara manusia yang masih mendewakan akal (intelektual) dengan berbagai konsekuensinya, seperti menempa segala ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan intelektualitas, bahkan lebih fatal lagi merasakan ada kekurangan atau ketidakpercayaan diri bila secara intelektualitas tidak bisa sama atau sejajar dengan orang lain. Padahal, selain kecerdasan intelektual (intellectual Quotion), kecerdasan emosional merupakan bagian integral yang boleh dilupakan dari setiap manusia. Sehingga menjadi apapun ia di dunia ini aspek emosional hendaknya diperhatikan. Dalam proses dakwah yang melibatkan berbagai komponen manusia, tidak akan terlepas dari rasa (emosi) yang berpengaruh pada keberhasilan proses dakwah tersebut.

Definisi Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosi semula diperkenalkan oleh Peter Solovey dan John Mayer, lalu pada tahun 1995 istilah itu kemudian dipopulerkan oleh Daniel Goleman dalam karyanya Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. Sedangkan kecerdasan emosi itu sendiri ditemukan oleh Joseph deLoux.

Secara bahasa kecerdasan emosional terdiri dari dua suku kata yaitu kecerdasan dan emosional. Kecerdasan memiliki beragam pengertian, hal ini dikarenakan para ahli dan psikolog tidak sepakat dalam mendefinisikan kecerdasan, selain itu juga definisi kecerdasan itu berkembang sejalan dengan perkembangan ilmiah menyangkut studi-studi kecerdasan dan sains-sains yang berkaitan dengan otak manusia.

“Dalam bahasa Inggris kecerdasan disebut intelligence dan al-dzaka dalam bahasa Arab. Secara bahasa kecerdasan adalah pemahaman, kecepatan, dan kesempurnaan sesuatu”[1]. Sedangkan secara istilah terdapat banyak istilah yang dikemukakan oleh ahli, diantaranya: pengertian yang dikemukanan oleh Pieget yang dikutip oleh Agus Effendi dalam bukunya Revolusi Kecerdasan Abad 21 yaitu “intelligence is what you use when you don’t know to do (kecerdasan adalah apa yang kita gunakan pada saat kita tidak tahu apa yang harus dilakukan)”.[2]

Selain itu J.P. Chaplin, merumuskan tiga definisi kecerdasan, yaitu:

a)      kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif

b)      kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif, yang meliputi empat unsur, seperti memahami, berpendapat, mengontrol dan mengkritik

c)      kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar dengan cepat sekali.[3]

Menurut William Stern, yang dikutip oleh Crow and Crow, mengemukakan bahwa “kecerdasan adalah kapasitas umum dari seorang individu yang dapat dilihat pada kesanggupan pikirannya dalam mengatasi tuntunan kebutuhan-kebutuhan baru, keadaan ruhaniah secara umum yang dapat disesuaikan dengan problema-problema dan kondisi-kondisi yang baru di dalam kehidupan”[4].

“Sedangkan kata emosi berasal dari akar kata movere, kata kerja bahasa Latin yang berarti ‘menggerakkan, bergerak’, ditambah awalan ‘e-‘ untuk memberi arti ‘bergerak menjauh’, mengisyaratkan bahwa kecendrungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi”[5]. Goleman beranggapan bahwa emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis serta kecendrungan untuk bertindak. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, “emosi berarti luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat”[6].

Menurut Robert K. Cooper dan Sawaf menyebutkan bahwa emosi juga disebutkan dalam bahasa Latin sebagai motusanima yang arti harfiyahnya “jiwa yang menggerakkan kita”, karena menurut mereka sejak lama emosi dianggap memiliki kedalaman dan kekuatan[7]. Dari pengertian ini diketahui bahwa emosi bukanlah sesuatu yang bersifat positif atau negatif, tetapi emosi merupakan sumber energi, autensitas dan semangat manusia yang paling kuat, serta dapat memberikan sumber kebijakan intuitif. Pada kenyataannya, perasaan memberi kita informasi penting dan berpotensi menguntungkan setiap saat. Dari berbagai pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian kecerdasan emosional secara bahasa adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan perasaan yang ada.

Sedangkan pengertian kecerdasan emosional secara istilah menurut Goleman adalah “kemampuan mengenali perasaan diri kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampauan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelolah emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain”[8]. Dari pengertian ini dapat dilihat bahwa seseorang yang cerdas secara emosional akan dapat menjalin hubungan dengan orang lain secara lancar, peka membaca reaksi dan perasaan, dan dapat menangani perselisihan yang terjadi di dalam dirinya sendiri ataupun yang muncul dalam setiap kegiatan manusia. Selain Goleman masih banyak lagi yang memberikan definisi mengenai kecerdasan emosional, misalnya saja menurut Cooper dan Sawaf yang menyatakan “kecerdasan emosional sebagai kemampuan merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi dan pengaruh yang manusiawi”[9]. Dalam definisi ini dikatakan bahwa kecerdasan emosi menuntut seseorang untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan dengan efektif informasi dan energi emosi dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari.

Menurut Patricia Patton, kecerdasan emosional adalah: kekuatan dibalik singgasana kemampuan intelektual. Ia merupakan dasar-dasar pembentukan emosi yang mencakup keterampilan-keterampilan anda untuk menunda kepuasan dan mengendalikan impuls-impuls, tetap optimis jika berhadapan dengan kemalangan dan ketidakpastian, menyalurkan emosi-emosi yang kuat secara efektif, mampu memotivasi dan menjaga semangat disiplin diri dalam usaha mencapai tujuan-tujuan, menangani kelemahan-kelemahan pribadi, menunjukkan rasa empati kepada orang lain, membangun kesadaran diri dan pemahaman pribadi[10].

Kecerdasan emosional juga dijelaskan Suharsono sebagai “kemampuan untuk melihat, mengamati bahkan mempertanyakan tentang ‘diri’ sendiri, who am I? siapakah ‘aku’ ini sesungguhnya?”[11] Menurut pengertian ini, seseorang yang mengetahui siapa dirinya sebenarnya, apa yang disukainya, apa yang diinginkannya dan sebagainya menunjukkan kematangan jiwanya. Selain itu mengenali diri sendiri menunjukkan dasar atau inti dari kecerdasan emosional.

Selain itu juga, setelah melihat berbagai definisi yang telah diungkapkan oleh para ahli, Agus Effendi menyimpulkan pengertian kecerdasan emosional adalah: jenis kecerdasan yang fokusnya memahami, mengenali, merasakan, mengelolah dan memimpin perasaan diri sendiri dan orang lain serta mengaplikasikannya dalam kehidupan pribadi dan sosial; kecerdasan dalam memahami, mengenali, meningkatkan, mengelola dan memimpin motivasi diri sendiri dan orang lain untuk mengoptimalkan fungsi energi, informasi, hubungan dan pengaruh bagi pencapaian-pencapaian tujuan yang dikehendaki dan ditetapkan[12].

Dari uraian mengenai pengertian kecerdasan emosional yang telah dijelaskan oleh para ahli sebagaimana yang telah dipaparkan diatas, maka dapat diambil  kesimpulan bahwa kecerdasan emosional adalah penggunaan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam memfungsikan faktor emosi sebagai energi yang positif untuk mengembangkan diri sendiri ataupun dalam hubungannya dengan orang lain.

Sentra dan Fungsi Emosi

Dalam bukunya yang berjudul Emotional Intelligence, Goleman menuliskan mengenai bagaimana otak manusia itu tumbuh. Ia menjelaskan bahwa bagian otak paling primitif adalah batang otak yang mengelilingi ujung atas sum-sum tulang belakang. Dari batang otak ini terbentuklah pusat emosi yang pada perkembangannya akan membentuk otak berpikir atau neokorteks.

Akar kehidupan emosional manusia yang paling kuno adalah penciuman atau lobus olfaktori yaitu sel yang menerima dan menganalisis bau. Dari lobus olfaktori inilah mulainya perkembangan pusat-pusat emosi primitif yang pada akhirnya tumbuh cukup besar untuk melingkupi bagian atas batang otak. Berikutnya dengan berkembangnya mamalia-mamalia pertama, muncul lapisan-lapisan baru yang penting pada otak emosional. Lapisan-lapisan itu mengelilingi dan membatasi batang otak, yang disebut dengan “sistem limbik”. Kemudian sewaktu sistem limbik itu tumbuh, sistem tersebut mempertajam dua alat yang berdaya besar; yaitu pembelajaran dan ingatan. Hubungan-hubungan antara lobus olfaktori dan system limbik ini berfungsi membeda-bedakan bebauan dan mengenalinya dengan membandingkan bau-bau yang ada sekarang dengan bau-bau yang ada di masa lalu, dan dengan demikian juga dapat membedakan yang baik dan yang buruk. Ini dilakukan oleh rhinencephalon, yang secara harfiah berarti “otak hidung”, yaitu bagian saluran limbik dan dasar rudimenter neokorteks, yakni otak yang berpikir.

Kurang lebih seratus juta tahun yang lalu, otak manusia mengalami pertumbuhan luar biasa. Sejumlah lapisan sel-sel otak baru ditambahkan keatas dua lapisan dan mengatur gerakan yang berfungsi untuk membentuk neokorteks. Berbeda dari korteks dua lapis pada otak yang lebih kuno, neokorteks menyediakan keunggulan intelektual yang luar biasa. Neokorteks yang ada pada manusia merupakan yang terbesar dari pada spesies manapun, dan ini merupakan ciri khas manusia. Neokorteks merupakan tempat pikiran; neokorteks memuat pusat-pusat yang mengumpulkan dan memahami apa yang diserap oleh indra. Neokorteks menambahkan pada perasaan apa yang seseorang pikirkan tentang perasaan itu, dan memungkinkan seseorang untuk mempunyai perasaan tentang ide-ide, seni, simbol-simbol, khayalan-khayalan dan sebagainya.

Sewaktu akar asal otak baru itu tumbuh, maka wilayah-wilayah emosi itu terjalin melalui milyaran jaringan penghubung kesetiap bagian neokorteks. Hal ini memberi pusat-pusat emosi kekuatan luar biasa untuk mempengaruhi berfungsinya bagian lain otak, termasuk pusat-pusatnya untuk pikiran.

Selanjutnya mengenai otak emosional, didalam otak manusia terdapat hippocampus dan amigdala. Hippocampus berfungsi untuk mengenali perbedaan makna sedangkan amigdala berfungsi untuk menyisipkan nuansa emosional yang melekat pada fakta-fakta yang terjadi. Amigdala yang merupakan spesialis dalam masalah-masalah emosional ini terdapat pada batang otak, dekat cincin limbik. Amigdala mampu mengambil alih kendali apa yang kita kerjakan bahkan sewaktu otak berpikir atau neokorteks masih menyusun keputusan. Apabila amigdala dipisahkan dari bagian-bagian otak lainnya, hasilnya adalah ketidakmampuan yang amat mencolok dalam menangkap makna emosional pada suatu peristiwa. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Joseph LeDoux menemukan bahwa kenyataannya, pesan-pesan dari indra manusia yaitu dari mata dan telinga, mula-mula tercatat oleh struktur otak yang paling terlibat dalam memori emosi (amigdala) sebelum masuk kedalam neokorteks.

Menurut Jeanne Segal dalam bukunya Melejitkan Kepekaan Emosional, menuliskan bahwa dalam evolusi yang terjadi pada otak tersebut dapat diketahui bahwa kemampuan emosi kita hadir lebih dahulu di dalam batang otak manusia primitif sebelum bagian berpikir otak atau neokorteks, bahkan mulai berkembang diatasnya. Meskipun demikian, yang mengesankan adalah fakta bahwa pusat-pusat emosi di dalam otak terus berevolusi bersama neokorteks, dan kini teranyam di seluruh bagian otak tersebut. Disini, mereka memiliki kekuatan luar biasa atas seluruh fungsi otak. Sehingga dari keterangan tersebut memungkinkan emosi untuk memiliki kendali yang lebih besar terhadap akal daripada akal terhadap emosi.

Dari uraian diatas, berarti kecerdasan emosional sesungguhnya membantu pikiran rasional, karena itu secara psikologis, ketika pusat-pusat emosional otak kita terluka, kecerdasan keseluruhan kita mengalami gangguan.

Seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa manusia mempunyai dua otak, dua pikiran dan dua jenis kecerdasan yang berlainan, yaitu kecerdasan rasional dan kecerdasan emosional, yang mana keduanya bersifat saling mempengaruhi dalam membentuk kehidupan mental manusia. Keberhasilan kita dalam kehidupan ditentukan oleh keduanya, tidak hanya oleh IQ akan tetapi kecerdasan emosioanl juga memegang peranan yang sangat penting. Intelektualitas tak dapat bekerja dengan sebaik-baiknya tanpa kecerdasan emosional. Emosi dan akal adalah dua bagian dari satu keseluruhan yang keduanya merupakan sumber-sumber daya sinergis, tanpa yang satu yang lain menjadi tidak sempurna dan tidak efektif.

Menurut Jeanne Segal, “Kecerdasan intelektualitas tanpa dibarengi dengan kecerdasan emosional dapat membuat seseorang berhasil meraih nilai A dalam ujian, akan tetapi tidak akan membuat seseorang berhasil dalam kehidupan. Wilayah kecerdasan emosi adalah hubungan pribadi dan antar pribadi, kecerdasan emosi bertanggung jawab atas harga diri, kesadaran diri, kepekaan sosial, dan adaptasi sosial seseorang”[13].

Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa emosi sangat penting bagi rasionalitas. Dalam liku-liku perasaan dengan pikiran, kemampuan emosional membimbing keputusan seseorang dari saat ke saat, bekerja bahu membahu dengan pikiran rasional, mendayagunakan atau tidak mendayagunakan pikiran itu sendiri. Selain itu emosi adalah pengorganisasian yang hebat dalam bidang pikiran dan perbuatan. Emosi juga berperan membantu IQ manakala seseorang perlu memecahkan masalah-masalah penting atau membuat keputusan penting, dan memungkinkan seseorang untuk melakukan hal-hal tersebut dengan cara yang istimewa dan dalam waktu singkat yang sangat menguras pikiran dan tenaga bila tanpa bantuan kecerdasan emosi. Selain itu, emosi berfungsi membangkitkan intuisi dan rasa ingin tahu, yang akan membantu mengantisipasi masa depan yang tidak menentu dan merencanakan tindakan-tindakan seseorang sesuai dengan itu.

Mempertahankan kehidupan memerlukan berbagai keterampilan yang tidak hanya didasarkan atas kemampaun IQ semata. Bagaimana menjalin komunikasi yang baik dengan pelanggan, cara mempertahankan pendapat tanpa membuat orang lain tersinggung, kesabaran mencari peluang dalam memasarkan produk, hingga keuletan untuk bangkit kembali manakala mengalami kejatuhan. Kesemuanya membutuhkan keterampilan mengelolah emosi yang prima.

“Keterampilan emosional adalah meta-ability, yang menentukan seberapa baik seseorang mampu menggunakan keterampilan-keterampilan lain manapun yang dimiliki, termasuk intelektual yang belum terasah”[14]. IQ dan kecerdasan emosional bukanlah keterampilan-keterampilan yang saling bertentangan, melainkan keterampilan-keterampilan yang sedikit terpisah. Seseorang yang memiliki kecerdasan emosional adalah orang yang tahu siapa dirinya, peduli kepada orang lain, dan telah belajar rahasia menyeimbangkan emosi-emosi dengan inteleknya untuk menghasilkan rasa keselarasan. Pernyataan ini tidak berarti bahwa orang-orang seperti itu selalu bahagia. Mereka damai dalam hatinya dan tahu cara mengelola kekuatan-kekuatan batin untuk mengatasi tantangan-tantangan yang muncul dalam kehidupan. “Kecerdasan emosional bukan berarti seseorang tidak membutuhkan orang lain atau agama sebagai pedoman hidup. Seseorang itu harus bersikap cukup terbuka dan jujur dengan diri sendiri untuk membereskan masalah-masalah yang dihadapi serta membangun hubungan dengan orang lain yang menyenangkan dan mau diajak kerjasama”[15].

Kecerdasan emosi berfungsi untuk dapat hidup bermasyarakat termasuk didalamnya menjaga keutuhan hubungan sosial, dengan hubungan sosial yang baik dapat menentukan seseorang memperoleh sukses didalam hidup. Selain itu kemampuan seseorang mengendalikan emosinya dengan baik akan mempengaruhi proses berpikirnya secara positif pula. Sebagai contoh, apabila cepat merasa resah maka konsentrasinya mudah terganggu. Sebaliknya, jika ia dapat menenangkan diri dalam menghadapi tekanan sosial, konsentrasinya tidak mudah goyah dan akan lebih mampu mempertahankan efektivitas kerjanya.

Seseorang dengan kemampuan kecerdan emosi yang baik cenderung lebih mampu mengendalikan amarah dan bahkan mengarahkan energinya kearah yang lebih positif, bukan kearah yang negatif atau destruktif. Kecerdasan emosional tidak hanya sekedar kemampuan untuk mengendalikan emosi dalam kaitannya dengan hubungan sosial tetapi juga mencakup kemampuan untuk mengendalikan emosi dalam kaitannya dengan pemenuhan psikofisik. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi dapat mengendalikan keseimbangan makannya dengan baik sehingga tidak mudah mengalami kegemukan. Seseorang dengan kecerdasan emosi yang tinggi mampu mengendalikan nafsu belanjanya dengan baik sehingga ia tidak mudah menjadi seseorang yang bergaya hidup konsumerisme[16].

Jadi, secara umum kecerdasan emosional berperan besar dalam diri seseorang untuk mengendalikan prilaku termasuk gaya hidupnya dengan lebih baik. Hasilnya, gaya hidupnya dapat menjadi lebih sehat, hemat, serta efisien. Selain itu seseorang dengan EQ tinggi adalah orang-orang yang memiliki pancaran yang kuat, menambah cahaya dan mengirim energi positif kepada orang-orang yang berada di sekitarnya.

Dakwah dan Komponennya

Dalam segala kegiatan yang dilaksanakan oleh seseorang, tentulah mempunyai tujuan yang hendak dicapai. Tujuan dakwah merupakan dasar utama penentuan sasaran dan strategi serta langkah-langkah operasional dakwah. Jelasnya, tujuan merupakan pedoman yang tidak boleh diabaikan dalam proses penyelenggaraan dakwah.

Penetapan tujuan ini untuk pijakan pemberi arah kegiatan dakwah yang dilaksanakan, sehingga mencapai hasil yang diharapkan. Menurut H.M. Arifin, tujuan dakwah adalah “menumbuh kembangkan pengertian, kesadaran, penghayatan dan pengamalan ajaran agama yang dibawakan oleh aparat dakwah atau penerang dakwah”[17].

Selain itu menurut Hafi Anshari, secara materil usaha dakwah itu diarahkan kepada tujuan antara lain:

1)      menyadarkan manusia akan arti hidup yang sebenarnya

2)      mengeluarkan manusia dari kegelapan atau kesesatan menuju kealam yang terang benderang dibawah sinar petunjuk ilahi. [18]

Dari tujuan diatas, secara universal tujuan dakwah adalah mencari keridhoan Allah dan juga menyebarluaskan Islam serta mengingatkan umat untuk tetap menjalankan perintah Allah SWT. Dakwah bisa dikatakan benar bila bertujuan mencari ridho Allah semata, tanpa adanya embel-embel tujuan lain yang bersumber dari hawa nafsu para pelaksana dakwah tersebut. Untuk itu para aktivis dakwah harus menyeru manusia kejalan Allah dengan metode yang benar sebagaimana yang dijalani Rasul SAW dan para sahabatnya. Dakwah apapun yang tidak sesuai dengan tujuan tidak akan diterima disisi Allah, meskipun dalam pandangan manusia seorang aktivis dakwah telah dianggap mencapai kesuksesan.

Banyak juru dakwah yang melalaikan tujuan yang mulia ini. Motivasi dakwah tidak lagi semata-mata karena Allah, tetapi bercampur aduk dengan motif-motif lain yang rendah. Mereka menginginkan tujuan duniawi mengiringi dakwahnya. Ada yang mengharapkan popularitas, ada yang ingin dekat dengan pengusaha, bahkan ada yang mencari kekayaan melalui dakwah. Mereka tampak berhasil menjaring banyak pengikut sehingga merasa seruannya sebagai sesuatu yang benar. Padahal dakwah mereka jauh menyimpang, baik dari segi tujuan maupun hasilnya.

a.   Subjek dakwah

Setiap muslim yang ada di dunia merupakan pelaku dakwah (subjek dakwah), hal ini dikarenakan manusia adalah khalifah di muka bumi ini. Sebagai subjek dakwah seorang muslim tidak boleh absen dalam melakukan kegiatan dakwah, tidak ada pengecualian bagi seseorang untuk meninggalkan dakwah dalam keadaan dan dalam situasi bagaimanapun.

“Subjek dakwah yang merupakan unsur terpenting dalam pelaksanaan dakwah, dapat diartikan sebagai orang yang melakukan dakwah, yaitu orang yang berusaha mengubah situasi kepada situasi yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah SWT, baik secara individu maupun berbentuk kelompok, sekaligus sebagai pemberi informasi dan pembawa emosi”[19]. Subjek dakwah juga dikenal dengan beberapa sebutan, diantaranya:

1)      Da’i

Da’i ibaratnya adalah seorang pemandu terhadap orang-orang yang ingin mendapatkan keselamatan hidup dunia dan akhirat. Oleh karena itu kedudukan da’i ditengah-tengah masyarakat adalah seorang figur yang diakui dan dihormati karena keilmuan yang dikuasainya, ketauladanannya ditengah-tengah masyarakat, karena perbuatan dan tingkah laku da’i selalu dijadikan tolak ukur, maka dengan kedudukan yang penting ditengah-tengah masyarakat, da’i harus mampu menerapkan ilmu agama yang dikuasainya serta dapat mendermakan ilmunya untuk kepentingan masyarakat.

Da’I adalah “orang yang melaksanakan dakwah baik lisan maupun tulisan ataupun perbuatan dan baik secara individu, kelompok atau berbentuk organisasi atau lembaga”[20]. Dari pengertian ini, sekurang-kurangnya da’i harus:

a)      sanggup menyelesaikan beban yang ditugaskan kepada dirinya sebagai seorang da’i dengan berbekal ilmu pengetahuan agama yang luas;

b)      mampu mengubah hidup manusia ini lebih berharga dan memberikan kemampuan kepada mereka untuk menjadikan hidupnya di dunia ini sebagai investasi untuk kehidupannya di akhirat kelak;

c)      pribadi atau individu yang selalu eksis dan konsisten terhadap tujuan dakwah, fungsi dan perannya.

2)        Aktivis dakwah

Kata aktivis dakwah terdiri dari dua suku kata yaitu aktivis dan dakwah. Pengertian aktivis menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah “orang (terutama anggota organisasi politik, social, buruh, patani, pemuda, mahasiswa, wanita) yang bekerja aktif mendorong pelaksanaan suatu atau berbagai kegiatan di organisasinya”[21]. Sedangkan dakwah adalah “segala daya upaya untuk menyebarluaskan Islam kepada orang lain dalam segala lapangan kehidupan manusia untuk mendapat kebahagian hidup di dunia maupun di akhirat kelak”[22].

Sehingga pengertian aktivis dakwah, secara tidak langsung yang dituliskan oleh Fathi Yakan adalah “orang-orang yang rela berkorban melebihi batas-batas pengorbanan yang lain. Pengorbanan yang memprioritaskan kemaslahatan Islam diatas segalanya. Pengorbanan yang berarti beredar dalam sumbu perjuangan Islam, apapun kondisi yang dihadapi dan betapa pun mahalnya nilai sebuah pengorbanan tersebut”[23].

3)   Konselor

Konselor berasal dari kata counsel, yang ditambah dengan akhiran “-or”, yang meunjukkan makna sebagai pelaku dari suatu kegaiatan. Konselor adalah orang yang memberikan bimbingan, nasehat, ataupun anjuran. Dari pengertian ini dapat diketahui bahwa konselor adalah orang yang memberikan nasehat dengan berupa anjuran-anjuran dan saran-saran dalam bentuk pembicaraan yang komunikatif, sehingga dapat membantu seseorang agar menyadari reaksi-reaksi pribadi terhadap pengaruh prilaku dari lingkungan serta membantu seseorang membentuk makna dari prilakunya.

Dalam kaitannya dengan kegiatan yang dilakukan oleh konselor, maka hal tersebut senada dengan sabda Rasul yang mengatakan bahwa “agama itu adalah nasehat”. Selain itu juga kegiatan yang dilakukan oleh konselor juga terdapat dalam al-Qur’an surat Asy-Syuuro ayat 52, yang berbunyi:

Artinya:

Dan demikianlah kami wahyukan kepadamu, wahyu al-Qur’an dengan perintah Ku, sebelumnya kamu tidak mengerti apakah al-kitab (al-Qur’an) itu dan tidak pula mengerti apakah iman itu, tetapi kami menjadikan al-Qur’an itu cahaya yang dengannya kami tunjuki siapa saja yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) dapat memberikan petunjuk (membimbing) kepada jalan yang benar”. (QS. Asy-Syuuro: 52)[24]

Dari ayat diatas telah secara tersurat dan tersirat, bahwa seorang konselor harus mampu mengembangkan potensi akal pikiran, kejiwaan, keimanan dan keyakinan serta dapat menanggulangi problematika hidup dan kehidupan dari para klien yang dimiliki, secara baik, benar dan mandiri yang berparadigma kepada al-Qur’an dan as–Sunnah Rasul SAW.

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa da’I, aktivis dakwah dan konselor memiliki tujuan untuk membantu mad’u yang dihadapi dalam membangkitkan semangat juang yang ada pada mad’u tersebut sehingga dia dapat mengatasi ribuan masalah hidup dengan keimanan dan keyakinan yang mantap terhadap Allah SWT. Selain itu dalam pengistilahan tersebut juga terdapat perbedaan penggunaan dalam penyebutan da’I, aktivis dakwah dan konselor dalam kehidupan sehari-hari.

Da’I, biasanya bertindak secara pasif. Maksudnya,da’I lebih cenderung untuk menunggu panggilan dalam melakukan dakwah Islam, selain itu juga, gerakan da’I lebih bersifat sendiri-sendiri atau secara individu. Lain halnya dengan aktivis dakwah, mereka cenderung yang membuat gerakan tanpa menunggu untuk dipanggil. Selain itu juga aktivis dakwah dilakukan dalam suatu wadah yang terorganisir yang dinaungi oleh suatu lembaga-lembaga ataupun harokah-harokah Islamiyah. Sedangkan konselor, kegiatannya lebih ditekankan dalam menghadapi klien yang memiliki masalah kejiwaan.

b.      Objek Dakwah

Dakwah Islam merupakan dakwah universal dan alamiyah yang menyeru manusia tanpa melihat batasan suku bangsa, warna kulit maupun bahasa. Objek dakwah adalah manusia yang menjadi sasaran dakwah atau manusia penerima dakwah, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok, baik manusia yang beragama Islam maupun tidak, atau dengan kata lain manusia seluruhnya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Kepada manusia yang belum beragama Islam, dakwah bertujuan untuk mengajak mereka mengikuti agama Islam; sedang kepada orang-orang yang telah  beragama Islam dakwah bertujuan meningkatkan kualitas iman, Islam dan ihsan[25].

Objek dakwah terdiri dari berbagai macam golongan manusia. Oleh karena itu, menggolongkannya sama dengan menggolongkan manusia itu sendiri, profesi, ekonomi, dan seterusnya. Penggolongan objek dakwah tersebut antara lain sebagai berikut:

1)      kelompok masyarakat yang dilihat dari segi sosiologis, berupa masyarakat terasing, pedesaan, kota besar dan kecil, serta masyarakat di daerah marginal dari kota besar;

2)      kelompok-kelompok masyarakat dilihat dari segi social kultural, berupa golongan priyayi, abangan dan santri;

3)      golongan masyarakat dilihat dari segi okupasional, berupa golongan petani, pedagang, seniman, buruh, pegawai negeri dan sebaginya;

4)      golongan masyarakat dilihat dari segi tingkat hidup sosial-ekonomis, berupa golongan orang kaya, menengah dan miskin;

5)      golongan masyarakat dilihat dari segi jenis kelamin, berupa golongan wanita dan pria;

6)      golongan masyarakat dilihat dari segi khusus, berupa golongan masyarakat tuna susila, tuna wisma, tuna karya, narapidana dan sebagainya. [26]

Dari keterangan diatas, setiap golongan masyarakat memiliki ciri-ciri khusus yang nantinya memerlukan sistem dan metode pendekatan dakwah yang berbeda antara yang satu dengan yang lain, sehingga akan tercapainya afektivitas dan efisiensi dalam kegiatan dakwah dalam tiap golongan.

Seorang aktivis dakwah yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang masyarakat yang menjadi objek dakwahnya adalah calon-calon aktivis yang akan mengalami kegagalan dalam dakwahnya. Pengetahuan tentang objek dakwah ini dapat diperoleh melalui penelitian secara formal atau secara informal atau literal, dan lebih-lebih secara empiris.

c.      Metode dakwah

Masalah metode dakwah berkisar pada masalah bagaimana kemampuan subjek dakwah menyesuaikan materi dengan situasi dan kondisi objek, medan dakwah, dan tujuan dakwah yang hendak dicapai.

Dari segi bahasa metode berasal dari dua perkataan yaitu meta (melalui) dan hodos (jalan, cara). Dengan demikian metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Sumber yang lain menyebutkan bahwa metode berasal dari bahasa Jerman methodica artinya ajaran tentang metode. Dalam bahasa Yunani metode berasal dari kata methodos, yang artinya jalan, yang dalam bahasa Arab disebut thariq. Apabila diartikan secara bebas, metode adalah cara yang telah diatur dan melalui proses pemikiran untuk mencapai suatu maksud[27]. Sedangkan pengertian metode dakwah secara istilah adalah “cara-cara tertentu yang dilakukan seorang da’i (komunikator) kepada mad’u untuk mencapai suatu tujuan atas dasar hikmah dan kasih sayang”[28].

Selain itu menurut Alwisral Imam Zaidallah, metode dakwah adalah “cara bagaimana menyampaikan dakwah sehingga sasaran dakwah atau al-mad’u mudah mencerna, memahami, meyakini terhadap materi yang disampaikan”[29].

Pedoman utama metode dakwah terdapat dalam al-Qur’an surat an-Nahl ayat 125, yang berbunyi:

Artinya:

Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dijalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. An-Nahl: 125)[30]

Penjelasan tentang pembagian metode dakwah yang terdapat dalam al-Qur’an surat an-Nahl: 125 tersebut adalah:

  1. Al-Hikmah

“Sebagai metode dakwah, al-hikmah diartikan bijaksana, akal budi yang mulia, dada yang lapang, hati yang bersih, menarik perhatian orang kepada agama atau Tuhan”[31]. Metode ini biasanya sasarannya adalah orang-orang intelek atau orang-orang yang berpendidikan. Terhadap mereka harus dengan ucapan yang tepat, logis, diiringi dengan dalil-dalil yang sifatnya memperjelas bagi kebenaran yang disampaikan, sehingga menghilangkan keraguan yang ada.

  1. Wal mau’idzatil hasanah

“Mau’idzatil hasanah dapat diartikan sebagai ungkapan yang mengandung unsur bimbingan, pendidikan, pengajaran, kisah-kisah, berita gembira, peringatan, pesan-pesan positif yang bisa dijadikan pedoman dalam kehidupan agar mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat”[32]. Al-mau’idzatil hasanah merupakan pelajaran yang baik, yang mana pelajaran itu dapat membantu mad’u untuk menyelesaikan atau menanggulangi masalah yang sedang dihadapi. Subjek dakwah dalam hal ini harus benar-benar menguasai materi yang mengandung pelajaran-pelajaran yang sangat bermanfaat bagi mad’u.

  1. Al-mujadallah bi al-lati hiya ahsan

“Al-mujadallah merupakan tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis, yang tidak melahirkan permusuhan dengan tujuan agar lawan menerima pendapat yang diajukan dengan memberikan argumentasi dan bukti yang kuat”[33]. Dalam metode ini, objek dakwah diajak untuk berdialog atau berdiskusi. Subjek dakwah dituntut untuk menghargai pendapat dari objek dakwah. Berdialog tersebut harus memberikan kepuasan dan kelegaan terhadap si penentang atau lawan diskusi.

Seorang subjek dakwah harus mengenal terlebih dahulu objek dakwah yang akan dihadapi dan mengenal bentuk acara yang akan dihadapi, sehingga memudahkan subjek dakwah untuk menentukan metode yang akan dipakai.

Fungsi Kecerdasan emosional dalam Dakwah

Semenjak dipublikasikannya buku Emotional Intelligence oleh Daniel Goleman, banyak kalangan masyarakat mulai mengenal begitu besar peran kecerdasan emosional dalam menentukan kesuksesan jalan hidup seseorang dunia akherat. Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa dalam kehidupan, pandai secara intelektual saja tidak cukup. Betapa banyak orang yang selalu memperoleh prestasi akademik yang tinggi namun harus mengalami kegagalan dalam menapaki masa depannya.

Menurut Ary Ginanjar, yang menjadi dasar dari sebuah kecerdasan emosi adalah suara hati[34]. Menurut Robert K. Cooper dan Ayman Sawaf mengatakan bahwa:

Hati mengaktifkan nilai-nilai seseorang yang paling dalam, mengubahnya dari suatu yang dipikirkan menjadi sesuatu yang dijalani. Hati tahu tentang hal-hal yang tidak, atau tidak dapat, diketahui oleh pikiran. Hati adalah sumber keberanian dan semangat, integritas dan komitmen. Hati adalah sumber energi dan perasaan mendalam yang menuntut kita belajar menciptakan, bekerja sama, memimpin dan melayani[35].

Suara hati ilahiyah yang fitrah sebagai perwujudan kecerdasan emosi sang pencipta yang tak pernah disadari, walau sebenarnya berada sedekat urat nadinya. Hati nurani akan menjadi pembimbing terhadap apa yang harus ditempuh dan apa yang harus diperbuat.

Sehingga dapat diketahui bahwa seseorang yang memiliki kecerdasan emosional yang baik dapat dicirikan dengan selalu mendengarkan suara hati yang berasal dari ilahiyah yang fitrah yang dapat membimbingnya dalam mencapai keberhasilan.

Selain itu menurut solovey, ciri kecerdasan emosional itu memiliki kemampuan-kemampuan sebagai berikut:

  1. mengenali emosi diri

Mengenali emosi diri menunjukkan inti kecerdasan emosional yaitu kesadaran akan perasaan diri sendiri sewaktu perasaan itu timbul. Kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu kewaktu merupakan hal penting bagi wawasan psikologi dan pemahaman diri. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan yang sesungguhnya membuat seseorang berada dalam kekuasaan perasaan. Orang yang memiliki keyakinan lebih tentang perasaannya adalah pilot yang andal bagi kehidupan mereka, karena mempunyai kepekaan yang tinggi akan perasaan mereka yang sesungguhnya atas pengambilan keputusan-keputusan masalah pribadi.

  1. mengelola emosi

Menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan pas adalah kecakapan yang bergantung pada kesadaran diri. Menjaga agar emosi yang merisaukan tetap terkendali merupakan kunci menuju kesejahteraan emosi. Mengatur emosi sama dengan bekerja full time, sebagian besar dari apa yang kita kerjakan, terutama pada waktu luang adalah berupaya mengatur suasana hati. Semuanya, mulai dari membaca novel atau menonton televisi hingga memilih kegiatan dan sahabat, bisa jadi adalah cara untuk membuat diri kita merasa lebih nyaman. Seni menghibur diri sendiri merupakan keterampilan hidup yang mendasar dan merupakan salah satu alat kejiwaan yang paling penting. Orang-orang yang buruk kemampuannya dalam keterampilan ini akan terus menerus bertarung melawan perasaan murung, sementara mereka yang pintar, dapat bangkit kembali dengan jauh lebih cepat dari kemerosotan dan kejatuhan dalam kehidupan.

  1. memotivasi diri sendiri

Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri dan menguasai diri sendiri serta untuk berkreasi. Kendali diri emosional seperti menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang, serta mampu menyesuaikan diri dalam flow[36] memungkinakn terjadinya kinerja yang tinggi dalam segala bidang. Orang-orang yang memiliki keterampilan ini cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apa pun yang mereka kerjakan.

  1. mengenali emosi orang lain

Mengenali emosi orang lain berarti juga memiliki empati yang sangat baik. Empati dibangun berdasarkan kesadaran diri, semakin seorang terbuka kepada emosi diri sendiri, semakin terampil seseorang tersebut membaca pikiran. Kesalahan dalam mendata perasaan orang lain merupakan kekurangan utama dalam kecerdasan emosional dan merupakan cacat yang menyedihkan sebagai seorang manusia. Setiap hubungan yang merupakan akar kepedulian, berasal dari penyesuaian emosional dan kemampuan untuk berempati.

Kemampuan berempati yaitu kemampuan untuk mengetahui bagaimana perasaan orang lain. Kemampuan ini ikut berperan dalam pergulatan di arena kehidupan, tiadanya empati akan sangat terlihat dalam prilaku psikopat kriminal, pemerkosa dan sebagainya. Orang yang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain.

  1. membina hubungan

Seni membina hubungan, sebagian besar merupakan keterampilan mengelolah emosi orang lain. Kemampuan sosial ini memungkinkan seseorang membentuk hubungan untuk menggerakkan dan mengilhami orang lain, membina kedekatan hubungan, meyakinkan dan mempengaruhi, membuat orang-orang lain merasa nyaman. Orang-orang yang hebat dalam keterampilan ini akan sukses dalam bidang apapun yang mengandalkan pergaulan yang mulus dengan orang lain, mereka adalah bintang-bintang pergaulan.

Didalam kehidupan, kemampuan seseorang berbeda-beda dalam wilayah-wilayah tersebut, beberapa orang barangkali amat terampil menangani kecemasan diri sendiri, akan tetapi agak kerepotan meredam kemarahan orang lain, dan juga sebaliknya. Akan tetapi kekurangan-kekurangan dalam kemampuan emosional dapat diperbaiki, sampai ketingkat yang setinggi-tingginya dimana masing-masing wilayah menampilkan bentuk kebiasaan dan respon yang dapat dikembangkan.

Cooper dan Sawaf menyebutkan beberapa ciri dalam kecerdasan emosional, yaitu bila anda memikirkannya, atribut-atribut tersebut tidak lebih dari ideologis, prinsip, atau gagasan-gagasan yang baik, namun bila anda merasakannya secara mendalam, barulah masing-masing menjadi aktif dan nyata, serta anda akan bergerak untuk bertindak selaras dengan itu dan menghidupkannya.

Penutup

Keterampilan kecerdasan emosional seperti mengenali emosi diri, mengelolah emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, dan membina hubungan sangat dibutuhkan bagi setiap aktivis dakwah untuk mencapai keberhasilan dakwah. Sesungguhnya  Islam menginginkan dalam diri setiap mukmin: perasaan dan nurani yang peka, sehingga dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan, pandangan yang benar dalam menentukan yang benar atau yang salah, keinginan kuat yang tidak akan pernah melemah dalam membela kebenaran.

Dari keinginan diatas, dapat diperoleh jika emosi yang cerdas telah dimiliki oleh setiap individu mukmin atau para aktivis dakwah. Hal tersebut berguna untuk mencapai keberhasilan dakwahnya. Dengan memiliki kecerdasan emosional yang baik, aktivis dakwah mampu memadukan antara kelurusan aqidah dan kekuatan iman dengan akhlaknya yang mulia dan semangatnya yang tinggi. Ia juga dapat memadukan keluasan ilmunya dalam aktivitas dakwah dengan kesabaran dan keteguhan yang dimilikinya.

Aktivis dakwah yang seperti inilah yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat agar dapat dijadikan contoh oleh mereka. Masyarakat dapat meniru semangatnya, kekuatan tekadnya, serta keteguhan dan kesabarannya menghadapi rintangan dakwah. Dengan demikian jelaslah bahwa perjalanan dakwah ini sangat membutuhkan aktivis-aktivis yang menjadi figur yang baik ditengah-tengah masyarakat, agar masyarakat bisa meneladani mereka.

Seorang aktivis dakwah yang mampu mencapai keadaan flow akan rela mengorbankan waktu, harta benda, jiwa raga, bahkan segala-galanya yang dia punya demi menjalankan amanah dakwah. Setiap halangan yang merintang aktivitas dakwah akan terasa mudah untuk dilewati, karena keadaan flow memberi kesan bahwa yang sulit itu mudah. Keadaan flow yang terjadi pada aktivis dakwah memungkinkan mereka untuk menangani tugas-tugas yang paling menantang, misalnya saja melakukan jihad untuk membela agama Allah. Mereka tidak akan merasa takut sedikitpun bahkan akan merasa bahagia, menyenangkan, tentram, dan jauh dari keterpaksaan. Dalam keadaan flow, aktivis dakwah juga akan merasa segar dan terus bersemangat walaupun mereka telah mengalami kelelahan yang sangat berat.

Penguasaan kecerdasan emosi yang baik juga akan menghindarkan aktivis dakwah dari bahaya-bahaya, seperti: watak yang tidak disiplin, menghawatirkan nasib pribadi dan ekonomi keluarga, sikap ekstrem dan melampaui batas, sikap mengentengkan dan meremehkan, senang menonjolkan diri, cemburu terhadap orang lain, dll.Bahaya-bahaya ini merupakan penyebab terpuruknya aktivis dakwah dari segi internal individu anggota gerakan dakwah.

Daftar Pustaka

 

Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, (Jakarta: Rajawali Press, Cet-II, 2002)

Agus Effendi, Revolusi Kecerdasan Abad 21: Kritik MI, EI, SQ, AQ dan Successful Intelligence Atas IQ, (Bandung: Alfabeta, 2005),

Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual, (Jakarta: Arga, Cet-XXI, 2005)

Daniel Goleman, Emotional Intelligence: Mengapa EI Lebih Penting Dari IQ, Terj. T. Hermaya, Cet-XIV (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004)

Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1998)

Daniel Goleman, Working With Emosional Intelligence, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,1995)

 

Fathi Yakan, Membongkar Jahiliah: Meraih sukses Dakwah, (Solo: Era Intermedia, 2003)

Hafi Anshari, Pemahaman dan Pengamalan Dakwah, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1993)

J.P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, Terj. Kartini Kartono, (Jakarta: Rajawali Press, 1999)

Jeanne Segal, Kepekaan Emosional, (Bandung: Kaifa, Cet-IV, 2002)

Monty P. Satriadarma dan Fidelis E. Waruwu, Mendidik Kecerdasan, (Jakarta: Pustaka Populer Obor, 2003)

Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Prenada Media, 2004)

Patricia Patton, EQ: Pengembangan Sukses Lebih Bermakna, (tt: Mitra Media, 2002) h. 1

Robert K. Cooper dan Ayman Sawaf, Executive EQ: Kecerdasan Emosional Dalam Kepemimpinan Dan Organisasi, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, Cet-5, 2002)

Suharsono, Melejitkan IQ,IE, IS, (Depok: Inisiasi Press, 2004)

Suparta, Munzier; Hefni Harjani,  Metode Dakwah, (Jakarta: Prenada Media, 2003)

Totok Jumantoro, Psikologi Dakwah: Dengan Aspek-Aspek Kejiwaan Yang Qur’ani, (tt: Amzah, 2001)

Totok Tasmara, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997)

Ahmad Syarifudin, Urgensi Kecerdasan Emosional Dalam Dakwah,


         * Widyaiswara Madya BDK Palembang

[1] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, (Jakarta: Rajawali Press, Cet-II, 2002) h. 317

[2] Agus Effendi, Revolusi Kecerdasan Abad 21: Kritik MI, EI, SQ, AQ dan Successful Intelligence Atas IQ, (Bandung: Alfabeta, 2005), h. 83

[3] J.P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, Terj. Kartini Kartono, (Jakarta: Rajawali Press, 1999) h. 253

[4] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, op.cit., h. 318

[5] Daniel Goleman, Emotional Intelligence: Mengapa EI Lebih Penting Dari IQ, Terj. T. Hermaya, Cet-XIV (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004) h. 17

[6] Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1998) h. 261

[7] Robert K. Cooper dan Ayman Sawaf, Executive EQ: Kecerdasan Emosional Dalam Kepemimpinan Dan Organisasi, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, Cet-5, 2002) h.xiv

[8] Daniel Goleman, Working With Emosional Intelligence, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,1995), h. 512-514

[9] Robert K. Cooper Dan Ayman Sawaf, op.cit., h. xv

[10] Patricia Patton, EQ: Pengembangan Sukses Lebih Bermakna, (tt: Mitra Media, 2002) h. 1

[11] Suharsono, Melejitkan IQ,IE, IS, (Depok: Inisiasi Press, 2004) h. 114

[12] Agus Effendi, op.cit., h. 172

[13] Jeanne Segal, Kepekaan Emosional, (Bandung: Kaifa, Cet-IV, 2002) h. 26-27

[14] Daniel Goleman, op.cit., h. 58

[15] Patricia Patton, op. cit.,h. 69

[16] Monty P. Satriadarma dan Fidelis E. Waruwu, Mendidik Kecerdasan, (Jakarta: Pustaka Populer Obor, 2003) h. 36-37

[17] H.M Arifin, op.cit., h. 4

[18] Hafi Anshari, Pemahaman dan Pengamalan Dakwah, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1993) h. 142-143

[19] Ibid., h.104-105

[20] Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Prenada Media, 2004) h. 75

[21] Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Op.Cit., h.20

[22] Totok Jumantoro, Psikologi Dakwah: Dengan Aspek-Aspek Kejiwaan Yang Qur’ani, (tt: Amzah, 2001) h. 19

             [23] Fathi Yakan, Membongkar Jahiliah: Meraih sukses Dakwah, (Solo: Era Intermedia, 2003)h. 16

[24] Departemen Agama RI, op. cit.,h. 701

[25] Moh. Ali Aziz, op.cit., h. 90

[26] H.M. Arifin, op.cit., h. 3-4

[27] Suparta, Munzier; Hefni Harjani,  Metode Dakwah, (Jakarta: Prenada Media, 2003) h. 6-7

[28] Totok Tasmara, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997) h. 43

[29] Alwisral Imam Zaidalah, op.cit., h. 71

[30] Departemen Agama RI, op. cit., h. 383

[31] Suparta, Munzier; Hefni Harjani, op. cit., h. 10

[32] Ibid., h 16-17

[33] Ibid., h. 20

[34] Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual, (Jakarta: Arga, Cet-XXI, 2005) h. xlv

[35] Robert K. Cooper Dan Ayman Sawaf, op. cit., h. xxxv

[36] Flow adalah suatu keadaan yang ketika terjadi, seseorang merasa seperti di awang-awang, sebuah keadaan ketika seseorang sepenuhnya terserap kedalam apa yang sedang dikerjakannya. Perhatiannya hanya terfokus kepekerjaan itu dan kesadarannya menyatu dengan tindakan  (Agus Effendi, op.cit., h. 184)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply