Top
    bdkpalembang@kemenag.go.id
(0711) 445279

TANTANGAN GURU DALAM MENGHADAPI ERA INDUSTRI 4.0

Jumat, 12 Februari 2021
Kategori: Artikel
12374 kali dibaca

TANTANGAN GURU DALAM MENGHADAPI ERA INDUSTRI 4.0

Miskiah

 

Abstrak: Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan tantangan guru di era industri 4.0 dan kesiapan dalam menghadapi tantangan tersebut. Melalui kajian literatur, penulis menjelaskan bahwa ada beberapa cara dalam menghadapi tantangan pendidikan di era revolusi industry 4.0 melalui peningkatan kemampuan dan keterampilan guru dengan berperan aktif di sekolah. Beberapa kompetensi yang dianggap penting untuk dikuasai guru diabad 21 diantaranya adalah kemampuan kreativitas, berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, inovasi, problem solving, kecakapan ICT, dan berkarakter. Era globalisasi dengan segala aspeknya menuntut guru untuk memiliki berbagai keterampilan yang mendukung daya inovasi dan kreativitasnya agar dapat berkompetisi pada masyarakat global. Guru haruslah memiliki kesadaran dan pandangan baru bahwa pendidik era saat ini tak bisa lagi berperan sepenuhnya sebagai agen yang mentrasfer ilmu pengetahuan tetapi juga melahirkan gerakan baru dan atau inovasi.

 

Kata kunci: Tantangan guru, Industri 4.0, dan kompetensi abad 21

 

Pendahuluan

Revolusi digital dan era disrupsi teknologi merupakan istilah lain dari industri 4.0. Hal ini disebabkan oleh terjadinya proliferasi komputer dan otomatisasi pencatatan di semua bidang. Industri 4.0 dikatakan era disrupsi teknologi karena otomatisasi dan konektivitas di sebuah bidang akan membuat pergerakan dunia industri dan persaingan kerja menjadi tidak linear. Salah satu karakteristik unik dari industri 4.0 adalah pengaplikasian kecerdasan buatan atau artificial intelligence (Tjandrawinata, 2016). Era revolusi industry 4.0 ini juga memberikan perubahan besar pada struktur mental melalui cara berpikir, cara meyakini, dan cara bersikap (Suwardana, 2017).

Untuk menghadapi era revolusi industry 4.0, dibutuhkan pendidikan yang bisa membentuk generasi kreatif, inovatif, dan kompetitif. Selain itu juga butuh Sumber Daya Manusia yang berwawasan unggul, profesional, berpandangan jauh ke depan, dan percaya diri (Ginanjar, 2015). Senada dengan hal itu, Menristekdikti (2018) mengungkapkan bahwa ada beberapa hal yang harus dipersiapkan dalam menghadapi era revolusi industri 4.0: Sistem pembelajaran inovatif untuk menghasilkan lulusan yang kompetitif dan terampil terutama dalam aspek data literacy, technological literacy and human literacy; Rekonstruksi kebijakan kelembagaan pendidikan tinggi yang adaptif dan responsif; Sumber daya manusia yang responsive, adaptif dan handal, dan; Perbaikan sarana prasarana dan pembangunan infrastruktur pendidikan, riset, dan inovasi.

Memasuki era globalisasi pada abad ke-21 ini, pendidikan di Indonesia menghadapi tantangan besar, baik dilihat dari usaha pemerataan, perluasan akses, peningkatan mutu, relevansi, daya saing, efisiensi manajemen pendidikan, maupun optimalisasi sumber daya serta terwujudnya pencitraan publik. Indonesia sendiri sudah menyadari pentingnya keterampilan abad 21 sebagaimana yang dituangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan tahun 2010, sehingga, dampak yang berkembang dari globalisasi dan masyarakat pengetahuan telah membuat banyak orang berpendapat bahwa keterampilan abad ke-21 sangat penting (Lewin dan McNicol, 2015: Van Laar, et. Al: 2017). Dengan demikian, tantangan revolusi industri 4.0 ini harus ditanggapi secara bijak oleh para pemangku kepentingan (stake holders) dengan dikuasainya kemampuan literasi data, teknologi, dan manusia.

individu  untuk  bisa  berkolaborasi,  adaptif  dan  menjadi  arif  di  era  “banjir”  informasi

Berbagai tantangan dalam dunia revolusi industri 4.0. yang menjadikan dunia pendidikan kita kesulitan beradaptasi. Pertama banyaknya SDM yang kurang melek dalam literasi teknologi. Mereka  disebut  “Digital Immigrant”  yaitu sebutan bagi pendatang di dunia digital. Mereka menghadapi anak muda yang sudah digital yang disebut dengan “Native Digital” istilah penduduk asli di dunia digital. Mereka menganggap sulit untuk mengejar literasi data dan teknologi karena kurangnya kemmapuan untuk mengadaptasi dua literasi ini. Akhirnya, mereka menyerah dan terpaksa harus beradaptasi dengan native digital.

Download Versi Lengkapnya DISINI

Penulis :

Editor :

Sumber :


Berita Terkait

ARSIP