BERSIAPLAH MENGHADAPI AKTIVITAS BERIKUTNYA

BERSIAPLAH MENGHADAPI AKTIVITAS BERIKUTNYA

إنَّ الـحَمْدَ للهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، وَ النَّاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ، وَالْهَادِيْ إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ وَعَلٰى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ

أَمَّا بَعْد….. فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ في مُحْكَمِ كِتَابِهِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُواللهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللهَ ۚ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

 

Kaum muslimin,

Wa zumratal mu’min rahimakumullah,

       Pada waktu dan tempat istimewa ini, saya mengajak kepada hadirin sekalian, marilah kita bertakwa sebagaimana pengertian takwa yang didefinisikan oleh para ulama:

امْتِثَالُ أَوَامِرِ اللهِ وَاجْتِنَابُ نَوَاهِيْهِ سِرًّا وَعَلَانِيَّةً ظَاهِرًا وَبَاطِنًا

Melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya baik dalam keadaan sepi maupun ramai, lahir dan juga batin.

        Saya mengajak kepada hadirin untuk bersama-sama menguatkan komitmen kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Dengan takwa inilah pada suatu saat nanti akan menjadi pembeda antara siapa orang yang dimuliakan Allah dengan siapa yang mendapat murka-Nya. 

       Jamaah Jum’at rahimakumullah, 

       Ramadhan telah lewat 18 hari yang lalu, di hari Jum’at ke-3 bulan Syawal ini dan bulan-bulan berikutnya mungkin saja kebanyakan manusia menganggap kurang istimewa, kurang afdhal, kurang baik atau persepsi minus lainnya. Mungkin saja mereka beranggapan bahwa hanya bulan Ramadhanlah yang terdapat janji Allah melipatgandakan pahala, mungkin hanya di bulan Ramadhanlah ada pengekangan hawa nafsu, atau mungkin hanya di bulan Ramadhan saja yang harus menumpuk-numpuk amal shaleh. Dengan demikian, mereka beranggapan bahwa hanya bulan Ramadhan sajalah bulan untuk penggemblengan hamba menjadi orang yang bertakwa.  

       Kaum muslimin rahimakumullah,

       Sebenarnya peningkatan ibadah, penambahan amal shaleh, muhasabah diri, seyogyanya terus dilakukan bukan hanya di bulan Ramadhan saja. Mungkin peningkatan ibadah dengan penuh pertimbangan dan perhitungan (ihtisab) perlu dilakukan, terutama di bulan Ramadhan. Hal ini mengingat keistimewaan-keistimewaan yang ada pada bulan tersebut, dan pada bulan lainya pasca Ramadhan menjadi bulan untuk mempertahankan amaliah yang selama Ramnadhan. Janganlah disalahartikan, setelah semangat ibadah bulan Ramadhan, lalu pasca Ramadhan menjadi berleha-leha dan santai. Pertahankan dan tingkatkan, jangan sampai stagnan bahkan turun meluncur mendegradasi amal. Na’udzubillah. Jadikanlah semangat Ramadhan menjadi penyemangat pada 11 bulan pasca Ramadhan.

       Allah Swt. mengingatkan kita dalam surat al-Insyirah ayat ke-7:

 فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ

       Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).

       Ayat tersebut mengandung makna bahwa setiap waktu dan kesempatan harus produktif dan jangan terlena dan merasa puas dengan suatu kegiatan yang sudah selesai dikerjakan. Tetapi terus bersemangat dengan kegiatan-kegiatan lain yang mendatangkan kebaikan-kebaikan. Waktu-waktu diisi dengan padat amal, dan sibuk dengan kerja nyata yang bernilai ibadah. Tidak ada waktu luang tanpa amal dan ibadah, dan tiada kesempatan untuk berleha-leha, santai dan berpangku tangan. Setiap detik, setiap menit dan setiap kesempatan dilalui dengan cerita yang bernilai ibadah dan dakwah, menebar kebaikan, menanam ketakwaan dan menyuburkan silaturrahim diantara sesama.

       Menurut sebagian ahli tafsir, ada pemaknaan khuruf fa dari kalimat fanshab, yang mengandung arti tidak ada jeda waktu antara ibadah yang satu dengan ibadah berikutnya. Perihal ini ada kalimat yang semakna pada ayat Allah surat al-Baqarah ayat ke 132:

يٰبَنِيَّ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰى لَكُمُ الدِّيْنَ فَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Wahai anak-anakku, Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.     

   Ayat ini adalah bagian dari salah satu nasihat dari sekian banyak nasihat Ibrahim As. kepada anak-anaknya. Ayat ini mengingatkan kita agar jangan lengah, jangan diperdaya oleh waktu, tapi waktu yang harus kita kendalikan. Waktu harus diisi dengan produktivitas, sehingga pengangguran, menyia-nyiakan waktu, melalaikan kesempatan bukanlah karakter seorang Muslim.

        Kalimat dalam ayat tersebut sangat saklek dan mendalam, Allah melarang setiap pribadi Muslim meninggal, kecuali dalam keadaan Muslim atau mewajibkan setiap Muslim menutup akhir hayatnya dalam keadaan Muslim. Disisi lain   kematian itu tidak bisa diketahui waktunya. Berarti setiap Muslim harus beramal setiap saat, harus menjadikan setiap waktu dan kesempatannya berisikan kebaikan dan ketaatan sampai ajal menjemputnya. 

       Kaum muslimin rahimakumullah,

       Rasulullah mengingatkan kita dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas Ra:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

     Ada dua kenikmatan yang sering membuat banyak manusia tertipu, nikmat itu adalah sehat dan waktu luang.

       Dalam hadits ini ditegaskan pula bahwa waktu kosong tanpa aktivitas menjadi perbuatan tercela karena menipu mereka.

       Setelah Ramadhan berlalu, maka rutinitas keseharian manusia dilanjutkan untuk memenuhi hajat-hajatnya sebagai hamba Allah. Makan, minum, bekerja, istirahat, berkumpul dengan keluarga adalah rutinitas manusia dalam kehidupannya. Tentu, wasiat tersebut bukan berarti kita diwajibkan beribadah tanpa istirahat, berjihad tanpa rehat, bermuamalah tanpa jeda, berpuasa tanpa berbuka. Akan tetapi yang dimaksud adalah semua aktivitas tersebut harus diisi dengan niat beribadah kepada Allah.

         Mengisi segala aktivitas dengan ibadah, misalnya menunggu keberangkatan di terminal, stasiun dan bandara. Menaiki kendaraan di saat pergi dan pulang kerja. Waktu-waktu tersebut janganlah berlalu tanpa amal, jadikanlah semua bernilai ibadah, sambil menunggu membaca tasbih, tahmid, takbir dan tahlil, sambil antrian membaca ayat-yat al-Qur’an yang hafal dan familiar (muraja’ah), bermushafahah (bersalaman) dan bertegur sapa serta mengucapkan salam kepada saudara-saudara kita.   

       Kaum muslimin rahimakumullah,

       Ramadhan telah pergi dua minggu yang lalu, ingatlah wahai kaum muslimin, jika ibadah hanya karena Ramadhan, sungguh ia telah pergi meninggalkan kita, dan kita tidak tahu apakah masih akan bersua kembali pada tahun yang akan datang atau tidak. Tapi jika beribadah dilakukan karena Allah, maka tak kan ada yang berubah meski Ramadhan telah pergi.

       Yakinlah bagi muslim sejati bahwa Ramadhan bukan menjadi akhir dari semua ibadah, namun justru menjadi awal perjalanan baru menuju ridha dan menapakai tangga dan melewati titian menuju syurga Allah. Semoga kebaikan yang kita lakukan akan kita kerjakan walau Ramadhan telah berlalu. Semoga keburukan yang kita hindari akan tetap kita jauhkan walau Ramadhan telah berlalu, semoga Ramadhan kali ini menjadi titik awal permulaan untuk kita berubah menjadi lebih baik lagi. Selamat jalan wahai Ramadhan penuh rahmat, berkah dan maghfirah, kami gantungkan asa kepada Allah, semoga kau sudi bertemu lagi dengan kami kembali.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ