MENGGAPAI KEBAHAGIAAN HIDUP
  • 9 Juni 2022
  • 4098x Dilihat
  • Khutbah

MENGGAPAI KEBAHAGIAAN HIDUP

 

 

لْحَمْدُ لِلّٰهِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا سُبُلَ السّلَامِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الْكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، ذُو الْجَلَالِ وَالْإكْرَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِه وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسَانٍ إلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الْإِخْوَانِ، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي اْلقُرْاٰنِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:  يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

       Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

       Pada kesempatan ini, saya mengajak kepada hadirin sekalian, marilah kita bersyukur atas segala nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada kita. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada nabi Muhammad Saw. beserta keluarga dan sahabatnya serta kepada para pengikutnya yang setia dan taat kepadanya hingga yaumil akhir kelak. Selanjutnya, saya selaku khatib pada kesempatan ini berwasiat kepada diri saya sendiri dan kepada jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan iman dan takwa kita kepada Allah Swt. dengan sebenar-benarnya takwa, berusaha untuk melaksanakan amal shaleh dan meninggalkan segala bentuk maksiat dan kesesatan.

       Kaum muslimin rahimakumullah,

       Pada kesempatan yang Insya Allah penuh rahmat ini, saya ingin mengingatkan kita semua yang hadir untuk berusaha menggapai kebahagian hidup, baik kebahagian hidup di dunia, dan kebahagiaann hidup di akhirat.

       Saudara-saudaraku, menurut pendapat para ulama ada beberapa ciri manusia yang mendapatkan kebahagaiaan hidup, diantaranya:

       Pertama, ia selalu mencari karunia Allah berupa rezeki yang halal. Halal cara mencarinya maupun halal dzat rezeki tersebut.  Seorang kepala rumah tangga tidak akan berani membawa pulang ke rumah membawa makanan untuk dirinya dan keluarganya dari cara yang diharamkan oleh Allah. Saudaraku, berusahalah mencari karunia Allah dengan cara yang halal. Jangan terpengaruh dengan   narasi sesat yang diucapkan sebagian orang, bahwa zaman sekarang jangankan mencari rezeki yang halal, mencari rezeki yang harampun susah. Sekali lagi jangan terpengaruh dengan ucapan tersebut, karena setiap pribadi muslim yang teguh atas pendiriannya, ia akan memegang komitmennya, ia akan senantiasa berusaha meraih kebahagian hidup itu dengan usaha dan ikhtiar yang dihalalkan oleh Allah. Ingatlah nasihat Rasulullah Saw:

 

يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

       Wahai Ka’ab bin ‘Ujroh, sesungguhnya daging badan yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram akan lebih berhak dibakar dalam api neraka (HR. Imam Tabrani)

       Rezeki yang halal membuat hidup menjadi bahagia dan berkah, segala urusan menjadi mudah. Keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah tercurah. Putra-putrinya saleh dan salehah menjadi penyejuk hati penenang jiwa dan penyehat raga, penambah semangat dalam beribadah. Harta benda melimpah ruah dan berkah bisa mengantarkan ibadah haji dan umrah ke Mekah, berziarah ke kota Madinah tempat Nabi berhijrah dan Insya Allah mati husnul khatimah.

       Rezeki halal menjadi pertanda seseorang hidup bahagia di dunia ini. Hal ini bisa dibuktikan dengan sebuah keluarga yang hidupnya pas-pasan, mendapat penghasilan di bawah upah minimum provinsi, tapi ia bisa menghidupi isteri dan enam putera puterinya. Walaupun dengan serba kekurangan dan berusaha semaksimal mungkin dicukupi dengan yang halal, ia mendapatkan keberkahan dalam mengarungi kehidupannya. Sekalipun memakai rumus matematika duniawi, ia tidak akan mungkin mampu membesarkan putera puterinya. Namun nyatanya, dengan rezeki yang halal dan berkah tersebut, ia mampu mendidik anak-anaknya dengan prestasi yang membanggakan kedua orang tuanya, membanggakan bagi masyarakat sekitar bangsa dan negaranya.

       Kedua, ciri manusia bahagia adalah memiliki sifat qana’ah dalam kehidupannya. Qana’ah maknanya adalah ridha terhadap rezeki yang dikaruniakan Allah kepadanya. Apabila ada manusia yang dikaruniai harta yang banyak, jabatan yang tinggi namun tidak memiliki sifat qana’ah, maka akan muncul sifat rakus, tamak, serakah dan merasa selalu kurang terus terhadap apa yang dimilikinya.

       Inginkah saudara-saudara, jama’ah sekalian memiliki sifat qana’ah? Apabila kita menginginkan sifat qana’ah itu lahir dalam jiwa kita, resapkanlah dengan seksama resep dari Rasulullah Saw. sebagai berikut:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ  .

       Lihatlah orang yang ada di bawah kalian, jangan melihat seseorang yang ada di atas kalian, hal tersebut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian (HR. Muslim).

       Perhatikan pula sabda Rasulullah Saw. sebagai berikut:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ 

       Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi kecukupan rezeki, dan diberikan sifat qana’ah oleh Allah atas apa yang diberikan kepadanya. (HR. Imam Muslim)

       Memaknai sifat qana’ah dalam realita kehidupan saat ini dapat kita analogikan, misalnya seseorang yang dikaruniai kendaraan mobil. Ia bersyukur atas karunia tersebut karena ia melihat masih banyak orang yang hanya memiliki kendaraan motor. Yang berkendaraan roda dua pun bersyukur karena ia masih melihat orang-orang berkendaraan sepeda.  Orang-orang yang naik sepeda pun bersyukur, karena ia masih melihat orang-orang pergi kemana-mana dengan berjalan kaki. Begitulah seterusnya, apabila sifat qana’ah itu lahir dalam jiwanya, ia selalu melihat ke bawah. Intinya orang yang qana’ah akan memancar dari roman mukanya hidup bahagia, hidup tanpa beban dan hidupp tanpa susah.

       Kaum muslimin rahimakumullah

       Selanjutnya yang ketiga, usaha yang harus dilakukan bagi kaum muslimin agar meraih kebahagiaan hidup adalah berusaha untuk selalu melakukan amal kebajikan, senang beramal shaleh dan gemar terhadap perbuatan yang membawa manfaat dalam kehidupan diri, keluarga dan masyarakat sekitarnyanya. Allah Swt. menegaskan dalam firman-Nya surat an-Nahl ayat ke- 97:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ  

       Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

       Nilai kebaikan diukur melalui amal shaleh, dan amal shaleh merupakan implikasi dari keimanan seseorang. Amal shaleh memiliki kedudukan dan tempat yang mulia dalam ajaran Islam. Karena itu, Islam memberikan balasan kebajikan untuk orang-orang yang istiqamah dalam beramal shaleh.

       Keempat, tanda orang yang sudah mampu menggapai kebahagian hidup adalah mereka yang sudah mendapatkan pertolongan Allah untuk melakukan kebaikan, melaksanakan ibadah bukan hanya ibadah fardhu saja melainkan ia diberikan kemampuan dan pertolongan Allah untuk melaksanakan ibadah sunnah, melaksanakan berbagai bentuk ketaatan lainnya. Ia mendapatkan kebahagian hidup karena mendapatkan pertolongan Allah, karena pada hakikatnya apabila kita menolong Allah maka Allah pun akan menolong kita. Maksudnya, apabila kita taat dan patuh serta ikhlas melaksanakan perintah Allah, maka Allah akan memberikan hidayah untuk melaksanakan ibadah-ibadah tersebut. Firman Allah dalam al-Qur’an surat Muhammad ayat ke- 7:

  يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ  

       Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

       Allah akan menolong orang yang beramal sesuai dengan apa yang dicintai dan diridhoi Allah Swt, yaitu orang yang berjuang di jalan Allah, seperti orang yang menuntut ilmu, mengajar di lembaga Pendidikan, keguruan dan keilmuan, orang-orang yang bergaul dengan ulama, orang-orang yang memakmurkan masjid, orang yang dekat dan mau membantu kaum mustadh’afin (kaum lemah), dan sesamanya. Orang-orang yang selalu condong terhadap pelbagai bentuk keta’atan, kepatuhan dan ketundukkan. Sifat manusia seperti ini disebut hanif. Mereka adalah orang-orang yang akan mendapatkan pertolongan Allah dalam perjalanan hidupnya dan hidupnya akan diwarnai dengan kebahagiaan hakiki.

       Kaum muslimin rahimakumullah,

       Kelima, orang-orang yang telah meraih kebahagiaan hidup adalah mereka yang sudah merasakan manisnya iman, indahnya taqarrub. cantiknya sedekah dan lezatnya ibadah. Hakikatnya mereka telah merasakan manis dari buahnya iman. Sebagaimana disabdakan Rasulullah Saw:

   ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُوْنَ اللّٰهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

       Tiga kelompok manusia yang sudah merasakan manisnya keimanan. Pertama, orang yang lebih mencintai Allah dan Rasul dibanding selainnya. Kedua, orang yang mencintai seseorang karena Allah. Ketiga, orang yang membenci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dimasukkan ke neraka. 

       Dengan demikian, orang-orang yang senantiasa memohon kepada Allah dipenghujung do’anya:

رَبَّنا آتِنَا فِي الدُّنْيا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

       Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.

       Adalah sudah dikabulkan, dan ia sendiri sudah merasakannya kebahagian hidup di dunia sebagai gambaran kebahagian hidup di akhirat yang akan ia raih kelak setelah kematiannya. Semoga kita termasuk orang-orang yang sudah merasakan nikmatnya kebahagian hidup. Amiin.

  باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْمِ.  إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ