Pengembangan Moderasi Beragama Perkuat Esensi Ajaran Agama di Masyarakat
  • Yeni Lesmana Dewi
  • 1 Agustus 2025
  • 10x Dilihat
  • Berita

Pengembangan Moderasi Beragama Perkuat Esensi Ajaran Agama di Masyarakat

Pengembangan Moderasi Beragama Perkuat Esensi Ajaran Agama di Masyarakat

Palembang (01/08) - Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM), Prof. Dr. H. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., M.T., memberikan materi pada peserta pelatihan Manajemen Pelayanan Publik Angkatan I dan Pelatihan Public Speaking Angkatan I di Aula Balai Diklat Keagamaan (BDK) Palembang pada Jumat, 01 Agustus 2025. 

Melalui Zoom Meeting turut hadir Kepala BDK Palembang Dr. H. Saefudin, S.Ag., M.Si., selaku moderator serta Kasubbag Tata Usaha H. Mukmin, S.H.I., M.Sy mendampingi.

Dalam kesempatan ini, ia menyampaikan materi bertajuk Moderasi Beragama. Kang Dani menegaskan bahwa urgensi dan alasan kenapa penguatan moderasi beragama ini menjadi penting karena banyak kasus, misalnya di Padang, Sukabumi kemudian wilayah-wilayah lain yang kerapkali agama dipahami secara ruang sempit sehingga orang lain yang berbeda tidak boleh menjalankan ibadahnya dan hal tersebut merupakan bentuk intoleransi.

“menjadi pribadi yang baik perlu menggunakan hati tanpa pernah mencaci, mari kita menyayangi sesama manusia, bukan saling menyaingi, kita hadir untuk mengajar bukan menghajar, kita membina tidak dengan menghina, mengajak tanpa pernah mengejek, dan kita mencinta tanpa mencerca, kita selalu membela bukan mencela, selalu tampil merangkul tanpa pernah memukul.” tegasnya.

Kabadan menambahkan ada beberapa pola dalam mengembangkan moderasi beragama yakni memperkuat esensi ajaran agama dalam kehidupan masyarakat, di dalam moderasi beragama tentu menginginkan setiap umat beragama semakin dekat dengan ajaran agamanya, karena agama bisa masuk ke ruang-ruang sunyi, merasuk ke dalam kalbu setiap manusia itu apabila dilakukan dengan cara-cara yang selalu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan yang di dalamnya penuh dengan Cinta dan kasih.

“Tidak mungkin agama mampu berjalan secara Abadi apabila dilakukan dengan cara-cara kekerasan. Kemudian untuk menghadapi klaim kebenaran subjektif, maka kita perlu-perlu mengelola keragaman tafsir keagamaan dengan mencerdaskan kehidupan keberagamaan dan berikutnya bagaimana kita melakukan sebuah mekanisme untuk merawat keindonesiaan” tambahnya.

Tujuan moderasi beragama adalah menciptakan kehidupan yang rukun, damai, dan harmonis di tengah keberagaman agama dan keyakinan. Hal ini dicapai dengan memahami dan mengamalkan ajaran agama secara seimbang, menghindari ekstremisme, serta menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, keadilan, dan kemanusiaan. Dengan harapan para peserta mampu mengimplementasikan hal tersebut di wilayahnya masing-masing dan menjadi teladan bagi masyarakat.