Puasa sebagai Momen Transformasi Menuju Akhlak Mulia
Palembang (23/02) — Kegiatan tausiyah Ramadan BDK Palembang kembali dilaksanakan usai sholat Dzuhur berjamaah di Musala Ar Rayyan. Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh H. Mukmin, S.H.I., M.Sy., Kepala BDK Palembang dan didampingi oleh Iwan Sugianto, S.Kom., M.Pd.I, Kasubbag TU, serta diikuti oleh para pegawai dengan penuh kekhusyukan.
Tausiyah disampaikan oleh Riduwan, S.Ag., M.Pd.I. dengan mengangkat tema Puasa dan Pembentukan Akhlak Mulia. Dalam penyampaiannya, Ia menegaskan bahwa puasa merupakan momentum transformasi diri menuju pribadi yang lebih baik.
“Dari tidak kompeten menjadi kompeten, dari tidak terampil menjadi terampil, di situ adanya proses, yaitu transformasi. Puasa adalah momen transformasi,” ujarnya.
Beliau menjelaskan bahwa setiap perubahan membutuhkan proses yang berkelanjutan. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi sarana peningkatan kualitas diri.
Mengutip firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, Riduwan menyampaikan bahwa dalam ayat tersebut terdapat dua kategori manusia, yaitu orang-orang yang beriman dan orang-orang yang bertakwa.
“Dalam ayat ini disebutkan orang-orang yang beriman, lalu tujuan akhirnya adalah agar menjadi orang-orang yang bertakwa. Derajat yang lebih tinggi di sisi Allah adalah orang yang bertakwa. Puasa ini menjadi tempat orang beriman naik tingkat menjadi orang yang bertakwa,” jelasnya.
Ia juga menguraikan tahapan perubahan diri, yaitu knowing, becoming, dan being.
“Knowing adalah mengetahui nilai kebaikan. Becoming adalah proses menuju perubahan. Being adalah ketika nilai itu sudah melekat dalam diri. Ramadan harus membawa kita sampai pada tahap being,” tegasnya.
Mengutip pendapat Imam Al-Ghazali, beliau menyampaikan, “Akhlak adalah perilaku yang dilakukan tanpa perlu berpikir lagi. Artinya, kebaikan itu sudah menjadi kebiasaan yang tertanam dalam diri.”
Riduwan menekankan bahwa pembentukan akhlak mulia memerlukan latihan yang sungguh-sungguh.
“Sabar itu dilatih dengan berpuasa. Kita belajar menahan lapar, menahan emosi, dan menahan hawa nafsu. Di situlah proses pembentukan karakter berlangsung,” ungkapnya.
Selain melatih kesabaran, puasa juga membentuk kejujuran dan kedisiplinan. “Orang yang berpuasa tetap jujur meskipun tidak ada yang melihat. Ia disiplin menjaga waktu sahur, berbuka, dan ibadah lainnya. Namun semua ini harus dijalankan dengan serius agar dapat diterapkan dan diteruskan setelah Ramadan,” pesannya.
Melalui tausiyah yang digelar di Musala Ar Rayyan ini, diharapkan seluruh pegawai BDK Palembang dapat menjadikan Ramadan sebagai momentum transformasi diri, sehingga nilai-nilai sabar, jujur, dan disiplin benar-benar terwujud dalam kehidupan sehari-hari.
5 Mei 2021
26 Juli 2021
27 Januari 2021
28 April 2022