Refleksi diri untuk mencapai Cinta
  • Yeni Lesmana Dewi
  • 12 November 2025
  • 118x Dilihat
  • Berita

Refleksi diri untuk mencapai Cinta

Palembang (12/11) - Kepala Pusbangkom SDM-PK Dr. H. Mastuki, M.Ag., memberikan refleksi kepada peserta Training of Facilitator (TOF) Kurikulum Berbasis Cinta angkatan 1 & 2 yang dilaksanakan pada Rabu 12 November 2025 di smart class BDK Palembang.
Mastuki mengajak peserta renungkan dan curhat dalam hati dengan menyampaikan keluh kesah selama menjalani kehidupan serya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Renungan tersebut bisa dilakukan di sela-sela waktu kerja maupun di rumah guna mengingat serta selalu menumbuhkan cinta kepada Allah Subhanahuwata’ala.

Refleksi kepada Tuhan adalah praktik spiritual yang mendalam, di mana seseorang menyisihkan waktu secara sadar untuk merenungkan kehidupan, tindakan, dan kondisi batinnya dalam kaitannya dengan ajaran, kasih, dan kehendak Ilahi. Ini bukan sekadar memikirkan Tuhan, melainkan sebuah proses introspeksi total yang melibatkan evaluasi diri yang jujur-melihat kembali kesalahan yang telah diperbuat, keberhasilan yang patut disyukuri, serta tantangan yang sedang dihadapi semuanya melalui lensa keyakinan dan prinsip-prinsip ketuhanan. 

“Tujuan utama dari refleksi ini adalah untuk menemukan kedamaian batin, memperkuat iman, dan mengarahkan kembali hidup agar lebih selaras dengan nilai-nilai spiritual yang diyakini, sehingga menghasilkan perubahan positif dalam karakter dan tindakan sehari-hari.” ujarnya.

Adapun tambahnya untuk mencapai sumber ilmu bisa diperoleh dengan cara memperkuat indera, “ilmu tersebut bermula dipengaruhi oleh filsafat-filsafat yang mengandalkan rasional. Dua sumber ilmu yakni lahir di barat dan lahir dari timur”.

Proses pembelajaran dalam kurikulum berbasis cinta menempatkan relasi autentik dan koneksi emosional sebagai fondasi utama, melampaui sekadar penyampaian materi akademik. Dalam pendekatan ini, pendidik tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi sebagai fasilitator yang tulus peduli, berempati, dan menerima setiap siswa apa adanya. 

Pembelajaran didesain untuk menjadi pengalaman yang aman secara psikologis, di mana siswa merasa dihargai, didengar, dan tidak takut melakukan kesalahan. Fokusnya bergeser dari kompetisi dan hukuman menjadi kolaborasi, dukungan, dan apresiasi. 

Dengan demikian, motivasi belajar tidak lagi didorong oleh faktor eksternal (seperti nilai atau takut), melainkan tumbuh secara intrinsik dari rasa ingin tahu, rasa aman, dan kegembiraan dalam menemukan potensi diri dalam lingkungan yang penuh kasih.