SUDAH SEMANGATKAH  KITA MELAKSANAKAN KEWAJIBAN
  • 27 Mei 2022
  • 6750x Dilihat
  • Berita

SUDAH SEMANGATKAH KITA MELAKSANAKAN KEWAJIBAN

SUDAH SEMANGATKAH 

KITA MELAKSANAKAN KEWAJIBAN

Oleh:

Dr. H. Syarif Husain, S.Ag. M.Si


إنَّ الـحَمْدَ للهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، وَ النَّاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ، وَالْهَادِيْ إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ وَعَلٰى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ

أَمَّا بَعْد…..  فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ في مُحْكَمِ كِتَابِهِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُواللهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللهَ ۚ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ 

       Kaum muslimin,

       Wa zumratal mu’min rahimakumullah,

       Pada hari dan tempat istimewa ini, saya mengajak kepada hadirin sekalian, marilah kita selalu bertakwa kepada Allah Swt. Marilah kita selalu istiqamah dalam keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Dengan takwa inilah pada suatu saat nanti akan menjadi pembeda antara siapa saja orang-orang yang dimuliakan Allah dan siapa saja orang-orang yang mendapat murka-Nya. 

       Jamaah Jum’at rahimakumullah, 

       Judul atau tema khutbah kali ini, khatib sengaja dengan kalimat pertanyaan: Sudah semangatkan kita dalam melaksanakan kewajiban? Hal ini sengaja, karena khatib ingin mengetahui dan menjadikan tolok ukur selama ibadah kita pada bulan Ramadhan yang lalu dengan ibadah-ibadah pasca Ramadhan. 

       Kaum muslimin rahimakumullah,

       Kita sebagai umat Islam yang masih istiqamah memegang teguh ajaran Islam, sudah seharusnya kita menjalankan semua kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan Allah Swt, dan kita melaksanakannya dengan penuh semangat dan tentu dasar ikhlas jangan sampai terlepas dari semangat tersebut. Begitupun menjauhi semua larangan-larangan-Nya, kita harus semangat menjauhinya dan tentu dengan sabar pula menjauhinya. Karena menjauhi kemaksiatan harus didasari juga dengan kesabaran. Sabar terhadap kemaksiatan, maksudnya adalah seperti dikemukakan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah: Takut akan ancaman hukuman ketika bermaksiat, karena dengan rasa takut berarti akan menambah keimanan yang kuat di dalam hatinya. Penegasan Ibnul Qayyim al-Jauziyyah inilah sebagaimana dimaksudkan dalam hadits Nabi Saw. riwayat Muslim dari Abu Hurairah Ra.:

 لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَالتَّوْبَةُ مَعْرُوضَةٌ بَعْدُ 

       Tidaklah seorang pezina saat berzina disebut sebagai mukmin, dan tidaklah seorang pencuri saat mencuri disebut mukmin, dan tidaklah seorang yang menimum khamar saat meminumnya disebut mukmin. Sedangkan pintu taubat akan selalu terbuka.

       Kaum muslimin rahimakumullah,

       Mengerjakan semua kewajiban dengan penuh semangat dan ikhlas, adalah menunjukkan bahwa kita adalah umat Islam yang taat dan patuh atas semua perintah. Melakukan kemaksiatan adalah bentuk ketidakpatuhan kepada Allah dan merupakan perilaku pembangkangan terhadap larangan-Nya.

       Tingkatkanlah semangat beribadah, sehingga kita berhasil meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah-ibadah, baik wajib, sunnah dan kebajikan lainnya untuk menambah nilai pahala selama hidup di dunia. 

       Melakukan ketaatan dengan penuh semangat untuk memperbanyak beribadah adalah merupakan salah satu upaya dan ikhtiar kita sebagai hamba Allah dalam mempertahankan keimanan yang bersemayam dalam diri kita. Ketahuilah oleh kita semua, bahwa tidak ada cara yang lebih tepat untuk memperkuat iman selain dekat kepada Allah dengan penuh semangat. Seandainya kita lemah, dan tidak mempunyai semangat dalam melakukan aktivitas ibadah kepada Allah takkan mungkin kita mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kepada Allah. 

       Bersemangatlah beribadah kepada Allah, maka Allah pasti akan memberikan kemudahan-kemudahan dalam melaksanakan kewajiban. Perihal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw. dalam harits riwayat Muslim dari Abu Hurairah Ra.:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ

       Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu.

       Yakinlah wahai kaum muslimin, dengan selalu bersemangat melaksanakan kewajiban dan semangat menjauhi kemakssiatan, derajat takwa benar-benar akan kita raih. Karena secara logika dengan semangat, iman akan semakin kuat, dan apabila kita sudah memiliki iman yang kuat maka pasti derajat takwa yang dijanjikan Allah akan kita raih:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

       Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti. (Al-Hujurat: 13). 

     

       Kaum muslimin rahimakumullah,

       Kadang-kadang kita menghadapi pula permasalahan, bagaiman kita meningkatkan semangat beribadah, apabila kita tidak tahu kiat-kiat tentang bagaimana memunculkan semangat tersebut dalam diri kita. Oleh sebab itu mari kita simak pendapat para ulama tentang kiat-kiat untuk melahirkan semangat dalam ibadah.

       Pertama, Tetaplah dalam keikhlasan. Kenapa demikian? Ketahuilah bahwa ikhlas menjadi unsur pertama untuk melahirkan semangat dalam beribadah. Karena dengan ikhlas berarti hanya mengharap ridha Allah semata. Ia tak akan pernah beribadah hanya sekedar tujuan duniawi. Hati orang mukhlis (orang yang sudah ikhkas) hanya tertuju pada Allah dan tidak terkontaminasi dan tidak dikotori oleh penyakit riya, sombong, nifak, iri dan dengki serta penyakit-penyakit hati lainnya. 

       Kedua, bermujahadahlah dalam melakukan amal ibadah. Maksudnya adalah bersungguh-sungguh dan serius. Yakinlah bahwa seseorang yang bermujahadah dalam beribadah akan selalu berusaha menyingkirkan segala halangan dan rintangan yang dapat mengganggu kesungguhannya dalam beribadah. Sungguh, tidak jarang amal ibadah seseorang akan menjadi sia-sia, manakala ia melakukannya dengan berleha-leha, santai dan jauh dari motivasi pada saat ia melakukan amal. 

     Kesungguhan dalam beribadah akan mempersempit ruang gerak setan, maka tidak ada jeda dan sela waktu bagi setan untuk menjerumuskan manusia ke jurang kesesatan. Kita simak firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Ankabut ayat ke- 69:

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

       Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukan kepada mereka jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah beserta orang yang berbuat kebajikan. 

       Sifat mujahadah akan menambah semangat ibadah seperti halnya yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. yang selalu shalat malam sehingga kaki beliau bengkak-bengkak. Melihat hal demikian, isteri beliau (Siti Aisyah Ra.) bertanya: Wahai Rasulullah mengapa engkau melakukan shalat malam sampai demikian (kakinya bengkak), bukankah Allah sudah menjadikanmu sebagai Rasul yang maksum (terjaga dari dosa dan kesalahan)? Rasulullah   menjawab: Bukankah sepantasnya aku menjadi orang yang selalu bersyukur, wahai Aisyah.

       Ketiga, Sering-seringlah melakukan instrospeksi. Seorang muslim yang selalu mengoreksi dirinya, ia senantiasa melihat setiap amal yang pernah ia lakukan pada masa-masa yang telah lalu untuk dijadikan tolok ukur pada masa yang akan datang. Jangan sampai masih melakukan kesalahan yang sama. Ingatlah kesuksesan itu tidak tercipta dari tidak pernah membuat kesalahan, akan tetapi kesuksesan itu tak pernah membuat kesalahan yang sama untuk kedua kalinya

       Keempat, munculkan motivasi dengan selalu berdoa kepada Allah, karena Allah adalah yang Dzat Pemberi Kekuatan. Janganlah hanya mengandalkan semangat diri sendiri. Rasulullah mencontohkan suatu doa kepada kita, agar muncul semangat untuk melahirkan motivasi diri:

اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

       Ya Allah bantulah aku untuk senantiasa berdzikir kepada-Mu, senantiasa bersyukur kepada-Mu, dan senantiasa beribadah dengan baik kepada-Mu.

       Kaum muslimin rahimakumullah,

       Doa merupakan senjata orang beriman, maka sudah semestinya kita sering memohon kepada-Nya untuk mendapatkan bimbingan dan petunjuk-Nya. Kekuatan doa sangat luar biasa. Bahkan doa bisa mengubah takdir sebagaimana dalam sebuah hadits: Tiada sesuatu yang bisa menolak takdir selain doa, dan tidak ada yang bisa menambah umur kecuali amal kebajikan. Sesungguhnya seseorang diharamkan rejeki baginya disebabkan dosa yang diperbuatnya. (HR. Tirmidzi dan Hakim)

       Semoga kita dianugerahi hidayah Allah Swt. untuk meningkatkan semangat dalam melaksanakan ibadah kepada-Nya. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur. Ingatlah, tidak ada penderitaan yang abadi, tidak ada kebahagiaan yang abadi, kecuali bagi yang pandai bersyukur, selamanya ia akan merasakan kebahagiaan. Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu, karena itu memberimu kesempatan untuk belajar. Bersyukur adalah cara terbaik agar merasa cukup, bahkan ketika berkekurangan, jangan berharap lebih sebelum berusaha lebih.

  

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ