PANDANGAN PARA ULAMA TARHADAP AMALIAH SYAKBAN
  • Yeni Lesmana Dewi
  • 3 Maret 2023
  • 1411x Dilihat
  • Berita

PANDANGAN PARA ULAMA TARHADAP AMALIAH SYAKBAN

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ. وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَام. 

أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ, اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ, وَاشْكُرُوْهُ عَلَى مَا هَدَاكُمْ لِلإِسْلاَمِ، وَأَوْلاَكُمْ مِنَ الْفَضْلِ وَالإِنْعَامِ، وَجَعَلَكُمْ مِنْ أُمَّةِ ذَوِى اْلأَرْحَامِ. قَالَ تَعَالَى : إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا 

       Hadirin kaum muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,     

       Pada hari Jum’at kedua di bulan Syakban 1444 H. saya selaku khatib berwasiat kepada hadirin sekalian, marilah kita senantiasa berusaha meningkatkan iman dan takwa kepada Allah Swt. dengan hidayah-Nya yang telah dianugerahkan kepada kita, saat ini kita hadir kembali di masjid yang kita cintai ini, melaksanakan ibadah.

       Shalawat serta salam semoga Allah Swt. limpahkan kepada panutan kita semua yakni baginda Nabi Muhammad Saw. kepada keluarga dan para sahabatnya yang setia dan taat menjalankan syariat dan mengikuti sunnahnya hingga yaumil akhir kelak. 

       Maasyiral muslimin rahimakumullah. 

       Seolah-oleh sudah menjadi kebiasaan apabila memasuki bulan Syakban, kita sering mendengar dan melihat sikap sebagaian dari umat Islam yang pro dan kontra terhadap amaliah bulan Syakban. Sering terjadi pembicaraan, diskusi publik, bahkan acapkali terjadi perdebatan sengit sampai kepada saling tuduh melakukan amaliah bid’ah dalam melakukan ritual di bulan Syakban, mulai puasa, shalat sunnah di malam nisfu syakban, mendoakan arwah yang sudah meninggal sampai kepada sedekah ruwah. Maka ada baiknya pada penyampaian khutbah kali ini, kita akan membicarakan tentang berbagai pendapat para ulama dalam menyikapi kegiatan ibadah di bulan Syakban ini.

       Kaum muslimin rahimakumullah,

       Sebelum kita menyimak pandangan para ulama, kita lihat terlebih dahulu makna atau asal-usul dinamakan bulan Syakban. Menurut Syekh Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam kitabnya Fathul Bari kitab syarah dari kitab Shahih Bukhari. Beliau berpendapat bahwa bulan Syakban adalah bulan sesudah bulan Rajab dan sebelum bulan suci Ramadhan. Bulan kejepit, bulan yang sering terlupakan. Pada zaman Rasulullah Saw. kaum muslimin sering berpencar mencari air ke lembah-lembah dan gua-gua. Oleh karena itulah bulan Syakban ini sering dilupakan orang, karena bulan Rajab telah berlalu dan menanti bulan Ramadhan tiba.

       Dengan dilandasi faktor sejarah inilah para pegiat ibadah dan pencinta amal-amal kebajikan, memanfaatkan bulan yang sering terlupakan ini dengan berbagai amal kebaikan. Adapun pendapat-pendapat para ulama terhadap kegiatan di bulan Syakban ini diantaranya:

       Pertama, Syekh Ibnu Hajar al-Atsqalani berpendapat tentang puasa sunnah yang dilakukan di bulan Syakban. Ujarnya: bahwa apabila engkau berkata apa maksudnya dan apa kualitas hadits bahwa Rasulullah Saw. banyak berpuasa sunnah di buan Syakban. Maka jawabannya adalah bahwa hadits-hadis Shahih menegaskan Allah mengangkat (catatan) amal-amal malam sebelum amal siang (pagi), dan amal-amal di siang sebelum amal-amal malam hari (sore). Maka ini mengandung dua makna. Yakni amal-amal seorang hamba itu dikembalikan kepada Allah setiap hari (pagi dan sore), lalu dikembalikan pula amaliah Jum’at sebagai amaliah mingguan di setiap hari Senin dan Kamis. Lalu dikembalikan pula amaliah dalam setahun itu di bulan Syakban. 

       Beliau ini mengemukakan pendapatnya dalam memahami kalimat dalam hadits تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ (bulan diangkatnya segala amal). Karena sejatinya setiap amal perbuatan anak cucu adam itu dicatat oleh malaikat petugas pencatat Amal. Sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur’an surat al-Qamar ayat ke- 52-53:

وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوْهُ فِى الزُّبُرِ. وَكُلُّ صَغِيْرٍ وَّكَبِيْرٍ مُّسْتَطَرٌ.

       Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. Dan segala (sesuatu) yang kecil maupun yang besar (semuanya) tertulis.

       Jumhur ulama berpendapat bahwa hadits tentang puasa sunnah di buan Syakban adalah shahih, hampir tidak ada ikhtilaf (pertentangan) diantara para ulama.

       Kaum muslimin rahimakumullah,

       Adapun pendapat para ulama perihal pandangannya terhadap kegiatan malam nisfu Syakban adalah sangat beragam. Ada yang berpendapat sunnah dengan diisi pelaksanaan shalat sunnah mutlaq, dan bacaan-bacaan al-Quran. Ulama-ulama yang berpendapat beramaliah pada malam nisfu syakban ini sunnah, adalah kebanyakan ulama-ulama dari Syam dan Syiria dan ulama-ulama Basyrah (Irak). Adapun ulama-ulama yang berpendapat bahwa amaliah di malam nisfu syakban itu bid’ah adalah ulama-ulama ulama Hijaz. Yang tergolong daerah Hijaz adalah Makkah dan Madinah. Diantara ulama yang mengingkarinya adalah Atha’ bin Mulaikah, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan beberapa ulama dari madzhab Malikiyah. Secara jumhur (mayoritas) mengatakan bahwa amaliah nisfu Syakban adalah bid’ah.

       Kaum muslimin Rahimakumullah, 

       Apabila ditelusuri dari sisi sejarah ternyata amaliah malam nisfu Syakban itu muncul sejak generasi Tabi’in dan digali dari tradisi ulama-ulama salaf. Misalnya tokoh ulama yang dijadikan perawi hadits Bukhari dan Muslim, seperti Khalid bin Ma’dan, Lukman bin Amir, Makhul. Mereka adalah perawi hadits yang dijadikan jalur periwayatan Bukhari dan Muslim ini, mereka yang disebutkan namanya tersebut dinilai oleh Ibnu Hajar al-Atsqalani adalah orang-orang jujur.

       Mengenai amaliah malam nisfu syakban diisi dengan shalat sunnah Mutlaq atau membaca al-Qur’an dengan berkumpul secara berjamaah, hal demikian juga terdapat pendapat yang bersebrangan. Ada yang berpendapat sunnah dan ada yang berpendapat makruh. Bahkan ada yang berpendapat sunnah apabila pelaksanaannya dilaksanakan secara sendirian di rumah, dan makruh apabila dilaksanakan secara berjamaah di masjid.

       Terlepas dari pro dan kontra terhadap amaliah di pertengahan bulan Syakban (nisfu syakban), ada perlu diingat oleh kaum muslimin, bahwa pada bulan Syakbanlah peristiwa penting terjadi, yakni peristiwa perpindahan arah kiblat dari al-Masjid al-Aqsha di Palestina ke al-Masjid al-Haram di Makkah. Ayat tersebut turun pada malam di bulan Syakban.

       Kaum muslimin rahimakumullah,

       Ketiga, mengenai pendapat para ulama terhadap penyelenggaraan doa bersama atau sendirian untuk para arwah di bulan Syakban dan sedekah ruwah, yang marak dilakukan oleh kaum muslimin di bulan Syakban. Mereka pada umumnya berpandangan bahwa mendoakan para arwah dan melakukan sedekah itu tidak mengenal waktu, kapan saja ingin bersedekah maka laksanakanlah, tidak harus menunggu datangnya bulan Ruwah atau Syakban saja. Amaliah tersebut tentu sangat bermanfaat, termasuk bersedekah yang dialamatkan untuk orang yang sudah meninggal. 

       Salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah: Ya Rasulullah, kami bersedekah untuk keluarga kami yang sudah wafat, dan kami menghajikan mereka (badal haji) dan mendoakan mereka, apakah semuanya itu sampai (pahalanya) kepada mereka? Rasulullah Saw. menjawab: Ya, sesungguhnya semua itu sampai kepada mereka, dan sesungguhnya mereka gembira apabila kalian memberikan hadiah kepadanya.

       Lalu, mengapa sebagian kaum muslimin memanfaatkan bulan Syakban (Ruwah) sebagai sarana untuk sedekah ruwah? Ada hadits yang disandarkan tentang berdoa kepada Allah untuk para arwah di bulan Syakban. Sekalipun hadits ini ada ikhtilaf tentang kesahihannya, hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah, hadits tersebut berbunyi:

فَقَدْتُ النَّبِيَّ فَخَرَجْتُ فَإِذًا هُوَ بِالْبَقِيْعِ رَافِعًا رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ : أَكُنْتِ تَخَافِيْنَ أَنْ يَحِيْفَ اللهُ عَلَيْكِ وَرَسُوْلُهُ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ ظَنَنْتُ أَنَّكَ أَتَيْتَ بَعْضَ نِسَائِكَ فَقَالَ : إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلىَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ.

       Aku kehilangan Nabi, lalu aku keluar mencarinya, ternyata beliau ada di makam Baqi sedang mengangkat kepalanya ke langit. Beliau berkata: Apakah kamu khawatir Allah dan Rasul-Nya berbuat sewenang-wenang kepadamu? Aku menjawab, Wahai Rasulullah, aku mengira engkau mendatangi sebagian isteri-isterimu. Lalu Nabi bersabda, Sesungguhnya Allah turun pada malam nishfu Syakban ke langit dunia, lalu mengampuni orang-orang yang jumlahnya melebihi jumlah bulu-bulu kambing suku Kalb.

       Mungkin saja dengan hadits dari Siti Aisyah Ra. inilah, Rasulullah Saw. di bulan Syakban mendatangi kuburan untuk mendoakan ahli kubur di pemakaman Baqi dijadikan dasar, sehingga banyak saudara kita berdoa untuk arwah leluhur yang sudah mendahuluinya pada bulan Syakban, sekaligus berziarah dan berdoa menyambut datangnya buan suci Ramadhan.

       Walaupun, mendoakan arwah para leluhur itu tidak mengenal waktu, yakinlah bahwa senang dan rajin mendoakan arwah saudara-saudara kita seiman adalah dianjurkan oleh Allah dan disenangi-Nya. Sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an surat al-Hasyir ayat 10:

وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ࣖ

       Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman mendahului kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami sungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

       Kaum muslimin jamaah Jum’at rahimakumullah,

       Dengan penjelasan dari pembahasan sekitar amaliah bulan Rajab ini, ternyata banyak dari kalangan ulama salaf yang berpandangan bahwa beramaliah di bulan Syakban ini bermanfaat dan berfaedah, untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Apabila ada yang berpendapat kontra dengan pendapatnya, maka boleh diambil amaliah yang dianggap lebih shahih. Misalnya puasa sunnah di bulan Syakban. Lalu yang beramaliah sunnah sekalipun dasarnya hadits dhaif, dikarenakan perihal tersebut dapat memacu dan memicu semangat meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kepada Allah, maka lalukanlah. Sesuai dengan dasar dan dalil yang diyakininya. Yang tidak boleh itu adalah membid’ah-bid’ahkan dan mengkafir-kafirkan orang yang melaksanakan ajaran sunnah hanya dengan alasan dia melaksanakannya dengan dasar hadits yang dhaif.

       Semoga khutbah ini dapat memberikan pencerahan bagi kita. Aamiin.


 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، 

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ









 Khutbah kedua: 

 اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. 

أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ 

أَمَّا بَعْدُ ... فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. 

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. 

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، 

اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ،

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ